FORGIVE ME

FORGIVE ME
Menghilang tanpa kata


__ADS_3

Seorang lelaki, dengan tampilan yang sangat jauh berbeda sepanjang Eldrey mengingatnya. Comma hair, dan di balik long coat hitam pembalut tubuhnya, kemeja abu-abu menjadi dalaman.                


Sneakers gelap sebagai alas, juga kacamata yang baru pertama kali dilihat putri Dempster di wajah orang itu semakin menambah kesan tegas. Tapi, satu hal yang pasti, sosok di depan mata jelas sangat tampan jika disaksikan para gadis normal.


Dan anting simpel berwarna gelap di salah satu telinga, berbisik untuk meninggalkan kesan bad boy di masa emasnya ketika remaja. Walau nyatanya, mungkin ia tak seburuk itu ketika masih sangat muda.


“Bagaimana bisa, apa mungkin keluargaku—” Eldrey menatap tak suka. Sementara laki-laki itu terus berjalan mendekatinya. Mengambil bunga yang hampir dijatuhkan putri Dempster ke bawah tebing.


“Keluargamu? Sayang sekali. Keberadaanku tak ada hubungannya dengan mereka. Tapi satu hal yang pasti. Aku, harus membayar sangat mahal untuk keberadaanmu, Eldrey Brendania Dempster.”


Gadis itu terdiam. Sekarang tepat di hadapannya, laki-laki itu berdiri dengan gagahnya. Jarak sekitar 50 cm yang memisahkan keduanya, membuat sang gadis harus mendongak untuk menatap rupa di depannya.


Dan tatapan yang saling bertemu, menyiratkan sesuatu di mata lelaki itu.


“Kenapa kamu di sini?”


Hempasan angin kasar pun menghantam mereka. Bukannya menjawab, orang asing tersebut malah mengangkat tangannya yang bebas. Mendekati wajah Eldrey, namun justru melakukan sesuatu tak terduga.  


Tanpa aba-aba ia tarik ikatan rambut putri Dempster. Membuat surai itu semakin terurai indah karena sapuan angin yang datang. Ini mengingatkan sang gadis pada kejadian terakhir mereka, di mana orang di depannya juga pernah melakukan hal serupa.


Kevin Daniello Cesar.


Dia di sini. Entah bagaimana caranya sosok itu tahu di mana keberadaan Eldrey. Sang gadis meradang dari pada senang. Melihat rupa orang yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya.


“Ini mengingatkanku, pada percobaan bunuh dirimu.” Ucapannya berhasil menusuk kesadaran. Entah ia sedang bernostalgia atau menyindir, tapi ekspresinya membuat tidak nyaman. “Andai aku tidak berhasil menyelamatkanmu saat itu, mungkin kita takkan bertemu lagi sekarang. Lima tahun menghilang tanpa kata, apakah kamu puas? Nona Dempster. Kamu—” Kevin pun berjalan mendekatinya. Membuat jarak kian terkikis sehingga hanya beberapa cm pemisah mereka. “Benar-benar membuatku gila.”


Begitu dekat. Bahkan Eldrey bisa merasakan aroma mint dari embusan napas yang bertabrakan.


Tatapan yang ia dapatkan tak lagi seperti sebelumnya. Jika harus diartikan, mungkin sang pemuda ingin memakannya. Tak tajam tapi agak mengusik sudut hati agar merinding padanya.


“Kamu terlalu dekat,” lirih Eldrey yang hendak melangkah mundur. Tapi ia terkesiap karena Kevin menahan pinggangnya. Memaksanya untuk tak menjauhinya.


“Apa kamu ingin menghilang lagi?”


Lirikan putri Dempster pun menatap tangan kiri sang lelaki yang masih menggenggam forget me not. Perlahan dirinya tersenyum. Kembali menengadah, membuat salah satu alis Kevin terangkat.


“Sudah lima tahun ya. Senang bertemu denganmu, putra Cesar. Semoga hari-harimu di sini terasa menyenangkan,” selesai mengatakannya Eldrey pun menyentak tangan Kevin.


Pergi dari sana, membiarkan sosok yang entah apa alasannya hadir lagi dalam hidupnya. Dan Kevin tidak mengikutinya, selain menatap lekat punggungnya.

__ADS_1


Dan entah seperti apa perasaan gadis itu. Saat mendapati Kevin mengikutinya ke rumah. Membuat Emily terperangah karena tak menyangka akan ketahuan.


“Bohong, apa mungkin  Tuan Charlie dan yang lainnya juga di sini?!” paniknya.


Eldrey hanya diam. Dan tangannya bersiap-siap untuk menutup pintu. Akan tetapi, ucapan laki-laki itu berhasil menghentikannya.


“Kalian bersembunyi ya. Yakin tidak mau menyambutku?” sambil tersenyum sinis.


“Kau—”


“Aku juga punya batasan untuk menutup mulutku,” kekehnya pelan. Ia pun perlahan mendekat dan memaksa pintu agar terbuka semakin lebar. “Sambut aku di sini, maka akan kupastikan semuanya aman.”


