FORGIVE ME

FORGIVE ME
Pernyataan Timmothy


__ADS_3

Bunga mawar.


Buketnya lumayan besar, tapi sosok yang membawa memasang ekspresi tak mengenakkan. Karena dirinya hadir di sana atas keterpaksaan.


Timmothy.


Langkahnya berat, ada beberapa ajudan di depan pintu, pertanda siapa pun yang ingin masuk harus melewati pemeriksaan terlebih dahulu.


Dan jangan lupakan sikap hormat mereka, pada keponakan Dome Bosmova yang memiliki hubungan baik dengan Dempster. Orang-orang itu tak mungkin mengganggu sosok yang merupakan guru, sekaligus kolega bisnis Betrand dan juga sekretaris Roma.


Ruang rawat yang besar. Sangat sesuai dengan kualitas uang sang penghuni. Timmothy terdiam, di atas nakas terpampang sebuket kecil forget me not. Bunga yang seakan melambangkan doa dari sosok pengirimnya.


Perlahan lirikan mata jatuh ke pegangan, di mana genggaman pada buket bunga merah tajam mencolok di pandangan. Ia pun memilih mendekat, menatap lekat gadis tak berdaya yang sedang berjuang dalam tidurnya.


Koma, bagi sebagian orang itu hanya gerbang terbuka untuk mati. Kalaupun sadar tak mungkin tak ada penyakit yang hinggap di diri, mengingat raga tertidur lama, dan punggung pun bisa menjadi korbannya.


Tangan laki-laki itu lambat laun bergerak. Menyentuh pinggiran surai nan terlihat indah. Lembut dan beraroma buah, cukup mengejutkan untuk dimiliki sosok yang tertidur lama.


Dirinya tertegun sejenak, pada paras pucat yang cantik itu. Begitu menarik di mata, layaknya perwujudan seorang putri di singgasana, bedanya tak bisa apa-apa di atas brankarnya.


Harus Timmothy akui, kalau adik temannya sangatlah menggoda. Takkan membosankan melihatnya, bisa menjadi penghibur di kala lelah, namun mereka tak begitu saling mengenal.


Untuk terikat hubungan serius dirinya benar-benar tidak kepikiran.


Tapi kegigihan sang paman membuatnya bingung juga, antara menolak atau tetap melanjutkan. Karena pada kenyataannya bohong kalau ia tak tertarik pada rupa yang ditawarkan.


Selayaknya laki-laki, dan dia salah satu yang disuguhi visual luar biasa. Benar-benar mencuci mata dalam menuntaskan tuntutan pandangannya.


“Kamu cantik.”


“Benar.”


Terkesiap tentunya. Tangannya langsung menjarak dari sang gadis muda, dan senyum tipis tersungging di bibir dia yang berbicara.


“K-kamu—”


Tapi kalimat itu terpotong saat Kevin mendekat. Timmothy benar-benar tidak menyadarinya, padahal kalau pintu dibuka pasti akan bersuara. Nyatanya ia terlena pada tontonan di depan mata.


“Jadi, apa yang kamu lakukan di sini?” tatapannya jatuh ke bawaan laki-laki itu. Dengan kursi roda menuntun langkahnya, sementara Bram memilih menutup pintu ruangan. Keluar untuk menunggu sang majikan.

__ADS_1


“Hanya menjenguknya.”


“Menjenguk calon istriku?”


Tatapan malas langsung di perlihatkan. Milik Timmothy yang jengah, ia pun beranjak menuju sofa. Duduk di sana tanpa aba-aba.


“Calon istri ya,” tukasnya pelan. Buket di tangan di taruh di atas meja, berdekatan dengan keranjang buah. Cukup menggelitik perasaan, mengingat orang yang koma jelas takkan memakannya, entah siapa yang membawa buah tangan itu tapi keponakan Dome Bosmova tersenyum tipis jadinya.


“Apa yang lucu?”


“Tidak ada.”


Nyatanya pasti ada sesuatu menurut Kevin. Senior di kampusnya dulu, walau tak begitu saling mengenal, beberapa tahun terakhir mereka sering hadir di acara pertemuan.


Dalam rangka berebut tender atau saham yang akan dibeli untuk memperlebar sayap bisnis mereka.


Dan sialnya saingan terbesar keduanya selalu sama. Daniel Bonapart, tokoh sialan yang berlindung di balik jabatan besar dalam perusahaan asing milik Betrand.


Dia muncul tiba-tiba bersama Dome Bosmova, mengacaukan rute bisnis para pengusaha yang bersiap melontarkan dana demi memutar keuangan perusahaan mereka.


