FORGIVE ME

FORGIVE ME
Calon tunangan


__ADS_3

“Cih! Sial! Dia benar-benar membuatku gila!” jengkel Ramses sekarang.


Esoknya, saat terjaga Eldrey tidak mendapati Ramses di sana. Tapi selesai mandi ada pakaian ganti bahkan ********** di atas ranjang. Putri Dempster tertegun karena ukurannya pas untuknya.


Tak berapa lama kemudian pintu terbuka dan untungnya Eldrey sudah berpakaian.


“Kenapa menatapku seperti itu?” bingung Ramses. Sepertinya ia juga baru selesai mandi dan sudah memakai pakaian baru. “Ah, itu aku membelikannya tadi. Bagaimana? Pas bukan?” tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.


“Bagaimana kau bisa tahu ukuranku?”


Kesadaran Ramses bagai dihantam. Lidahnya kelu dan mulut enggan terbuka. Suara seolah malu-malu tersembur pada gadis di depannya.


“U-ukuran?”


“Jangan pura-pura polos. Bagaimana bisa kau tahu ukuran payu—”


“Aah stop!” paniknya sambil mengangkat tangan. “Jangan dilanjutkan lagi,” sosoknya mulai gelagapan.


Eldrey hanya menatap datar ke arahnya.


“Dengar Eldrey, aku tidak tahu tidak melihat ataupun menyentuhnya. Aku hanya menerka-nerka oke, jadi kamu jangan salah paham.”


Akan tetapi entah kenapa pose memiringkan kepala putri Dempster membuat Ramses makin gugup melihatnya.


“Begitu? Sepertinya itu kelebihan laki-laki ya?”


“Maksudmu?”


“Henry juga tahu ukuranku. Bukankah itulah kelebihan kalian, mungkin kakakku juga,” sahutnya dengan tampang meremehkan.


Tentunya Ramses terkesiap mendengarnya. “Henry? Tunggu apa kalian sudah pernah—”


“Apa yang ada di otakmu?” tekan Eldrey tiba-tiba. Sosoknya pun berlalu dari sana meninggalkan laki-laki yang masih membisu di posisinya.


Mereka memilih makan di Restoran Hotel. Tapi saat akan menelan suapan pertama, seseorang tiba-tiba menghampiri meja keduanya.


“Kita bertemu lagi,” sela sosok asing itu.


Eldrey dan Ramses yang sama-sama menoleh pun terdiam.


“Eldrey, bukan?” ucapnya dan duduk dengan lancang di antara keduanya. Sontak saja Ramses menyipitkan mata akan ulah tidak sopan laki-laki itu. “Kamu tahu, aku semalaman mencari tahu tentangmu. Dan kupikir ini takdir, karena bisa bertemu langsung dengan calon tunanganku.”


“Apa!” pekik Ramses tiba-tiba.


Tentunya menimbulkan kekehan Samuel yang mendengarnya.


“Pantas saja kamu mengenalku,” dan ia pun menyentuh ujung rambut Eldrey lalu memainkannya. “Ternyata kamu sudah tahu kalau aku yang akan menjadi pasanganmu. Baiklah, sekarang silakan nikmati sarapan kalian, dan cepatlah putus karena kupastikan pertunangan kita akan segera dilaksanakan.”


Selesai mengatakannya sosoknya bahkan dengan lancangnya mengecup rambut Eldrey yang dimainkan.


Menimbulkan sorakan dari rekan-rekannya yang berada di meja lumayan jauh dari mereka.

__ADS_1


Ramses dan Eldrey masih terdiam di sana. Sampai akhirnya gadis itu melanjutkan makannya.


“Dia, apa dia serius calon tunanganmu?” tanya Ramses tiba-tiba di perjalanan mereka kembali ke kamar.


Eldrey hanya menoleh sebelum membuka pintu. “Apa kamu tidak pulang? Tidak kuliah?”


“Jangan abaikan pertanyaanku, Eldrey.”


Putri Dempster pun menghela napas pelan. “Calon tunangan dari nenek dan kakekku.”


“Benarkah? Lalu?”


“Apa?”


“Apa kamu akan bertunangan dengannya?”


“Tidak.”


Lalu putri Dempster pun masuk ke kamar.


“Kenapa? Dia bilang kalian akan begitu.”


“Kenapa aku harus bertunangan dengannya? Jika harus memilih lebih baik aku denganmu.”


Tersentak. Ramses membisu. Pernyataan Eldrey menggelitik sudut hatinya. Bukan ingin membuatnya tertawa tapi kalimat gadis itu seperti mengusik ketenangannya.


Di posisi Ramses yang sedang dilanda patah hati kalimat tak berperasaan putri Dempster jelas mengacaukan perasaannya.


“Kamu tahu? Orang tuaku berniat menjodohkanku denganmu.”


Sorot mata Eldrey yang awalnya ke televisi beralih padanya.


