
“A-ayah.”
“Sepertinya kau tak ingin lagi hidup di dunia ini,” satu kalimat namun menghujam kesadaran Nyonya Amelia. Seketika ia panik, setelah menyadari apa yang terjadi.
Dirinya khilaf dan beruraian air mata di hadapan mereka. Mulai terisak, sesak di dada karena merasa semua telah berakhir untuknya.
Tanpa ia sadari dirinya pun jatuh pingsan.
Namun di tempat berbeda, sebuah jeep unlimited putih telah berhenti tak jauh dari toko roti calon Nyonya rumah Dempster.
Toko roti sejuta kisah bagi mereka yang menikmatinya.
Eldrey terdiam, saat matanya mendapati sebuah mobil berhenti di seberang toko. Lokasi yang selalu menjadi tempat pemberhentiannya, jika dirinya sedang memperhatikan suasana di dalamnya dari kejauhan.
Tanpa keraguan ia tatap panjang mobil itu. Tampak kosong dan langkahnya memilih ke dalam toko.
“Raelianna!” panggilnya setelah pintu terbuka. Tak ada siapa pun di dalam sana membuatnya jadi menatap heran. Ada tiga cangkir kopi di atas meja tamu, namun entah siapa pemiliknya ia hanya mengira-ngira.
Seperti suara perempuan, dan asing baginya. Ia tak tahu siapa yang sudah menghubunginya dengan memakai ponsel ibunya.
“Raelianna?” panggil putri Dempster sekali lagi. Dirinya tersenyum karena merasa ini cukup menarik.
Sampai akhirnya pintu toko terbuka dan membuatnya menoleh melirik pendatangnya.
“E-Eldrey?” Alice tak menyangka akan bertemu gadis itu di sini. Dirinya kebetulan melihat toko roti sudah dibuka, jadi ingin mampir kemari.
Walau sudah melihat mobil yang biasa dipakai Eldrey terparkir di luar, namun ia tak menyadari pemiliknya sama sekali.
“Kamu di sini juga? Bu Anna mana?” tanyanya dengan nada senang dan menghampirinya.
Akan tetapi, putri Dempster tampaknya tak ada niat menjawabnya. Dan itu terlihat jelas dari ekspresi tak acuhnya lalu menatap sekitar.
“Raelianna? Keluar kau Raelianna. Atau aku akan mengobrak-abrik tokomu,” lirih santai Eldrey.
Alice terkesiap, karena tak paham dengan maksud ucapannya. Tangannya pun tiba-tiba mencegat lengan Eldrey yang melangkah.
“Rey. A-aku ingin bicara denganmu.”
“Katakan.”
Alice pun tersentak karena Eldrey menepis tangannya. “Rey.”
“Kau ingin bicarakan? Kalau begitu cepat katakan.”
Rasanya ada sensasi aneh yang dirasakan Alice saat mendengar suara bernada dingin itu. Perlahan ia gigit bibir bawahnya, karena sensasi kecut di hati menatap wajah masam sahabatnya.
Namun, dirinya harus tetap berbicara karena bagaimanapun juga gadis itu adalah sosok yang sangat penting baginya.
__ADS_1
“Aku merindukanmu, Rey.” Matanya pun mulai memerah.” A-aku benar-benar merindukanmu. Seperti dulu, bersama dan menghabiskan waktu denganmu. Saling berbagi bahkan jika kamu tak pernah menceritakan bagaimana kehidupanmu.”
“Aku benar-benar merindukan saat-saat kita yang dulu. Karena kamu, adalah teman sekaligus saudara bagiku, Rey,” ucapnya akhirnya. Diiringi isak tangis di bibir dan tetesan kristal bening membasahi pipi.
Eldrey hanya diam menatapnya. Bertampang datar tanpa merasa simpati. Entah sedikit pun, ia merasa tak tergerak atau memang pura-pura tak peduli tak ada satu pun yang tahu.
Sampai akhirnya panggilan telepon dari Bu Anna mengganggu dirinya dan mengabaikan tatapan Alice.
“Di mana kau?!”
“Di belakang toko, Sayang.”
Eldrey tertegun sejenak. Saat menyadari itu suara dari laki-laki.
“Aku pasti akan membunuhmu,” seringai Eldrey akhirnya. Ia pun langsung ke luar toko dan diikuti Alice karena masih mengharapkan jawaban sekaligus penasaran.
“Eldrey, awas!” teriak Alice tiba-tiba.
Sontak saja putri Dempster berbalik dan melindungi tubuhnya dari sayatan pisau yang melukai. Tangan kanannya tergores dan dirinya lalu tersenyum sinis.
“Naomi?”
“Halo, Sayang,” sapa gadis itu padanya.
“Di belakang!” pekik Alice.
Tapi sebelum sempat Eldrey berbalik, pukulan keras sudah menghantam tengkuknya. Dirinya pun langsung jatuh pingsan di hadapan mereka yang ingin mengganggunya.
