FORGIVE ME

FORGIVE ME
Negosiasi rahasia


__ADS_3

Seperti dalam ruangan eksekusi. Terlebih tatapan menekan milik dua pria seakan ingin menguliti Emily.


Betrand dan Charlie.


Sementara Evan entah pergi ke mana, berbeda dengan Raelianna yang sibuk terisak di kamar sederhana putrinya. Menangisi keberadaan Eldrey yang masih menjadi rahasia.


Dan di rumah sederhana sebagai saksi kisah gadis itu, dirinya sibuk memandangi dua orang di kebun belakang.


Daniel dan Damien.


Tak jelas apa yang sedang mereka bicarakan, tapi itu pasti topik terlarang karena dibuka di tempat berjarak seperti sekarang.


Perlahan putri Dempster mengedarkan pandangan. Tatapannya terfokus pada sebuah lukisan. Karya seni tua buatan tangan tokoh ternama. Dihampiri dan diperhatikan secara saksama.


“Apa kau menyukainya?”


Tak ada respons pada sang penanya. Sampai akhirnya langkah Daniel tiba di belakang Eldrey. Mungkin ia sudah menyelesaikan hubungannya dengan Damien.


Dengan lancang tangan tangguhnya menyentuh ujung rambut putri Dempster. Memainkan tanpa ragu, dan lanjutan kalimatnya membuat tertegun sang gadis muda.


“Betrand memintaku untuk mencarimu. Bagaimana menurutmu?” Sekarang, mereka saling berhadapan. “Kau tahu? Aku bekerja untuk ayahmu. Kau tak ada apa-apanya di depan mataku.”


“Apa yang kau mau?” Begitu tanpa basa-basi. Senyum miring terukir di bibir bervolume Daniel, menyiratkan ekspresi meremehkan pada sosok yang berbicara. “Aku tahu kau tidak butuh uang. Aku hanya bisa membunuh orang, bagaimana?”


Tawa pecah di mulut pendengar. Tak dapat dipungkiri kalau lelucon Eldrey dengan muka serius menggelitik hatinya. Pria itu benar-benar terhibur oleh dirinya.


“Apa kau serius mengatakan itu?” tak ada tanggapan. “Padahal kalau kau mau, aku bisa melakukannya untukmu. Kau tahu, Nona? Aku tak masalah melawan Betrand jika itu yang kau inginkan. Tentunya dengan harga yang mahal.”


Masih tidak bersuara. Eldrey memilih mengalihkan pandangan. Tak ada jawaban yang bisa dilontarkan untuk seseorang seperti Daniel Bonapart.


Apa pun yang terjadi ia pasti lebih memilih Betrand. Karena bagaimanapun mereka sama-sama bangkit dari kubangan menyedihkan. Perjalanan orang-orang itu untuk sampai di titik ini jelas tak ada artinya jika di hadapkan pada balas dendam Eldrey seorang.


“Ah benar juga. Apa kamu sudah tahu? Kalau Dome Bosmova ingin mengambilmu jadi menantunya. Kurasa kau pasti tahu siapa tuan muda itu, karena dia salah satu pria yang mengincarmu saat acara pernikahan ayahmu.” Selesai mengatakannya Daniel pun beranjak dari sana. Sebelum pergi, “aku harus ke kantor. Tetaplah di sini dengan Damien. Tenang saja, selama kau di rumahku kau akan tetap aman. Kau paham bukan? Maksudku.”


Hening akhirnya berkumandang. Lagi-lagi tatapan indah gadis itu mengarah pada lukisan.


Tak jelas apa yang sedang ia pikirkan, dan Damien yang berdiri tak jauh darinya akhirnya mendekat.


“Aku sudah mendengar tentangmu dari Daniel. Tenang saja, aku tidak mengenal keluargamu. Jadi kau aman bersamaku.”


Hanya saja justru senyum simpul yang dihadiahkan gadis itu. Ia tatap sempurna pria di depan mata dan tanpa ragu memegang lengannya.


“Aman ya, kalau begitu apa kau bisa menghubungi seseorang untukku?”


“Siapa?”

__ADS_1


“Dome Bosmova.”


Bukan kebohongan kalau ekspresi tak sukalah yang dipasang Damien padanya. Entah kenapa ia begitu, Eldrey tak peduli. Dirinya masih bersikukuh memegangi lengan pria itu.


“Untuk apa?”


“Apa kau ingin ikut campur? Kalau iya aku akan memberitahumu.”


Damien berdecak kasar. Perlahan ia tepis pelan sentuhan Eldrey. “Jangan terlalu berharap, karena orang itu sangat sibuk dengan kegilaannya.”


Eldrey tersenyum miring, memandangi kepergian Damien menuju kamar. Hanya mereka berdua di rumah itu, tak ada pembantu atau penjaga mengingat kediaman sederhana Daniel merupakan tempatnya untuk menenangkan diri.


