
Aroma obat-obatan bertebaran di sekelilingnya. Eldrey tersadar sambil menatap langit-langit kamar.
Sepi, itulah yang ia rasakan saat ini. Eldrey akhirnya terbangun di sebuah ranjang rumah sakit. Kepalanya pusing dan juga perutnya terasa agak perih.
“Apa aku pingsan?” gumamnya pelan. Ia memandang berkeliling. Tak ada siapa pun di sana. Dengan perlahan, ia mencoba bangun, tapi tubuhnya benar-benar terasa tak bertenaga.
Sensasi mual mulai menghantuinya, tapi tak ia acuhkan karena pusing di kepala. Dengan terpaksa dirinya kembali menutup mata dan membiarkan semua berjalan sesuai alurnya.
Beberapa jam kemudian.
“Sudah sadar?” sebuah suara menghampiri Eldrey yang perlahan membuka mata. Sesosok wajah tak asing di sana, pemuda yang pernah ditemuinya.
Gadis itu tak menjawab kecuali diam menatapnya.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Entahlah,” jawab Eldrey.
Pemuda itu terdiam, beberapa detik kemudian melanjutkan pembicaraan. “Kata dokter-”
“Jangan katakan apa pun. Aku lelah, aku hanya ingin pergi,” potong Eldrey.
“Tapi kondisimu ....”
“Aku hanya belum makan. Aku baik-baik saja. Apa kamu bisa membantuku? Aku pasti akan membayar kebaikanmu, karena itu bawa aku keluar dari sini,” pinta Eldrey.
“Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengurusnya,” pemuda itu pergi meninggalkannya.
Setelah mengurus semuanya dengan pihak rumah sakit, beberapa saat kemudian, mereka berdua keluar dari rumah sakit. Pemuda itu menggendong Eldrey dan memasuki mobilnya.
Fokus berkendara pemuda itu terkacaukan oleh wajah cantik Eldrey. “Ini pasti takdir,” batinnya tersenyum.
“Eldrey, maaf jika aku lancang. Apakah semua baik-baik saja?”
Eldrey berpaling padanya. Menatap wajah sang pemuda yang sudah dua kali ditemuinya. Ia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. “Ini pasti takdir,” ucap pelan Eldrey yang membuat jantung Henry berdetak tak karuan.
“Takdir? Kenapa kamu berbicara begitu?” Henry kelabakan mendengarnya.
“Jika bukan kamu yang menyelamatkanku, maka keadaanku mungkin jauh lebih buruk dari ini.”
Wajah Henry langsung memerah mendengarnya, tersipu malu karena ucapan Eldrey yang membuatnya serasa diterpa angin lembut.
“Apa yang kamu katakan? Lagi pula kenapa kamu bisa pingsan begitu? Kata dokter kamu begitu karena belum makan. Bagaimana bisa?” tanya Henry tak henti-hentinya. Raut wajah Eldrey yang tenang berubah dingin. Henry terkesiap melihatnya. “Eldrey?”
“Jika tidak keberatan, apa kamu bisa mencarikan penginapan untukku? Aku tak punya uang. Tapi suatu saat nanti aku pasti akan mengganti uangmu,” pinta Eldrey sambil melepas arlojinya.
“Aku hanya punya ini, kamu bisa pegang ini sebagai jaminannya. Aku mohon tolong bantu aku,” Eldrey memohon padanya sambil menggenggam salah satu tangan Henry dan meletakkan arloji di sana.
Henry tertegun sesaat dengan wajah gadis itu. “Baiklah, kamu tidak perlu begitu. Aku pasti akan membantumu,” ucap Henry. Di satu sisi ia penasaran dengan gadis itu, di sisi lain ia tak ingin bertanya lebih jauh tentang kondisi Eldrey karena takut menyinggungnya.
