
“Ini!” Lily melotot tak percaya.
Sebuah tamparan keras justru dilayangkan Nyonya Camila pada Lily.
“Nenek!” pekik Lily menyentuh pipinya yang sakit itu.
“Lily!” teriak sebuah suara tiba-tiba.
Langkah pasti dari tuan Bill yang masuk rumah dengan emosi, sekali lagi ikut menampar pipi Lily.
“Dasar anak tidak tahu diri! Berani-beraninya kau mempermalukanku!” bentaknya mengangkat tangan sekali lagi.
“Bill!” teriak nyonya Amelia menghentikan tindakan suaminya. “Apa yang terjadi?! Berisik apa ini?!”
“Berisik?! Seharusnya kau tanyakan pada anak setan ini!” Bill benar-benar emosi. Ia bahkan menjambak rambut putrinya.
“Ah! Sakit!” pekik Lily meronta-meronta.
“Bill! Hentikan!” cegat nyonya Amelia melepaskan tangan suaminya dari rambut putrinya.
Bahkan kekacauan ini membuat tuan Gates yang ada di kamarnya terpaksa keluar.
“Ada apa ini?!” suaranya menghentikan keributan.
“Tanyakan pada cucu tak bergunamu itu!” jengkel Nyonya Camila sambil menyodorkan amplop dan beberapa foto yang sudah ia keluarkan.
Tuan Gates terbungkam. Sorot mata dari sosok pria tua terkenal yang selalu tenang terkadang menekan justru berubah dingin.
“Apa ini?” tanyanya menatap Lily.
Gadis itu gemetar membisu karena pertanyaan dari kakeknya.
“Apa itu!” Bill mendekati ayahnya dan mengambil amplop dan foto itu. Matanya semakin menajam penuh geram. Rasanya debaran jantungnya berdetak makin tak karuan akibat amarah di dada. Ia keluarkan foto-foto yang ada di dalam amplop sehingga bertebaran di lantai.
Begitu banyak. Diperkirakan lebih dari lima puluh foto.
Semuanya adalah foto tak senonoh Lily dengan pasangan yang tak jelas wajahnya. Bahkan banyak pose yang ia lakukan sampai membuat tuan Gates dan Bill jijik menatapnya.
Mata nyonya Amelia seketika berkaca-kaca menatap foto berserakan itu. “Lily? Bagaimana bisa? Padahal kamu bilang hanya ingin-” ia tak melanjutkan ucapannya karena terlanjur beruraian air mata.
“Apa lagi yang ingin kau tanyakan?! Sudah jelas pelacur ini sedang bersenang-senang. Berani-beraninya kau mempermalukanku di kantor! Apa kau tidak sadar video tak senonohmu itu sudah mempermalukanku di hadapan para bawahanku?!” hardik Bill.
“Video? Apa maksudmu Bill?!” tanya nyonya Camila kaget.
“Video presentasi rapatku justru berubah menjadi siaran dewasanya! Apa ibu tahu bagaimana perasaanku?! Aku sangat malu! Aku malu karena orang-orang di perusahaan sudah tahu kalau dia itu putriku!” teriak Bill menggebu-gebu.
Nyonya Camila semakin murka. “Kau!” hardiknya lalu menjambak Lily yang sudah menangis pilu. “Dasar gadis tidak tahu diri! Kau dibesarkan dalam keluarga terhormat tapi kau menghancurkan nama baik keluarga ini. Aku tak peduli jika kau ingin menjajakan tubuhmu! Tapi beraninya kau mempermalukan kami. Seharusnya kau tidak pernah lahir di keluarga ini!” Nenek tua itu bahkan mendorong Lily hingga jatuh tak berdaya.
Lily semakin terisak dengan perlakuan kasar penuh amarah dan murka yang dilontarkan ayah dan neneknya.
“Apa kau dijebak?” tanya tuan Gates tiba-tiba.
“Apa!” Bill menatap tak percaya dengan ucapan ayahnya.
“Bagaimana bisa video itu muncul di perusahaan? Jika itu tidak di sengaja, bukankah sudah jelas ada jebakan untukmu,” ucap ayahnya.
