
Gadis itu memamerkan senyum akan ulahnya.
“Padahal aku juga pasang penyadap.”
“Benarkah?”
“Ya. Tak kusangka isi otak kita sama,” Charlie memamerkan apa yang ada di telinganya.
Eldrey pun tertawa. “Sepertinya mereka tak berniat membiarkan kita pergi jauh untuk mengoceh ya.”
“Madam sepertinya sangat marah.”
“Wajar saja. Dia pasti malu sekali.”
“Tapi pernikahannya sebulan lagi. Apa akan baik-baik saja?”
“Entahlah. Itu bukan urusanku,” tegas Eldrey.
Beberapa saat kemudian, mobil telah tiba di kediaman Dempster. Tampak langkah Eldrey yang berjalan duluan memasuki rumah mengabaikan semuanya.
Dia melempar trench coatnya ke ranjang begitu tiba di kamar. Merasa lelah dengan dandanan formal untuk acara tak berguna itu. Tiba-tiba dicarinya sesuatu di laci nakas sambil berekspresi bingung.
Tanpa sadar ia menyentuh kepalanya dengan tatapan mata yang agak nanar.
Dua minggu kemudian, hiruk pikuk di kediaman Dempster mulai terlihat dari kedatangan desainer yang sudah merancang baju pernikahan Bu Anna.
Eldrey juga ikut berada di ruang ganti itu dengan sorot mata lelah di wajahnya. Dalam kondisinya yang sekarang, dia terpaksa mengikuti kuliah online atas perintah Presdir Betrand.
Akan tetapi, saat dirinya sedang membaca sebuah buku, tiba-tiba undangan konyol baru saja datang menghampiri Bu Anna. Panggilan dari Nyonya Amelia yang merupakan menantu keluarga Gates.
Wanita itu mengajak Bu Anna dan Eldrey untuk mengikuti pertemuan para istri dan anak gadisnya yang dominan berasal dari keluarga pemilik bisnis besar.
Dengan title sebuah lingkaran persahabatan para Nyonya tersohor yang terkenal nama dan latar belakangnya.
Tentu saja Bu Anna enggan menyetujuinya, namun bujuk rayu Nyonya Amelia membuatnya terpaksa mengikuti ajakan itu.
Dirinya yang masih canggung untuk mengajak Eldrey akhirnya memilih memberi tahu Betrand.
“Eldrey, apa Ayah bisa minta tolong padamu?” tanyanya saat makan malam.
“Apa?”
“Dua hari lagi, apa kamu tidak keberatan menemani ibumu ke pertemuan?”
Eldrey mengerutkan dahi lalu melirik Bu Anna yang gugup. “Pertemuan apa?”
“B-bibimu mengajak Ibu ikut pertemuan dengan teman-temannya.”
“Pergi sendiri saja apa susahnya?” sela gadis itu.
“Eldrey. Itu ajakan dari bibimu agar ibumu tidak canggung berbaur dengan mereka. Lagi pula ada Lily, Ayah harap kamu mau menemani Ibumu ke sana.”
“Lily? Baiklah,” setuju Eldrey. Tapi selesai mengatakan itu ia langsung berdiri meninggalkan mereka. “Afro,” panggilnya saat menemui pria itu di ruang kerja Charlie.
“Ya Nona?”
“Carikan informasi tentang teman-teman Bibi Amelia termasuk kelemahan serta skandalnya. Kuberi kau waktu sampai besok. Bisakan?”
“Baiklah Nona,” angguk Afro. Mau tidak mau ia harus mendahulukan itu walau pekerjaan dari Charlie juga menumpuk di depannya.
__ADS_1
Sesuai permintaan, esok sorenya Eldrey sudah menerima sebuah map yang berisi laporan tentang teman-teman Nyonya Amelia. Dari latar belakang, skandal keluarga atau pribadi sampai perilaku anak-anaknya.
