FORGIVE ME

FORGIVE ME
Self-injury


__ADS_3

“Menginap di sini? Kamu ingin menginap di sini?!” Gadis itu pun mengangguk. Dan Henry tersenyum kepadanya. “Baiklah. Kamu boleh menginap di sini. Ayo, ah kita harus menempuh hujan lagi,” sahutnya saat menyadari kalau dirinya tidak memakai payung.


“Tidak masalah. Dan umm ... apa boleh rahasiakan tentang keberadaanku kalau ada orang yang mencariku?” dirinya lalu melirik Henry dan penjaga gerbang itu bergantian.


“Baiklah. Aku dan Pak Sam takkan mengatakan apa pun kalau ada yang mencarimu. Iya kan Pak Sam?”


“O-oh,” jawabnya bingung tapi mengikuti irama anggukkan kepala tuan mudanya.


“Kalau begitu ayo masuk. Bajumu basah,” ajaknya.


Dan Eldrey pun mengikuti langkahnya memasuki rumah. Hanya ada pelayan di sana, mengingat orang tua Henry kemarin sudah kembali ke luar negeri untuk mengurus bisnis mereka. Jadi hanya akan kembali dua minggu lagi.


Tapi Henry jadi terdiam karena sosoknya tersadar kalau pakaian ganti gadis itu tidak ada.


“Mm, kamu mau mandi dulu?” Eldrey pun mengangguk. “Seperti sebelumnya, yang ini kamarmu ya? Di dalam ada perlengkapan mandinya. Oh ya, aku keluar sebentar karena ada yang mau kubeli, tidak apa-apa kan?”


Lagi-lagi putri Dempster hanya menggangguk. Membiarkan Henry pergi meninggalkannya dan sosoknya memilih memasuki kamar.


Nuansa di dalamnya masih sama seperti sebelumnya. Hanya saja, gorden serta sprainya saja yang berbeda.


Eldrey menyusuri jalan menuju jendela, menatap dingin pemandangan hujan di luar dan menyandarkan kepala.


Entah apa yang ada di pikirannya, tapi perlahan senyum tipis berkibar di bibirnya.


Dia pun berlalu ke kamar mandi di kirinya.


Akhirnya, Henry sampai juga di distrik perbelanjaan yang tak begitu jauh dari kawasan tempat tinggalnya.


Hanya butuh beberapa menit baginya mengendarai mobil dan sosoknya pun memasuki sebuah toko pakaian wanita yang pernah di datanginya.


Tentu saja sebuah keterkejutan karena pegawai yang sama menyambutnya kembali seperti sekian lama.


“Ah, apa anda ingin membeli pakaian dalam lagi,” tanya pegawai itu yang Sontak membuat Henry tersenyum malu kepadanya.


“I-iya. Dan ukurannya masih sama,” paniknya sambil menutupi mukanya dengan sebelah tangannya.


Pegawai itu tertawa dan menuntunnya ke tempat yang diinginkan. “Ingin warna yang mana Tuan?”


“Terserah saja tapi jangan yang aneh-aneh, aku pilih pakaian dulu,” gugupnya dan malah kabur begitu saja.


Sementara di satu sisi, Eldrey pun menatap perban basah yang menghiasi perutnya. Ditekannya dan menimbulkan sensasi sakit di sana, pertanda kalau lukanya masih belum sembuh dengan benar.


Beberapa saat kemudian, Henry pun sudah kembali ke rumah. Menenteng belanjaan yang cukup banyak dan berakhir digoda oleh Pak Sam yang memperhatikan dari dalam pos jaga.


Membuat sang pemuda tersipu karena ulah pekerja di rumahnya.

__ADS_1


“Eldrey?” panggilnya sambil mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban yang ia dapatkan, sehingga dengan sedikit keraguan sosoknya memilih memasuki kamar.


Sepertinya, putri Dempster masih di kamar mandi mengingat suara kran di sana bisa di dengar Henry saat ia mencoba mendekat untuk memastikannya.


“Mm ... sepertinya lebih baik kutinggal di sini saja,” lalu menaruh belanjaan itu di atas ranjang.


Ditatap cukup lama olehnya, sampai akhirnya wajahnya memerah dan lari terburu-buru keluar kamar. Memukul-mukul wajah karena otaknya mulai tidak waras pemikirannya.


“Sialan! Apa yang kau pikirkan bodoh?! Dasar mesum!” umpatnya sekali lagi sambil memukul pipinya. Dan dia pun memilih kembali ke kamar untuk merebahkan tubuh di sofa.


Di kediaman Dempster, hiruk pikuk akibat suasana rumah yang tak tenang menghiasi keadaannya.


Di mana Raelianna Jin hanya bisa menangis dan terus menangis karena kabar sang putri yang tak kunjung ia dapatkan keberadaannya.


Ataupun Evan dengan tampang keruh karena baru pulang dalam pencarian sosok adiknya.


Sementara Presdir Betrand, melirik dingin laporan di atas meja kerja tanpa berniat membacanya.


Sosoknya kalut, tak tahu lagi harus bagaimana. Begitu banyak bawahan yang dikerahkan untuk mencari putrinya namun masih saja sia-sia.


Cukup menyedihkan karena ia tak tahu kalau Charlie sudah membohonginya. Sosoknya yang terlalu percaya, membuat para bawahan tidak mencari jejak keberadaan putri Dempster di rumah Azof sebelumnya.


Padahal di kamar yang dihuni Eldrey sebelumnya, ada bekas sampah perban di atas nakas karena lupa ia buang.


