FORGIVE ME

FORGIVE ME
Perkelahian


__ADS_3

Sore harinya, setelah pulang kerja, Alice pun menghubungi Eldrey untuk memastikan apakah mereka jadi pergi bersama atau tidak. Setelah memastikan tempat bertemu mereka, Alice pun segera bersiap-siap sebaik-baiknya.


Sementara di kediaman presdir Betrand, tampak sang tuan putri sudah bersiap dengan dandanannya boyish nya. Ia menyusuri jalan keluar kamar menuju bangunan utama untuk menemui Rondolf sang kepala pelayan.


“Rondolf,” panggil Eldrey saat sudah bertemu dengannya di depan ruang kerja presdir Betrand. Tampaknya ia juga akan menuruni tangga yang sama dengan Eldrey.


“Iya nona, ada apa?”


“Aku ingin keluar bersama temanku malam ini,” tukas Eldrey berwajah datar.


“Ke mana?” tanya Rondolf penuh selidik.


“Ke luar.”


“Dengan siapa?”


“Dengan Alice, putri penjual ayam goreng pinggiran jalan Heros,” jelas Eldrey sambil memutar bola matanya malas.


“Maaf nona, tapi saya tidak bisa mengizinkannya,” sahut Rondolf yang membuat wajah Eldrey berubah menatapnya.


“Kenapa?” tanyanya dengan nada yang menekan.


“Seperti yang nona tahu, tak ada alasan bagi saya untuk mengizinkan nona setelah apa yang nona lakukan kemarin,” tukasnya blak-blakan.


Eldrey menatapnya tajam, tampak jika ia tak suka mendengar perkataan Rondolf tersebut.


“Bahkan jika aku dikawal sekalipun?”


"Maaf nona," balas Rondolf dengan pandangan yang tenang.


“Apa perlu kuhubungi presdir Betrand agar dia mengizinkanku?” ledek Eldrey padanya.


“Silakan lakukan nona, bagaimanapun juga, semua keputusan ada di tangan tuan,” jelasnya sambil menatap tegas gadis muda tersebut.


Tanpa basa-basi, Eldrey pun mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi presdir Betrand. Cukup lama ia menghubungi presdir Betrand, tapi raut wajahnya memperlihatkan hasil yang sudah jelas jawabannya.


Ayahnya, sama sekali tak mengangkat panggilannya, sudah berulang kali ia coba, tapi hasilnya masih tetap sama.


Ia pun menatap Rondolf dengan pandangan jengkel, “aku bosan, apa kau tidak bisa biarkan aku pergi? Kalau perlu suruh Charlie atau Roma mengawalku,” pinta Eldrey dengan ekspresi memelas sekarang.


Rondolf masih menatap nona muda itu dengan raut wajah yang tenang, tapi tampak jika ia sedikit tersentuh dengan ekspresi Eldrey tersebut.


“Baiklah nona, tolong tunggu sebentar, saya akan memberitahu sekretaris Roma terlebih dahulu, karena tuan Charlie saat ini sedang ada urusan,” pungkasnya.


“Mmm,” balas Eldrey sambil tersenyum tipis. Ia pun menuruni tangga dan meninggalkan Rondolf menuju taman belakang.


Setelah sekitar setengah jam menunggu, Eldrey pun akhirnya akan mendapat jawaban dari Rondolf yang datang menghampirinya.


“Nona, sekretaris Roma sudah setuju untuk menemani anda keluar malam ini,” jelasnya sambil mengangguk pada gadis yang tersenyum itu.


“Mmm, terima kasih Rondolf.”

__ADS_1


“Iya nona,” balas Rondolf sambil menganggukkan kepala dengan sikap yang sempurna.


*******


Malam penuh bintang, dengan suasana bising yang mengerumuni jalanan serta bangunan yang indah arsitekturnya, menjadi daya tarik tersendiri di tempat itu.


Alice .... Dan gadis itu pun memilih kawasan tersebut sebagai tempat untuk menunggu kedatangan Eldrey.


Ia tampak cantik dengan dress santai bermotif floral biru yang dikenakannya.


Sesekali rombongan anak muda pun menggodanya, sampai ia pun risih sendiri dan memilih cuek dengan rayuan pemuda-pemuda setengah matang tersebut.


Alice pun memilih pergi dari tempatnya berdiri dan segera menghubungi Eldrey, panggilan mereka pun tersambung.


“Halo?”


“Halo Rey, kamu di mana? Kayaknya aku bakalan nungguin kamu di taman kota, sebab ada yang mengganggu aku di tempat kita janjian,” jelas Alice.


“Oh .... Oke, tunggu saja di sana, aku sebentar lagi sampai,” tukas Eldrey lalu langsung mematikan telepon begitu mendengar jawaban Alice.


“Sekretaris Roma, aku akan ke taman kota karena temanku menunggu di sana,” gumam Eldrey pelan.


“Baiklah nona.”


Tapi di taman kota pun tak ada bedanya, karena ia seorang perempuan dan hanya sendiri, tentu saja mengundang orang lain


untuk datang merayunya.


“Hai nona, sendiri saja?” tanya seorang pemuda di antara tiga laki-laki yang menghampirinya.


“Mana temannya?” tanya salah satu dari


mereka.


“Lagi ada urusan sebentar,” jelas Alice sambil memutar bola mata menatap berkeliling.