Dan di bandara di negara yang berbeda terlihat Kevin sedang berbincang dengan seseorang. Sepertinya membahas hal cukup penting sambil salah satunya menatap lekat foto seseorang.


“Dia cantik.”


“Begitulah.”


“Siapa namanya?”


“Eldrey.”


“Demi gadis ini kamu ke sini? Luar biasa.”


Kevin hanya tertawa mendengarnya. “Sayangnya dia sangat berbisa.” Raut bingung terlukis dari rupa pendengar. “Brendania Dempster, itu nama belakangnya.”


“Ya.”


“Berarti dia berhubungan dengan Daniel dan Charlie.”


“Mereka ajudannya.”


Tiba-tiba laki-laki itu menyentuh bahu Kevin. Mencengkeramnya dengan erat seakan memperingatkan. “Apa kau serius dengan perempuan itu?”


Perubahan suasana ditanggapi tenang oleh Kevin. Ia mengerti arah pembicaraan mengalir ke mana, tentu saja menuju konflik bisnis keluarga Cesar dan juga Dempster.


“Ayolah, Kak. Bisnis tak ada hubungannya dengan perasaanku.”


Sosok yang dipanggil kakak segera melepas sentuhan. Dia hanya bisa menggeleng pelan akan respons tak terduga adik sepupunya.


“Dempster sudah mengacaukan anak perusahaan ibumu.”


“Hanya itu.”


“Daniel Bonapart juga menekan bisnis pamanmu, dan kau jatuh cinta pada musuh?”

__ADS_1


“Eldrey tak ada hubungannya. Dia hanya gadis biasa dengan nama mengerikan.”


Ingatannya pun tertuju pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Di mana Dempster tanpa ampun merusak laju bisnis anak perusahaan Julia, ibunya Kevin. Walau itu merupakan perusahaan keluarga neneknya, tapi setidaknya juga berimbas pada perasaan sang pemuda.


Itu karena ibunya agak tidak setuju pada keinginan sang putra yang menginginkan putri musuhnya. Walau Julia dan Betrand dulunya berteman, dalam hal berbisnis ikatan mereka menguap ke udara. Karena hanya kuasa juga uang yang berbicara.


Dan semua karena campur tangan Daniel sebagai dalangnya. Dialah pelakunya, dan membuat paman Kevin hampir bunuh diri sebelumnya. Andai tak ada sepupunya ini yang menghentikan kegilaan itu, mungkin kakak ibunya sudah tertanam di tanah pemakaman keluarga.


Tapi respons berbeda diberikan oleh Kendal sebagai penyelamat. Entah karena tahta dan nama besar Dempster, ia sangat mendukung keputusan sang putra. Berharap putri Presdir Betrand bisa menjadi menantunya sepenuhnya.


Di satu sisi seorang pria lewat paruh baya terdiam. Negosiasi seorang gadis muda lewat telepon membuatnya tertegun sejenak. Dan sang penawar masih menunggu jawaban.


“Kau serius dengan keinginanmu itu?”


“Ya,” balas Eldrey tanpa basa-basi.


Dome Bosmova pun memijat pangkal alisnya. Tiba-tiba ia merasa sakit kepala karena ucapan putri kolega sebelumnya.


“Kalau begitu begini saja. Nanti malam akan kukirimkan orang untuk menjemputmu. Kita akan bicara lagi, setelah kau dan aku bertemu.”


“Baiklah. Kuharap hasilnya cukup memuaskan, Paman.”


Panggilan mereka akhirnya terputus. Dome memandang lekat ponselnya dengan ekspresi yang tak dapat dilukiskan.


“Betrand, anak macam apa yang kau besarkan?” gumamnya pelan.


“Ini ponselmu,” Eldrey menyodorkan benda pipih itu pada sosok yang sedang makan siang. Dia juga ikut duduk bersama Damien, memandang tak minat hidangan di atas meja.


“Bagaimana?” Eldrey menaikkan sebelah alisnya. “Apa yang kau inginkan dari pak tua itu?”


“Hanya negosiasi ringan.”


“Dome Bosmova pengusaha terkenal. Tak ada topik ringan jika bersama dengannya.”


“Baguslah kalau kau tahu.”


Damien hanya menghela napas pelan. Tak ingin lagi bertanya, mengingat sosoknya memang tak hobi ikut campur dengan urusan orang.


“Mau?”


Eldrey sontak menggeleng. Steak yang menguarkan aroma pekat itu membuatnya tidak tertarik. Dirinya lebih memilih memakan buah, mengabaikan hidangan berat untuk mengisi makan siangnya.


Hanya saja di sebuah Hotel yang ditempati Timmothy dan kakaknya, seseorang tak terduga mendatangi mereka. Siapa lagi kalau bukan Evan Brendan Dempster yang akan dijodohkan dengan Arabella.


“Kamu—”

__ADS_1


“Lama tak berjumpa, Tim. Dan juga, Kak Bella.”


__ADS_2