FORGIVE ME

FORGIVE ME
Rapuh


__ADS_3

Katakanlah.


Tangisan seorang ibu, adalah sesuatu yang paling menyakitkan bagi seorang anak.


Dan tangisan belahan hati, merupakan luka tersendiri bagi pasangan yang saling mencintai.


Raelianna Jin terisak. Di samping Betrand, mantan suami yang sebentar lagi akan mengikat janji suci kembali dengannya.


Dirinya dirundung penyesalan. Merasa lengah, lalai, bodoh atau apa pun akibat kejadian yang menimpa putrinya.


Lagi-lagi, Tuan Putri Dempster diculik. Untuk kedua kalinya, ia harus masuk ke rumah sakit karena kasus yang sama.


Penculikkan pertama, membuat pernikahan orang tuanya dipeluk tiang gantungan. Dia kehilangan emosi, mematikan simpati dan empati, dan menjadikan mentalnya tumbuh seperti ini.


Dan penculikkan kedua, nasibnya ada di pinggiran jurang. Kritis berbicara sebagai perwakilan. Alat-alat yang terpasang untuk menopang kehidupannya, berusaha keras mengikat kesehatannya. Agar ia bisa pulih seperti sedia kala.


Dia terlalu muda untuk mengalami ini semua. Kulitnya terlalu indah untuk dilukai tanpa iba. Masa depannya terlalu cerah untuk dinodai kebahagiaannya.


Gadis muda dengan kemilau di kehidupan, sekaligus membuat iri orang-orang sekitarnya. Nyatanya, ia tidak bahagia.


Dan infus yang memasuki aliran darahnya, sekarang berbisik menemani kesendirian.


Tampaknya ketidak sadaran, benar-benar mencintai sosok yang ada padanya.


“Tuan Charlie,” Sekretaris Roma menoleh pada seseorang yang baru datang. Lantas saja pria itu menyipitkan matanya pada kedua gadis di sana.


“Roma, kembalilah. Kau punya pekerjaan yang harus kau urus kan? Bawa dua gadis itu bersamamu.”


Terkesiap. Tentu saja mereka tak menyangka jika orang yang baru datang akan melontarkan kalimat seperti itu.


“Anda mengusirku?” Lily menimpalinya tiba-tiba.


“Keluargamu pasti cemas Nona. Mengingat dirimu juga diculik namun tampaknya baik-baik saja.”


Entah kenapa, kalimat Charlie terasa seperti sindiran bagi Lily. “Baiklah. Aku juga tidak sudi lama-lama di sini.”


“Tolong biarkan aku tetap di sini,” Alice bersuara tiba-tiba. “Aku mohon.”


“Kenapa kau harus di sini? Apa ada keluargamu yang sedang dirawat?”


Kalimat Charlie, jelas-jelas menohok kesadaran gadis itu.


“Tapi Eldrey—”


“Nona kami tidak butuh kehadiranmu.”


Rasanya, pernyataan Charlie begitu kejam bagi Alice. Jelas baginya, bahwa pria itu menyiratkan tidak suka pada dirinya.


“Apa anda harus berkata seperti itu? Bagaimanapun dia yang sudah menggendong Eldrey sampai kemari.”


Tersentak. Roma tak menyangka akan apa yang baru saja di dengarnya dari mulut anak kandung Bill. Ditatapnya tangan kiri bosnya yang berekspresi tak peduli.


“Terserahlah,” dan Charlie pun melangkah entah ke mana.


“Nona, ayo kita pergi,” ajak Sekretaris Roma pada Lily.


“Mm. Hei, aku balik duluan.”


“Ya. Hati-hati di jalan dan jaga dirimu,” Alice tersenyum padanya.


Lily hanya mengangguk sekilas, mereka tak akrab. Hubungan keduanya sebatas saling diculik, berjuang bersama ke rumah sakit dan menghabiskan beberapa jam untuk berdampingan.


Dan akhirnya, Evan sampai di sana dengan napas terengah-engahnya.


