
Samuel Turner.
Hanya mengenakan pakaian santai ala-ala pemuda pantai. Menebar senyum tipis dan dengan lancang menyisir rambut Eldrey ke belakang telinga.
Tentunya gadis itu memilih mundur. Tapi lengannya dipegang sehingga gerakannya tertahan.
“Hei, Sam! Siapa itu?!” teriak seorang wanita tak jauh dari mereka. Ia mengenakan bikini biru laut yang kontras dengan warna kulitnya.
“Wow, cantik! Incaran barumu?” seorang laki-laki muncul dan merangkul sosok lancang itu.
“Ya. Dia calon istriku.”
Omong kosong yang dilontarkan olehnya pun membuat putri Dempster mengernyitkan dahi. Ia tarik tangannya tapi terasa sia-sia.
Haruskah dirinya menendang orang ini? Sepertinya hanya itu pilihannya agar terlepas darinya.
“Cantik,” pujinya tiba-tiba saat Eldrey bersiap melayangkan serangan. “Terima kasih sudah memutuskan pacarmu untuk diriku.”
“Kau mengigau?” sela Eldrey. Ia gagal melakukan serangan karena fokusnya teralihkan.
“Aku sudah bilang pada ayahmu dan mengajukan pertunangan denganku.”
Jujur Eldrey agak terkejut. “Kau gila?”
“Wow! Benarkah dia calon istrimu? Ocehannya membuatku tertantang, Sam!” sekarang pria dengan tubuh begitu atletis dan wanita yang tadi memanggil putra Jackson itu berada di dekat mereka.
Eldrey yang benar-benar tidak nyaman dengan keramaian ini akhirnya mengangkat tangan yang memegang heels itu.
Sontak saja ia terkesiap, ayunan heels miliknya terhentikan oleh seseorang. Di mana Kevin lah yang menahan tangannya.
“Wow, hampir saja dia memukul wajahmu, teman,” syok laki-laki yang tadi merangkul Samuel. Siapa pun pasti akan kaget melihat aksi gagal putri Dempster barusan.
“Bisa lepaskan pacarku?” Kevin menyela tiba-tiba. Bahkan tangannya yang memegang lengan Eldrey sekarang beralih memeluk putri Dempster dari belakang.
“Pacarmu?”
“Benar, pacarku. Bisa lepaskan tanganmu bukan?”
“Bukankah hubungan kalian sekadar taruhan? Aku dengar sendiri saat di tempat balapan,” raut wajah Kevin mendingin mendengarnya. “Benar juga. Bukankah semalam dia mendorongmu ke kolam renang? Aku melihatnya lho,” bahkan dirinya juga tertawa pelan.
“Sudah selesai? Lepaskan tanganku,” Eldrey menyentaknya.
Dan ya, sekarang ia berhasil. Bahkan dirinya juga terbebas dari pelukan Kevin. Tanpa keraguan sosoknya pergi dari sana meninggalkan mereka.
“Wah, bagaimana ini? Calon istrimu pergi, Sam,” sahut pria atletis itu.
Jujur saja Kevin meradang. Namun ia juga ikut pergi untuk menyusul putri Dempster.
“Hei!” sela Samuel menghentikan langkahnya. “Kau bocah yang sering balap liar itu kan? Mau tanding denganku? Jika aku menang jangan ganggu lagi calon istriku.”
Tiba-tiba Kevin tersenyum. Entah apa maksudnya tapi itu benar-benar aneh di mata mereka.
__ADS_1
“Tanding? Sayang sekali, kau bukan levelku, teman. Dan pacar cantikku terlalu berharga untuk jadi barang taruhanmu,” kekehnya.
Setelah itu ia berlalu dari sana. Meninggalkan mereka tanpa peduli respons Samuel selanjutnya.
“Wow! Apa kau lihat ekspresinya barusan? Aku yakin dia psikopat!” pekik laki-laki yang tadi merangkul putra Jackson.
Samuel terdiam dan menyipitkan matanya. Menatap lekat punggung putra Cesar yang kian menjarak dari mereka. “Dasar muka dua,” umpatnya dan berbalik pergi.
Sementara Eldrey yang terus menjauh dan tak mendekati mobil Kevin perlahan memakai heelsnya.
Memang tidak nyaman telanjang kaki di jalanan beraspal ini.
Dan sayangnya, sosoknya tak menyadari kehadiran seseorang di belakang. Menatap dingin dan tiba-tiba menarik tangannya.
“Kevin?! Lepaskan aku bodoh! Kau ingin membuatku jatuh?” kesalnya.
Spontan saja pemuda itu berbalik dan menggendongnya bak barang di bahunya.
“Turunkan aku brengsek! Kau pikir aku senang diperlakukan seperti ini?!” umpatnya.
Bahkan kakinya ditahan agar tidak menendang putra Cesar.
