
Suasana begitu pelik sekarang. Terlebih bagi Steven yang menonton keadaan. Di mana sosoknya duduk di antara dua temannya di Cafe pinggir jalan.
Kevin berjanji akan mentraktirnya, tentu itu juga berlaku untuk Henry yang bertampang masam.
Dan bisa dibayangkan seberapa mencekam keadaan mengingat ada kisah cinta ternoda di dalamnya.
“Jadi kamu benar-benar berpacaran dengan Eldrey?”
“Ya,” jawab singkat Kevin tanpa keraguan.
“Dan kamu tahu kan kalau selama ini aku juga menyukainya?”
“Maafkan aku.”
“Maaf? Apa aku benar-benar temanmu? Bagaimana bisa kamu setega itu padaku?!” Henry tampaknya benar-benar marah sekarang.
Bahkan Steven dibuat terbungkam, karena baru pertama kali melihatnya begitu. Sepertinya, garis pertemanan mereka akan terpecah belah disebabkan oleh seorang perempuan.
“Maafkan aku.”
“Jangan minta maaf padaku, Kevin! Aku tidak butuh maafmu! Apa kau membenci diriku?!”
“Henry.”
“Apa kau benar-benar membenciku sampai-sampai kau tega merebutnya dariku?” dan sekarang mata putra keluarga Valentino memerah dalam kekesalan.
Sementara Kevin hanya bisa tertunduk dalam rasa bersalah di badan. Mungkin yang ia lakukan, memang sangat-sangat keterlaluan.
“Aku tidak pernah membencimu. Tapi aku juga tak bisa membohongi perasaanku. Kalau aku, memang menyukai gadis itu seperti dirimu.”
Hening pun berkumandang. Di antara mereka bertiga tak ada lagi yang melanjutkan perkataan. Kalimat terakhir Kevin barusan, berhasil mensunyikan keadaan.
Di posisi pojok ruangan, agak menjauh dari keramaian ketiganya sama-sama tenggelam dalam pemikiran.
Bahwa pertemanan mereka mungkin benar-benar akan pecah karena seorang perempuan.
“Aku pergi,” ucap Henry tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.
“Hen! Henry!” cegat Steven.
“Aku taruhan dengannya!” timpal Kevin dan berhasil menghentikan langkahnya. “Aku tahu kalau dia tidak akan menyukaiku, tapi aku berusaha melakukan yang terbaik untuknya.”
Henry pun berbalik menatap tak percaya pada sahabatnya.
“Jika kamu juga menyukainya, maka berusahalah melakukan apa yang kamu bisa! Tapi aku takkan menyerah begitu saja. Bahkan jika kita teman, aku tak ingin menyesal nantinya karena tak mengikuti kata hatiku untuk melakukan ini semua. Aku tidak akan menyerah Henry, bahkan jika sahabatku sendiri sainganku.”
__ADS_1
Sungguh membungkam mereka. Kedua temannya, benar-benar tak habis pikir dengan pernyataan Kevin yang tiba-tiba.
Bertahun-tahun mereka saling mengenal, masuk ke Universitas yang sama, tapi baru kali ini Kevin tampak serius karena cinta.
Tidak, mungkin ini juga pertama kali baginya menjadi serius karena seorang wanita. Mengingat sosoknya hanya dekat dengan Alice yang sudah menjadi teman kakaknya sejak lama.
“Kevin.”
“Aku tahu aku salah. Tak pernah mengatakan hal itu sejak awal pada kalian berdua. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku juga baru menyadarinya, semakin aku terlibat dengannya semakin aku sadar kalau aku ingin terus bersamanya. Dia membuatku gila, sikapnya itu membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Aku memang benar-benar menyukainya. Dan aku terpaksa bertaruh dengannya agar aku bisa terus dekat dengannya. Aku memang benar-benar sudah gila.”
Begitu panjang untaian katanya. Diakhiri dengan usapan rambut kasar karena terlalu frustrasi dalam berbicara. Seperti itulah lukisan keadaan Kevin di mata mereka.
Henry yang dari tadi hanya diam saja, akhirnya kembali mendekati mereka.
“Lalu kenapa dengan itu semua? Sekarang kamu tahu kan kalau kamu menyukainya? Jika kamu memang tidak ingin menyesal, maka kejar dia dan dapatkan hatinya,” sahutnya sambil mengarahkan tinju ke dada sahabatnya.
“Henry,” Steven benar-benar terkejut mendengar lirihannya.
“Henry, kamu—”
“Aku tidak akan menyerah,” potongnya tiba-tiba. “Jika memang begitu keadaannya, maka aku juga tidak akan mengalah. Aku akan sentuh hatinya bahkan jika sahabatku sendiri rivalnya. Karena itu, terima kasih sudah mengatakan dengan jujur bagaimana perasaanmu. Ayo kejar dia Kevin. Ayo kita berjuang untuk mendapatkannya. Sampai akhirnya salah satu dari kita kalah, dan aku akan merelakannya, jika memang kamulah nanti pilihannya. Dan aku pasti akan mendukung kalian berdua sebagai teman terbaikmu di sisinya.”