“Pasien atas nama Eldrey Brendania Dempster, dirawat di mana?!” tanyanya panik.


Tentu saja resepsionis terkesiap melihat sosok yang tiba-tiba mengeluarkan suara memburu itu.

__ADS_1


“Tuan Muda? Anda sudah di sini?” suara Afro mengalihkan perhatiannya.


“Eldrey di mana?”


“Saya akan mengantarkan anda.”


Charlie dan Alice, menoleh pada sosok yang datang sambil berlari itu.


“Kak Evan.”


“Adikku di mana?!”


Terlihat Evan mengabaikan pertanyaan Alice. Bagaimanapun juga, pikirannya hanya dipenuhi oleh sosok yang sedarah dengannya.


“Di dalam. Tapi tidak bisa dijenguk.”


Penjelasan Charlie sontak saja membuat Evan mengintip lewat celah pintu yang berhias kaca.


Dadanya sesak, tontonan adiknya terbaring menyedihkan di brankar mencoba melukai hati. Perlahan ia kepal tangannya dan berbalik menatap Alice yang cemas.


“Apa yang sebenarnya terjadi?!” matanya menembus lekat ke dalam netra Alice. Seolah sedikit pun ia tak berniat untuk menanyakan kondisi di wajah gadis itu, mengingat dirinya juga babak belur karena penyiksaan.


“Ikut aku. Kau tampaknya kelelahan,” Charlie merangkul putra Dempster untuk pergi dari sana.


Perlahan, Alice yang agak syok melihat ekspresi tajam Evan mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu pinggiran. Dirinya mendongak, saat mendapati Afro menyodorkan minuman dan makanan padanya.


“Jangan sampai kamu pingsan dan dirawat juga,” hanya itu yang ia ucapkan.


Sambil menggigit bibir bawahnya, Alice pun menerimanya. “Terima kasih.”


Kendaraan yang dilajukan Reynald telah sampai. Presdir Betrand dan juga Anna segera turun dari mobil untuk menuju ruang rawat putrinya.


Kedatangan mereka beriringan dengan Kevin yang juga baru tiba.


Pemuda itu bisa menangkap keberadaan keluarga Dempster dan mengikutinya dari belakang.


“Eldrey! Anakku di mana? Di mana dia?” tanya Bu Anna beruraian air mata.


Afro pun melirik ke sebuah pintu di seberang mereka. Sontak saja bu Anna yang menangis keras menghampirinya.


“Maaf Nyonya, tapi Dokter melarang siapa pun untuk menjenguk Nona,” Afro mencegahnya. Mendengar pernyataan bawahan Charlie itu, dirinya langsung jatuh terduduk sambil memegang dadanya.


Tampak histeris memikirkan nasib anak perempuannya di pembaringan. Alice yang merasa iba pun mendekatinya. Memeluk Bu Anna, bermaksud menenangkan karena kasihan sungguh menyelimuti perasaannya.


Perlahan, Presdir Betrand yang hanya diam melihat keadaan istrinya, melangkahkan kaki ke depan pintu. Menatap tenang sosok gadis Dempster dengan alat-alat menempel indah di tubuhnya.


“Mana Charlie?”


Hanya itu kalimat pertama yang ia keluarkan begitu memasuki Rumah Sakit St.Hopetears.


“Tuan Charlie mungkin di parkiran.”


Selesai mendengarnya, Presdir Betrand beranjak dari sana tanpa kata. Membiarkan istrinya tenang dipelukan gadis muda yang hampir sebaya dengan putrinya.


Langkahnya angkuh, rupanya tenang dihiasi garis wajah yang tegas. Sorot mata hanya memandang ke depan, seolah gambaran tepian sekitar, seperti bayangan pinggiran.


“Tuan.”


“Ayah.”


“Kamu di sini, Evan? Ibumu ada di dalam.”


Pemuda itu mengerjap kaget. “Aku akan menemui ibu,” pamitnya berjalan terburu-buru.


Tanpa banyak bicara, Charlie membukakan pintu mobil bagian belakang. Presdir Betrand meliriknya, memasuki kendaraan milik bawahannya.