Seketika Bill terbungkam. Pandangannya pun teralihkan menuju Lily. “Kau, siapa pasanganmu? Apa kau melakukan ini karena terpaksa?!”
“I-itu,” Lily masih terisak-isak.
“Karena video itu muncul dari flashdisk proyek yang disiapkan divisi satu. Tidak mungkin mereka yang melakukannya, sampai berani menayangkannya di perusahaanku. Kecuali kita memang memiliki masalah dengan orang-orang di perusahaan dan kau dijebak untuk menjatuhkanku!”
Lily yang terisak tersentak. Ya tak ingat apa pun. Kecuali jebakan yang sudah di pasang dan pesta minum-minumnya sampai ia tak mengingat apa pun lagi.
“Lily!” Bill pun menarik kasar lengan putrinya untuk menyadarkannya.
“Eldrey,” gumam Lily karena kaget. Di sela-sela air mata justru nama itu yang terucap. Bagaimanapun ia yakin kalau ini ada hubungannya dengan Eldrey karena foto dan video itu tersebar.
“Eldrey? Apa maksudmu?!” suara Bill yang tinggi membuat Lily merinding takut.
__ADS_1
“Aku yakin dia yang menjebakku. Saat terbangun hanya ada aku dan Naomi di club. Kami merasakan sakit-sakit di tubuh, tapi pakaian kami masih melekat. Aku yakin dia yang menjebakku, karena dia juga ikut bersamaku!” jelas Naomi berapi-api.
“Eldrey!” teriak Bill akhirnya. “Berani-beraninya gadis keparat itu!” geramnya mengepalkan tangan.
Di sebuah kamar, seorang gadis muda terbangun dari tidurnya. Di tatapnya ponsel yang mati itu.
“Sepertinya kehabisan baterai. Uh, sial!” gumam Naomi bangkit dari tidur dan men-charge ponsel. Karena masih ada rasa sakit yang tersisa ia pun kembali melanjutkan tidurnya.
Akan tetapi, di kediaman presdir Betrand, keluarganya justru datang pagi itu dalam keadaan marah.
“Di mana Eldrey!” teriak Bill emosi ketika baru datang. “Panggil dia!” perintahnya pada pelayan di rumah itu yang kebetulan menyambutnya.
“Selamat pagi Tuan. Ada apa?” tanya Rondolf.
“Kubilang panggil gadis keparat itu!”
Rondolf terdiam. Ia pun memerintahkan Emily sang pelayan untuk memanggil Eldrey ke kamarnya.
Wanita itu terburu-buru memanggil sang tuan putri yang dari pagi tidak mau ditemui siapa pun.
“Nona, Nona!” panggil Emily mengetuk pintu kamar.
“Masuk.”
Emily segera membuka pintu. Ia tersentak, saat melihat keadaan menyedihkan majikannya itu.
“Nona?” gumamnya.
“Ada apa?”
Emily pun tersadar dari rasa kagetnya. “Ada keluarga tuan besar datang ke sini marah-marah Nona. Mereka sangat ingin bertemu anda.”
“Begitu?” Eldrey mengalihkan pandangan, mendongak menatap langit-langit. “Emily.”
“Ya Nona?”
Emily terdiam. Sejenak kemudian, “apa itu Nona?”
Eldrey pun menatapnya sayu. Lalu mengembangkan senyum kecut di wajahnya.
Beberapa saat kemudian.
“Eldrey! Gadis keparat kau!” teriak Bill menggebu-gebu begitu menyadari kedatangannya. “Berani-beraninya gadis seperti kau-” kalimat tak lagi dilanjutkan.
Terlebih begitu sosok Eldrey mendekat dan rupanya terlihat jelas sekarang.
“Eldrey?” panggil tuan Gates yang tak menyangka melihat wajah cucunya. Mata sembab, pipi kiri memar dengan sudut bibir terluka.
“Berani-beraninya,” geram Eldrey. “Berani-beraninya kau datang ke sini setelah apa yang kau lakukan padaku?!” teriak Eldrey mendekati Lily dan menamparnya keras.