“Baguslah. Sepertinya mata mereka masih normal.”


“Cih,” decih Ramses karena jengkel akan kalimatnya. “Memangnya kamu mau dijodohkan denganku?”


“Tidak.”


Jawaban Eldrey yang tanpa keraguan itu jelas menghina putra Turner.


“Kenapa? Apa ada yang kurang dariku?” tanya sosok itu dengan nada kesal.


Sebelah tangan Eldrey yang disandarkan pada punggung sofa pun mulai menumpuk wajahnya.


Diperhatikannya Ramses dari atas ke bawah dengan tatapan yang tidak punya ketertarikan sama sekali.


“Tidak. Kau sempurna. Bahkan tak bosan untuk terus dipandang.”


Jawaban Eldrey jelas menyiratkan kalau Ramses memiliki muka yang tampan. Tapi kenapa rasanya tidak menyenangkan dipuji olehnya? Laki-laki itu baru sadar kalau tampang putri Dempster sangat menyebalkan.


“Lalu kalau aku sempurna kenapa kamu tidak mau dijodohkan denganku?” Ramses sepertinya takkan berhenti menuntut Eldrey sampai mendapatkan jawaban yang diinginkan.

__ADS_1


Bahkan langkah kakinya sudah mendekati sang gadis. Berdiri di hadapannya di mana perempuan itu mendongak sekarang.


Tapi entah kenapa Eldrey malah memamerkan seringai tipis di hadapannya.


“Karena aku tidak ada di hatimu.” Ramses benar-benar tak berkutik sekarang. “Kenapa aku harus berhubungan dengan orang yang tak tertarik denganku? Aku akan lebih terhibur jika kau punya perasaan padaku. Karena itulah aku tak sudi bertunangan denganmu.”


Mungkin seperti disiram air dingin. Itulah yang dirasakan Ramses saat mendengar ucapannya.


Di tempat berbeda sepulang kuliah Kevin pun memberanikan diri menghubungi Charlie.


Karena bagaimanapun juga dirinya masih tak mendapatkan informasi apa pun tentang Eldrey sehingga hanya ini pilihannya.


“Mau apa lagi kau menghubungiku bocah?!”


Terdengar jelas kalau sosok yang menjawab telepon jengkel kepadanya. Tapi Kevin tidak peduli, karena ia sudah tebal telinga dan muka.


“Halo Tuan Charlie. Apa Eldrey sudah pulang ke rumah?”


“Belum.”


“Kalau begitu apa sudah ada kabar terbaru darinya?“


“Kalaupun ada, apa hubungannya denganmu?!”


Mendengar pertanyaan seperti itu tentunya Kevin kesal. Siapa yang takkan sebal? Padahal dirinya bermaksud baik menanyakan keberadaan Eldrey tapi disemprot pria itu.


“Tentu saja ada hubungannya denganku. Bagaimanapun dia itu pacarku.”


“Cih!” decih Charlie tiba-tiba. Ia terkekeh pelan entah apa maksudnya. Kevin pun menjarakkan ponselnya sekilas dan menatap layar untuk memastikan jika memang tangan kiri gila milik Presdir Betrand lah yang dihubunginya.  


“Pacar? Apa kau baru bangun tidur? Jangan meracau aneh-aneh, Nak. Bangun dari rebahanmu dan cuci muka! Aku tidak punya waktu untuk meladeni leluconmu.”


“Sial!” umpat Kevin tiba-tiba. “Aku serius!”


“Benarkah? Kalau memang iya berarti sayang sekali. Karena Nona Dempster sedang menghabiskan harinya di Hotel dengan putra Turner. Selamat menikmati patah hatimu, Nak. Aku senang karena cinta monyetmu gagal,” kekehnya lalu mematikan panggilan anak itu.


Kevin yang mendengar itu pun mengernyitkan dahi bingung karenanya.


“Dia sedang mengerjaiku atau bagaimana?! Putra Turner? Itu berarti Kak Ramses kan?” ocehnya. “Aah!” jengah Kevin sambil mengacak-acak kasar rambutnya.


Dirinya pun bersandar pada kursi kemudi yang di dudukinya.


“Kalau Eldrey sedang pergi dengan Kak Ramses, apa itu berarti dia sudah pulang? Tidak tunggu!” pekiknya tiba-tiba. “Hotel? Jangan bercanda! Pak tua bajingan itu pasti sedang mengerjaiku,” ia pun merutukinya.


Mau tidak mau Kevin pun melajukan mobilnya untuk pulang sekarang. Terlebih ada panggilan masuk dari Tuan Kendal, membuatnya jengah dan malas mengangkatnya.


Entah apa yang diinginkan ayahnya itu mengingat sang kepala keluarga sebenarnya sangat jarang menghubungi anaknya di siang hari.


 


 

__ADS_1


__ADS_2