FORGIVE ME

FORGIVE ME
Tertangkap


__ADS_3

Sungguh pernyataan putri Dempster mengejutkan pegawai toko. Namun sosok itu malah tersenyum dan mengangguk paham.


Benar-benar luar biasa, jika uang berbicara bahkan kebenaran pun akan tunduk kepadanya.


Dan Eldrey pun memasang kembali topi yang dari tadi dipegangnya.


“Maaf, Bibi. Aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi,” pamitnya dan sekilas menyentuh lengan wanita itu sebelum meninggalkannya.


Nyonya Julia tersenyum, namun masih memandangi punggung gadis yang memasang masker di wajahnya.


Dan dia tidak tahu kalau putri Dempster sedang melakukan pelarian.


“Maaf, Sayang. Kamu jadi menunggu lama,” sahut Nyonya Julia beberapa saat kemudian setelah memasuki mobilnya.


Terlihat Kevin sibuk memainkan game di ponselnya.


“Tidak masalah.”


“Apa kamu lapar?”


“Mm.”


“Mau makan di mana?”


“Di restoran keluarga saja.” Dan dia pun menghentikan permainannya sambil menaruh ponsel ke dashboard.


“Hah, benar juga. Padahal Mama tadi mau mengajak Eldrey makan bersama ta— ah!” kaget Nyonya Julia karena mobil tiba-tiba di hentikan mendadak oleh putranya.


“Eldrey?”


“Kevin, kamu kenapa? Mama kaget, Nak.”


“Barusan, Mama menyebut nama Eldrey?”


“Iya. Kenapa?”


“Mama bertemu dengannya?”


“Iya. Kamu kenapa kaget begitu? Ada yang aneh?” cemas ibunya.


Seketika pemuda itu terkesiap dibuatnya. Sorot mata tak percaya pun terlukis di wajahnya.


“Tunggu, apa mungkin pemuda yang keluar di toko perhiasan tadi—”


“Pemuda apanya? Dia Eldrey, Sayang. Mama juga heran kenapa dia dandan seperti itu.”


“Sial!” Kevin pun terburu-buru melepas seat belt nya.


“Lho, Kevin!”


“Maaf, Ma. Mama pulangnya sendiri saja. Aku ada urusan!” pamitnya pergi begitu saja.


Tentunya hal tersebut membuat Nyonya Julia mengernyitkan dahi bingung, karena penasaran kenapa putranya bertingkah tak biasa.

__ADS_1


“Apa mungkin dia ingin menemui, Eldrey ya?” gumamnya. Lalu sosoknya pun pindah ke kursi kemudi untuk melajukan mobilnya.


Sungguh napas Kevin terengah-engah. Ponsel yang tadi tak lupa ia bawa pun segera dimasukkan ke saku sekarang.


Mata melirik ke sekeliling sambil otak mencoba mengingat-ingat pakaian yang dikenakan Eldrey.


Untung tadi dia sempat melihat gadis itu keluar toko saat jeda permainan.


Sehingga matanya pun menangkap sekilas dandanan putri Dempster. Dan yang paling menyebalkan adalah sosoknya tak tahu kalau itu Eldrey.


Batin Kevin mengumpat namun dirinya masih belum berhenti mencari. Ini benar-benar tak disangka olehnya.


Mengingat sebelumnya ia sempat mendatangi rumah keluarga Betrand namun disambut informasi kaburnya gadis itu.


Apa lagi yang lebih menjengkelkan sekarang? Kalau sampai sosoknya tak bisa menemukan Eldrey, bisa dipastikan ia akan merutuki diri karena kebodohannya.


Dan sesuai perkataan gadis itu. Ia kembali lagi ke toko. Menjual perhiasan yang sudah lama menemani dirinya.


“Bayar setengahnya saja. Sisanya kamu simpan. Hati-hati dengan CCTV,” seringai tipis putri Dempster.


Dan tentu saja kalimatnya sangat membahagiakan orang yang melayaninya. Bahkan ucapan terima kasih dan senyum tak henti-hentinya berkibar di bibir sosok bersetelan manis itu.


Namun Eldrey tak peduli, ia lebih memilih pergi sambil memasukkan uang ke saku jacketnya.


“Untung saja aku kembali kemari.” Tersentak, putri Dempster terdiam. Perlahan, kepala tertunduknya menoleh pada sosok yang berada di sampingnya. Seorang pemuda tak asing, dengan wajah lelah serta keringat yang menemani dirinya. “Aku menemukanmu,” diiringi deru napas terengah saat berbicara.


Tanpa sadar Eldrey memundurkan langkahnya.


“Kamu— sial!” pekik Kevin karena gadis itu malah lari. Tentu saja ia langsung mengejarnya, tapi sang gadis memasuki gang secara tiba-tiba dan menabrak beberapa orang yang berlalu lalang.