“Lily!” pekik nyonya Amelia kaget. “Apa yang kau lakukan?!” ia pun mendorong bahu Eldrey sehingga gadis itu mundur beberapa langkah.
“Memang ya. Bahkan jika anak itu kurang ajar orang tua pasti membelanya,” kesal Eldrey dengan mata mulai berkaca-kaca.
Orang-orang di sana terbungkam. Terlebih, tiba-tiba air matanya ikut mengalir di balik ekspresi itu. Siapa yang bisa menduga? Gadis yang sudah bertahun-tahun tak menangis justru mengeluarkan air matanya hari ini.
“Eldrey! Apa maksudmu?!” tanya nyonya Camila.
“Seharusnya Nenek tanyakan pada cucu brengsek Nenek itu! Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?! Kau mengajakku ke club, kupikir kau memang benar-benar ingin berteman denganku! Tapi bagaimana bisa kau mencampur obat perangsang di minumanku?! Bagaimana bisa kau setega itu Lily, bagaimana bisa!” gadis itu benar-benar marah.
“Apa! Apa yang sebenarnya terjadi?!”
“Bagus sekali. Paman datang ke sini marah-marah padaku?! Seharusnya kau tanyakan apa yang sudah dilakukan anakmu sebelum memakiku. Aku sudah dapatkan bukti rekaman cctv, kalau anakmu yang membayar bartender dan laki-laki keparat itu untuk menjebakku. Aku pastikan akan mengirimmu ke penjara Lily. Berani-beraninya kau menjebakku!” napas Eldrey benar-benar memburu.
“Apa!” ekspresi Bill semakin geram.
“Kau!” Nyonya Camila seketika langsung menjambak rambut Lily sekali lagi dengan sangat keras.
“Aah! Sakit! Ampun Nek sakit!” pekik Lily meronta-meronta melepaskan tarikan kasar nenek tua itu.
__ADS_1
“Ibu! Aku mohon Bu! Lepaskan Lily! Dia sudah menderita Bu! Tolong lepaskan dia!” pinta nyonya Amelia sambil memohon-mohon dan menyentuh lengan mertuanya.
Nyonya Camila yang sudah terlanjur murka, justru melepas tangan dan berbalik menampar menantunya.
“Ini semua salahmu! Karena kau terlalu memanjakan anakmu, dia jadi tumbuh kurang ajar seperti ini! Kau menjebak sepupumu sendiri?! Dasar gadis kurang ajar!” maki nyonya Camila pada menantu dan cucunya.
Nyonya Amelia yang ditampar itu terdiam memegang pipinya. Aliran rasa sakit di sentuhan mengalir bak duri ke seluruh tubuh.
“Aku beruntung. Kalau bukan karena ada beberapa pemuda yang menyadari teriakanku, pasti aku sudah kehilangan keperawananku dalam keadaan terangsang itu.”
“Aku benar-benar beruntung, hanya diseret paksa dan mendapat tamparan dan pukulan ini. Aku benar-benar beruntung, karena semua jebakanmu gagal dan kau tidak mendapatkan foto-fotoku.”
“Aku masih bisa mengingat tawamu dan Naomi saat meninggalkanku yang berteriak ketakutan. Aku masih bisa mengingatnya. Aku benar-benar tidak akan mengampunimu Lily. Tidak kau ataupun Naomi!” geram Eldrey panjang lebar.
Mendengar pernyataan Eldrey, entah bagaimana perasaan mereka masing-masing. Karena yang jelas, Lily takkan baik-baik saja.
“Eldrey! Apa kau yakin akan membawa masalah ini ke hukum? Karena bagaimanapun kalian bersaudara,” ucap Bill akhirnya. Dia yang sebenarnya masih memendam kesal pada Eldrey, bersuara lebih sopan mengingat masalah ini menyangkut nama baiknya dan keluarga.
“Keluarga? Kalau begitu kenapa dia melakukan ini padaku?” sinis Eldrey.
