
“Daniel, bagaimana pekerjaanmu?”
“Masih seperti biasa,” sambil tangan sesekali membolak balik laporan dari divisi keuangan. Bahkan tak segan ia mencoret beberapa lembar yang menampilkan hasil tak memuaskan.
Laptop yang menyala menampilkan desain untuk pembangunan baru di area pinggiran. Tender yang berhasil jatuh ke tangannya, tanpa terikat bisnis seorang Presdir Betrand.
Sungguh dirinya sibuk, namun jangan lupakan rokok yang menguarkan asap di atas meja. Untuk menghilangkan stres juga lelah bersama secangkir kopi panas penenang raga.
“Apa semua baik-baik saja?”
“Ayolah, kau bertanya pada siapa? Aku lebih senior darimu. Jelas aku tak perlu mengadu,” kekehan pelan pun tersembur di akhir kata. Sementara seseorang di seberang telepon memilih membuang muka, agak jengkel dengan kesombongan orang yang memang lebih superior darinya. “Benar juga, bagaimana keadaan Eldrey?”
“Nona.”
“Ha?”
“Dia putri majikanmu.”
“Lalu masalahnya apa?” bingung laki-laki itu akan ucapan sosok yang berprofesi sebagai CEO seperti dirinya.
“Sopanlah sedikit, Daniel.”
Tawa pecah akhirnya. Tangan yang tadi memegang pena seketika langsung menutup laporan milik bawahan. Entah apa yang lucu dari ucapan sekretaris Roma, padahal kalimat barusan itu merupakan fakta.
“Ayolah. Aku bukan kau, Roma. Lagi pula kenapa aku harus begitu? Lagi pula bisa saja nonamu itu calon istriku.”
“Dasar gila!” panggilan pun langsung diputus begitu saja.
Lawan bicara semakin tak bisa menghentikan tawa, sampai ujung mata berair karenanya. Seringai tipis pun terpatri di bibir pucat itu, ia pun bergumam pelan.
“Dasar polos.”
Dan mungkin siapa pun takkan lupa, pada sosok Camila. Ibu kandung Betrand sekaligus otak kehancuran keluarga mereka. Penyebab sesungguhnya sehingga Eldrey mengeluarkan tembakan yang justru berakhir pada putra tuan Kendal.
“Aku bersumpah, dia memang ingin membunuhku,” jelasnya terburu-buru. Seolah tak ada penyakit apa pun di raga, selain ketakutan yang menyelimuti. Beberapa bawahan anaknya, telah menjadi pengawal pribadi.
“Bagaimana ini?”
Bill menatap lekat sang ayah. Sungguh mereka tak mengira, kalau salah satu anggota keluarga akan melakukan hal gila. Walau sedikit banyaknya mereka tahu sepak terjang Eldrey namun hanya mengabaikan dirinya.
Karena bagaimanapun masa lalu serta perangai orang-orang dari keluarga Gates juga tak berbeda.
Pak tua yang terlihat berpikir dalam diamnya, mulai menarik kacamata. Membersihkan sekilas sebelum memakainya kembali di muka.
__ADS_1
Dia pun juga berlumuran dosa. Untuk bisa mengambil alih bisnis keluarga sepenuhnya, bahkan dirinya tega melenyapkan saudaranya. Dengan cara membuat mereka sakit perlahan-lahan sebelum akhirnya meregang nyawa.
Walau tak meninggal semua, setidaknya nurani dan iba sudah tak ada di dirinya. Sebab ia tak peduli lagi pada ikatan keluarga.
Dan koneksi dengan aparat negara juga beberapa pihak terkait sangat dibutuhkan dalam mencuci tangan dari keadilan para korban.
Begitu pula Camila. Memang jodoh itu ibarat cerminan diri sendiri. Tulang rusuk sosok Adam, namun dibesarkan dalam lingkungan keji.
Karena garis darahnya diajarkan untuk menginjak orang-orang agar menepi. Secara turun-temurun, kesempurnaan selalu ditanamkan, menjadi yang terdepan dan terus diagungkan.
Begitulah keluarga yang terlalu menjunjung latar belakang. Dan merasa berbeda juga memandang sebelah mata. Entah kapan roda akan berputar dan menghancurkan pijakan mereka.
Karena kehidupan tak selalu sama, dan yang berkuasa bisa saja tersungkur dari tahta.
Begitulah lingkaran setan dalam dunia yang mirip kastil kaca.
“Tak ada yang bisa kita lakukan. Lagi pula, Betrand pasti takkan membiarkannya. Karena bagaimanapun Eldrey itu putrinya dan ibumu juga berdosa besar padanya.”
Camila meradang. Tatapan tajam langsung ia lontarkan, merasa tak terima dengan ucapan suaminya.
“Apa maksudmu? Dia hampir membunuhku!”
Teriakan itu bergema dalam salah satu ruangan rumah sakit. Walau bukan tempat yang sama seperti sebelumnya, kuasa Betrand memerintahkan para bawahan untuk memindahkan ibunya.
“Lalu apa? Kau juga hampir membunuhnya. Anggap saja ini karmamu, Camila. Tak ada anak singa yang akan terus tunduk pada rajanya. Memang sudah saatnya gadis itu menunjukkan taring mengingat kau yang menculik dirinya.”