Tapi Henry sadar kalau gadis itu bukan orang kalangan biasa. Arloji berdesain simpel dan elegan tersebut adalah barang keluaran perusahaan ternama. Ia tahu itu, karena desain tersebut pernah ia lihat saat mencarikan hadiah untuk ibunya.
“Kamu ingin menginap di mana? Bagaimana jika di rumahku? Orang tuaku sedang keluar negeri. Saat ini aku hanya tinggal bersama pembantuku.”
“Itu bukan ide yang buruk.”
“Jadi kamu setuju?”
“Ya. Tapi, bisakah kamu merahasiakannya dari Kevin?”
“Kevin? Kenapa?”
“Aku hanya tidak menyukainya. Karena sepertinya kalian berteman, aku terpaksa berterus terang begini. Maafkan aku,” ucap Eldrey memamerkan tampang polosnya.
“Tak masalah, jika itu yang kamu inginkan, aku akan melakukannya.”
“Terima kasih.”
Mobil itu pun akhirnya sampai di kediaman Henry.
“Apa?”
“Karena kamu masih sakit, aku akan menggendongmu,” jelas Henry dengan tampang tak berdosanya.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja,” Eldrey tersenyum akan tingkahnya. Jantung Henry semakin menggebu-gebu dibuatnya.
Dengan dipegang Henry, Eldrey pun memasuki rumah itu. “Ini kamarmu, kamu istirahatlah. Aku akan minta pembantuku untuk menyiapkan makanan untukmu,” ucap Henry pergi meninggalkannya.
Sesampainya di kamar, Eldrey langsung menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang.
Beberapa saat kemudian, Henry pun masuk ke kamar Eldrey dengan membawa makanan. Semangkuk bubur, air putih, buah dan roti beserta selainya.
“Ayo makan.”
Eldrey menatap wajahnya tanpa berkedip. Wajah Henry memerah karena sorot mata gadis itu, membuatnya berpaling dan tak fokus jalan ke depan. Sampai-sampai kakinya tersangkut di karpet dan hampir saja jatuh.
“Woaa! Hampir saja jantungan kakiku!” pekiknya kelabakan. Ia berhasil menahan posisi agar tak tersungkur. Namun makanan yang dibawa sedikit tumpah ke nampan.
Eldrey tertawa pelan melihat sikapnya yang seperti orang bodoh. “Maafkan aku! Akan kubawakan yang baru!” tukasnya panik.
“Tidak perlu, aku akan memakannya," sela Eldrey akhirnya.
__ADS_1
“Tapi ini!”
“Kamu sudah susah payah membawanya. Jadi aku akan memakannya,” lirih Eldrey.
“I-iya, baiklah kalau begitu,” Henry menaruhnya di dekat Eldrey. “Kamu tidak duduk di atas?”
“Aku di bawah saja, di sini jauh lebih baik,” Eldrey tersenyum tipis. Gadis itu memakan pelan bubur yang dibawa, sementara Henry masih tak mengalihkan matanya menatap gadis itu.
“Ada apa? Kulitku mungkin akan memerah jika kamu menatapku seperti itu,” tandas Eldrey sambil meliriknya.
“Ah! Maafkan aku! Aku tak bermaksud begitu! Hanya saja aku, aku ....”
Gadis itu tertawa pelan dan tak lagi melanjutkan makannya. “Aku tak menyangka kalau kamu akan sepanik itu.”
Henry membuang muka karena malu. “Kamu begitu polos,” lanjut Eldrey.
“Bukan begitu, kamu salah paham.”
“Benarkah?”
“Ya! Aku bukan orang yang pemalu. Hanya saja sedikit gugup jika bersama gadis cantik sepertimu.”
Eldrey tak merespons apa-apa. Henry yang menyadari kebodohannya dalam berbicara langsung panik.
“Bukan begitu! Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku cuma asal bicara. Tidak, maksudku bukan begitu, aku cuma memujimu. Aah, maksudku aaah ... tolong lupakan saja. Aku benar-benar bodoh!” gerutu Henry akhirnya.
