FORGIVE ME

FORGIVE ME
Ajakan Alice dan Dean


__ADS_3

Malam ini, Eldrey menatap aneh ke arah tamu yang hadir di rumahnya. Di sana ada Dean dan Alice, bahkan gadis itu memeluk putri Dempster untuk melepaskan rindunya.


“Rey, luka sebelumnya sudah sembuh kan?” tanyanya dan masih menggenggam tangan putri Dempster.


“Sudah,” balasnya singkat. Sekarang ia melirik ke arah meja di mana ada buah tangan dari Alice atas titipan Bu Ann untuk Eldrey.


Ya, ayam goreng. Sajian yang menjadi sumber mata pencaharian keluarga gadis itu.


“Syukurlah. Kami senang karena kamu sudah baik-baik saja.”


Sekarang Dean yang berbicara. Padahal sebelumnya saat bertemu di rumahnya dia tidak mengatakan apa-apa.


“Mau apa kalian ke sini?” tanya Eldrey tanpa basa-basi.


Terlihat kegugupan di wajah Alice. Jujur saja, entah sejak kapan hubungannya dengan Eldrey jadi sedingin ini. Mungkin semua berawal saat kejadian di rumah sakit setelah penembakan Presdir Betrand.


“Kami ingin mengajakmu jalan-jalan weekend ini.”


Dean pun bersuara. Suasana perlahan hening karena Eldrey tidak mengatakan apa-apa.


“Rey?” panggil Alice.


“Jalan-jalan? Atau tumbal agar kalian bisa bermesraan?” Keduanya sama-sama terdiam. Terlihat wajah tertunduk dari kekasih putra pertama Cesar. “Baiklah. Kenapa tidak? Pastikan saja aku tidak kelaparan. Kalian tahu kan? Aku butuh kamar yang nyaman.”


Seketika senyuman pun terbit dari bibir Alice dan Dean.


“Maafkan Aku, Rey, dan terima kasih,” Alice memeluknya tiba-tiba. Tentunya ia senang, karena sepertinya Eldrey masih menganggapnya teman.


Karena seperti yang diketahui, Eldrey adalah orang ketiga, sekaligus penonton serta tameng bagi keduanya. Dengan kata lain tumbal untuk nasib mereka kalau ketahuan Tuan Kendal yang tak pernah menyukai Alice.


Suasana mereka pun dibuyarkan dengan kehadiran Evan yang baru pulang kuliah atau keluyuran.


“Kalian.”


“Halo, Kak Evan,” sapa Alice sementara Dean hanya mengangguk padanya. “Maaf kami datang tiba-tiba ke sini.”


“Oh tidak masalah. Silakan lanjut perbincangannya, aku ke kamar dulu,” pamitnya.


Walau dirinya sekilas melirik ke belakang untuk mengecek hubungan adiknya dengan kedua orang itu.


“Eldrey? Kamu mau ke mana?” kaget Evan saat melihat adiknya membawa tas di sore hari. Mengingat putri Dempster tipikal yang sering modal ponsel dan dompet di saku jika berkeliaran. Mungkin.


“Keluar.”


“Ke mana?”


“Entahlah.”


“Ke mana? Kamu bawa tas.”


“Mana aku tahu? Mereka tidak bilang.”

__ADS_1


Wajah Evan pun berkerut bingung mendengarnya. “Mereka? Apa mungkin Alice dan Dean?” tebaknya tapi benar.


“Mm.”


“Mereka mengajakmu keluar?”


“Weekend.”


Evan pun mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa. Dan tak lama kemudian, muncullah mobil Dean di sana. Tapi siapa yang bisa mengira, walau Sekretaris Roma sudah memberikan ijin atas restu Presdir Betrand untuk kepergian Eldrey, nyatanya putra Dempster menolaknya.


Kecuali dia diizinkan ikut bersama mereka. Karena bagaimanapun juga, dia harus menjaga adiknya.


“Boleh, jika kamu ingin ikut bagus sekali, jadi bisa lebih ramai,” setuju Dean.


“Mm, terima kasih sudah mengizinkanku kalau begitu.”


“Sama-sama.”


Dan Dean pun membukakan pintu depan untuk Eldrey, sepertinya gadis itu akan duduk di sebelahnya sambil menunggu Evan bersiap-siap.


“Rey,” panggilnya. Gadis itu hanya melirik lewat sudut matanya. “Apa aku boleh tanya sesuatu?”


“Mm.”


Perlahan Dean pun membuang napas pelan. “Bagaimana perasaanmu pada adikku?”


Seketika lirikan Eldrey yang tadi fokus ke ponselnya bergerak ke arah putra Kendal. Seakan sinis namun masih belum mengatakan apa-apa.


Laki-laki itu terdiam. Dan mengangguk-angguk pelan. Jujur saja, sosoknya memang penasaran seperti apa hubungan Kevin dan gadis di sebelahnya ini sebenarnya.


“Begitu ya.”


Sekarang, setelah menjemput Alice, mereka pun pergi ke penginapan milik keluarga Kendal. Memang berada di dekat area pantai. Tapi di sekitaran kawasan itu terdapat pasar malam bersamaan dengan wahana permainan lainnya.