Salah satu tangan keriput itu terkepal. Merasa geram akan lirihan barusan, jika tak mengingat kondisinya pasti sudah ia lempar keranjang buah pada suaminya yang tua.
Mereka tak seakur itu dalam hal masalah juga bisnis sebenarnya. Pernikahan yang terjalin lama itu tak lebih dari sekadar kesepakatan keluarga demi bisnis juga harta.
Itulah fakta sebenarnya dari seorang tuan Gates juga Nyonya Camila yang berhasil membangun kerajaan bisnis mereka.
“Biar aku yang mengurusnya.” Bill akhirnya bersuara, mengundang tatapan penuh arti dari ayah dan ibunya. “Lagi pula, bocah kecil itu juga punya hutang padaku. Dan memang sudah saatnya untuk membayarnya.”
Selesai mengatakan itu, sosoknya pun pergi dari sana. Diiringi seorang pengawal dengan setelan lengkap di badan. Jangan lupakan satu pistol Terselip di pinggang, untuk berjaga-jaga kalau seandainya ada apa-apa.
“Keluarga yang menyedihkan,” lirih Gates tiba-tiba.
“Apa maksudmu?”
“Bahkan anakku sendiri, mencoba menjatuhkan putraku yang lain juga cucuku. Dan entah kenapa aku tak terlalu peduli itu.”
Ironis.
__ADS_1
Kata-kata itu meluncur bebas tanpa hambatan. Seolah lirihannya tidaklah diselingi beban, mengingat ada ikatan kental di dalamnya.
Dan itu adalah darah juga keluarga.
“Ramses, apa berita itu benar?”
Laki-laki yang baru pulang itu menatap heran sang ibu. Dengan dandanan masih kusut di raga, walau mengenakan setelan tidak memudarkan tampang kantuknya, mengingat ia begadang semalaman demi pekerjaan bersama manager juga beberapa staf lainnya.
“Berita apa?”
“Eldrey yang menembak Kevin.”
Dirinya terdiam, bertanya-tanya dari mana ibunya mendapatkan informasi itu, mengingat Dempster sudah berusaha keras mengunci mulut-mulut para penonton agar tidak membocorkan kejadian.
Itu juga berlaku untuknya, ancaman dari Charlie Stevano dan sekretaris Roma. Mereka langsung bergerak cepat agar nama tuan putri itu masih terjaga.
Nyatanya beberapa oknum tak bisa menahan mulutnya. Uang yang berbicara tak ada artinya, tak peduli seberapa besar helaian berharga itu ditebarkan, bangkai yang dipendam aromanya akan menguar juga.
Dan itu juga berlaku untuk Dempster yang terlalu memakai kuasa dalam menuntaskan jejak kotor mereka.
“Aku tidak tahu.”
“Bagaimana mungkin kamu tidak tahu? Mama mendengarnya dari Fabina. Kamu lupa kalau dia bekerja di mana? Dia juga yang bilang kalau kamu ada di rumah sakit saat Eldrey ditampar Nyonya Julia.”
Padahal seminggu lebih sudah berlalu semenjak kejadian itu. Tak disangka kalau adik ipar kakaknya akan menceritakan kejadian sesungguhnya. Mengingat ia pasti tahu siapa Eldrey di mata keluarga.
Perjodohan Ramses yang sudah berulang kali batal mengundang frustrasi. Sampai-sampai nyonya Nera tak tahu lagi harus mengikatnya dengan siapa, ia tak ingin putra semata wayang menjadi perjaka tua. Apalagi sahabat sang anak sudah duluan menempuh ikatan keluarga.
Dean, yang sudah menikah dengan Alice tentunya.
Saking khawatirnya, banyak putri kenalannya yang ia incar. Tapi entah kenapa semua langsung kandas di acara pertemuan. Itu karena Ramses yang selalu datang dengan dandanan urak-urakan. Membuat para lady memilih mundur duluan.
Nerd.
Begitulah tampilan Ramses ketika bertemu mereka. Tutur kata tak jelas menghasilkan kebuntuan dalam berbicara, semua karena laki-laki itu memang belum berminat menempuh ikatan yang akan membelenggunya.
Bahkan Fabina sudah menyiapkan banyak gadis cantik untuk disuguhkan, tapi semua ditolak mentah-mentah.
Dan entah kenapa nama Eldrey tiba-tiba muncul dalam acara makan malam keluarga. Walau sudah jelas siapa tersangka utama, kakak kandungnya sendiri yang mengarahkan Ramses agar memilih putri Dempster sebagai pasangan.
Mengingat latar belakang juga tampilannya, keluarga tuan Harel jelas setuju dengan sosok putri Betrand. Dia memang terlalu sepadan, atau lebih baik dari gadis kebanyakan.
Dan sayangnya Ramses memilih diam mengingat ikatan pertemanan juga rasa sayang Kevin pada sosok yang diharapkan ibunya.
__ADS_1
Eldrey bukanlah barang yang harus ia ambil mengingat usaha putra kedua keluarga Cesar tidak main-main dalam mencarinya.