“He .... Begitu?” Tiba-tiba seorang laki-laki di antara mereka pun duduk di sebelah Alice. Tangan Alice langsung gemetaran, karena ia sadar kalau posisinya sedang sulit apalagi Eldrey masih belum datang.


“Mau kami temani? Mana tahu temannya gak balik lagi, bagaimana jika ikut kami saja?” ajak laki-laki yang duduk di sebelahnya itu. Laki-laki itu pun menyentuh bahu Alice dan mengelusnya.


Alice yang kaget dan takut pun langsung menepis kasar tangan laki-laki tersebut sehingga mereka pun kesal dengan tindakannya.


“Hei! Kasar sekali kau nona!” bentak laki-laki yang tangannya ditepis itu.


Alice yang kaget dan takut karena dibentak pun langsung berdiri dari duduknya dan mencoba lari dari sana. Tapi sayang sekali, karena lengannya ditarik oleh salah satu dari mereka yang berdiri.


Alice pun berteriak minta tolong dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Hei! Kau duluankan yang mulai bertindak kasar pada kami!” hardik laki-laki yang memegang erat lengannya dan menyentakkannya.


Alice langsung menangis mendapat perlakuan seperti itu, sementara orang-orang yang berlalu-lalang hanya menatap mereka. Ada yang kasihan namun tak berani mendekat, karena salah satu dari laki-laki tersebut adalah seorang pembuat onar terkenal, yang tak tanggung-tanggung menyakiti dan melukai orang-orang yang mengganggunya.


Terlebih parahnya lagi, ada orang berpengaruh yang berdiri di belakangnya sehingga orang itu bisa semena-mena.

__ADS_1


“Aku mohon, lepaskan aku!” pinta Alice memohon-mohon sambil menangis dan menarik tangannya.


“Tenang saja, akan kami lepaskan setelah kami puas denganmu,” kata laki-laki yang tangannya ditepis tadi.


“Buaakkh!!”


Suara pukulan yang menyentuh pipi laki-laki yang memegang lengan Alice. Mereka pun kaget dan langsung menatap pada sosok penolong yang tak terduga.


“Dean!” pekik Alice.


“Beraninya kalian br*ngs*k!” teriak Dean marah.


Melihat temannya dipukul, laki-laki yang dua lagi langsung menyerang karena tak terima dengan perbuatan Dean pada temannya.


Ketegangan pun tak terhindarkan, Dean langsung berkelahi dengan mereka. Tapi salah satu dari mereka berhasil memukul wajah Dean. Tiba-tiba suara sirine polisi pun datang menghampiri, tampaknya ada salah satu orang yang lalu-lalang menghubungi polisi untuk melerai perkelahian mereka.


Para laki-laki yang bermasalah dengan Dean dan Alice pun langsung gelapan dan lari terburu-buru agak tak berhasil tertangkap polisi.


“Dean! Kamu baik-baik saja?!” teriak Alice sambil menyentuh wajahnya. “Bibirmu terluka!” sahut Alice khawatir sambil meneteskan air mata.


“Aku baik-baik saja, kamu tak perlu khawatir,” tukas Dean sambil menyentuh tangan Alice yang memegang wajahnya.


“Ayo kita obati, ikut aku” ajak Alice sambil menarik tangan Dean.


Sementara di tempat yang tak terlihat oleh Alice dan Dean, tampak Eldrey sedang menatap mereka dari kejauhan. Ia hanya sendirian, tak ditemani sekretaris Roma atau siapa pun.


Ia menatap mereka berdua yang mulai menjauh dari taman, tampaknya Alice lupa dengan janjinya bersama Eldrey karena insiden yang menimpanya barusan.


Eldrey hanya memandang langkah mereka yang menjauh dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Sesekali ia menoleh ke sekelilingnya, melihat-lihat tapi tak jelas apa yang dicarinya.


Ia pun melirik arlojinya sambil menghela napas kasar. “Jadi, apa yang harus aku lakukan?” gumamnya sambil memegang ponsel dan mematikannya.


“Sepertinya ini saatnya aku bersenang-senang,” sahutnya sambil tersenyum sumringah.


Eldrey langsung berjalan ke arah yang berbeda dengan Alice dan Dean. Ia menyusuri jalanan sambil menoleh ke sekelilingnya, seolah-olah ada yang dicarinya. Tapi tiba-tiba ia tersenyum, saat menatap sesuatu yang menarik perhatiannya.


Dengan tatapan misterius ia langsung memutar arah jalannya dan memasuki gang-gang sempit seolah-olah sedang berjalan menghindari sesuatu.


Eldrey mempercepat jalannya, lalu berlari menyusuri gang-gang yang mulai sepi pengunjungnya seperti sedang menghindari kejaran dari seseorang.


Tiba-tiba ia langsung menghentikan larinya karena menangkap pemandangan yang tak terduga. “Ramses? Sedang apa kamu di sini?” tanya Eldrey dengan tatapan heran.


Ia lalu melirik ke sekeliling Ramses dan tampak tiga orang laki-laki yang menyerang Alice di taman tadi, kini sedang terkapar di gang yang hampir menembus jalan raya tersebut.


“Mereka ....” gumam Eldrey sambil berjalan mendekati Ramses.


“Eldrey? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ramses dengan tatapan penuh selidik.


Tapi tiba-tiba!


“Awas!” pekik Eldrey sambil menarik lengan Ramses secara kasar.

__ADS_1


“Sret!!”


Suara tusukan pisau pun langsung mengenai perutnya.


__ADS_2