
Akhirnya, Kevin sadar juga. Sosoknya telah melewati masa kritis. Tangis pecah di rumah sakit, Julia tak bisa menghentikan rasa senangnya.
Akan tetapi, kata pertama yang keluar dari mulut laki-laki itu benar-benar di luar dugaan.
Sosok tak terlihat yang ia cari merundung kekhawatiran.
Eldrey Brendania Dempster.
Sudah dua hari semenjak insiden penembakan, dirinya tak jelas kabar beritanya begitu pula Charlie. Walau pengakuan sudah dilontarkan Bram akan kejadian sebenarnya, nyatanya beragam perasaan masih tertera.
Tentang niat Eldrey yang ingin menembak neneknya sendiri namun gagal di saat terakhir.
Kalut menyelimuti keluarga Dempster atas hilangnya jejak keduanya. Bawahan dikerahkan tapi tak ada titik terang. Dan permintaan Kevin yang ingin bertemu dengan gadis itu membuat kedua orang tuanya tidak punya pilihan.
Julia dengan segala beban di perasaan, memilih datang ke kediaman Dempster untuk menuntaskan harapan putranya.
Tapi sosoknya jelas harus menuai apa yang sudah ia tabur.
“Julia,” sapa Anna.
Syok menghampiri sang tamu. Saat melihat kondisi seorang Nyonya rumah keluarga Dempster. Keindahan milik wanita lemah lembut itu telah tiada. Jejak tangisan tersirat di sana, dan rasa bersalah semakin menyelimuti Julia.
Segala lontaran kalimat, cacian, dan tamparan pada putri Dempster ataupun keluarganya terus terngiang.
Ia tak tahu harus bagaimana selain mendekati wanita itu dan memeluknya.
“Anna, maafkan aku.” Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. “Maafkan aku untuk semuanya Anna, maafkan aku yang sudah menyakiti hati putrimu. Aku, tak bermaksud berkata seperti itu di rumah sakit. Hanya saja, aku—”
Akan tetapi mungkin tak ada satu pun yang akan mengira, kalau seorang gadis muda tanpa jejak itu telah menampakkan muka. Di sore hari dengan bantuan Charlie juga pihak rumah sakit ia pun dipertemukan dengan Kevin.
“Eldrey.”
Sungguh laki-laki itu tak menyangka, kalau ucapan dokter yang mengatakan tentang seseorang ingin bertemu dengannya itu benar adanya.
Dia setuju dipindahkan ke ruangan lain. Walau Bram melarang, kegigihan Kevin tak dapat diruntuhkan. Dalam keadaan masih terduduk lemah di kursi roda, perlahan dirinya mendekat hendak menggapai gadis yang terduduk santai di brankar.
Senyum pun merekah di bibir putri Dempster.
Dalam balutan setelan formal serba hitam, rambut yang dikuncir kuda, juga heels senada dengan pakaiannya, dirinya tampak sangat cantik dan elegan.
“Kevin.” Di genggamnya tangan laki-laki itu begitu mereka berhadapan.
“Eldrey, kamu ke mana saja? Kata ayahku kamu menghilang.”
Tak ada jawaban, selain sorot mata tenang sebagai balasan. Tapi, sensasi dingin serta gemetar dari tangan gadis itu sungguh menyiratkan keanehan.
Ia tampak pucat, dan Kevin yang menyaksikan semakin mengeratkan sentuhan.
“Eldrey? Kamu, kamu kenapa?”
“Maaf.”
__ADS_1
“Kamu tidak perlu minta maaf. Apa yang terjadi padaku sama sekali bukan salahmu.”
Sayangnya fokus laki-laki itu semakin terpecah. Walau suara yang terlontar lembut dan penuh perhatian, dirinya tak bisa mengenyahkan kegundahan.
Kalau sosoknya sangat cemas dan penasaran dengan penampakan Eldrey di pandangan.
“Tanganmu, dingin dan gemetaran. Apa kamu baik-baik saja?”
Sementara di satu sisi, Charlie menunggu di ruang rawat Kevin sebelumnya. Berjaga-jaga jika ada orang yang datang maka mereka takkan merasa kehilangan. Bagaimanapun dirinya juga tak ingin pembicaraan Eldrey ataupun Kevin terganggu.
Jujur saja, sosoknya sangat lancang. Merokok di dalam sana, padahal sudah jelas ada papan aturan dalam ukuran besar yang mencantumkan larangan di beberapa sudut rumah sakit.
Ketukan pintu kamar yang tiba-tiba memaksanya membuka pintu dengan malas.
“Bos?” panggil supir pria itu. Matanya tertuju pada rokok di sela-sela jari Charlie. Tapi sang atasan mengabaikan tatapan itu seolah tak peduli.
