FORGIVE ME

FORGIVE ME
Melarikan diri


__ADS_3

Langit tak lagi biru. Gumpalan awan kelabu hampir memenuhi pesona atas kawasan itu. Daerah seperti negeri dongeng yang salah satu jalan kecilnya dilalui putri Dempster.


Ia terburu-buru.


Napasnya terengah-engah, sesekali melirik ke belakang dengan pandangan tak tentu arah.


Kenyataan sesungguhnya dari dirinya yang berhasil melarikan diri.


Entah suatu keberuntungan atau tidak, namun saat melihat langkah Kevin berhenti mengikuti akibat telepon di ponsel membangkitkan insting putri Dempster.


Batinnya berbisik harus menjauhi sang mantan kekasihnya. Tak tahu kenapa sudut hati berbicara merasa asing dengan seringai aneh putra Kendal yang berhasil mengetahui persembunyiannya.


Bahkan jika banyak cara yang digunakan Eldrey untuk menipu keberadaannya agar tak di datangi keluarga, setidaknya hanya sekarang kesempatan gadis itu benar-benar bebas tanpa Emily di sisinya.


Ia tak percaya pada pelayan perempuannya itu untuk tutup mulut atas keberadaannya di mata ayah, ibu, dan saudara laki-laki yang masih enggan ditemuinya.


Hasrat Eldrey sejak dulu masih sama, dia tak ingin lagi terikat Dempster apa pun alasannya.


Karena luka lama yang begitu besar masih tersisa, dan entah butuh berapa banyak waktu lagi baginya dalam menyembuhkannya.


“Taxi!” teriaknya tiba-tiba.


Seketika kendaraan itu langsung berhenti akibat ulahnya berhenti di tengah jalan. Tanpa ragu masuk ke dalamnya, dan bernapas lega karena akhirnya bisa terbebas dari mereka yang menghambat langkahnya.


“Ke mana, Nona?”


“Stasiun terdekat.”


Di rumah sederhana itu, Kevin terdiam menyaksikan wajah aneh Emily menatapnya. Perempuan di depannya memasang tampang kesal akibat terjebak obat tidur milik sang majikan, tapi siapa sangka keberadaan sosok yang diharapkan justru tak tampak batang hidungnya.


“Maksud anda, tadi Nona Eldrey pergi bersama anda dan belum kembali?”


Kevin tidak lagi mengatakan apa-apa, selain segera memainkan ponselnya dan menghubungi seseorang dengan nada perintah.


“Sial!” umpat Emily tiba-tiba.


Ia juga melakukan hal serupa, tapi saat akan menekan panggilan untuk menghubungi sosok yang terbayang, gagang telepon rumah segera diletakkan.


Batinnya bergemuruh mengingat amarah sang atasan yang akan menyambut di seberang telepon.


“Eldrey,” ucapan Kevin membuyarkan fokus perempuan itu. “Berapa nomor teleponnya?”


“Nona sudah bertahun-tahun tidak memegang ponsel. Begitu pula saya,” jengkelnya yang mendapat lirikan aneh sang pemuda.


“Kenapa?”


“Lupakan tentang itu. Yang jelas kita harus segera mencarinya, Nona pasti belum jauh dari sini. Jangan sampai tuan Charlie mendengar berita ini atau kita berdua akan mati,” jelasnya dengan nada penuh cemas.


Jujur saja, Emily takut membayangkan itu semua, padahal Charlie sudah bersusah payah membujuk Eldrey dahulu kala agar membawa seseorang bersamanya, dan sekarang orang itu justru gagal menjaga putri Dempster yang menghilang entah ke mana.

__ADS_1


Emily benar-benar takut kalau sampai bos mengerikannya datang ke negara itu setelah mendapat kabar darinya.


“Kopernya masih di rumah, itu berarti paspornya—”


“Jangan remehkan kami! Anda pikir benda itu perlu untuk melarikan diri? Bahkan Nona bisa menyeludup dengan mudah jika dia mau meninggalkan negara ini. Anda tak lupakan seberapa besar koneksi nama Dempster?”


Kevin terdiam. Sialnya sesaat ia lupa seberapa besar kekuasaan mereka. Bahkan orang bernama Charlie dan Daniel Bonapart, terlepas dari posisinya sebagai bawahan Betrand, keduanya juga punya bisnis serta jaringan pribadi mengerikan.


Ia memang harus segera menemukan Eldrey bagaimanapun caranya.


“Anda mau ke mana?”


“Tentu saja mencarinya,” tegasnya tanpa basa-basi. Ia segera keluar rumah, melirik sekilas ke sekitar sebelum menjauh dari kediaman yang menjadi saksi kehidupan Eldrey di daerah menakjubkan itu.


Sepanjang perjalanan, hamparan tanah lapang berhias rumput hijau tersuguh di mata tenang itu. Sesekali melewati pesona tepian sungai juga petani domba.


Ataupun kemilau pohon magnolia dengan bunga masih berwujud tunasnya.


Lagi, ini mengingatkan putri Dempster pada masa lalu. Pesona bunga magnolia yang membisikkan dirinya pada percobaan kabur terdahulu, namun seolah dipermainkan takdir untuk bertemu dengan Kevin lagi seperti kemarin.