Gadis itu memiringkan wajah dan tersenyum padanya. “Ya, aku mengerti,” ucapnya singkat.
Tapi kalimat singkatnya justru membuat jantung Henry jadi tak kentara detakannya. Keringat dingin justru mengucur dari keningnya, membuat pemuda itu langsung berdiri tiba-tiba.
Eldrey sedikit mendongak karenanya, “aah, itu ... aku keluar dulu,” tukasnya pamit.
Tanpa menunggu jawaban Eldrey, Henry langsung melenggang keluar. Ia sudah tak sanggup lagi berlama-lama di sana, karena gerah mulai melanda batinnya.
“Gila! Dasar bocah sialan! Bagaimana bisa aku tidak tenang begini? Padahal aku cuma lihat senyumannya! Sadar Henry sadar! Kalian baru saling kenal! Jangan bersikap brengsek Henry, sadar bodoh! Sadar!” gerutunya sepanjang jalan ke kamar sambil memukul-mukul pipinya.
“Aah! Tunggu, dia akan menginap di sini bukan? Terus baju gantinya gimana? Bukankah lebih baik aku pergi membelikannya?” Dengan mengoceh sendiri, Henry pun memantapkan hati untuk pergi ke toko mencari baju ganti Eldrey.
Padahal gadis itu tak memintanya, tapi dia sudah berinisiatif untuk melakukannya.
Tanpa memberi tahu Eldrey terlebih dahulu, Henry pun berangkat ke toko sendirian. 10 menit kemudian, ia sampai di pusat kota dan memarkirkan mobil di depan sebuah toko pakaian.
Langkahnya memasuki toko terlihat gagah, namun sesampainya di dalam ia malah tampak seperti orang bodoh.
“Ada yang bisa dibantu Tuan?” tanya salah satu pegawai toko yang menyadari kepanikannya.
“Itu! Aku, ingin membeli pakaian perempuan.”
“Silakan dilihat-lihat Tuan. Sukanya baju yang seperti apa?” tanya pegawai itu dengan ramahnya. Tapi senyuman sang pegawai malah membuat pemuda itu panik.
Pegawai tersebut masih menyunggingkan senyum ramahnya. “Mungkin bisa saya bantu pilihkan, apa dia pacar anda?”
“Pacar?! Tidak! Belum! Belum jadi pacarku,” pungkas Henry kelabakan. Wajahnya langsung memerah karena ditanya seperti itu.
Pelayan itu sedikit tertawa, “kalau begitu, mungkin lebih baik anda bayangkan saja pakaian apa yang cocok sebagai hadiahnya.”
“Benar juga, aku memang harus memilihnya,” ucap Henry dengan tampang bodohnya.
“Silakan Tuan.”
Henry pun menatap berkeliling, matanya menyapu setiap pakaian yang terpajang, “ah, apa Eldrey akan suka dengan baju pilihanku?” gumamnya. “Seingatku dia memakai ...” ocehannya terhenti begitu menatap salah satu pakaian. Sebuah dress floral simpel berwarna langit. Cantik, apalagi dipadankan dengan kulit putih Eldrey.
“Anda menyukainya Tuan?” tanya si pegawai yang masih dari tadi menemaninya.
“I-iya, tapi aku tak tahu apa dia akan menyukainya.”
“Kalau boleh tahu, wanitanya sehari-hari memakai pakaian seperti apa Tuan?”
“I-itu ...” Henry tertegun sejenak. Ia baru dua kali bertemu dengan Eldrey, “dandanannya ... dia cantik, dan sedikit tomboy,” jelas Henry sambil sedikit menatap ke atas seolah menerawang.
“Kalau begitu bagaimana dengan ini?” tunjuk pegawai tersebut. Ia memilihkan pakaian bergaya boyish style pada Henry.
“Bagus, tidak begitu buruk. Apa kamu bisa pilihkan yang lain?” Henry tampak semringah.
