FORGIVE ME

FORGIVE ME
Alone


__ADS_3

“Kenapa kita ke sini?” tanya Eldrey dengan nada tak suka.


Langkahnya tetap mengikuti Ramses menuju kamar yang sudah dipesannya.


“Ikut saja,” sambil tersenyum kepadanya.


“Kau ingin tidur denganku?”


Ramses tersentak. Jujur ia agak kaget dengan pertanyaan tanpa basa-basi Eldrey itu. “Memangnya kamu mau tidur denganku?”


“Tidak.”


Pernyataan itu pun berhasil mengundang tawa laki-laki tersebut. Dan mereka akhirnya memasuki kamar yang dipesan Ramses dengan destinasi terbaik di sana.


Memang kelebihan orang kaya, menghamburkan uang seenak hatinya. Tapi bagi Eldrey jelas ini merupakan keanehan.


Apalagi saat Ramses tiba-tiba mengunci pintu kamar.


“Kau mau memperkosaku?”


Ramses membisu seketika. Dibuat tak bisa berkata-kata olehnya.


“Apa aku serendah itu di matamu?”


“Entahlah. Apa yang ingin kau perlihatkan? Kenapa kau kunci pintunya?” tanya Eldrey dengan suara menekan. Perlahan ia hampiri Ramses yang masih berdiri di posisinya.


Tiba-tiba laki-laki itu menyodorkan ponsel kepadanya.


“Ada pesan dari Tuan Charlie untukmu. Dia memintaku agar kamu mendengar semua rekaman itu sampai habis.”


“Rekaman?” bingung Eldrey sambil memamerkan muka miring.


Ramses mengangguk. Sembari memegang tangan Eldrey dituntunnya gadis itu agar sama-sama duduk di tepian ranjang. Sorot mata putri Dempster masih saja terarah pada layar ponsel temannya.


Entah kenapa dia diam saja. Dan Ramses yang menyaksikan itu akhirnya menyentuh tangan putri Dempster. Sehingga keduanya sama-sama menggenggam ponsel.


“Apa kamu tidak mau mendengarnya?” Lirikan di sudut mata sang gadis jelas menyiratkan tatapan tajam. “Dengarlah. Karena ini pasti penting.”


Memang penting, Eldrey tahu itu. Karena bagaimanapun juga seorang Charlie Stevano bukan tipe yang akan minta tolong dalam berbicara atau mengirim pesan.


Tapi sekarang tertulis di layar ponsel, betapa berharapnya pria itu pada Ramses agar bisa membuatnya mendengar rekaman yang ada.


Perlahan walau masih dirundung ragu, putri Dempster pun memutarnya.


Hening berkumandang dari para pendengar. Untaian kata seorang Betrand mengalir dari ponsel.


Setiap kalimat mengandung emosi. Menyiratkan isi hati seorang ayah untuk putri tercinta.


Ramses tak tahu harus bagaimana, walau ia merasa salah mendengarkan itu semua tapi dirinya tetap menemani Eldrey di sana.


Sampai sosoknya tersadar kalau suhu di tangan putri Dempster yang digenggamnya mulai berubah.


Telapaknya mendingin, gadis itu terdiam, arti sorot matanya tak dapat dilukiskan.


Dan durasi rekaman pun terputus karena setiap lirihan telah berkumandang. Entah kenapa putri Dempster tertawa pelan.


“Eldrey?”

__ADS_1


Kekehan itu lambat laun kian mengeras.


“Eldrey?”


Tangan yang dingin perlahan menutup wajah.


“Eldrey,” Ramses pun menyentuh bahunya.


Tawa itu tiba-tiba terhentikan. Sang gadis menoleh dengan muka tenang, dia tersenyum aneh kepadanya.


“Apa dia benar-benar ayahku?” tanyanya.


“Rey.”


“Apa dia benar-benar Betrand yang aku tahu?” bibirnya mulai mencetak senyuman miring. “Kenapa mereka bilang mereka menyayangiku? Kenapa mereka mengatakannya sekarang setelah mengabaikan aku? Sayang itu apa? Apa dengan membuatku berteriak? Apa dengan memaksaku menangis agar tidak ditinggalkan? Apa dengan marah saat aku membuat kesalahan? Apa itu yang sebenarnya kasih sayang?!”


Ramses pun terkesiap sekarang. Gadis itu bersuara dengan raut tidak tenang. Napasnya tersengal-sengal, matanya memerah. Hendak menangis namun manik tersebut tidak berkaca-kaca.


“Rey, tenangkan dirimu,” paniknya.


“Bagaimana bisa aku tenang? Dadaku sakit, Rams. Rasanya menyakitkan! Rasanya sangat menyakitkan sampai aku ingin melukai tubuhku sekarang!” Tiba-tiba pemuda itu memeluknya. Begitu erat agar raga bergetar putri Dempster tak goyah di sana. “Rasanya menyakitkan, sangat menyakitkan. Aku benar-benar ingin mati sekarang.”


“Eldrey!” bentak laki-laki itu akhirnya. Pelukan pun langsung dilepas sambil mencengkeram bahunya. “Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?! Sadar Eldrey! Sadar! Mati bukan jawaban untuk masalah! Tolong jangan begini, Rey. Aku mohon tolong jangan seperti ini!”


“Lalu aku harus apa?! Katakan padaku aku harus apa?!” Putra Tuan Harel pun terdiam. “Aku tak bisa diperlakukan seperti ini! Aku tidak bisa, aku tidak sanggup dan tidak akan pernah bisa!” teriaknya.


