
Negara yang indah.
Bahkan melewati tengah malam, masih banyak kendaraan berlalu lalang. Pejalan kaki di dominasi turis mancanegara.
Dan dinginnya udara menyusup masuk ke dalam raga, di antara banyaknya manusia, seorang gadis muda mendongak menatap langit sana.
Tak lagi berantakan surai itu. Rambutnya dikuncir kuda, dan trench coat curian masih melekat indah di badan. Bibir merah yang berseberangan dengan kulit pucat miliknya memamerkan kecantikan.
Sang kenalan yang berdiri berdampingan tak ayal sesekali mencuri pandang. Bohong jika perasaan pria itu tak tertarik pada tampilan putri atasan saudara tirinya.
“Ayo,” ajak Damien begitu sebuah sedan hitam berhenti di hadapan mereka.
Tapi saat akan memasukinya, cekalan tangan seseorang mengalihkan atensi keduanya.
“Nona, anda mau ke mana?”
Eldrey mengernyitkan dahi bingung. “Siapa?”
“Saya bawahan tuan Kevin, Nona. Saya diminta membawa anda ke hadapan tuan muda Kevin sekarang.”
Damien terdiam menyaksikan interaksi asing di depan mata. Tebakannya mengatakan kalau gadis ini sedang lari dari seseorang. Walau itu memang benar adanya.
“Kevin?” gadis itu tersenyum tipis. Tanpa aba-aba ia pukul ulu hati lawannya, cukup kuat sehingga memaksa bawahan Kevin jatuh terduduk di dekat kakinya. “Katakan padanya kalau aku sedang sibuk bertamasya. Ah, benar juga. Lihat dia,” dirinya tiba-tiba menunjuk Damien yang masih terkejut akan tingkahnya. “Dia sugar daddy-ku. Jika Kevin ingin aku, langkahi dulu pria itu. Kau akan mengatakannya bukan?”
Benar-benar di luar dugaan. Nada suaranya berlawanan dengan tingkahnya. Ia bahkan mengarahkan pisau lipat curian ke mata lawan bicara.
Keringat dingin pun mulai membasahi tubuh pengawal putra Cesar. Sosoknya jelas tak menyangka, kalau gadis yang dikejar atasannya tak lebih dari sekadar orang gila.
“Ayo Damien, kita pergi. Sampai jumpa lagi, bawahan Kevin.”
Seringai tak luput dari pandangan mereka. Eldrey yang memasuki mobil dengan ekspresi itu, perlahan memainkan pisau di tangan. Terlalu lincah untuk diakui sebagai seorang pemula.
“Kapan kau mencurinya?”
“Saat aku tak sengaja menabrakmu.”
“Benarkah? Kembalikan,” tangan pria itu terulur padanya. Putri Dempster hanya menatap datar, sepertinya ia tak berniat mengembalikan barangnya. “Pisauku, Nona.”
“Kau punya pistol di jasmu.”
“Matamu terlalu jeli, cantik.”
__ADS_1
“Aku dilatih untuk itu.”
“Pisauku,” Damien langsung memegang lengan Eldrey. Mengambil benda tajam itu dari genggaman gadis di sebelahnya.
Dan putri Dempster mau tidak mau terpaksa menuruti sosoknya mengingat dia sedang menumpang di kendaraan pria itu.
Perjalanan yang cukup memakan waktu ditempuh mereka untuk mengantar Eldrey ke daerah pinggiran.
“Ikuti aku,” begitu keduanya turun dari kendaraan.
Cukup sepi di sekitar. Kecuali banyak kapal di perairan. Sebuah danau sebagai pemisah antara dua negara yang berdekatan. Eldrey melirik ke ujung sana, tempat di mana pemukiman berbeda berada.
Tak terasa langkahnya sampai ke sebuah area landasan helikopter. Ia terdiam saat menyaksikan Damien sedang bernegosiasi dengan beberapa orang. Sialnya itu bukan bahasa yang bisa dimengerti Eldrey.
Setidaknya sekarang ia hanya bisa percaya kalau pria itu akan mengantarnya ke tempat Daniel berada.
“Ayo.”
Gadis itu tertegun, apalagi ketika Damien ikut duduk di kursi penumpang.
“Kau—”
“Aku juga akan ke seberang. Tenang saja, kau akan kuantar ke tempat Daniel dengan selamat. Ayo naik,” ajaknya sambil mengulurkan tangan kanan.
Kantuk bahkan tak bisa menjadi raja. Putri Dempster terus terjaga, dengan sorot mata tak lepas pada perairan di bawah mereka. Damien dalam diam memandangi sang gadis muda, instingnya berbicara kalau sosok yang dibawa cukup waspada.