Kenapa harus dirinya?


Kenapa di antara banyaknya orang harus pemuda itu?


Gadis itu masih ingat setiap saat yang dilalui bersamanya.


Dari awal berjumpa di rumah Alice, sampai ketika Kevin memaksakan perasaan di dalam mobilnya. Entahlah, Eldrey tak yakin apa yang terjadi saat itu.


Eldrey tak yakin apa yang dirasakan dirinya kecuali sekarang harus benar-benar menjauh karena asing dengan semuanya.


Ia tak ingin bertemu lagi dengannya.


Stasiun ketiga, begitulah orang-orang mengenalnya. Gadis itu berhenti di sana dan memeriksa isi saku. Sialnya tak banyak uang yang dipunya, kecuali cukup untuk satu kali ongkos naik bus.


Dia benar-benar bertangan kosong. Kecuali satu buah jam tangan melekat sebagai perhiasan dan sepasang anting mempermanis penampilan.


Tapi nyatanya garis wajah serta tubuhnya tak ayal begitu mengundang lirikan orang-orang yang melewatinya.


Bahkan kaum hawa ikut memandang kagum pesonanya.


“Kenapa semenjak hidup seperti ini otakku buntu begini?” keluhnya.


“Coklatnya, Nona?” seorang remaja perempuan menawarkan. Atensinya teralihkan dan tanpa ragu membelinya. Seakan lupa kalau uang di tangan harus digunakan sebagai ongkos berpergian.


“Sekarang, aku harus ke mana?” bingungnya sambil membuka bungkus coklat.


“Ah!” pekik seseorang tiba-tiba.


“Ah, maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja,” kaget Eldrey karena telah menabrak sosok di depannya. Akibat terlalu fokus ia tak sadar kalau sudah menghalangi jalan dan menyenggol sekitarnya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa.”


“Sekali lagi maaf, ini sebagai permintaan maafku,” Eldrey pun menyodorkan satu bungkus coklat di tangan dan pergi dengan sopan.


Perempuan yang menjadi korban tampak bingung memandangi punggungnya, namun segera tersadar begitu merasakan sentuhan lembut di bahunya.


“Kenapa melamun begitu? Kupikir kamu tertinggal.”


“Iya, aku memang tertinggal!” ketusnya pada laki-laki itu.


Tapi sosok di depannya hanya menghela napas jengah. Dan lirikan matanya tiba-tiba terfokus bada bungkusan di tangan lawan bicara.


“Coklat? Bukannya kakak tidak suka makan coklat?”


“Aku memang tidak suka, tapi tadi ada seorang perempuan yang memberikannya. Nih, untuk kamu,” sambil menyodorkan pada pemuda itu.


Dengan santai laki-laki bertopi merah tersebut mengambilnya. Menatap aneh pada pemberian dan kakaknya secara bergantian.


“Apa?”


“Perempuan?” nadanya terdengar meledek. “Setelah gagal menikah sekarang seleramu seorang lady?”


“Dasar brengsek!” umpat wanita itu. Ia bahkan memukul bahu adiknya, namun sayang sang pemuda sudah terlanjur menghindar. “Jangan marah-marah begitu, atau kamu akan semakin susah mendapatkan jodoh karena durhaka pada adikmu.”


“Kau!”


Tawa pun meledak dari mulut laki-laki itu. Tampak sosoknya berlari di stasiun untuk menjauhi amukan kakaknya yang akan menggila.


Mengabaikan tatapan bingung dan jengkel orang-orang pada mereka.


“Jangan bercanda! Kalian kan bisa cari dia di halte, stasiun, bandara atau perlu pelabuhan sekalian untuk membatasi pelariannya! Menemukan persembunyiannya saja bisa, dia pasti masih ada di negara ini, aku yakin akan itu!”


Tampang tak bersahabat yang diberikan Kevin, membuat tiga bawahannya itu harus meneguk ludah kasar.


Hanya karena belum juga menemukan Eldrey, teror ocehan sang pemuda sudah memenuhi telinga para suruhan.


Walau memang belum semua halte dan stasiun mereka telusuri, tapi pilihan untuk mencari ke bandara yang jaraknya lumayan membuat mereka ragu kalau Eldrey sudah benar-benar menjauh dari daerah itu.


Dan pelabuhan, orang-orang itu lupa untuk mengeceknya ke sana.


“Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya cepat temukan dia. Jangan sampai putri Dempster itu meninggalkan negara ini. Ingat itu,” tekan Kevin.


Tiga bawahannya pun terkesiap mendengarnya. Bukan karena kekuatan dari suara sang pemuda, tapi saat tatapan dinginnya menyapu wajah mereka secara bergantian.


Seakan-akan ada besi dingin yang menusuk kulit dan tulang tanpa iba.


Sepeninggalan mereka, Kevin pun mengusap kasar rambutnya. Menarik kacamata sambil membuang muka ke jalanan.


Perlahan senyum miring tersungging di bibir. Benar-benar ekspresi yang berbeda di bandingkan sebelumnya.

__ADS_1


“Baiklah Eldrey. Jika ini maumu, maka aku takkan ragu lagi padamu.”


 


__ADS_2