Tapi, pilihan apa yang ia punya? Ada Kevin di belakangnya dan ia harus pergi. Melewati jalan raya bukan pilihan baik sekarang mengingat akan ada CCTV jalanan yang mungkin merekamnya.


Jadi, pilihannya hanya kabur melewati pinggiran toko-toko ternama.


“Agh!” pekik seseorang yang malah muncul tiba-tiba dari sebuah toko sepatu. Teriakan karena laki-laki itu ditabrak Eldrey tanpa sengaja.


Keduanya pun sama-sama terjatuh dan meringis kesakitan. Tapi, Eldrey lah yang lebih parah karena napasnya serasa tercekat.


Laki-laki di depannya, lengannya tanpa disadari tadi sempat mengenai bekas tusukan di perut Eldrey saat mereka beradu.


Tak bisa dibayangkan seberapa sakit itu semua bagi putri Dempster yang memegangi perutnya sekarang.


“Kamu—” kaget Kevin. Spontan saja dihampirinya Eldrey dan digendongnya menjauhi keramaian. Tanpa meminta maaf pada sosok yang sempat ditabrak putri Dempster barusan.


“Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit.”


Tapi, tiba-tiba putri Dempster malah mengalungkan tangannya ke leher pemuda itu.


“Tidak. Jangan, aku mohon,” diiringi napas memburu karena sakit yang dirasa.


Kevin pun terdiam dan menatap lekat ke arah gadis yang masih mengenakan topi serta masker di wajahnya.


Tak ada tanggapan kecuali putra Kendal cuma terus jalan. Dilewatinya beberapa toko, sampai akhirnya ada taksi yang terlihat dari kejauhan dan ia pun berhenti di pinggir jalan.

__ADS_1


“Ke mana, Tuan?” tanya sang supir.


“Ke—”


“Kawasan Undersky,” potong Eldrey tiba-tiba. Dirinya masih saja memegangi jejak luka di perutnya.


“Baik, Nona.”


Tapi di balik itu semua, ada sosok Kevin yang tak mengatakan apa-apa di sebelahnya. Kecuali menatap dengan pandangan tak bisa dijelaskan artinya.


Sampai akhirnya mereka tiba di jalanan yang tak ramai lalu lalang kendaraannya dan Eldrey pun turun di sana.


Membiarkan Kevin mengurus bayaran taksinya.


“Mau ke mana?” tanya pemuda itu saat sang gadis masih berjalan dengan pesakitan di badan. “Kutanya mau ke mana?” ia pun menahan lengan Eldrey agar langkahnya terhenti.


“Kenapa harus kamu?” Pemuda itu menyipitkan matanya. “Kenapa harus bertemu denganmu? Tidak bisakah kamu mengabaikanku? Berpura-puralah untuk tidak melihatku. Apa kamu tidak bisa melakukan itu?”


Perkataan Eldrey entah kenapa menusuk hatinya. Namun, pegangan masih belum dilepaskan. Dan ia pun mengedarkan pandangan sekilas ke depannya.


“Kamu mau ke mana? Setelah itu aku akan melakukan itu untukmu.”


Putri Dempster pun melepaskan pegangan Kevin dan melewatinya.


“Aku akan menggendongmu,” ucap putra Kendal tiba-tiba. Dan ia benar-benar melakukan apa yang dikatakannya.


Sehingga putri Dempster hanya bisa pasrah membiarkannya.


Jujur pemuda itu kaget saat Eldrey menuntunnya untuk memasuki kawasan yang agak berjarak dari lokasi pemberhentian mereka.


“Ini, rumah siapa?”


Eldrey pun turun dari posisinya lalu membuka pintu tanpa menjawabnya.


“Lho, Kakak. Kakak sudah pulang?” sambut Leon yang terkejut melihat kedatangan dua orang di depannya.


Tapi, tanpa sempat mengatakan apa-apa, putri Presdir Betrand pun tumbang begitu saja.


Sehingga menimbulkan kepanikan untuk mereka yang melihat keadaannya.


Beberapa saat kemudian, di dalam sebuah kamar, suara desiran dari air yang berjatuhan pun melukiskan keadaan.


Kevin, menempelkan handuk lembab itu ke kening putri Dempster. Gadis itu masih pingsan, bukti nyata selain lelah telah menerpa dirinya.


Sosoknya ternyata demam dan tetap saja berkeliaran. Karena itulah ia bisa tak sadarkan diri mengingat luka dari tusukan di perutnya juga ikut menampar kondisinya.


Dan perlahan Kevin pun menyisir rambut yang menghiasi pipi gadis di depannya.


Samar-samar, cerita dari si kembar kembali menghantui dirinya. Sekarang ia sudah tahu, ke mana saja gadis itu menghilang selama ini atau apa saja yang telah dilakukannya.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2