
Eldrey mundur ke belakang, memberi jarak agar wanita itu tak lagi menyentuhnya. “Seperti yang kubilang, ibu dan kakakku sudah mati. Mereka sudah mati di ingatanku sejak 9 tahun yang lalu.”
Tak hanya hatinya, telinganya seolah menerima retakan besar dari ucapan Eldrey. Putrinya sendiri, anak kandung yang sudah lama terpisah darinya.
Gadis itu memandang tanpa ekspresi, tapi sorot matanya yang tajam menyiratkan kebencian untuk bu Anna. Wanita yang sudah ia anggap mati di ingatannya.
“Eldrey ....”
Sejenak keheningan menyelimuti mereka, tak ada yang bicara kecuali memainkan ekspresi sebagai jawaban masing-masing. Air mata masih menetes deras di wajah bu Anna.
Sampai akhirnya gadis itu mendekat dan menggenggam tangannya. Tak ada suara, satu tangannya lagi diangkat menyentuh wajah bu Anna yang sendu.
“Jangan menangis, ini benar-benar menyakitkan untukku,” lirih Eldrey.
Bu Anna tersentak kaget mendengarnya, perlakuan lembut putrinya yang menghapus air matanya, tiba-tiba seperti memberikan lubang besar untuk dirinya.
Lubang besar yang siap diisi oleh keinginan dan harapan dari bu Anna sendiri. Bu Anna tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, perkataan Eldrey benar-benar memberikan secercah cahaya untuknya.
Bu Anna meraih pegangan tangan Eldrey dan berbalik menggenggamnya.
“Eldrey,” ucap bu Anna.
“Bukankah ini menyenangkan?”
Bu Anna terkesiap, ia tak tahu apa maksud ucapan putrinya. Wajah sendunya seperti membatu mendengarnya. Senyum yang mulai ia tempelkan di bibir seolah kecut dibuatnya.
Eldrey melepas genggaman tangan ibunya, ia mundur dua langkah dengan ekspresi yang aneh.
Dan tawa pun meledak dari mulut putri Dempster. Orang-orang yang melihatnya seperti itu, jadi terheran-heran dengan tingkahnya. Merasa aneh, dengan sikapnya yang tak jelas artinya.
Eldrey menyisir rambut depannya ke belakang, menampilkan pesona cantiknya yang terkesan angkuh. Dengan sisiran tangan yang terhenti, dan menyentuh belakang kepalanya ia pun membuka mulutnya.
“Akan kutegaskan sekali lagi. Kau mungkin orang tuaku, tapi kau bukanlah ibuku. Dan aku, aku mungkin anakmu, tapi aku bukanlah putrimu. Tempelkan itu di otakmu, dan jangan pernah muncul di hadapanku. Aku membencimu, sampai kapanpun akan selalu begitu.”
Selesai mengatakan itu, Eldrey berbalik pergi meninggalkan mereka. Sekarang ia benar-benar pergi tanpa dihentikan siapa pun.
Bu Anna dan Evan yang mendengarnya tak bisa berkata-kata. Kaki yang terasa kehilangan tenaga, mulai meruntuhkan pijakan bu Anna. Ia jatuh terduduk, memegang dadanya yang terasa sangat sakit.
“A-anakku ... Eldrey anakku ... a-anakku ... m-maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu. Ibu mohon tolong maafkan ibu,” lirih bu Anna terisak-isak.
Mendadak wanita itu jatuh pingsan, lamunan Evan mengiringi punggung Eldrey yang menjauh pun langsung buyar saat menyadari keadaan ibunya.
“Ibu! Ibu!” pekik Evan. Ia segera memeluk ibunya beruraian air mata.
“Nyonya, nyonya! Anda,” panggil Charlie tiba-tiba. Kalimatnya terpotong saat melihat keadaan bu Anna. Pikirannya kalut terpecah menjadi dua, antara harus mengikuti Eldrey yang sudah berjalan menjauh atau menolong wanita yang pernah menjadi istri bosnya.
