
Tak bisa dihentikan lagi. Raelianna Jin meraung-raung di kamarnya. Sekarang ia sudah tak berada di dalam mobil Nyonya Camila ataupun toko orang tuanya. Dirinya ada di rumahnya, menyuarakan sedih akibat hantaman keras Ibu sang kekasih.
Begitu banyak untaian kata yang melukai hati, untuk tenggelam di perasaannya.
Semua dominan akan nyanyian dari perbedaan kasta antara dirinya dan juga Betrand.
Walau sosoknya bukan cinderella yang disiksa ibunya, tapi sepatu kaca di tangan sang pangeran sudah dirusak Ibu Ratunya.
Anna dicerca habis-habisan, diancam dan direndahkan. Dia terus diingatkan, kalau tangannya hanya bisa melambai pada Betrand, bukan menyentuhnya.
Karena dia tak pantas untuk pemuda Dempster sebagaimana kata ibu kekasihnya.
Di jam-jam yang terus berlanjut, hari-hari kian berganti, Anna dan Betrand sama-sama disibukkan oleh tugas akhir keduanya.
Jarang bertemu, walau pemuda Gates masih menyempatkan waktu untuk menemui pujaan hatinya.
Jujur Anna ingin segera mengakhiri kisah mereka. Tapi apa daya, senyum dan wajah bahagia Betrand menyurutkan tujuannya.
Masih mencari celah kapan pertemuan yang tepat untuk memutuskan janji bahagia bersama.
Dan akhirnya, hari itu benar-benar datang. Dalam pertemuan di taman, saling menikmati pemandangan, kata-kata tak terduga Anna menyentak kesadaran kekasihnya.
Betrand terluka dan beruraian air mata akan keputusan pujaan hatinya. Memohon padanya, agar tak ditinggalkan olehnya.
Nyatanya, Anna juga mencintainya. Mereka sama-sama menangis, sendu berdua akan fakta yang ada. Kalau perbedaan latar belakang sulit menyatukan kisah kasihnya.
Dan pemuda Dempster pun sampai pada titik keputusannya.
“Kau! Kau ingin menikahinya?! Wanita miskin itu?!” teriak Nyonya Camila yang kaget mendengarnya.
“Ya.”
Dan napas memburu mewakili rupa ibunya. Sarapan pagi di kediaman Gates, seketika berubah menegangkan akan kalimat putra kedua di dalam sana.
“Kau—” kalimat wanita itu tertahan, mukanya memerah seolah tak sanggup lagi menahan amarah.
Sampai akhirnya sebuah tamparan melayang ke pipi putranya, yang membuat makan mereka serasa pahit di lidah untuk turun ke kerongkongan.
“Sampai mati, aku takkan pernah merestuinya!” marah wanita itu dengan lantangnya. Tak terasa air mata pun beruraian di pipinya. “Kau bisa menikahi siapa pun juga, tapi jangan gadis rendahan itu! Dia hanya anak pedagang roti! Apa kau ingin mempermalukan keluarga kita?! Apa kau tak kasihan padaku?! Aku membesarkanmu selama ini bukan untuk membuatmu mencoreng nama Gates seperti itu!”
Tapi tak ada jawaban yang bisa dilontarkan Betrand. Kecuali tetap diam, dan membiarkan sang ibu meluapkan seluruh kekesalan kepadanya.
__ADS_1
“Mau ditaruh di mana mukaku?! Mau ditaruh di mana muka ayahmu?! Bisa-bisanya kau berniat menikahi gadis yang bahkan lebih cocok jadi pembantumu!”
“Ibu!”
“Jangan bantah aku, Betrand!” dan telunjuk yang dipenuhi kemurkaan pun terarah pada wajah pemuda Dempster. “Jangan menyelaku.”
“Hentikan,” sela Bill tiba-tiba. Ditatapnya sang adik yang hanya bisa tertunduk tak berdaya. “Jika dia ingin menikah dengannya, maka biarkan saja. Tak ada gunanya menceramahi bocah yang bahkan tak merasakan apa pun saat mendengar amarah orang tuanya.”
Dan sorot mata tajam pun terlukis di wajah suami istri Gates.
“Dengar Betrand. Kalau kau memang menginginkan dirinya, maka lepaskan semuanya. Lepaskan semua tanda Gates yang ada padamu, kalau kau memang ingin mencoreng nama keluarga ini dengan cintamu. Karena dia, takkan pernah bisa diterima dalam keluarga ini. Ingat itu.”
“Bill!”
