
Tak diragukan lagi, napas tercekat Kevin memaksa sang pemuda meronta. Tak hanya mencekik putra Cesar, gadis itu juga menekan lehernya.
Niat membunuh yang dimiliki putri Dempster bukan sekadar omong kosong belaka untuk diremehkan sekarang.
“El—”
Sontak gadis itu melepaskan Kevin. Suara batuk yang terdengar keras menjadi saksi seberapa keji ulah Eldrey barusan, akan tetapi hanya senyum tipis yang ia pamerkan.
Dirinya menjauhi ranjang, menatap tanpa rasa bersalah laki-laki yang jelas-jelas mencintainya. Tak sedikit pun tersirat tampang iba, bahkan saat lirikan mata mereka bertemu, secercah kristal bening terjun bebas dari mata kiri putra Cesar.
Ia masih tak percaya dengan kegilaan pujaan hatinya.
“Aku harap kamu menikmatinya, Tuan muda Cesar.”
Gadis itu berbalik. Mengabaikan dandanan berantakan di badan. Ia pungut trench coat milik sang pemuda, mengenakannya dan pergi dari sana.
Kevin pun tersadar akan kondisinya begitu putri Dempster menutup pintu.
“Sial!” umpatnya tiba-tiba.
Langkah santai menghiasi pijakan Eldrey. Sesekali menoleh ke belakang, dan tersenyum miring sambil membuang key card kamar. Setidaknya dia sudah mengunci sang pemuda dan membuat penerangan mati bagi putra tuan Kendal itu.
Dalam setiap langkahnya, senyum tak luntur di bibir merona. Tapi satu hal yang pasti, keberadaan seorang gadis di lift yang akan dimasuki mengganggu pandangannya.
“Kamu—” Eldrey tersenyum manis pada sosok bernama Arabella itu. Entah takdir apa yang membuat mereka bertemu di lift, hanya saja putri Dempster tetap bersikap tenang. “Kamu juga menginap di sini?”
“Begitulah.” Arabella hanya mengangguk. Sejujurnya ia agak penasaran dengan penampilan putri Dempster, di mana dandanan rambutnya cukup berantakan. Walau kecantikan masih terpancar tapi tetap mengejutkan. Terlebih, aroma parfum yang cenderung dimiliki lelaki menguar dari coat yang dikenakan olehnya. “Apa?”
Seolah sadar dengan pandangan ingin tahu perempuan itu.
“Ah, tidak! Hanya saja aku—” Arabella mendadak gugup. Tatapan lekat Eldrey jelas membebani dirinya, membuat sosok yang lebih tua dari putri Dempster merasa tertekan.
Tapi senyum simpul yang sekilas hadir di bibir lawan bicara, sayangnya tak dapat disadarinya.
“Hati-hati.” Peringatan yang terlontar saat pintu lift terbuka mengundang heran. “Di Hotel ini ada penjahat kelamin. Aku, hampir saja menjadi korbannya.”
Arabella terkesiap. Matanya tak berkedip memandangi punggung gadis yang menjauh itu. Bahkan dirinya yang seharusnya menuju lantai 3 di mana restoran berada, tanpa sadar turun ke lantai satu akibat putri Dempster.
Dan tak butuh waktu lama bagi keturunan Presdir Betrand untuk sampai di tempat tujuannya. Bartender yang tadi ia temui tersenyum ramah, memberi sambutan dalam menuntun gadis itu menuju ruang kerja atasan.
__ADS_1
Club tersohor area perkotaan.
Milik pribadi seorang pria berusia 35 tahunan, dan merupakan seorang pebisnis handal. Resort mewah di bawah naungannya memiliki nama yang harum di beberapa pulau. Dan jangan lupakan satu hotel tersohor di salah satu negara adidaya.
Walau hanya usaha itu yang tumbuh di permukaan, ia cukup populer di dunia bawah. Juga koneksinya bersama beberapa aparat negara membuatnya lumayan aman. Bahkan jika itu berkaitan dengan barang-barang ilegal yang harus diperjual-belikan.
“Cantik.” Satu kata namun tak mengusik pendengaran gadis yang duduk di sofa. Eldrey tanpa ragu menyambar rokok di atas meja, menyalakan pemantik untuk membakar ujungnya. Sikapnya menunjukkan kalau dirinya sudah terbiasa dengan barang itu. “Jadi, apa yang diinginkan kenalan Daniel denganku?”
Asap rokok perlahan diembuskan. Lirikan lewat sudut mata terasa cukup tajam. Tapi berubah jadi angkuh ketika senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Aku ingin ke negara sebelah. Kau bisa melakukannya bukan?”
“Bayarannya?”
“Daniel.”