Ekspresi panik terlihat jelas darinya, “aku akan mengejarnya!” ucap Kevin tiba-tiba. Ia segera berlari ke arah perginya Eldrey, membuat Charlie sedikit bernapas lega.
__ADS_1
“Ayo bawa nyonya ke rumah sakit,” sahut Charlie pada Evan yang masih menangis. Mereka pun mengangkat bu Anna ke mobil Charlie.
Sementara hypercar Eldrey yang tergeletak begitu saja karena ditinggalkan, segera ditangani oleh bawahan Roma yang mengintai dari jauh atas perintah Charlie.
“Aku serahkan padamu,” batin Charlie berharap pada Kevin.
Langkah pasti Eldrey tiba-tiba terhenti, ia menatap langit dengan ekspresi kosong. Langit mendung, seolah sedang mencoba meratapi keadaannya.
Gadis itu tersenyum, lalu menoleh ke samping. Ke arah jalanan yang dipadati lalu lalang kendaraan. Saat akan melangkahkan kakinya, lengannya tiba-tiba ditarik seseorang dengan erat.
Eldrey yang tersentak menoleh padanya dengan memiringkan kepala. Terlihat rupanya diiringi suara napas yang terengah-engah.
Eldrey menyentuh pipi laki-laki itu dengan satu tangannya lalu tersenyum, “ini benar-benar melelahkan,” ucap Eldrey padanya.
Kevin yang mencoba mengatur napasnya hanya bisa menatap bingung pada ucapan Eldrey. Ia benar-benar tak paham apa maksud perkataannya.
Eldrey melepaskan tangan Kevin dan berlalu begitu saja. Tanpa pikir panjang Kevin pun mengikuti langkah Eldrey dari belakang, ia tak bicara selain menatap punggung gadis itu.
Entah sudah sejauh apa keduanya melangkah, menuruni tangga, melewati halte dan menyeberangi jalan. Langkah Eldrey terhenti di sebuah bangunan tua, bangunan kosong berlantai 9 yang tidak dilanjutkan lagi pembangunannya.
Ia memasuki bangunan itu dengan mengundang ekspresi heran dari Kevin. “Mau apa dia ke sini?” gumam Kevin dalam hatinya. Ia pun mengikuti langkah gadis itu, sampai akhirnya Eldrey berhenti menapaki bangunan di lantai 4. Berjalan mendekat ke arah balkon tanpa pagar.
Bangunan yang masih bersemen dan sepi kecuali mereka berdua sebagai tamunya. Kevin merasa waspada, mencoba berhati-hati terhadap sesuatu yang tidak diharapkan.
“Apa kamu tidak takut? Mungkin saja aku akan membunuhmu di sini,” tukas Eldrey tiba-tiba. Ia berbalik menatap Kevin, dengan raut muka datar andalannya.
“Membunuhku? Kenapa?”
Kevin perlahan-lahan mendekat dengan mata yang masih menyoroti Eldrey. Perasannya campur aduk saat berdua saja dengannya. Ingatan tentang apa yang sudah pernah dilakukan Eldrey terlintas cepat di benaknya.
“Sekalipun aku tak tahu apa alasannya, tapi kamu takkan bisa melakukannya,” balas Kevin.
“Begitu?”
“Ya.”
Eldrey menarik kembali pandangannya menjauh dari Kevin. Ia pun melempar tatapan ke depan, ke sebuah jalanan yang dilalui kendaraan dan pejalan kaki.
Perlahan Eldrey duduk lalu merebahkan tubuhnya di lantai bangunan yang dingin dan kotor. Kevin benar-benar tak habis pikir dengan tingkahnya, apa yang sebenarnya ia pikirkan?
Eldrey menutup matanya dengan punggung tangan kanannya. Tanpa bicara Kevin duduk di sebelahnya, melepas pandangan ke depan. Ia tak tahu harus mengatakan apa, rasanya tak ada yang bisa ia ucapkan pada gadis itu.