“Cih! Pertemuan wanita sombong ya,” Eldrey pun tersenyum miring melihatnya.
Dan hari yang dijanjikan pun tiba. Eldrey sudah berdiri di bibir tangga ruang utama menanti Bu Anna. Walau kedekatan mereka jelas canggung karena tak dihiasi suara tapi Eldrey tidak lagi mencacinya.
Kepergian mereka diantar oleh Afro. Eldrey memilih duduk di depan bersama supir daripada dengan Bu Anna.
Akhirnya, mereka pun tiba di restoran yang dijanjikan sebagai tempat pertemuan para Nyonya dan anak-anaknya itu.
“Mana Amelia?” tanya Eldrey pada Ibunya.
“B-bibimu sudah di dalam.”
“Cih!”
Bu Anna kaget mendengar respons Eldrey namun ia tak bersuara. Keduanya lalu masuk dan mencari sosok yang mengajaknya.
Ternyata, di meja restoran bagian tengah telah berkumpul para wanita elegan dan Nyonya Amelia termasuk salah satunya.
“Anna! Eldrey!” panggilnya.
Keduanya berjalan ke sana dengan ekspresi yang jelas berbeda. Eldrey tak malu menampilkan ketidak tertarikannya pada pertemuan tak berguna itu.
“Ayo duduk di sini,” sahut Nyonya Amelia. Ternyata dirinya sudah menyiapkan dua kursi kosong.
Kedatangan dua orang baru itu tentu saja ditatap lekat para Nyonya dan anak-anaknya yang berpakaian elegan serta menyandang tas mewah dari desainer ternama.
Mereka melirik Bu Anna dan anaknya dari atas ke bawah.
“Mm ... salam kenal. Aku sudah dengar tentangmu dari Amelia. Tapi, apa benar kamu mantan istri Presdir Betrand?” tanya salah satu Nyonya yang memakai lipstik merah menyala di bibirnya.
“Iya,” angguk Bu Anna pelan.
“Begitu?” balas wanita itu dengan ekspresi aneh.
Terlebih sorot mata yang lainnya seakan tidak menyiratkan keramah tamahan.
“Kenapa tidak perkenalan resmi dulu? Kami belum tahu dengan jelas siapa namamu,” sela yang lainnya.
“Bukankah harusnya sama-sama?” sambung Nyonya Amelia tertawa pelan.
Para Nyonya itu pun saling berkenalan begitu pula anak-anaknya. Tapi satu hal yang pasti, tidak adanya Lily di sana.
Eldrey sibuk menyeruput minuman yang ada di depannya. Sambil mata menyapu sosok-sosok yang duduk manis di tatapannya.
“Jadi, Nyonya Anna akan menikah lagi ya. Tak kusangka. Padahal mengingat sepak terjang Presdir Betrand, kupikir kalian takkan mungkin lagi bersama,” sela salah seorang wanita yang memainkan sedotan minumannya.
“Lho, kenapa tidak mungkin? Mereka kan sebelumnya sudah pernah bersama,” timpal Nyonya Amelia.
“Yah, mungkin karena ...” sosok yang berbicara pun melirik Bu Anna lalu beralih ke arah putrinya.
“Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salah?” tanya Eldrey tiba-tiba.
“Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawabnya sedikit tertawa.
Bu Anna terdiam karena merasa tak nyaman akan sorot mata orang-orang yang melihat dirinya dan juga anaknya.
Eldrey pun mengalihkan perhatian menatap Nyonya Amelia. “Bibi.”
__ADS_1
“Ya?”
“Kupikir tak ada lagi yang perlu dibahas di sini. Kalau begitu aku dan ibuku pergi dulu,” jelas Eldrey bangkit dari duduknya.
“E-Eldrey,” Bu Anna kaget akan ucapan putrinya.
“Eldrey, kamu tidak sopan sayang,” sela Nyonya Amelia.