“Baik Tuan,” angguk pelayan itu mulai memilihkannya.
“Semoga saja dia suka,” lirih Henry.
Beberapa saat kemudian, pelayan itu datang menghampirinya sambil membawakan pakaian yang ia pilihkan.
Henry tampak puas dengan pilihan sang pelayan, tapi di raut wajahnya masih ada satu kejanggalan yang tersisa.
“I-itu ....”
“Iya Tuan?”
Henry tampak ragu mengutarakannya, wajahnya memerah seperti tomat masak. Pegawai itu cukup bingung melihat sikapnya yang tampak seperti bocah polos, karena menggigit bibir bawah saking gugupnya.
“Tuan?”
“I-itu ... A-apa di sini juga menjualnya?”
__ADS_1
“Ya Tuan? Menjual apa?”
Henry masih tersipu malu. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Pa-pa-pakaian dalam,” suaranya makin tertelan udara saking pelannya.
“Pakaian dalam?” pegawai itu mencoba meniru gestur bibir Henry.
“Aah! Jangan keras-keras!” pekik Henry malu.
Pegawai itu menutup mulutnya, ia sebenarnya sudah tak bisa menahan tawa melihat sikap pemuda di depannya. Seperti anak polos yang terpaksa membeli sesuatu tak terduga.
“Toko kami juga menjualnya Tuan. Apa anda ingin memilihnya?”
“Tidak! Kamu saja yang pilihkan!”
“Baiklah Tuan. Saya akan memilihkannya. Apa saya boleh tahu berapa ukurannya?”
“Hah?” wajah panas Henry seperti diguyur air dingin. “U-u-ukuran?”
“Iya Tuan.”
“U-ukuran ya ...” gumam Henry sambil menatap ke bawah. “D-dia ringan.”
“Ya Tuan?”
“D-dia kurus. Tapi sepertinya be-be-risi,” ucapnya terbata-bata.
“Apa bisa dideskripsikan Tuan? Jika lebih jelas, mungkin saya bisa membantu.”
Henry yang gugup lalu mengangkat tangannya. Wajahnya sama sekali tak menatap pegawai itu.
“D-dia setinggi ini. Dia ringan, bukan! Agak kurus, ta-ta ... pi dadanya berisi, kalau tidak salah,” ujarnya panik namun tak begitu jelas, karena semakin ia bicara suaranya makin menghilang. "Seperti w-wanita i-itu," tunjuknya pada salah satu pegawai.
Pegawai itu termangut-mangut. Entah bagaimana tanggapannya, karena sesekali ia tersenyum namun memudar begitu Henry meliriknya. Mungkin bagi sang pegawai Henry adalah salah satu pelanggan lucu yang pernah mampir ke toko.
“Baiklah Tuan, saya mengerti. Akan saya ambilkan,” ucapnya mengangguk sopan.
Begitu pegawai tersebut pergi, Henry langsung menghela napas dan mengipas-ngipaskan tangan ke wajah saking gugupnya.
Tapi itu hanya berlangsung sebentar, karena pegawai itu sudah kembali lagi sambil menentang berbagai jenis pakaian dalam wanita yang membuat jantung Henry menggila.
“Aah! Jangan bawa ke sini! Pilihkan saja, pilih! Pilih!” pinta Henry memalingkan wajah sambil menutup mata dengan tangannya.
“Ba-baik Tuan, maafkan saya,” sahut pelanggan itu sambil berwajah menahan tawa. “Anda ingin warna yang mana Tuan? Merah? Biru? Atau-”
“Yang normal saja! Pokoknya pilihkan saja.” Henry masih tak mau memalingkan wajahnya. Sepertinya ia benar-benar malu. Tanpa disadari, ada beberapa pegawai yang tertawa melihat tingkahnya di tempat tak terlihat.
“Baik Tuan. Kalau begitu, anda ingin berapa-”
“Semuanya saja! Bungkus saja semuanya!” Henry panik dan memilih berlalu.