Kejadian sebelumnya menari di ingatan. Ia tak terlalu tahu kehidupan adik angkatnya, selain mengetahui kalau Daniel menjabat sebagai CEO bagi penguasa seperti Betrand.
Pria yang mendirikan kerajaan bisnis dengan penuh keringat juga air mata. Dan di sampingnya ada seorang gadis yang bisa terjual mahal kalau sampai ditawan.
Nyatanya untuk bersama orang asing, Eldrey cukup nekat dalam berpergian.
“Apa kau tidak mengantuk? Kalau iya tidurlah. Nanti aku akan membangunkanmu.”
Sebuah senyuman yang menarik perhatian pun dipamerkan Eldrey. Perlahan pandangan diedarkan dan bertemu dengan dua orang di hadapan. Sosok asing yang dibawa Damien untuk menemani mereka di perjalanan.
“Tidur di sarang singa? Aku tidak segila itu.” Para pendengar terdiam. “Kita sampai,” ucapnya saat landasan sudah terlihat.
Dan tampak olehnya beberapa orang menunggu di pinggiran. Ada yang berpakaian santai, tapi ada juga yang mencolok penampilannya. Dan dua di antara penunggu sepertinya orang penting di kubu pertahanan negara.
Sementara di tempat yang berbeda, Kevin sibuk memainkan ponsel. Memeriksa sesuatu dengan tatapan dinginnya. Lambat laun senyum tipis terpatri di bibir.
__ADS_1
Itu adalah saat ketika pelacak dalam trench coat miliknya, mulai berhenti di sebuah kawasan tak terduga.
Rumah sederhana yang menjadi hunian seorang Daniel Bonapart dalam menjalani hari-harinya.
“Sudah bangun?” sapa seseorang di pagi hari.
Apron biru yang membalut setelan tanpa jas cukup kontras di badannya. Laki-laki itu, sibuk menyiapkan sarapan pagi. Untuk seorang gadis yang baru saja tinggal di rumah kecilnya.
“Mana Damien?”
“Masih tidur.” Eldrey pun duduk di kursi, sambil meraih segelas juice di atas meja. Roti bakar dan beberapa potong sandwich dihidangkan untuknya, dan tanpa ragu di makan olehnya. “Menyenangkan?”
“Apanya?”
“Pelarianmu.” Eldrey tak menjawab selain sibuk mengunyah. Roti bakar dengan selai coklat kacang itu cukup lezat rupanya. “Dempster sedang ke sana. Sepertinya Emily sudah membocorkan aksimu.”
Hanya tatapan datar yang terlukis di rupa. Tapi gerakan tiba-tiba Daniel cukup mengejutkan gadis itu. Tangannya dengan lancang menyentuh sisa coklat di sela-sela bibir Eldrey.
Parahnya lagi, ujung jari barusan juga dijilat dengan santainya. Seakan-akan mereka sepasang kekasih yang memadu mesra.
“Aku, akan membunuh Camila.”
Daniel yang duduk di seberang pun menumpu dagunya. Ia tak terlihat terkejut, selain ikut mengunyah roti bakar buatannya. Walau lirikan mata terus mengarah pada gadis yang bersuara.
“Butuh bantuan?” Eldrey pun menyipitkan mata. “Sebagai gantinya kau harus menjadi istriku.”
Tampang putri Dempster seketika meremehkan. “Istri? Sepertinya sekarang sedang musim kawin ya.”
“Aku serius. Aku akan membunuhnya untukmu. Setelah itu kau menjadi istriku.”
Eldrey pun menyentuh bibir gelas di depan mata. “Kau bahkan tidak menyukaiku.”
Jawaban yang cukup mengejutkan. Dan senyum hangat pun ditorehkan Daniel padanya. “Tapi kau cocok jadi pajangan di sampingku.”
Kurang ajar.
Itulah yang ditangkap oleh putri Dempster. Hanya saja ekspresi ramah pria itu menelan kekesalannya. Berbeda dengan sekretaris Roma yang kaku. Seandainya Daniel tidak memamerkan jidat sepenuhnya, mungkin dialah tokoh teramah di kalangan kepercayaan Presdir Betrand.
Laki-laki yang kurus dan tinggi seperti Kevin, namun memancarkan aura nan berbeda.
Selayaknya pria lunak tanpa dosa, wajahnya jelas penipu bagi mereka yang tahu sepak terjangnya. Dia jelas-jelas keji, karena tanpa ampun menghancurkan perusahaan lawan sampai korbannya berakhir bunuh diri.
__ADS_1
“Sayangnya aku lebih tertarik dengan hackermu.”
“Ah, bocah itu? Sayang sekali. Kalau kau mau aku akan mengirimkan mayatnya. Kau bisa memandanginya sampai bosan sebelum menguburnya.”