
Keduanya sama-sama tidak mengatakan apa pun. Perlahan, sorot mata lurus Henry melirik gadis itu.
Mobil masih dalam keadaan membisu. Ketenangan diiringi deru napas Eldrey yang mulai tenang.
“Eldrey? Kamu baik-baik saja?”
Masih tak ada jawaban. Sang gadis memeluk diri dalam keadaan menunduk.
“Eldrey?”
“Obat penenang.”
“Apa?”
“Aku butuh obat penenang.”
Perasaan Henry aneh mendengarnya. Seketika ingatan tentang perkataan Lily kalau Eldrey pernah masuk rumah sakit jiwa menyeruak ke kesadaran.
“Tapi Eldrey-”
“Aku butuh obat penenang!” teriak gadis itu yang mengagetkannya.
“Ba-baik! Baik! Tunggu sebentar, aku akan membelikannya,” Henry jadi panik karenanya. Secara terburu-buru ia mengendarai mobil menuju apotek terdekat untuk membeli obat penenang yang tak ia tahu jenisnya.
Dirinya segera turun, begitu sampai di depan tempat tujuan.
“Ada yang bisa dibantu?”
“Saya ingin membeli obat penenang.”
“Obat penenang?” tanya pegawainya. “Ada resep dokternya?”
“Resep?” Henry menjadi bingung karena ia tak tahu tentang itu.
“Saat ini kami tidak bisa lagi memperjual belikan obat penenang secara bebas mengingat efek samping dan banyaknya kasus bunuh diri berkaitan dengan pemakaiannya,” jelas pegawai itu.
“Hah?” Henry melongo mendengarkan.
Tapi, pandangan mereka berdua teralihkan akibat Eldrey yang tiba-tiba turun mobil dan lari tak tentu arah.
“Eldrey!” pekik Henry. Tanpa pikir panjang ia segera mengejar gadis itu.
Tak peduli ke mana pun ia melangkah, suara-suara itu tetap menghantui. Seringai mereka, tangisan, sumpah serapah, teriakan, semua bercampur aduk mengganggu kesadaran.
Inilah yang selalu ditakutkan presdir Betrand. Masa-masa di mana emosi tak stabil Eldrey tiba-tiba muncul ke permukaan.
Tekanan dari rasa lelah atau banyaknya beban pikiran yang mengganggu gadis itu akan membuatnya kehilangan kendali.
Tak adanya tempat bercerita membuat semua terpendam dalam ingatan dan terkubur dalam kesepian. Sekarang, hal itu meledak lagi dan tak ada seorang pun di sisinya untuk melindungi.
Tiba-tiba langkah Eldrey terhenti di dekat jembatan. Penghubung yang tak begitu sering dilewati, karena banyak yang memilih memakai jalan raya di bawahnya.
Jika gadis itu melompat, mungkin saja ia akan dilindas lalu-lalangnya kendaraan. Akan tetapi, sepertinya Eldrey memang akan melakukannya.
Dirinya memanjat pagar itu hendak melompatinya.
“Eldrey!!!” pekik keras Henry. Dirinya berlari semakin kencang.
Di saat gadis itu akan melepas satu pegangan tangan terakhir, Henry berhasil memeluknya dari belakang.
“Jangan lakukan ini Eldrey! Aku mohon!” pintanya berteriak. Beberapa orang di bawah yang menyadari ada seseorang ingin bunuh diri tiba-tiba berteriak dan menunjuk mereka.
Henry menariknya sekuat tenaga. Mereka berdua pun sama-sama jatuh ke belakang akhirnya.
“Kenapa, suara itu masih tak mau menghilang dari pikiranku?” gumam Eldrey tiba-tiba. Menyedihkan, dirinya meringkuk dalam keadaan bersujud.
Batin Henry merasa tersayat melihatnya. Terlebih saat dirinya sadar kalau tangan dan lengan kiri gadis itu diperban. Ada jejak darah mengering di sana.
Sekalipun Henry bodoh, ia tahu kalau kondisi Eldrey tidak baik-baik saja.
“Aku hanya ingin hidup dengan tenang.”
Seketika ia peluk Eldrey yang dalam posisi itu. “Maafkan aku,” lirihnya terisak. Tak tahu kenapa, air matanya tiba-tiba mengalir.
Mungkin dirinya hanya tak menyangka, kalau sosok yang disukai ternyata terpuruk dalam keadaan seperti itu. Selama ini Henry hanya tahu rupa cantik di luarnya, tak tahu siksa apa yang ada di pikirannya. Dirinya tak pernah mencari tahu untuk itu.
Waktu terus bergulir diiringi semilir angin malam. Henry bisa merasakan dinginnya kulit Eldrey, karena gadis itu cuma memakai baju kaos di luarnya.