“Pelakunya sudah mati, Tuan. Nona hanya membunuh dua di antaranya. Tapi, korban yang satu lagi dia pemuda dari keluarga Azof.” Tak ada jawaban dari Presdir Betrand, hanya Charlie yang bersuara di sana. “Anak bungsu Azof, dia adik dari Patricia Lascrea yang mati dua tahun lalu di Sextoria.”

__ADS_1


Perlahan, pria di belakang mengedarkan pandangan ke samping. “Bagaimana keadaan Eldrey?” pertanyaannya jelas mengabaikan topik yang ingin disampaikan Charlie.


Tampaknya, Presdir Betrand tak berniat lagi mengungkit siapa pelakunya.


“Kata Dokter, Nona akan baik-baik saja jika dia bisa melewati masa kritisnya.”


“Begitu?”


Charlie pun mengernyitkan wajahnya. Melukiskan ekspresi yang tak jelas artinya.


“Saat sampai di sini, dia kehilangan lebih dari empat puluh persen darahnya. Nona memaksakan dirinya, sehingga luka yang mengenai ginjalnya melebar dan menimbulkan pendarahan parah di perutnya.”


Entah bagaimana perasaan Presdir Betrand saat mendengar untaian kata dari Charlie Stevano. Tangan kiri yang bersandar di pinggiran jendela, telapaknya menutupi area matanya.


Sang bawahan terdiam, memandangi kaca spion dalam mobil dan menangkap pemandangan tak terduga.


Air mata.


Telah beruraian dari seorang Betrand Gates Dempster. Menangis dalam diam, membiarkan kristal bening mengalir tenang di pipi.


Ini kelima kalinya bagi Charlie, mendapati bosnya dalam keadaan begitu.


Nyatanya, Presdir Betrand tetaplah pria rapuh di balik keangkuhan sosoknya itu.


“Aku, akan lepaskan apa pun di diriku. Kehormatan, kekayaan, bahkan jika status akan kurelakan. Tapi tolong, jangan usik putriku. Jangan anak-anakku, jangan Anna. Hanya mereka keluargaku. Hanya mereka dan juga kalian yang ada di sisiku.”


“Tolong biarkan mereka hidup dengan tenang, aku akan berikan apa pun milikku. Tapi aku mohon jangan keluargaku.”


Tutur kata yang menyedihkan. Suaranya bergetar, seorang pria terhormat dengan setelan terbaik di badan menangisi pesakitan.


Dia terisak, di hadapan sang bawahan. Menyuarakan beban untuk di dengarkan. Dia hanya pimpinan namun tetaplah seorang ayah normal.


“Aku tahu aku salah. Aku memang seorang ayah yang gagal. Aku tak ada di sisi mereka, tidak memberikan perhatian yang layak sebagai seorang ayah. Tapi aku juga ingin anak-anakku bahagia, Charlie. Apa yang harus kulakukan?”


Katakanlah.


Sekarang dia hanya sesosok pria yang menyedihkan. Tangan kiri yang selalu ada di sisinya cuma mampu mendengarkan lirihan. Tak bersuara, memilih memandanginya dari kaca spion depan.


“Apa salah orang sepertiku mengharapkan itu? Aku hanya ingin kehidupan keluarga yang normal, Charlie. Anna di sisiku, Eldrey dan Evan yang tertawa bersamaku. Aku sudah hampir dekat dengan itu, tapi kenapa semuanya terjadi lagi?”


“Apa salahku Charlie?”


“Aku cuma ingin putriku tumbuh seperti anak-anak yang lainnya. Tertawa bersama teman-temannya, hidup normal seperti orang-orang yang ada di sekitarnya. Tapi sekarang, dia terbaring Charlie. Dadaku sesak, dan aku tak bisa menghentikan sakit di hatiku. Aku mohon, tolong jangan ambil anakku.”


“Apa yang harus kulakukan untuk bisa mendapatkan itu?”


Dan telapak tangannya pun menutupi separuh wajah sendu itu.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2