Pak tua itu benar-benar tak pandang bulu bahkan jika lawannya itu adalah keponakannya.


“Menjenguk gadis itu.”


“Dengan bunga? Kau pikir aku bodoh? Aku tahu kalau keluargamu menargetkan Dempster.” Timmothy memiringkan kepala, hanya itu responsnya. Dan Kevin pun melanjutkan ucapan. “Jauhi Eldrey. Dia bukan barang untuk membangun kerajaan bisnismu.”


Kernyitan di dahi semakin terlihat jelas. Bukannya Timmothy tak paham makna itu, hanya saja ia merasa agak jengkel. Seolah-olah tak punya empati untuk memanfaatkan putri keluarga Dempster.


“Begitu ya. Sepertinya kamu sudah salah paham.” Kevin terdiam dan menatap tajam. “Dome Bosmova memang menginginkan ikatan dengan Dempster. Ini bukan sekadar bisnis, Tuan Muda Cesar. Tapi ini rencana jangka panjang. Dalam berteman dan juga berkeluarga. Aku takkan menolak jika dia memang diizinkan untuk kudapatkan.”


Sontak mereka sama-sama berdiri. Timmothy dan Kevin jelas terkejut akan itu, karena refleks tubuh yang senada. Bedanya salah satu dari mereka bangkit dari posisinya karena geram di dada.


“Aku takkan membiarkannya.”


“Terserah.”


Timmothy pun mulai membenarkan posisi jasnya.


“Kau bahkan tidak mencintainya.”

__ADS_1


Laki-laki itu terdiam. Perlahan tatapannya naik menuju lawannya, melukiskan raut yang tak dapat diartikan. Tangan di kerah baju bergerak menarik dasi, berusaha untuk mengurangi jengah yang ingin menggerogoti.


“Benar. Tapi aku akan melakukannya. Jika memang itu yang dibutuhkan untuk bersamanya.”


“Benarkah?” nada suara yang terdengar meremehkan. Bahkan ekspresi yang ditampilkan juga serupa, menyiratkan ledekan. “Lalu bagaimana dengan masa lalunya? Aku sudah dengar kau juga hadir hari itu. Menilik keluargamu, aku yakin kau tahu masa lalu Eldrey. Apa kau tak masalah dengan itu?”


Perlahan, hening berbicara. Detik-detik berlalu tenang. Tatapan yang bertemu melukiskan sesuatu. Sebuah penantian, juga jawaban penasaran yang akan digaungkan.


Dan salah satu dari mereka memecah keheningan. Dengan kata yang benar-benar di luar perkiraan.


“Bagaimana denganmu? Sorot matamu, aku tahu. Kamu begitu menyukainya.” Tatapan tenang lawan bicara mulai mendingin penampakannya. “Harus kuakui, kalau aku tertantang untuk merebutnya. Kevin Daniello Cesar,” sosok yang dipanggil mengepalkan tangan, “kupikir tak ada larangan untukku memilikinya. Karena Dempster, masih belum mengumumkan siapa pemilik putra putri mereka.”


“Kau—”


Tawa pelan pun pecah di mulut Timmothy. Sungguh berbeda, ia tak lagi seperti sebelumnya. Sahabat Evan yang tenang dan pendiam. Nyatanya itu hanyalah kedok saja. Untuk seorang laki-laki yang malas berbicara.


Ingin Kevin menendang kursi rodanya, tapi seketika ia teringat berada di mana. Lambat laun menghampiri putri Dempster dan mengecup lembut kening Eldrey.


“Nanti aku akan kembali lagi.”


Dan begitu pintu ditutup putra Cesar, suasana tak hening terpampang dalam ruangan. Berisik dari alat pengukur detak jantung nan bergumam, menemani seseorang.


Eldrey Brendania Dempster.


Kelopak dengan hiasan bulu mata lentik itu bergerak. Tak ada kedipan berulang di sana, sorotan sayu namun menekan terpancar darinya.


Ia telah sadar dengan penglihatan ke langit-langit kamar.


Entah dirinya mendengarkan perdebatan antara Kevin atau Timmothy, satu hal yang pasti. Koma telah meninggalkan diri.


Lima belas menit kemudian, bunyi teratur dari pantofel coklat bergerak ke arah ruangan putri Dempster.


“Maaf, Tuan. Tapi siapa pun tak diizinkan untuk menemui Nona sekarang.”


Tak ada tanggapan selain tatapan menusuk yang dipamerkan. Dirinya pun menoleh sekilas ke belakang.


“Kau, apa kau tahu siapa aku?”


 

__ADS_1


__ADS_2