Dan mereka meninggalkan rumah itu begitu saja.


“Apa masih tak ada informasi?” tanya kepala keluarga Dempster pada Charlie yang baru datang.


Namun orang itu hanya menggeleng dan memilih melanjutkan kembali aktivitasnya yang berkutat dengan ponsel di tangan.


Presdir Betrand mendecih. Merasa kecewa atas balasan yang ia dapatkan. Mulai berpikir tidak-tidak kalau seandainya terjadi sesuatu kepada putrinya.


Dan itu tertulis jelas di wajahnya. Charlie yang melirik sekilas pun akhirnya duduk di sofa depan meja kerja atasannya.


“Bos.” Betrand pun melirik dingin ke arahnya. “Kupikir, kali ini lebih baik biarkan saja Nona sendirian dulu.”


“Apa maksudmu?” nada suaranya berubah menekan.


“Bos, kita sama-sama tahu seperti apa kondisi. Nona. Dia pasti hanya butuh ketenangan sekarang.”


“Ketenangan? Dengan menghilang tanpa kabar?”


“Bos, Nona itu punya trauma pada pertengkaran di dalam rumah. Dia tak bisa berhadapan dengan pertengkaran keluarga. Kita sama-sama tahu itu. Dan dia pasti hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Mungkin karena itu dia pergi. Kalaupun seandainya keberadaannya berhasil ditemukan, apa anda akan menyuruhnya pulang bahkan jika hatinya tidak mau berada di sini?”


“Apa yang kau ocehkan, Charlie?”

__ADS_1


“Aku cuma ingin bilang biarkan saja Nona sendirian sekarang. Hentikan pencarian sia-sia itu karena dia pasti akan kembali dengan sendirinya.”


“Kalimatmu, apa itu berarti kau sudah bertemu dengannya?” Namun tak ada jawaban dari laki-laki itu kecuali sosoknya yang memilih membuang muka. “Dan kau tidak memberitahuku?”


Tapi beberapa saat malah berlalu dengan kebungkaman Charlie Stevano pada sosok atasannya yang mulai geram.


“Charlie!”


“Aku bisa apa? Dia sendiri yang memintaku untuk membiarkannya pergi!” akhirnya tangan kiri Betrand pun mulai membela diri.


“Dan kau tidak mengatakan apa-apa?! Padahal kau sudah bertemu dengannya dan kau diam saja?! Aku Ayahnya, Charlie! Aku dan Anna orang tuanya! Seharusnya kau memberitahu kami kalau kau memang bertemu dengannya! Kenapa kau malah diam saja?! Anna menangis berhati-hari karena memikirkannya!”


“Lalu kenapa?” Napas Betrand pun serasa tercekat saat mendengar balasan laki-laki yang duduk tepat di sofa di hadapannya. “Kalaupun dia kembali ke rumah ini, apa dia akan bahagia?”


“Charlie.”


“Nona tidak pernah bahagia selama berada di sini. Dan dia semakin tidak bahagia saat melihat keutuhan keluarga ini kembali.”


“Charlie!”


“Dengarkan aku dulu, Tuan Betrand.”


Kepala keluarga Dempster semakin tak percaya kalau bawahannya itu dengan lancang kembali membantahnya.


“Aku mungkin memang bawahanmu. Tapi aku, jauh lebih mengenal putrimu dibandingkan dirimu. Sekarang jawab aku, apa kau tahu kalau selama ini gadis itu selalu bermimpi buruk? Apa kau tahu kalau sosoknya selalu menunggumu di balik pintu? Apa kau tahu kalau dia seorang pengidap self-injury? Dia harus melukai dirinya sendiri agar bisa menghilangkan sakit di dadanya! Dan itu semua gara-gara kalian semua yang sudah mengecewakannya!”


Terdiam. Betrand pun terbungkam. Bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka dan menampilkan sosok Evan di sana.


Dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


“Gadis itu sakit. Dia sakit, Tuan. Di balik tampang dingin dan sikap kejinya itu, dia sebenarnya sedang menderita. Dia putus asa. Dia tak tahu harus bagaimana namun tak satu pun dari kalian mengarahkan dirinya! Dia sudah kehilangan hidupnya karena sikap egois kalian semua! Kalian meninggalkannya di rumah ini dam pergi begitu saja! Dan sekarang dengan sombongnya kalian ingin kembali. Di saat trauma masih memeluknya namun kalian ingin merangkai mimpi.”


Dan Charlie pun terkekeh tiba-tiba yang membuat Evan serta Betrand tak habis pikir lagi harus bersikap bagaimana. Batin mereka, benar-benar merasa tertohok akan kalimatnya.


“Bukankah kalian benar-benar luar biasa? Jadi jangan salahkan Nona kalau dia pergi dan tak ingin bertemu lagi dengan kalian semua. Karena bagaimanapun juga, kalianlah yang membuatnya sampai seperti itu. Kalian juga yang sudah membuat traumanya semakin parah selain penculik itu. Semua karena kalian yang sudah melakukannya. Jadi sekarang biarkan dia menenangkan dirinya. Itu pun kalau kalian memang masih menyayanginya, dan menganggapnya sebagai keluarga.”


Selesai mengatakan itu Charlie pun pergi dari sana. Melewati Evan yang mulai beruraian air mata. Dan meninggalkan Betrand dengan seribu diam di bibirnya.


Sosoknya benar-benar sudah melabrak mereka berdua.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2