FORGIVE ME

FORGIVE ME
Ciuman pertamamu milikku


__ADS_3

Presdir Betrand, menatap arloji dengan tampang dinginnya. Sementara seorang pemuda melirik tenang sosok yang menjadi atasannya.


“Hei, kenapa bos murung begitu?” tanya Rudan pada Daniel.


“Mungkin karena dia ingin pulang.”


“Lalu kenapa dia tidak pulang?”


“Kau tahu sendiri alasannya kan?”


“Padahal kupikir bos manusia berhati batu, ternyata dia masih berperasaan juga ya.”


“Untung dia tidak dengar. Kalau tidak habislah kita berdua.”


“Kupikir juga begitu,” angguk Rudan.


Kedua bawahan Betrand itu terlihat sedang berbisik di meja kerja di belakang sofa yang di duduki Betrand.


“Rudan.”


“Iya Bos!” jawabnya lantang yang membuat Daniel Bonapart mendelik kaget akan teriakan di dekat telinganya. Sontak ia melotot sambil memperbaiki pendengarannya.


“Jika kau ingin cuti silakan lakukan kembali.”


“Boleh Bos?!”


“Ya.”


“Terima kasih Bos!” teriaknya sambil memukul-mukul bahu Daniel.


“Sialan kau bocah!” umpat Daniel kesal. “Bos,” selanya tiba-tiba.


Presdir Betrand pun sedikit menoleh dengan sudut mata melirik ke belakang.


“I-itu, apa aku juga boleh ambil cuti?”


“Bukankah kau sudah cuti?”


“Heh ... padahal yang kemarin bukan cuti.”


“Kau CEO-nya Daniel.”


“Aku akan bekerja dengan keras. Tolong ya Bos, kemurahan hatimu akan kubayar dengan pengabdianku.”


Presdir Betrand mengalihkan pandangannya. “Lakukan saja sesukamu.”


“Terima kasih Bos,” balasnya sambil melotot senang dan menyeringai ke arah Rudan yang bertampang jengkel.


“Daniel.”


“Ah, ya Bos?”


“Aku akan kembali dua hari lagi.”


“Ah, baiklah aku mengerti Bos,” angguknya.


Di tempat berbeda di kediaman Gates, suasana di dalamnya masih tidak tenang mengingat skandal yang sudah dilakukan Lily.


Sepertinya, hal itu benar-benar tak bisa diterima Nyonya Camila yang merupakan neneknya.


Kebodohan Lily untuk menjebak Eldrey, sungguh menggali lumpur untuk ia tiduri. Bahkan dirinya tak bisa lagi kuliah karena terlalu malu.


Akan tetapi, situasi berbeda justru diperlihatkan Naomi. Dirinya terlihat mengerikan di balik jeruji besi.


Sesekali memanggil nama Lily yang sudah menumbalkannya atas apa yang menimpa Eldrey termasuk kematian dua suruhannya. Walau kebakaran rumah kosong disebabkan oleh ulah putri Dempster, tapi pengkhianatan sang sahabat benar-benar tak bisa diampuni.


Di balik pesakitannya, dirinya bersumpah akan membalas Eldrey, termasuk juga Lily beserta keluarga Gates yang sudah menenggelamkan keluarganya demi keselamatan putri mereka.


Naomi telah merancang rencana pembantaian untuk Lily di dalam dinginnya penjara dengan senyum mengerikan yang membelah wajah cantik tak terurusnya.


Lagi, Evan lagi-lagi berdiri di depan pintu kamar Eldrey. Sebelum berangkat kuliah ia menemani Bibi Arda yang mengantar makanan ke kamar adiknya.


Walau tak bisa melihat jelas, setidaknya bisa mendengarkan suaranya.

__ADS_1


“Nona, jika ada makanan lain yang ingin Nona makan katakan saja,” sela wanita itu.


Eldrey terlihat menatap sajian sarapan pagi khas Jerman yang menaburkan aroma untuk disantap. Tak bersuara dan memilih memakannya.


Bibi Arda hanya bisa tersenyum walau tak dijawab gadis itu pertanyaannya.