“Tak peduli berapa banyak waktu berlalu, aku masih bisa mendengar teriakan itu! Teriakan yang selalu menggangguku, di saat mereka tak pernah bersamaku! Aku selalu mendengarnya, namun tak satu pun dari mereka datang kepadaku! Aku takut mendengarnya, namun tak satu pun dari mereka menenangkanku! Aku keluarga mereka, tapi kenapa semua begitu berbeda?! Kenapa hanya aku saja?! Kenapa hanya aku yang ditinggalkan di sana?! Kenapa hanya aku yang tidak baik-baik saja?! Kenapa hanya aku yang menderita!”


Eldrey begitu histeris sekarang. Perlahan namun pasti dia pun terisak. Sosoknya yang sangat putus asa, memendam semua tanpa tahu harus bagaimana.


Sungguh sang putri sudah kehilangan arah dalam hidupnya. Dan sekarang, semua bebannya meledak di hati, akibat tak sanggup lagi menahannya.


Sosoknya pun mulai menunduk di hadapan Ramses yang tak bisa berkata-kata.


“Jangan begini, aku tak ingin disayangi. Jangan buat aku seperti ini. Aku mohon tolong jangan buat aku merasakan ini lagi. Aku mohon,” pintanya akhirnya.


Tanpa terasa kristal bening pun berjatuhan ke pipinya.


“Aku, tak tahu lagi harus bagaimana.”


Ramses yang melihat itu pun membeku menontonnya. Takkan pernah terbayangkan olehnya, seorang Eldrey menangis di depannya.


Pesona cantik yang terbingkai di wajah itu, lebih menyiratkan putus asa daripada menderita.


Dan tanpa keraguan tangannya pun merangkul putri Dempster di sana. Memeluknya dengan maksud menenangkan. Merasa iba akan sosok muda yang kehilangan arah hidupnya.


Sekarang Ramses akhirnya mengerti apa arti dari pola pikir serta tindakan Eldrey selama menjadi temannya.


Gadis itu hanya mencoba melindungi dirinya. Agar hatinya tidak semakin rusak akibat semua perasaan yang akan melukainya.


Dia memang tidak tegar sebenarnya. Dan sosoknya sudah tak ditopang apa pun saat menderita.


Kendalanya ada pada siksa yang menjadi trauma di hidupnya. Dan di sanalah peranan keluarga serta lingkungan dalam menyelamatkannya.


Namun Dempster lalai melakukannya. Kecerobohan mereka membuat mental Eldrey rusak dan menjadi karakter yang tak seharusnya.


Gadis muda itu, benar-benar tidak mendapatkan arti keluarga yang sesungguhnya dalam menjalani hidupnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, tak ada lagi tangisan. Kecuali rupa yang tampak tertidur pulas karena kelelahan.


Mungkin memang pertama kali bagi Eldrey merasakan hal seperti sekarang. Di mana sosoknya terlelap dalam keadaan memeluk Ramses seorang.


Tak menaruh curiga, dan seperti gadis polos pada umumnya.


Sementara laki-laki yang berada di hadapan hanya diam menyaksikan ketenangannya. Memandang lekat rupa itu dan perlahan menyentuhnya.


“Memang cantik,” gumamnya tiba-tiba.


Dan di kediaman Turner, tampak Tuan Harel berusaha menghubungi putranya. Namun tak tersambung entah apa alasannya.


Hal serupa juga dirasakan Charlie. Ponsel bocah yang dikirimi pesan tidak aktif lagi.


“Eldrey?” kaget Ramses karena gadis itu sudah bangun dari tidurnya. Matanya sembab, namun menyiratkan tekanan.


Seolah ingin memakan laki-laki itu jika dilukiskan.


“Sedang apa kamu di sini?”


Sosok yang ditanya pun berkedip berulang. “Apa kamu lupa apa yang terjadi pada kita?”


“Memangnya apa yang terjadi di antara kita?”


Pertanyaan itu pun membuat Ramses menghela napas pelan akibat rasa tak percaya. Kalau gadis di depannya seperti pura-pura lupa akan apa yang terjadi sebelumnya.


“Kamu curhat padaku?”


“Oh.” Putri Dempster pun bangkit dari duduknya dan terdiam melihat keadaan di luar kamar. Di mana suasana malam terpampang nyata lewat dinding kaca. Bisa dipastikan kalau dia tertidur cukup lama. “Kau tidak pulang?”


“Kita pulang?”


“Ya. Tapi hanya kau saja.”


Ramses pun tertawa pelan. “Bukan kau, kamu. Tolong bicara denganku seperti itu.”


Eldrey hanya diam tak menanggapinya. Memilih mendekat ke arah dinding kaca.


“Seperti bulan madu ya?” kicau Ramses tiba-tiba.


Dan putri Dempster meliriknya dengan tampang angkuhnya. “Masih di sini?”


“Lho, kenapa?”


“Aku ingin istirahat. Pulanglah.”


“Bagaimana bisa kamu mengusirku? Aku yang bayar kamar ini.”


Eldrey masih bersikap tak peduli. Dan kembali melirik pemandangan di luar dinding kaca. Jujur saja, Ramses mulai jengkel karena diabaikan olehnya.


Tiba-tiba saja putri Dempster merasakan sensasi aneh memeluknya dari belakang.


“Apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil berbalik begitu saja.


Tentunya mengejutkan laki-laki itu karena jarak wajah mereka begitu dekat sekarang. Sontak ia lepaskan pelukan iseng barusan akibat gugup yang dirasakan.


“Aku hanya penasaran dengan responsmu. Ternyata biasa saja,” Ramses pun mencibirnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2