Tanpa aba-aba Kevin memasukkannya ke mobil tanpa kelembutan.
Eldrey yang terengah akan ulah mantan kekasihnya hanya bisa memasang tampang jengah. “Apa sekarang kau akan mengantarku pulang?” ledeknya.
Kevin terdiam. Ditatap tenangnya gadis itu. Sosok yang sepertinya hanya akan melontarkan apa pun isi otaknya tanpa keberatan dan batasan.
“Pulang duluan?”
Memang tak ada gunanya bertanya pada putri Dempster.
“Salah. Kamu hampir saja masuk kandang singa, Sayang,” lanjut Kevin diakhiri tawa pelan.
Eldrey yang merasa aneh dengan ekspresi lawannya memilih mengabaikan. “Ayo pulang.”
Tapi, sosok di sebelahnya masih belum bergerak. Sorot mata Kevin tetap saja memperhatikannya. Membuat putri Dempster mendecih karenanya.
“Apa kau tidak mau pulang? Ya sudah. Aku akan pesan taxi kalau begitu.”
Tiba-tiba Kevin merebut ponselnya dan melemparnya ke belakang.
“Kau!” geram Eldrey. Tampaknya, laki-laki itu benar-benar menggelitik amarahnya. Tapi justru cengiran yang ia dapat sehingga semakin memurkakan dirinya. Napas Eldrey yang kian memburu justru membuat Kevin menatap aneh padanya.
“Kamu menggodaku?”
“Apa.”
Namun pemuda itu malah memiringkan wajahnya. “Parah. Kamu benar-benar tidak peka Eldrey,” tangannya terulur dan bergerak ke arah ikatan rambut gadis di depannya.
Menariknya, sehingga surai coklat itu tergerai dengan indahnya.
__ADS_1
“Asal kamu tahu saja, Nona Dempster. Di mataku, kamu tak ubahnya rusa betina di depan predator gila.”
Napas gadis itu pun tercekat karenanya. Siapa yang bisa mengira, kalau Kevin tiba-tiba mencengkeram pipinya. Membuat Eldrey terdorong ke belakang dan kepalanya hampir saja membentur jendela jika tak dialasi tangan bebas sang pemuda sebagai pelindungnya.
Mendadak erangan terlontar dari putra Cesar yang menciumnya tanpa aba-aba.
“Sakit,” kekeh Kevin karena bibirnya digigit oleh mantan kekasihnya. Seringai tipis terpatri di sana bersamaan dengan kemurkaan gadis di hadapan.
“Kau gila?!”
“Tidak. Aku masih normal.”
Eldrey yang benar-benar marah pun langsung membuka pintu mobil yang ternyata terkunci. Tanpa keraguan dipukul kerasnya jendela akibat ulah aneh orang di sampingnya.
“Buka pintunya atau antarkan aku pulang!”
“Kalau aku tidak mau?”
“Sepertinya kau ingin main-main denganku, Kevin,” raut wajah Eldrey seketika berubah menekan.
Perlahan, laki-laki itu menyandarkan kepalanya pada stir kemudi sambil wajah tetap mengarah ke sang gadis muda.
“Eldrey. Apa yang harus kulakukan agar kamu terus di sisiku?” ucapnya tiba-tiba dan mengacaukan emosi putri Dempster sehingga lebih tenang.
“Kau—”
“Semakin melihatmu, aku jadi tersadar banyak singa yang tertarik padamu. Yah, memang tidak salah jika mereka begitu. Tapi, apa aku tidak boleh memonopoli dirimu?”
Eldrey tak lagi bersuara. Kecuali pandangan mereka saling bertemu dan melukiskan suasana yang berbeda.
“Jujur saja. Aku ingin membawamu kabur semalam. Karena tidak tahan dengan ocehan-ocehan para buaya yang menguliti fisikmu terus-terusan.”
“Apa hakmu berkata seperti itu? Kau juga buaya, bajingan.”
Kevin bangkit dan duduk dengan benar walau masih menghadap pada lawan bicaranya.
“Apa mungkin kamu sakit hati dengan ulahku di tempat balapan?” Eldrey pun tersenyum remeh. “Kamu cemburu?”
“Cemburu?” ia menggelengkan kepala. “Memang susah berurusan denganmu. Buka pintu mobilnya,” pintanya.
“Jadi kamu tidak cemburu?” terdengar nada kecewa di sana.
Eldrey pun berbalik menatap keluar jendela. Masih menunggu pintu mobil untuk terbuka.
“Silakan lakukan apa saja. Tapi aku memang tak suka, milikku diusik walau aku tidak menginginkannya.”
Tapi bukannya pintu mobil itu terbuka, tubuhnya justru tertarik dan terangkat sehingga duduk di pangkuan putra Cesar dengan mudahnya.
__ADS_1