FORGIVE ME

FORGIVE ME
Lukisan dua tahun lalu II


__ADS_3

Dan tiba-tiba, suara ketukan pintu mengganggu pemandangan mereka.


“Bos, ada yang ingin bertemu,” sahut wanita yang tadi memeluk Eldrey dan menyajikan kue ulang tahun untuk ditiupnya.


“Oke, suruh masuk,” perintahnya.


Putri Dempster pun duduk di sofa sambil tetap memeluk bonekanya. Sampai akhirnya dirinya terdiam memperhatikan siapa tamu yang datang.


Seorang gadis muda, sedikit lebih tua darinya. Berdandanan seksi namun terlihat tak nyaman bagi pemakainya. Sorot matanya gugup dan sesekali melirik sekelilingnya.


Akan tetapi, dirinya jadi tersentak begitu penglihatannya bertemu dengan gadis muda di seberang.


Eldrey Brendania Dempster.


Garis wajah dan ekspresinya begitu tak asing bagi sang pendatang. Bibirnya bergetar dan tangannya berkeringat.


“A-apa mungkin, kamu Eldrey?”


“Kau mengenalku?” putri Dempster memiringkan wajahnya.


Rasanya benar-benar mengejutkan bagi dia yang bertanya. Sosok di depannya, terlihat tak mengenali dirinya. Apakah ia benar-benar tak tahu? Atau hanya berpura-pura? Bahkan wajah mereka berdua tak jauh berbeda dari saat kecil atau remaja.


“Temanmu?” tanya laki-laki itu pada Eldrey.


“Tidak. Aku tidak pernah melihatnya,” gadis itu mengambil kue di meja dan membawanya ke meja kerja sang pemilik Club. Mengabaikan mereka dan sibuk memakannya.


“Jadi, kenapa kamu datang menemuiku?”


“A-aku, ingin bekerja di sini.”


“Bekerja?” laki-laki itu menatap heran pada sang gadis muda.


“Kamu kuliah?”


“Tidak.”


“Dan tidak mencoba bekerja di tempat lain?”


“S-sudah.”


“Lalu?”


“A-aku, butuh pekerjaan yang menghasilkan uang banyak.”


Tiba-tiba tawa berkumandang di bibir sang pemilik tempat itu. “Uang banyak? Kamu yakin?”


“Ya.”

__ADS_1


“Kenapa?”


Cukup lama bagi gadis itu menjawabnya. Tangannya terkepal begitu erat dalam posisi duduk di sofa. Sepertinya, ada tekanan berat yang menyelimuti garis hidupnya. Bahkan, matanya mulai memerah tanpa jelas penyebabnya.


“Keluargaku dijebak. Kami dipaksa membayar hutang yang tak pernah kami lakukan. Harta kami disita, membuat ayahku jatuh sakit dan ibuku hanya bisa menangisinya. Dan adikku, a-adikku terpaksa berhenti sekolah. A-aku benar-benar butuh pekerjaan untuk mendapatkan uang yang banyak. A-aku mohon, tolong bantu aku, Tuan. Pekerjaan apa pun itu tidak masalah, tapi aku mohon tolong bantu aku. A-aku mohon.”


Dan ia pun berlutut di hadapan laki-laki muda yang hanya diam mendengarkan. Isak tangis gadis itu terus berkumandang seakan benar-benar tak sanggup lagi menerima tekanan hidupnya.


Sementara Eldrey, hanya melirik masam penampakan di depan matanya.


“Jadi, kamu akan bekerja apa saja?”


“Ya! Aku akan bekerja apa saja! Apa pun itu tidak masalah.”


“Bahkan dengan menjual dirimu sendiri?”


Tersentak. Gadis itu terdiam. Rasanya pertanyaan laki-laki barusan seperti pisau bermata dua untuk dirinya. Sisi mana pun sebagai jawaban jelas-jelas dia akan tetap terkena imbas akhirnya.


“Y-ya. Apa pun itu, tidak masalah,” lirihnya terisak-isak. Air matanya tak terbendung lagi alirannya. Begitu deras tetesannya, cukup mengundang iba bagi yang melihatnya.


Namun tidak untuk putri Dempster. Dia tersenyum remeh menatap kesedihan di penglihatan. Entah kenapa ia berekspresi seperti itu. Tapi yang jelas, saat matanya saling bertemu mereka merasakan sesuatu di masing-masing hatinya.


Sebuah cerita, namun masih belum menyalakan sumbu di depan keduanya.


Laki-laki itu pun mengambil sebuah map di atas meja kerja. Menyodorkannya pada gadis itu bersamaan dengan pena. “Baca baik-baik sebelum kamu mengisinya. Aku tidak ingin bermasalah dan jadi repot. Paham?” 


“B-baik Tuan.”


“A-apakah jika aku menjadi penari striptis bisa menghasilkan uang banyak?”


Tapi tawa keras justru terpancar di ujung sana. Dari seorang gadis muda yang memegang boneka di meja kerja. Entah apa yang lucu sampai ia seperti itu. Sangat aneh dan mengundang tanda tanya.


“Ada yang lucu?” tanya laki-laki itu sambil menyandarkan tubuh ke sofa dan menengadah.