Memang takkan membosankan jika menghabiskan hari untuk berwisata mencicipi jajanan di sepanjang jalan.


“Ini kamarmu, Rey,” tunjuk Dean pada gadis itu. Lokasinya ada di lantai dua, bagus nuansanya dengan interior di dominasi dinding kaca. “Bagaimana? Kamu suka?” tanyanya.


“Aku mau tidur,” ucap Eldrey tanpa basa-basi dan langsung menutup pintu.


Alice hanya tersenyum pada kekasihnya. Mereka maklum jika Eldrey memang buruk ekspresinya.


Sementara Evan, agak kagum dengan lokasi yang ditawarkan sekitar. Rasanya dirinya takkan bosan jika berkeliaran menikmati pemandangan.


Dan di kediaman keluarga Kendal. “Nak, kamu tidak ikut kakakmu pergi jalan-jalan?” tanya Nyonya Julia pada putra keduanya yang mengambil minuman kaleng di kulkas.


“Jalan-jalan ke mana?”


“Ke penginapan kita.”


“Benarkah? Dengan siapa? Dia tidak mengatakan apa-apa.”

__ADS_1


“Dengan Alice dan Eldrey.”


“Hah? Dua gadis itu?!”


“Iya. Mama pikir kamu ikut, karena kamu kan—” ucapan wanita itu pun terpotong setelah melihat raut wajah putranya. Jujur ia kaget, karena Kevin mengetatkan rahang dan mendinginkan ekspresinya. “Nak.” Pemuda itu menoleh tanpa bersuara. “Apa kamu benar-benar serius dengan Eldrey?” Kevin pun memiringkan mukanya. “Mm ... mungkin kamu belum tahu. Tapi gadis itu sudah dijodohkan dengan putra keluarga Jackson.”


“Ya, aku sudah dengar.”


“Lalu?”


Putra Cesar malah tersenyum pada ibunya. “Lalu apanya, Ma?”


“Hubungan kamu dengan Eldrey, Sayang.”


Tiba-tiba Kevin memeluk Nyonya Julia. “Apa Mama menyukainya?”


Perlahan pelukan dilepas wanita itu. “Menyukainya untuk menjadi pasanganmu?” sebelah alis Kevin terangkat. “Jika kamu menyukainya, Mama tak masalah siapa pun pasanganmu. Asal itu sesuai dengan keputusan Papa.”


Tawa pelan pun tersembur dari mulut pemuda itu. “Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu ya, Ma. Aku akan menyusul mereka. Titip pesan pada Papa, oke,” pamit anaknya sambil mengacungkan jempolnya.


Nyonya Julia pun tersenyum melihat putranya. Kevin dan Dean memang sangat berbeda. Di mana anak pertamanya cenderung banyak diam ataupun terlalu membangkang. Sementara Kevin, dia mudah senyum atau gampang bergaul dengan siapa saja. Tak malu-malu mengeluarkan suara.


Dan kalau marah memang lebih buruk perangainya.


Dirinya ingat saat putra keduanya terlibat perkelahian dan Tuan Kendal harus membayar mahal atas ulahnya. Di mana Kevin malah mempraktekkan beladiri yang baru saja dipelajarinya pada pengganggunya.


Sehingga lawannya sempat koma dan dirinya yang masih di bawah umur harus kena sanksi oleh ayahnya.


Eldrey haus. Kakinya menyusuri tangga. Menuju dapur untuk mengambil minuman. Tapi saat melihat pintu utama yang terbuka dirinya pun berlalu ke sana.


“Eldrey?” sapa kakaknya. Ternyata Evan sedang menikmati pemandangan di luar. Langit sore sudah disambut rentangan tangan malam. Itulah penampakan yang ditonton dirinya. “Bagaimana menurutmu? Tempat ini bagus bukan? Sepertinya sesekali kemari bersama ayah dan ibu tidak begitu buruk.”


Eldrey hanya menyipitkan mata. Lalu mengedarkan pandangan pada sekelilingnya.


“Dean dan Alice sedang pergi. Katanya ada yang mau dibeli. Mumpung kita di sini, bagaimana kalau kita berdua jalan-jalan? Suasana pasar malamnya sepertinya bagus dan sayang untuk dilewatkan.”  


Eldrey tidak meresponsnya. Dan terus jalan meninggalkannya. Melihat arah kepergiannya, Evan pun tersenyum lalu menutup pintu rumah itu.


Untung saja ada passwordnya sehingga Dean nanti tidak akan sulit membukanya.


Sekarang, di sinilah putra putri Dempster. Melewati jalanan yang penuh keramaian.


“Maaf,” gumam Dean tiba-tiba. “Seharusnya sebelum pergi kakak ambil jacket untukmu dulu,” dirinya tampak merasa bersalah. Bagaimanapun juga, saat ini malam dan udara pasti akan mendingin menusuk tulang.


Terlebih dirinya dan Eldrey sama-sama mengenakan baju kaos. Walau warnanya tak senada. Di mana Evan hitam dan adiknya putih.


Dan dalam perjalanan keduanya, seorang gadis mengerjapkan mata karena merasa tak percaya pada sosok yang dilihatnya.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2