“Bagaimana ini? Ada saksi. Apa kita bunuh saja?” tanya Naomi sambil mengangkat pisau di tangan.
Alice tersentak dan langsung memundurkan langkahnya.
“Tidak. Tangkap saja. Mungkin dia bisa berguna nantinya,” balas laki-laki itu. Terlihat dirinya menatap lekat wajah pingsan Eldrey lalu menggendongnya.
“Baiklah, kemari Nona. Kemari, agar aku bisa menangkapmu.”
“Dasar gila!” umpat Alice ketakutan dan langsung melempar ponselnya ke arah Naomi.
“Dasar brengsek!”
“BUAGH!” suara pukulan yang tiba-tiba dilayangkan ke perut Alice. Tak disangka, begitu dirinya berbalik ternyata ada seorang pria berdiri tepat di hadapannya.
“Makanya jangan cari gara-gara denganku brengsek!” hardik Naomi sambil menendang perut Alice yang pingsan.
“Ayo, jangan sampai kita tertangkap di sini,” ajak laki-laki yang menggendong Eldrey.
Dua buah mobil ternyata sudah menanti mereka di dekat kendaraan Eldrey yang terparkir.
__ADS_1
Sontak saja putri Dempster dan Alice yang pingsan dimasukkan ke dalam mobil berbeda.
“Ayo pergi,” perintah laki-laki itu pada supir di depannya.
Anak kedua Betrand tersebut tampaknya benar-benar tak sadarkan diri. Terlebih dirinya yang seperti tertidur di atas paha orang asing tersebut dibelai rambutnya.
Diperlakukan lembut seperti seorang kekasih, namun situasinya jelas-jelas berbeda. Karena Naomi, juga terlibat dalam penculikkannya.
“Apa!” pekik Presdir Betrand kaget di dalam ruangannya. Sebuah panggilan tak terduga, dari pengawal melaporkan kalau mobil Eldrey terparkir di depan toko tanpa diketahui di mana penghuninya.
Dan terlebih parahnya lagi, sosok Bu Anna ditemukan pingsan di halaman belakang toko oleh pemilik toko bunga yang berjualan di samping ladang usahanya itu.
Menurut pengakuan, Bu Anna kedatangan tiga orang pelanggan. Satu gadis, seorang lelaki muda dan juga pria sedikit lebih tua dari Charlie.
Menikmati sajian roti sambil ditemani kopi. Tapi, saat dirinya berbalik setelan menyajikan pelayanan tengkuknya dipukul dengan sangat keras.
Sehingga semuanya menggelap dan ia tak tahu apa-apa lagi. Kecuali sekarang hanya bisa menangis, sebab kaget melihat jeep unlimited milik putrinya terparkir di depan toko namun tak diketahui di mana keberadaannya.
Benar-benar hantaman besar bagi keluarga Dempster jika ia benar-benar menghilang.
“Bos! Bos!” pekik Afro melabrak sang atasan yang memasang muka kesal di depan toko roti.
Charlie, menatap masam pada bawahannya itu.
“Ada tangkapan CCTV jalanan Bos,” lapornya dengan napas terengah-engah.
“Lalu?”
“Ada dua mobil yang tadi berhenti di sini. Nona dibawa oleh salah seorang pria muda, akan tetapi—”
“Apa? Cepat lanjutkan!”
Afro pun meneguk ludahnya kasar. “Bukan hanya Nona yang diculik. Tapi mantan karyawan Nyonya juga dibawa oleh mereka.”
“Mantan karyawan? Tunggu! Apa maksudmu gadis yang dibentak Nona di rumah sakit?”
“Iya Tuan, memang dia. Saya akan kirimkan bukti CCTV-nya.”
“Sialan!” umpat Charlie akhirnya. Dirinya benar-benar dibuat geram oleh sosok yang sudah berani mengusik kehidupan keluarga Dempster. “Sepertinya, mereka tak ingin hidup lagi ya,” dirinya terkekeh.
“Tuan.”
“Apa?” nada suara Charlie sekarang terdengar berat.
“Nona Lily, dia juga diculik.”
“Apa! Bagaimana bisa?!”
__ADS_1
“Mobil yang menculik Nona sempat berhenti di kawasan perusahaan Tuan Gates. CCTV kantor mereka menangkap sosok-sosok yang diperkirakan sedang mengerjai ban mobil Nona Lily. Dan Rudan pun berhasil mendapatkan rekaman penculikan di area NT De Brain. Bahkan beberapa pengguna jalan juga merekam kejadian dan mempostingnya di sosial media.”
“Heh! Dasar penculik gila. Aku tidak mau tahu, lacak mereka dan kalau perlu kerahkan semuanya. Sekarang, kita akan berpacu dengan waktu untuk menghakimi orang-orang yang ingin mati di tangan kita.”