Namun, justru sebuah senyuman yang dikibarkan putra pertama sambil melihat ke arah ibunya.
Entah apa maksudnya mengatakan itu, tapi sedikit banyaknya mampu mengusik hati Betrand. Merasa sedih dan kecewa, akan sikap keluarganya.
Sesak di dada kian memakannya. Menggumamkan tak sanggup lagi untuk hidup dalam Gates yang menjunjung tinggi nama baik keluarga.
“Aku mengerti.” Orang-orang pun menoleh ke arahnya. “Jika aku melepaskan keluarga ini, apa itu berarti aku bisa bebas dalam aturan keluarga yang menyesakkan ini? Kalau begitu, maka lebih baik aku pergi tanpa menyandang nama Gates lagi dalam hidupku.”
Dan sang Nyonya rumah pun pergi dengan sakit hati di dirinya. Sungguh kecewa sosoknya pada putra kedua yang melukai hatinya.
Sekarang, Betrand mulai dirundung keadaan sekelilingnya.
Sang ayah dan juga kakak, mencela dirinya akan kebodohannya. Bahkan memajukan tanggal pertunangan dengan gadis yang sangat enggan untuk diterima hatinya.
Sampai akhirnya datanglah hari itu.
Hari di mana Nyonya Camila menyambangi toko roti orang tua Raelianna dan menhujaninya dengan cerca.
Tak pernah semalu itu keluarga mereka. Ditonton setiap mata yang lewat di depan toko sana.
Seolah tak lebih dari sekadar binatang di tanah, yang mencoba bermimpi untuk menjadi makhluk kayangan.
Raelianna dan orang tuanya hancur serta kecewa, akan sikap Nyonya Camila merendahkan mereka di depan semuanya.
“Ibu!” teriakan keras pun memekakan telinga di dalam kediaman mewah Gates.
Sosok putra Gates, menatap sedih pada wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya.
__ADS_1
“Kenapa?” lanjutnya. “Kenapa Ibu melakukan semua itu? Kalau Ibu memang tidak mau aku berhubungan dengan Anna, tolong jangan rendahkan keluarganya! Mereka manusia Bu, mereka punya hati. Kenapa Ibu dengan tega mempermalukan mereka seperti itu? Apa ini yang namanya kehormatan keluarga Gates?! Bersikap seolah-olah seperti orang yang berpendidikan, nyatanya tak lebih dari orang kejam dan tidak berperasaan!”
“Betrand!” dan tamparan untuk kesekian kalinya kembali mencium pipi sang putra.
Tak terhitung lagi, sudah berapa kali akhir-akhir ini Betrand menerima siksa dari Ibu kandungnya.
Namun bukan sakit yang ia rasakan, melainkan kecewa. Merasa iba kenapa dirinya terlahir dalam keluarga seperti itu.
Terlalu buta pada harta dan juga kehormatan di depan mata.
Mengukur semuanya lewat bayang-bayang kehidupan di dunia.
Dan ia sudah tak tahan lagi untuk menerima itu semua.
“Aku mengerti. Mungkin benar seperti kata Bill. Kalau dengan melepaskan semua tentang Gates pada diriku bisa membebaskanku dalam jeratan keluarga ini, maka akan kulakukan.”
“Apa yang kamu katakan!”
“Akan kulepaskan. Kalian bisa cabut apa pun yang ada pada diriku. Statusku, hak diriku sebagai ahli waris atau apa pun yang berkaitan dengan keluarga ini kalian bisa membuangnya! Lakukan itu semua, karena aku sudah muak berada dalam keluarga yang penuh aturan bersama kalian semua!”
Dan hempasan kasar dari punggung tangan Tuan Gates pun seketika menjatuhkan sosok putranya.
Betrand kehilangan keseimbangan, sehingga terhuyung dan merasa kesakitan.
Sungguh kejam sang ayah menamparnya tanpa merasakan iba. Sampai akhirnya, kata mati yang takkan pernah disangka terlontar dari bibir kepala keluarga.
“Kalau begitu mulai hari ini, kau bukan lagi anakku! Aku akan cabut semua fasilitas Gates yang sudah diserahkan padamu! Dan lepaskan semua warisan yang sudah dicantumkan atas namamu itu! Agar kau tahu, kalau hidup tanpa kami tak lebih dari neraka bagi anak yang tak berguna seperti dirimu!”
“Ayah,” kaget Betrand sambil memegang pipinya.
“Pergi! Pergi dari hadapanku. Pergi dari rumah ini karena aku sudah tak sudi lagi melihat wajahmu!”
__ADS_1