“Bagaimanapun kau baik-baik saja. Sekarang justru Lily yang tak baik-baik saja! Terlepas dia menjebakmu atau tidak, dia juga menderita. Apa kau tidak kasihan padanya?! Ada orang brengsek yang sudah menidurinya dan mengirimkan foto-fotonya.”
Eldrey terdiam. Lalu ia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. “Karma?”
Satu kata itu membuat orang tua Lily diam membisu. Dalam marah dan kesalnya akan ulah Lily, batin mereka masih tidak bisa menerima apa yang diucapkan Eldrey. “Aku tak ingin membahas ini lagi. Dan aku tak sudi bertemu kau lagi. Kau tunggu saja waktu hukumanmu. Akan kukirimkan rekaman cctv itu, agar kalian juga bisa melihatnya,” sahut Eldrey lalu pergi meninggalkan mereka.
Siapa yang akan mengira? Ternyata pernyataan Lily itu justru mengantarnya pada fakta yang menyedihkan. Di dalam rasa kesalnya ia benar-benar tak menyangka kalau ternyata keadaan Eldrey seperti itu.
Rasa kesalnya di balik pemandangan menyedihkannya semakin memuncak terlebih jebakan pada Eldrey tak berhasil. Dirinya yakin kalau Eldrey yang menjebaknya. Tapi, tangisan sang sepupu benar-benar membuatnya semakin di posisi yang buruk.
“Ayo kita kembali,” perintah tuan Gates.
“Tapi ayah! Kita harus menghentikannya agar tak membawa masalah ini ke ranah hukum. Itu hanya akan semakin mempermalukan keluarga kita.”
“Diam kau Bill. Eldrey bukan gadis bodoh, dia tahu konsekuensi dari tindakannya. Dia hanya emosi, jadi beri dia waktu untuk sendiri. Seharusnya kau mendisiplinkan putrimu yang tak berguna ini,” tegas ayahnya.
Bill terdiam. Batinnya tertohok penuh murka. Rasa kesal membuncah, ditambah semakin membubung tinggi ke dada dan pikiran terlebih melihat raut wajah tak berguna putrinya yang menangis. Langkah kesal pun ia tampilkan meninggalkan kediaman itu.
Mereka, benar-benar pergi tanpa kata. Baik pada pelayan ataupun presdir Betrand.
Di perjalanan, langkah Eldrey diikuti Emily dari belakang. Sesampainya di sana, ia berdiri terdiam. Mulai tersenyum. Perlahan, tawa pelan tersembur di sana. Makin lama makin mengeras yang membuat Emily di belakangnya diam membeku.
Eldrey tertawa keras sambil menutup matanya dengan tangan kanannya. Wajah itu, sedikit mendongak ke atas saking terhanyutnya dalam tawa.
“Nona?” panggil Emily membubarkan suasananya.
“Ah,” Eldrey menatap tersenyum. “Terima kasih untuk bantuanmu Emily,” ucap Eldrey sambil menyentuh pipinya yang memar itu. “Ini, benar-benar mengagumkan,” dengan meraba sudut bibir yang terluka.
Emily bergidik melihat ekspresinya. Tak masalah sudah seberapa sering ia berurusan dengan darah, tapi batinnya gugup saat di hadapkan dengan gadis seperti Eldrey.
Tangannya bergetar, dengan ingatan sebelumnya yang kembali menyeruak ke kesadaran. Di mana tangan itu, sudah berhasil menampar keras pipi sang tuan putri atas permintaannya sendiri.
“Ah, Rondolf? Kau di sini?” sapa Eldrey melihat kepala pelayan itu memasuki kamarnya.
Kedua orang itu terdiam melihat wajah kusut berhias mata sembab, pipi lembab dan memar.
“Jadi, apa kalian menikmati pertunjukannya?” gumam Eldrey.
Ia pun menyeringai, mengangkat tangan kiri yang ditutupi lengan baju kedodoran.
Tiba-tiba, sebuah sapu tangan dan silet berlumuran darah jatuh dari tangan Eldrey yang diperban.
“Sayangnya aku, sangat menikmatinya,” diiringi senyum aneh sambil menatap benda yang jatuh dari tangannya itu.
__ADS_1