“Aku ingin jalan-jalan keluar.”


Bibi Arda tersentak. Perlahan wajahnya menyiratkan ekspresi canggung karena bingung harus memberi jawaban apa.


“Apa kamu mau jalan-jalan denganku atau Ibu?” timpal sebuah suara tiba-tiba yang membuat Eldrey melirik tajam ke pemiliknya.


“Tidak. Tinggalkan aku sendiri.”


Evan terdiam. Perlahan, langkah kakinya di depan pintu menjauh dari sana. Walau interaksi keluarga mereka masih dingin, tapi setidaknya sang gadis sudi menjawab kalimatnya sudah cukup bagus bagi Evan.


Sekitar pukul 10.00 Bu Anna dikejutkan dengan kedatangan seorang pemuda yang tidak asing lagi wajahnya.


“Selamat pagi Bu Anna.”


“Kevin? Selamat pagi Nak.”


“Bagaimana keadaan Ibu?”


Wanita itu tersenyum karena ditanyai begitu. “Ibu baik-baik saja Nak.” Beberapa detik berlalu pada ketenangan. Sejenak kemudian. “Kevin.”


“Ya Bu?”


“Terima kasih sebelumnya untuk bantuanmu pada Eldrey.”


Sang pemuda pun memamerkan ekspresi yang lembut pada wanita sebaya ibunya itu. “Sama-sama Bu. Lagi pula bagaimanapun dia temanku, jadi sudah sewajarnya aku membantunya.”


Bu Anna merasa tenang sekaligus senang, ternyata putrinya memiliki teman yang pengertian walau keadaannya seperti itu.


“Apa kamu ingin menemui Eldrey?”


“Iya. Apa boleh Bu?”


Wanita itu sedikit menundukkan kepala. “Tentu saja boleh Nak,” setujunya.


“Jika seandainya terjadi apa-apa, tolong segera beri tahu kami Tuan Muda. Tenang saja karena ada pengawal tak jauh di luar kamar,” jelasnya.


“Mm.”


Setibanya di sana, pintu kamar pun diketuk. Namun entah memang sudah kebiasaan atau dirinya yang malas menjawab, sama sekali tak ada balasan untuk penantian kedua orang itu.


“Maaf. Nona memang begini, silakan anda masuk saja Tuan Muda.”


Kevin menyetujuinya lalu masuk setelah pintu kamar dibuka Emily. Dirinya terdiam, saat menyadari tak ada sosok yang ingin ditemui dalam kamar.


Tanpa ia sadari, langkahnya pun menatap deretan bunga Forget Me Not yang terpajang di kamar Eldrey. Benar-benar berbeda dengan sebuket mawar merah yang ada di tangannya.


Sampai akhirnya suara pintu terbuka dari arah kamar mandi mengagetkan pandangannya.


“Eldrey?”


Sang gadis menatap tajam sosok pemuda yang berada di kamarnya. “Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Menjengukmu,” ucapnya sambil mendekatinya.


Sekarang, jarak tubuh mereka kurang dari setengah meter dan Kevin pun, menyodorkan sebuket mawar yang memang dibawanya untuk Eldrey.


“Untukku? Benarkah?” nada suara Eldrey terkesan menyindir.


“Ya. Sepertinya kamu tidak menyukainya karena ada banyak bunga biru itu di sini.”


Eldrey hanya tersenyum tipis, dan ia tetap mengambil bunga yang diberikan Kevin padanya.


“Apa kau tidak kuliah?”


“Tidak. Karena itu aku datang ke sini. Bagaimana keadaanmu?”


“Seperti yang kau lihat Kevin.”

__ADS_1


Pemuda itu cuma diam menatap lekat wajah Eldrey. “Rambutmu masih basah.”


“Aku kan memang habis mandi.” Eldrey beranjak dari posisinya hendak mengambil hair dryer.


Sekarang, ketenangan justru mengalir di kedua sisi. Mereka tak saling bicara, kecuali Eldrey yang sibuk mengeringkan rambutnya dan Kevin cuma menatapnya.