Sikap Eldrey itu benar-benar memberi batasan untuk orang-orang agar tak bicara padanya.
Setengah jam berlalu, dan mereka masih seperti itu. Kevin akhirnya menoleh pada Eldrey yang masih sama keadaannya.
Rasa gundah pun akhirnya muncul di dirinya, saat melihat Eldrey seperti itu. Ia meneguk kasar ludahnya dan menatap Eldrey yang tak bergerak. Terlebih lagi, suara-suara berisik di belakang bangunan itu samar bisa terdengar oleh Kevin. Seperti suara laki-laki yang terasa sedang berkumpul bersama.
__ADS_1
“Kamu, apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Kevin.
Masih tak ada jawaban.
“Ibu itu, aku penasaran bagaimana keadaannya.”
“Tinggalkan aku,” akhirnya kalimat itu keluar dari bibir Eldrey. Ia tak bergerak dan posisinya masih sama.
“Meninggalkanmu? Dalam keadaan seperti ini? Apa kamu gila?!” jengkel Kevin padanya.
“Aku tak mengerti dengan apa yang kau bicarakan,” lirih Eldrey. Ia menggerakkan tangannya yang menutup matanya. Menatap lekat pada Kevin yang juga memandangnya.
“Kamu tak mengerti? Kalau begitu apa ini akan membuatmu mengerti?” Kevin mendekat padanya dan menghimpit tubuhnya.
Sekarang posisi Kevin berada tepat di atasnya, mata mereka yang saling beradu tak begitu jauh jaraknya.
“Menurutmu jika aku meninggalkanmu, apa yang akan terjadi?”
Eldrey hanya menatap bola matanya tanpa bicara, salah satu tangan Kevin yang menumpu tubuhnya di samping bahu Eldrey pun menyentuh lembut rambutnya.
“Kutanya sekali lagi. Jika aku meninggalkanmu apa yang akan terjadi?”
“Takkan terjadi apa-apa.”
Kevin pun berdecak kesal dengan jawaban datar Eldrey. “Benarkah? Jika ada orang lain yang datang ke sini melihatmu seperti ini, apa yang akan mereka pikirkan?”
“Itu bukan urusanku.”
“Bahkan jika dia laki-laki?”
“Bukan urusanku,” jawab Eldrey singkat. Ia benar-benar tak peduli apa maksud ucapan Kevin atau bagaimana posisinya sekarang.
Kevin yang melihat ekspresi datar gadis itu merasa aneh jadinya. Bahkan posisinya yang seperti ingin menerkam Eldrey terasa seperti tindakan pecundang baginya. Gadis itu tak merespons apa-apa, kecuali ekspresi menyebalkan itu masih menempel di wajahnya.
“Inilah yang akan terjadi,” gumam Kevin. Tiba-tiba tangannya yang menyentuh rambut Eldrey turun ke bawah, menarik baju gadis itu ke atas sehingga menampilkan perut ramping putih mulusnya.
Ekspresi datar Eldrey langsung berubah masam dengan tindakan kurang ajar Kevin. “Kau, apa yang kau lakukan?” lirih Eldrey dengan nada menekan.
“Akhirnya kamu bereaksi juga,” balas Kevin. Tanpa ragu ia menyentuh perut Eldrey dan mengelusnya.
Spontan gadis itu langsung berontak dengan tindakan Kevin. Ia mendorong kasar tubuh Kevin sehingga laki-laki itu agak terdorong ke belakang.
Eldrey pun bangun dari tidurnya dan menatap murka dirinya. “Kau!”
“Akhirnya kamu bangun juga,” Kevin mengatakannya dengan sikap tak bersalah. Seolah ia merasa tak berdosa, karena sudah bersikap kurang ajar pada Eldrey.
“Ayo, aku akan mengantarmu pulang,” sambung Kevin lalu berdiri. Ia pun mengulurkan tangannya pada Eldrey yang masih menatap tajam padanya.
__ADS_1