Dan perlahan, tawa di bibir putri Dempster mulai memudar.


“Tentu saja ini semua. Bukankah ini sangat menghibur? Kebodohan gadis itu benar-benar menggelitik pendengaranku.”


Sang gadis terkesiap. Tak menyangka jika dirinya akan dikatai sampai seperti itu. “Apa maksudmu?”


“Ayolah Nona. Kau datang ke sini untuk mencari kerja bukan? Kau bukan orang bodoh yang tak tahu seperti apa kehidupan di sini bukan? Jika kau ingin mendapatkan uang banyak, kenapa tidak lakukan semuanya saja?”


Eldrey lalu bangkit dari duduknya dan menyeret boneka besar itu seakan menyapu jejak pijakannya.


“Menggoda semua pria, menjadi simpanannya, menjajakan tubuhmu pada mereka dan dapatkan semua uang yang ada. Apa lagi yang lebih menyenangkan selain itu? Kau akan dapat uang banyak dan berakhir bahagia. Bagus bukan?” kekehnya dan memandang remeh gadis di depannya.


“Lagi pula, itu memang pantas untukmu. Gadis manis yang cocok dibayar mahal. Yah, tapi tarian erotis juga tak begitu buruk. Aku menantikan penampilanmu, Patricia.”

__ADS_1


Selesai mengatakannya Eldrey pun pergi dari sana. Boneka besar itu tetap ia seret dan memasukkan tubuhnya ke sebuah ruangan paling ujung.


Kamar VIP bagi penikmat layanan Sextoria Nightclub. Di kuncinya, sampai akhirnya suara gedoran berkumandang di depan pintu.


“Eldrey! Buka pintunya! Aku ingin bicara denganmu, Rey. Aku mohon!” pinta sang pengejar namun terabaikan.


Gadis itu memilih memeluk boneka panda di tangan sambil merebahkan diri di ranjang.


Begitulah aktivitas dirinya. Saat ia bosan dan tak ada lagi yang bisa diajaknya bicara di rumah, maka sosoknya akan melarikan diri ke Club itu.


Bertemu bartender ataupun para pegawai yang tersenyum padanya. Walau kebaikan mereka entah asli ataupun palsu, setidaknya ada yang tersenyum kepadanya. Cukup membuatnya terhibur melihat orang-orang bersikap baik untuknya.


Hanya itu hiburan yang menemaninya di kala tak ada siapapun di sisinya.


Dia benar-benar bosan dan juga kesepian.


Bahkan menjelang malam hanya beberapa pesan dan telepon dari bawahan ayahnya yang menanyakan kabarnya. Memberi tahukan fakta kalau para pengawal sudah dikirimkan untuk menjaganya.


Apakah tak ada satu pun yang melarangnya memasuki tempat itu?


Apakah ayahnya, tak ada niat menyuruhnya pulang dari destinasi yang sangat berbahaya bagi remaja sepertinya?


Apakah mereka percaya kalau kuasa yang dimiliki masing-masingnya bisa menyelamatkan dirinya jika terjadi sesuatu tak terduga?


Kenapa mereka hanya menyirami dirinya dengan kekuasaan milik mereka?


Bahkan jika ulang tahun sudah dirayakan namun hatinya tak bisa merasakan apa-apa. Rumah besar bak istana bagi orang-orang di bawah mereka, terasa dingin untuknya.


Kenapa ayahnya tak bisa sedikit pun menghubunginya? Bahkan jika cuma sekadar mengucapkan selamat ulang tahun, apa begitu sulit baginya?


Mereka orang kaya namun dirinya tak bisa merasakan apa-apa. Perayaan ulang tahun dari pelayannya, seperti acara tahunan karena tuntutan di bawah hartanya.


Apa arti hidupnya? Apa yang dicari keluarganya? Apakah memang uang sumber kebahagiaannya? Apakah mereka benar-benar puas dengan kehidupan dari helaian berharga yang menyanjungnya?


Sang gadis benar-benar merasa hampa. Di balik ketidak jelasan perasaan yang ia diamkan seperti itu, dirinya hanya memandang langit-langit kamar. Tertawa pelan tanpa jelas kelucuan sebagai sumbernya.


Sungguh ini mengingatkan kembali dirinya pada masa lalu, saat-saat sosoknya membisu di tempat pengasingan. Suasana rumah sakit jiwa, semua terasa mirip baginya dengan ini semua.


Diperhatikan namun tak pernah ditemani. Dia hanya butuh seseorang untuk berdiri di sisi. Begitulah kata dokter yang menanganinya.


Namun, apakah itu semua memang benar? Dirinya hampa dan kosong dalam menjalani kehidupan. Pada siapakah dirinya bisa bercerita? Karena tak ada satu pun yang sadar akan keinginannya ataupun datang menghadapinya.


Terlebih sosok orang tua yang larut dalam keegoisan dan urusan masing-masingnya, mengabaikan dirinya seperti tak ada artinya lagi bagi mereka.


Simpati dan empati membekunya, seakan ingin mati bersama emosi. Dia tak tahu lagi apa yang benar-benar diinginkannya. Kecuali menikmati hidup yang tak jelas gunanya untuk apa atau artinya bagaimana.


Dia tak bisa memahami semuanya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2