“Tidak sopan? Ayolah Bibi. Aku bahkan tidak melihat keuntungan apa pun dari pertemuan ini kecuali ocehan konyol yang tak berguna. Menurutku, ini benar-benar membuang-buang waktuku.”
Orang-orang di sana pun berubah ekspresinya mendengar kalimat gadis muda yang sebaya anaknya.
“Sepertinya, rumor kalau putri presdir Betrand sedikit bermasalah memang benar ya?” sela wanita yang tadi menatapnya dengan pandangan aneh.
“Kau baru tahu? Itu bukan hal yang baru,” sahut Eldrey dengan angkuhnya.
“Tidak sopan!” umpat pelan yang lainnya.
Eldrey pun menyeringai tipis. “Kenapa aku harus sopan dengan orang-orang yang tidak selevel denganku? Ayo Ibu, lebih baik kita pulang,” ajak Eldrey menarik tangan Bu Anna yang tak percaya akan sikap arogan putrinya.
“Eldrey!” cegat Nyonya Amelia tiba-tiba.
Gadis itu pun melirik istri pamannya dengan sudut matanya. “Kupikir lebih baik Bibi juga pulang. Nenek pasti tidak suka jika melihat dirimu yang hanya bersenang-senang seperti ini sementara Lily entah seperti apa kondisinya.”
Sontak hal itu menimbulkan kemurkaan Nyonya Amelia. Tangannya terkepal erat mendengar kalimat kurang ajar keponakan suaminya.
“Apa-apaan itu? Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu? Bocah arogan!” umpat lainnya.
“Maaf, tapi sepertinya aku harus pergi sekarang,” Nyonya Amelia pun terburu-buru beranjak dari sana yang mengundang tatapan jengkel lainnya.
“Lihatlah! Sekarang dia lari setelah keponakannya menghina kita!”
“Tapi bukankah putri Bibi Amelia itu sedang terlibat skandal menjijikan,” sahut salah satu gadis muda yang merupakan putri salah satu Nyonya di sana.
“Aku juga dengar dan sudah lihat fotonya. Memalukan, bahkan setelah banyak pemberitaan buruk tentang keluarga itu tapi bisnis mereka tetap saja di atas.”
“Iya, heran.”
Dan mereka sibuk mencerca keluarga Gates ataupun Dempster. Sebuah kewajaran mengingat penghinaan yang dilontarkan gadis muda dari keluarga itu.
“Nak, apa harus seperti itu? Kita jadi tidak bisa berhubungan baik dengan mereka kan?”
“Cih!” decih Eldrey yang tiba-tiba membungkam ibu dan supirnya.
“Berhubungan baik? Berhentilah bersikap munafik begitu. Siapa juga yang mau tulus berteman dengan wanita tukang roti sepertimu?” ledek Eldrey dengan tajamnya.
Hati Bu Anna serasa ditusuk kejam oleh kata-kata putrinya.
“Berhenti hidup di alam mimpi. Realita tidak sebaik bayanganmu. Apa kau tidak lihat bagaimana mereka menatapmu? Tidak peduli seberapa hebat nama di belakangmu, jika latarnya menyedihkan kau akan tetap di pandang sebelah mata.”
“Jika kau tidak ingin diremehkan seperti tadi maka jangan permalukan keluarga ini. Sebentar lagi kau akan jadi Dempster, dan bersikaplah sesuai nama itu. Menekan manusia rendahan itu normal bagi kita jika ingin hidup dengan tenang,” oceh panjang Eldrey.
Bu Anna benar-benar tak bisa berkata-kata dibuatnya. Setiap untaian kata putrinya begitu tajam dan kejam.
Untuk seseorang yang lembut dan berperasaan seperti ibunya jelas itu hal sulit untuk diterima sanubarinya.
“Hentikan mobilnya,” sela Eldrey tiba-tiba.
“Tapi Nona—”
__ADS_1
“Kubilang hentikan!” hardik Eldrey membuat supir dan ibunya terkesiap mendengar nada suaranya.