“Sepertinya hubunganmu dengan Henry semakin dekat.” Tak ada jawaban yang dilontarkan gadis itu. “Aku tak mengira kalau dia sebegitu menyukaimu. Kupikir selera Henry memang sudah berubah terlalu jauh.”


Sekarang, Eldrey pun meliriknya. “Nada bicaramu seakan aku seburuk itu.”


“Tidak. Justru karena kamu terlalu tinggi dari standarnya makanya aku kaget.”


“Hinaan macam apa itu?”


Kevin tersenyum. “Padahal itu pujian.” Eldrey pun mengalihkan tatapannya ke cermin yang memantulkan sosoknya. “Jadi, apa kalian berpacaran?”


“Omong kosong apa yang kau ocehkan? Jika tak ada lagi yang ingin kau katakan silakan keluar,” tegas Eldrey tanpa keramahan.


“Sepertinya belum.”


Sang gadis jadi melirik masam akan ocehan tak masuk akal pemuda itu.


“Kutegaskan sekali lagi. Berhenti ikut campur urusanku. Entah itu hubungan Henry denganku atau apa pun itu. Lagi pula kau tak perlu cemas karena aku takkan melukai temanmu yang polos itu,” seringai Eldrey.


“Benar-benar tidak peka ya.”


Ekspresi Eldrey sontak berubah. “Tidak peka? Siapa yang kau maksud?”


“Baiklah. Karena sepertinya kamu sedang kesal lebih baik aku pulang saja,” pamit sang pemuda.


“Beraninya keparat sepertimu main pergi begitu saja setelah beromong kosong?”


“Bukankah kamu yang mengusirku?”


Eldrey benar-benar menatap masam ke arahnya. “Sekarang, kupikir aku benar-benar membencimu.”


Kevin hanya diam mendengarkan ocehan Eldrey. Mata mereka yang saling bertemu selama beberapa detik, membuat Kevin melangkahkan kaki ke arahnya.


Dengan jarak 30 cm yang memisahkan mereka, Eldrey mendongak untuk menyapu pandangan di wajah sang pemuda yang lebih tinggi darinya.


“Eldrey. Kutanya sekali lagi. Apa kamu menyukai Henry?”


“Entahlah. Itu bukan urusanmu.”


“Jika kamu tidak menyukainya tolong jangan permainkan dia.”


“Memangnya kamu siapa? Apa pun yang ingin kulakukan dengannya itu urusanku. Lagi pula kamu kan bukan ibunya,” dengan nada menyindir.


“Gadis keras kepala,” Kevin pun menyentuh pipi Eldrey. Membuat sosok itu terdiam dengan sorotan ke arah tangan yang memegang wajahnya.


“Apa yang kamu lakukan?”


Kevin kembali diam tak menanggapi pertanyaannya. Perlahan, jempolnya pun bergerak menyapu bibir bawah Eldrey.


Sontak sang gadis memasang raut kejengkelan teramat sangat pada orang di depannya.


“Jauhkan tanganmu dari wajahku.”


“Kenapa?”


“Sepertinya kau lupa apa yang kukatakan sebelumnya.”


“Jangan menyentuhmu jika aku tidak menyukaimu?” Akan tetapi, hanya sorot mata Eldrey yang bekerja sebagai balasan sang pemuda. “Berarti jika aku menyukaimu maka aku boleh menyentuhmu?”


“Dasar kurang a—”


Tiba-tiba Eldrey terdiam. Tak disangka, jika lanjutan kalimatnya justru tertelan sebuah ciuman lembut sosok yang berdiri di depannya.


Mata keduanya pun sama-sama menatap lekat dan beradu dijarak di mana wajah mereka saling bersentuhan melukiskan keadaan Eldrey dan Kevin.


Begitu Kevin melepaskan sentuhan bibirnya ke bibir lembut Eldrey, sebuah kalimat tak terduga justru terlontar dari mulutnya.


“Ciuman pertamamu memang bukan untukku. Tapi, ciuman pertamamu milikku, Eldrey.”

__ADS_1


 


__ADS_2