Sungguh luar biasa. Begitu bermakna kata-kata yang dilontarkan Henry dan berhasil menusuk kedalaman hatinya. Membisikkan kenyataan betapa pengertiannya sosok teman yang hampir ditikungnya.
“Dasar bodoh! Apa kau sadar kalau kalimatmu terlalu membuatku terharu?” ledek Steven kepadanya. “Nanti jangan menangis ya, kalau ternyata bukan kalian berdua pilihannya, aku akan selalu ada untuk menertawakan kalian berdua.”
“Sialan!” umpat Henry dan Kevin bersamaan.
Steven pun tersenyum puas lalu mengusap kepala dua temannya.
“Kalau begitu ayo kita makan! Puas-puaskan perut sampai kenyang! Karena Kevin yang akan membayar semuanya!”
“Dasar sialan!”
“Kau sudah janji kan? Kau bilang akan mentraktir kami! Ayo keluarkan simpananmu bocah! Traktir kami karena sudah membuatku tegang tadi.”
Kevin pun mendecih karenanya. Berbeda dengan Henry yang malah tertawa. Begitu akrab ketiganya, melukiskan kisah persahabatan di usia muda.
Setidaknya begitulah gambaran di mata bagi siapa pun yang melihatnya.
Dan di dalam rumah singgah keluarga Kendal, Eldrey terpaksa keluar dari sana lewat balkon di lantai dua. Jendela di tempat itu cukup banyak dan bahkan di terali di dalamnya, membuat ia kesusahan karena pintu hanya bisa dibuka oleh kode yang diketahui Kevin dan juga penyandang nama Cesar lainnya.
Benar-benar kediaman yang seperti penjara baginya.
Untung ada tali di gudang, setidaknya bisa membantunya turun dengan usaha yang cukup keras. Bukannya Eldrey tak bisa keluar dari sana, tapi satu-satunya cara hanya dengan merusak pintunya.
__ADS_1
Ia tak ingin mengambil resiko dan bisa saja membuat Kevin melaporkan dirinya karena sudah merusak rumahnya.
Walau mereka berpacaran, tak ada jaminan jika putra Kendal akan berlapang dada dalam menutup mulutnya.
Langit sudah gelap, bahkan jika cahaya lampu terang benderang di sekitar, Eldrey memilih jalanan yang agak sepi untuk dilewati.
Berharap takkan ada bawahan ayahnya yang berkeliaran dan bertemu dengannya.
Bagaimanapun, dirinya harus menjauh dari keluarganya jika ingin hidup dengan tenang. Setidaknya itulah yang tercetus di dalam kepalanya.
Tapi, bahkan jika sosoknya menaiki taxi dan berhenti di area yang cukup jauh dari tempat perjanjian, sepertinya ini masih belum menjadi hari keberuntungannya.
Ada mobil Charlie di depan matanya, namun bukan hanya dirinya. Kendaraan merah lain juga terparkir di dekatnya.
Bisa dipastikan jika itu mobil milik Roma Alberto yang menjadi sekretaris ayahnya. Eldrey pun mendecih karenanya.
Sepertinya, berharap pada tangan kiri ayahnya tinggal omong kosong belaka. Entah Charlie ketahuan atau dia jujur sekarang, Eldrey pun memilih pergi dari sana.
Kembali ke kediaman sebelumnya yang menjadi tempat peristirahatannya.
“Sudah di sini ya,” lirih Eldrey saat melihat ada mobil terparkir di luar rumah singgah keluarga Cesar.
Diketuknya pintu utama, tanpa ragu dan merasa yakin kalau itu akan terbuka.
Tapi memang benar adanya. Tampak sosok Kevin menantinya dengan tampang datar di wajahnya.
“Kamu, habis dari mana?”
“Jalan-jalan.”
“Dengan melewati balkon?”
“Aku tak bisa membuka pintunya.”
“Kalau begitu kamu bisa tunggu aku untuk membukakan pintu bukan? Aku bahkan juga bisa mengantarmu.”
“Tidak perlu repot-repot, karena aku bisa pergi sendirian.”
Sungguh Eldrey berhasil menggelitik hati pemuda di depannya. Membuat Kevin kian kesal dengan nada bicara putri Dempster yang santai kepadanya. Seolah ulahnya itu bukanlah masalah besar untuk mereka.
“Kalau seandainya terjadi sesuatu padamu bagaimana? Kamu itu perempuan Eldrey. Setidaknya pikirkan kondisimu.”
“Memangnya apa yang akan terjadi? Fisikku sudah mulai kembali normal. Hanya tersisa bekas luka di perutku dan itu bukan masalah besar.”
Menyebalkan. Sekarang, Kevin benar-benar dibuat jengkel olehnya. Dan tiba-tiba dirinya pun melakukan hal tak terduga pada gadis yang berada di depannya.
__ADS_1