Pria itu terkekeh. Merasa lucu akan nama yang ditawarkan. Sepertinya gadis itu cukup aneh memakai nama orang lain sebagai harga perjalanan.
“Kau arogan, Nona.” Sosok itu bangkit dari posisinya, mendekat untuk berdiri di belakang sofa. Dengan lancang tangannya menyentuh bahu putri Dempster, tapi gadis itu hanya diam saja. “Jika aku tidak mau, bagaimana?”
Perlahan wajah yang berpaling saling menautkan pandangan.
Dia tampan. Bahkan jika usianya 35 tahunan, sosoknya tidak terlihat seperti itu. Rambut acak-acakan, mengenakan setelan tanpa jas dan dasi. Dan jangan lupakan dua kancing yang terbuka memamerkan dada bidang impian para wanita. Pasti akan sangat nyaman menyembunyikan wajah dalam pelukannya.
Tak ada ikatan saudara dengan Daniel Bonapart, hanya saja mereka berbagi nama keluarga yang sama. Ikatan tercipta saat keduanya berhasil lari dari sebuah panti asuhan yang menjadi ladang bisnis penjualan organ.
Tumbuh dalam keadaan penuh tekanan, memaksa keduanya harus dewasa sebelum waktunya. Masa lalu kelam di mana para pemuda itu sangat tersiksa, dan menjadi keji untuk bertahan hidup di dunia kumuh yang mendewakan uang juga tahta.
Setidaknya sekarang takdir melukiskan nyanyian yang berbeda.
Daniel berhasil menjadi seorang CEO di perusahaan asing milik Dempster seperti sekretaris Roma. Bisnis pribadinya masih menjadi rahasia, dan sang saudara angkat juga memiliki status yang luar biasa.
Jelas mudah bagi Damien untuk mengirim Eldrey ke negara tetangga tanpa takut pihak keamanan akan mencekal mereka nantinya.
“Kalau begitu hubungi Daniel untukku. Katakan padanya kalau putri Betrand butuh bantuannya sekarang.”
Damien terdiam. Raga yang agak membungkuk dijarakkan sekarang. Sejenak tatapannya terpaku pada sorotan tajam itu, lirikan sang gadis muda yang seakan menuntut tanpa malu.
Eldrey begitu mendominasi suasana.
__ADS_1
“Baiklah.”
Ponsel pun dimainkan. Pada panggilan kedua, barulah tersambung dengan lawan bicara. Kata pembuka di seberang sana cukup mengejutkan karena Eldrey lah yang memegang ponsel sang pemilik club malam.
“Ada perlu apa kau menghubungiku? Makhluk keparat.”
“Aku ingin ke tempatmu. Tampung aku, Daniel.”
Sejenak laki-laki itu terdiam. Memeriksa kembali nama yang tertera di layar ponsel.
‘Damien keparat’ tak salah lagi itu nama kakak angkatnya. Tapi bagaimana bisa seorang perempuan yang bersuara? Dirinya agak kaget dan waspada.
“Siapa?”
“Eldrey,” jawab gadis itu tanpa basa-basi.
Tawa pecah di mulut sang pria, memaksa putri Dempster menjauhkan ponsel dari telinga. Menunggu detik-detik menyebalkan agar berisik tak mengganggu pendengarannya.
“Nona? Ini kau? Bisa-bisanya kau menghubungiku lewat nomor kakakku. Kau di mana?”
“Clubnya. Aku ingin menyeberang. Bukakan jalan untukku dan tampung aku.”
“Bayarannya?”
“CEO keparat!”
Kekesalannya tak dapat ditutupi putri Dempster. Hampir saja ia banting ponsel Damien, andai pria itu tak cepat merebutnya mungkin benda barusan sudah menabrak dinding kaca di depan mereka.
“Jangan kasar di ruanganku.”
Tapi hanya tatapan tajam sebagai balasan gadis itu. Damien memilih menjauh darinya dan melanjutkan pembicaraan bersama adik angkatnya.
Sedangkan suasana berbeda menyelimuti seorang Kevin Daniello Cesar. Ia berhasil keluar kamar, memeriksa CCTV hotel untuk memastikan keberadaan putri Dempster. Dan mulutnya berdecak kasar saat mendapati sang gadis muda menghilang di gang sepi di seberang Hotel.
“Aku tidak mau tahu, segera cari dia! Jangan kembali sampai kalian menemukannya!”
Para bawahan yang diperintah pun bergegas pergi dari hadapan sang pemuda. Tapi yang mengejutkan adalah perubahan ekspresi putra Cesar.
Amarah di muka, seketika lenyap begitu saja. Tergantikan oleh tatapan dingin yang memandangi penampakan di jalan raya.
__ADS_1
“Sepertinya, memang sudah saatnya serius ya.”