“Ada apa?”
“Itu, barang Nona Eldrey ketinggalan di mobil.” Pria itu mulai menyerahkan bingkisan di tangan. “Sepertinya ada ponsel di dalamnya karena tadi sempat berbunyi. Saya tidak berani memeriksanya karena itu Tuan—”
“Oke-oke. Kau bisa kembali ke mobil,” Charlie menyela. Begitu sang bawahan selesai meminta izin, sosoknya kembali beristirahat di sofa dalam ruangan.
Menatap tak acuh bingkisan di sebelah kirinya. Sejujurnya, pria itu tak berminat memeriksa, namun berisik di dalam sana itulah penyebab tindakannya.
Sorot matanya menatap aneh bawaan gadis itu. Ponsel yang berisik memamerkan alarm.
DIARY TERAKHIRKU.
Dan pada bagian depan masing-masingnya, tercantum nama orang-orang dikenal. Charlie yang melihat namanya tertera di salah satu amplop pun tanpa ragu membukanya.
Menatap lekat pada sebuah surat dengan tulisan tangan indah milik putri majikan.
Untuk Charlie Stevano
dariku yang selalu merepotkan dirimu.
Charlie, apa kau masih ingat pertemuan pertama kita?
Apa kau masih ingat seperti apa tatapanmu padaku?
Ingatkah kau tentang semua yang kau lakukan padaku?
__ADS_1
Jika kau tanyakan pada diriku, maka kaulah orang pertama yang paling kuingat. Orang pertama yang menemaniku di saat ayah dan ibuku membuangku. Orang pertama yang bersikap seperti saudaraku bahkan jika Evan kakak kandungku.
Kau menghentikan aku, saat aku ingin membunuh ayahku. Kau menjadi guruku, ketika aku tak tahu bagaimana harus mengenyahkan sakit di hatiku.
Kau ada untukku, tak pernah memarahiku ataupun menyalahkan aku.
Jika kupikirkan sepanjang waktu, mungkin kaulah yang paling dekat denganku.
Jujur sekarang aku merasakannya, kalau kau adalah segalanya. Aku anak kaya raya dan punya banyak harta. Tapi ruang kosong selalu menemaniku, sebuah tempat tanpa perasaan hangat untukku.
Aku tak peduli jika kau mungkin saja tak pernah menyukaiku, atau melakukan semua itu karena pengabdian pada Betrand.
Tapi dibandingkan ayahku yang seharusnya ada untukku, maka kaulah orang tua bagiku. Bagiku kaulah yang berhasil mengisi sosok itu di sudut hatiku.
Aku membencimu, Charlie.
Aku sangat membenci dirimu.
Aku ingin membunuhmu, tapi di satu sisi hasratku menolak itu.
Aku takkan meminta maaf atas segala tingkah lakuku. Kau hanyalah bawahan jadi memang tugasmu untuk mengurusku.
Dan mungkin suatu saat kau akan merindukan aku.
Charlie, jika ada kesempatan kedua, maukah kau menjadi keluargaku? Aku tak butuh ayah dan ibu, aku tak butuh saudaraku. Aku tak butuh semua itu. Aku hanya butuh seseorang di sisiku.
Seseorang yang akan mengakui keberadaanku tanpa membuangku. Dan mungkin kaulah orang yang kuharapkan untuk melakukan itu.
Aku pikir aku menyayangimu.
Forget me not untuk penghabisan terakhirku.
ELDREY BRENDANIA DEMPSTER.
Charlie terperangah. Tanpa peduli air mata yang turun ke pipi karena membaca surat itu, sosoknya segera keluar dari ruangan. Mencoba menggapai gadis di dalam pikiran.
Dan di ruangan yang berbeda Kevin tak bisa berkata-kata. Saat aroma anyir sudah menghiasi penciumannya. Walau ia mencoba memaksa, tapi hanya segaris senyuman di bibir merona. Milik gadis berkulit pucat dan berkeringat dingin di wajahnya.
“Eldrey, kamu— Eldrey!” teriakan itu menghiasi ruangan. Saat putri Dempster jatuh terduduk di depannya. Tawa keras pecah di dalam mulut sang gadis muda.
Ia melakukan itu sampai mengeluarkan air mata.
“Eldrey, apa yang—”
“Sudah berakhir—” gadis itu menyela. Kristal bening berjatuhan ke pipinya, tapi dirinya tersenyum lebar entah kenapa. Dan tanpa aba-aba ia keluarkan sebuah surat dari saku blazer. “Jika memang ada kesempatan kedua, semoga aku bisa membalas perasaanmu, Kevin.”
__ADS_1
“El—”