Pegawai itu akhirnya menyiapkan barang belanjaan Henry. Tanpa membuang-buang waktu, Henry membayarnya secepat kilat dan tak memikirkan harga atau apa isi di dalamnya. Lalu kabur dari toko itu karena tak tahan lagi dengan rasa malunya.
“Hah ... benar-benar gila. Aku merasa seperti pelaku kejahatan. Bagaimana bisa Steven betah menemani pacarnya belanja? Aku benar-benar tak sanggup jika harus begini. Ini benar-benar memalukan sekali,” ocehnya sambil geleng-geleng kepala.
Sementara, di kediaman presdir Betrand, guratan kalut terpancar jelas di wajah Charlie karena sang putri bos masih belum muncul juga kabar keberadaannya.
Padahal para bawahan sudah diturunkan untuk mencarinya, Rudan juga sudah diperintahkan untuk melacaknya, tapi jejak terakhir Eldrey hanya terlihat sampai stasiun kereta api bawah tanah.
“Sial!” umpat Charlie.
“Bagaimanapun Nona tahu cara kerja kita, karena itu dia bisa menghindarinya.”
“Cih!” Charlie memandang kesal ke langit-langit ruangan di mana dirinya sedang berada.
“Tuan, itu ....”
“Apa?”
“Nyonya Anna sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi. Dia bersikeras hendak mencari Nona tuan,” jelas Reynald yang membuat Charlie semakin gusar.
“Aku akan ke bawah,” Charlie pun pergi dari sana. Ia menapaki jalanan menuju ruang tamu di mana bu Anna berada. Atas saran Rondolf, ia tetap di sana karena Evan masih belum kembali sejak mencari adiknya.
Terdengar suara isak tangis yang cukup nyaring di telinga Charlie. “Nyonya ....” Charlie menghampirinya dan berdiri di depannya.
Wanita itu juga memandangnya. Tapi, jejak sembab karena tak henti-hentinya menangis terlukis di sana, membuat Charlie sedikit risih menatapnya.
“Eldrey masih belum pulang. Aku harus mencarinya, aku harus menemukannya,” jelas wanita itu terisak.
“Maaf Nyonya, kami tahu kalau anda cemas. Tapi akan lebih baik jika anda tetap di sini dan biarkan kami yang mencarinya.”
“Tapi, bagaimana jika masih tidak ditemukan juga. Aku benar-benar tak ingin terjadi apa pun padanya!” bu Anna menutup wajah karena air matanya semakin tercerai-berai.
“Semua akan baik-baik saja. Cepat atau lambat Nona pasti bisa ditemukan. Karena itu, tolong percayalah pada kami Nyonya,” ucap Charlie menenangkannya.
Di dalam sebuah kamar, suara ketukan pintu mengganggu penghuninya. “Eldrey?” sapa orang di balik pintu lalu membukanya tanpa menunggu jawaban.
Sementara sang penghuni kamar hanya menatap tenang dirinya, tak terlihat sedikit pun keinginan menjawab pada tuan rumah yang sudah membiarkannya tinggal di sana.
“I-itu, tadi aku belanja baju ganti untukmu. Si-silakan dipakai,” tukas Henry terburu-buru menaruhnya di ranjang lalu kabur begitu saja.
Eldrey menatap datar kejadian aneh di depannya, tapi ia tak peduli dan memilih memeriksa belanjaan Henry yang hampir memenuhi ranjangnya.
__ADS_1
“Baju baru?” lirih Eldrey tersenyum tipis. Tapi tawa pelan pun meledak dari bibirnya saat melihat pakaian dalam mencolok juga ada di antara belanjaan itu.
“Dia membelikanku ini?” Eldrey benar-benar tak bisa menahan tawa sambil menyisir pelan rambutnya ke belakang. “Dasar bocah gila,” gumam gadis itu memilih salah satu pakaian yang ada dan membawanya ke kamar mandi.