Emily menatap tak percaya pada ucapan laki-laki di depannya. Sungguh berbeda, sosok pemuda yang beberapa kali bertamu ke kediaman Dempster ini tak lagi sama. Terkesan mengintimidasi dan juga tidak sopan. Bahkan guratan angkuh yang entah muncul dari mana begitu lekat padanya. Dia benar-benar sangat lancang.


“Wah, rumah ini sangat luar biasa. Kecil tapi nyaman. Pantas saja kalian memilih tinggal di sini. Jadi, apa aku juga bisa menginap? Hanya untuk beberapa hari,” tanpa basa-basi ia duduk di sofa. Bahkan sang pemilik rumah masih berdiam di dekat pintu. Mulai meliriknya dengan tatapan tidak suka.


“Kevin, kau mengancamku?” Eldrey mendekatinya. “Kau tahu? Jika kau tinggal di sini, mungkin besok kau hanya tinggal nama.”


Senyum tipis terpatri di bibirnya. Ia tampak puas entah kenapa, dan jujur saja Eldrey sangat tidak nyaman dengan sosok Kevin yang sekarang.


“Tak masalah. Tapi sebagai gantinya, tempat persembunyianmu akan terbongkar. Pilihlah, Nona. Berdamai dan izinkan aku di sini selama beberapa hari, atau mulut liarku lepas kendali. Yang mana?”


Namun, bukan itu yang ia lakukan. Selain memamerkan senyuman untuk disaksikan pasang mata.


“Emily. Siapkan kamarnya. Semoga tamu kita, senang tinggal di sini,” lirihnya.


Sang pelayan terkesiap, saat matanya bertemu penglihatan majikannya. Karena ia yakin ada sesuatu yang direncanakan Eldrey nanti.


Dan Kevin yang menyaksikan itu hanya diam saja. Sosoknya sedikit pun tak mengalihkan tatapan dari putri Dempster.


“Nona?” kaget Emily saat gadis itu memasuki kamarnya di sore hari. Tanpa aba-aba gadis itu menyerahkan sebuah botol kecil. “I-ini—”  


“Larutkan dalam makanan dan minuman Kevin. Setelah itu kita pergi. Aku, sudah dapatkan destinasi selanjutnya.”


“B-baik,” angguk perempuan itu. Ditatap lekatnya, benda di tangan setelah kepergian putri Dempster. Sebotol obat tidur yang mereka beli akibat insomnia Eldrey.


Walau dirinya agak ragu, tapi mereka memang tak punya pilihan. Karena bagaimanapun juga, keberadaan keduanya tak boleh diketahui pihak keluarga Dempster.


“Baunya harum, masak apa?” tanya Kevin tiba-tiba saat Emily sibuk berkutat di dapur. Ia terkesiap, karena tadi hampir saja mengeluarkan obat yang sudah disiapkan untuk dilarutkan.

__ADS_1


“Ratatouille,” jawabnya gugup.


“Benarkah? Sudah lama aku tidak makan itu. Baiklah, kalau begitu biar kubantu untuk menyiapkan minumannya.”


“Ah, tidak perlu!” kaget Emily tiba-tiba.


“Kenapa?”


“Karena anda tamu, lebih baik anda menonton televisi saja. Atau apa pun itu. Jadi urusan dapur, biar saya yang kerjakan, Tuan Muda.”


Kevin terdiam sejenak sebelum akhirnya menyetujuinya. “Baiklah,” lagi-lagi ia memamerkan senyum tipis yang membuat tidak nyaman.


Setelah segala hidangan tersaji di atas meja, Kevin pun dipersilakan Emily untuk duduk di kursi yang sudah disiapkannya.


“Eldrey mana?”


“Di kamar. Biar saya panggilkan dulu. Silakan anda makan duluan, Tuan,” Emily pun mengangguk sopan padanya.


Kevin hanya tersenyum dan terus mengikuti langkah bawahan Eldrey itu. Tiba-tiba seringai tipis tercipta di bibirnya.


“Kalian, benar-benar ya,” gumamnya dan melirik sinis ke arah piring saji ratatouille di depan dua kursi sekitarnya.


Dan sekarang, Emily terlihat menunggu putri Dempster untuk membukakan pintu kamar.


“Nona,” setelah dipersilakan masuk.


Tampak di mata, kalau Eldrey sudah memasukkan baju-baju ke dalam kopernya.


“Setelah dia tidur kita akan pergi. Apa kamu sudah berkemas?”


“Sudah, Nona.”


“Kalau begitu ayo kita turun, ajaknya.


Di lantai dua itu, hanya ada satu kamar dan juga sebuah kamar mandi. Tempat yang dihuni Eldrey, memiliki balkon dengan pemandangan sangat indah. Di mana pada area kiri dirinya bisa melihat pemandangan kaki pegunungan di kejauhan, sementara di kanan pesona air terjun tampak jelas di mata.


Mungkin itulah salah satu alasan yang membuatnya nyaman tinggal di sana.


“Apa ada yang aneh dengan roti itu?” tanya Eldrey tiba-tiba. Kevin sontak menoleh kehadiran putri Dempster bersama pelayannya. Membuyarkan tatapannya pada roti Perancis di dekat piring sajinya.

__ADS_1


__ADS_2