Eldrey perlahan bangkit menatap sayu pada Henry. Dirinya tak lagi mendengar suara-suara itu. Semua memudar di balik pelukan hangat seseorang yang memegang tangan dan mengelus punggungnya. Menangis untuknya dengan alasan yang tak ia tahu kenapa.
“Henry?” panggil pelan Eldrey. Sepertinya kesadarannya mulai kembali. “Kenapa kamu menangis?”
Mendengarnya, pemuda itu segera menyeka air mata. “Maafkan aku.”
Seperti biasa, gadis itu selalu menampilkan tatapan mata lurus jernih untuk sekelilingnya.
Eldrey menyentuh dadanya sendiri, detak jantungnya sudah kembali normal.
“Bangunlah Henry. Orang-orang akan mengira aku melakukan sesuatu padamu,” lirih Eldrey.
“Ah, iya. Maafkan aku,” Henry tersenyum kecut di hadapannya.
Mereka berdua akhirnya berdiri.
“Aagh!” jerit Eldrey tiba-tiba jatuh terduduk kembali. Kakinya serasa hilang tenaga akibat meringkuk bersujud cukup lama.
“Eldrey! Kamu baik-baik saja?!”
“Tentu tidak bodoh! Ah-” Eldrey tak melanjutkan ucapannya karena sadar siapa di depannya. Henry melongo dibentak begitu.
Gadis itu segera mengalihkan pandangan. Henry perlahan mengulurkan tangan untuk membantunya.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Ini jauh lebih baik dari pada kamu lama-lama duduk di sana,” tukas Henry menggendongnya.
__ADS_1
“Aku berat. Aku ingin jalan sendiri.” Henry hanya tersenyum menanggapinya. “Seingatku kau cuma cengeng bukan tuli.”
“Aku ingin melakukannya,” tatapannya tampak bahagia. Eldrey terdiam memandang rupanya.
“K-kenapa kamu menatapku seperti itu?”
“Kupikir kau membenciku.”
“Kenapa juga aku harus membencimu?”
Gadis itu memandang langit-langit. “Entahlah. Turunkan aku Henry.”
“Tapi-”
“Turunkan aku,” tegasnya sekali lagi. Henry pun menuruti permintaannya.
Eldrey mencengkeram bajunya sendiri lalu memandang berkeliling.
“Jam berapa sekarang?”
“Sudah jam 21.58.”
Eldrey terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian ia melangkah ke arah yang berbeda dengan tempat di mana mobil Henry berada.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulanglah Henry. Tak baik mengikuti gadis sepertiku,” pinta Eldrey tak menatapnya.
“Tapi!” pemuda itu tak lagi melanjutkan. Langkah Eldrey di depannya tetap ia ikuti. Sampai akhirnya mereka tiba di depan pohon sakura yang bunganya bermekaran.
Gadis itu memandang lekat pohon di depannya.
“Aku baru tahu ada pohon sakura di sini. Setahuku mereka ditanam di taman kota,” ucap Henry tiba-tiba.
“Ya. Karena hanya ini satu-satunya pohon sakura di tepian.”
Henry terdiam. “Apa kamu menyukainya?”
“Mm.”
Henry tersenyum. “Jika aku tidak salah, bunga ini memiliki arti yang luar biasa.”
“Ya. Sangat luar biasa.”
Henry mengambil bunga sakura yang gugur akibat hembusan angin.
“Aku, juga sangat menyukai mawar merah.”
Gadis itu mengangkat tangan saat hentakan angin cukup kasar menyentuh kulitnya. Bunga-bunga indah di depan mata yang menyambutnya, lepas dari singgasananya dan terbang mengudara.
Gadis itu berhasil menangkap salah satunya. Ditatap lekat, begitu cantik dan menggoda mata.
“Tidak kusangka ada laki-laki yang menyukainya. Mungkin karena pria di sekelilingku membencinya,” ujar Eldrey sambil tertawa pelan dan menggenggam bunga itu.
“Apa ada bunga yang sangat kamu sukai?” tanya Henry.
“Forget Me Not, aku menyukai warnanya,” Eldrey pun melangkah pergi meninggalkan pemuda itu.
Henry terbungkam. Diliriknya punggung gadis yang mulai menjauh darinya. Perlahan, tatapannya seakan sendu. “Aku takkan pernah melupakanmu.”
Henry pun mengantar Eldrey pulang ke rumah. Sungguh, sudut hatinya penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi Henry menahannya, ia tak ingin bertanya, tidak di saat-saat seperti ini.
Perasaan yang ia coba tendang dari hati, semakin enggan pergi saat melihat sosok gadis itu. Dirinya benar-benar menyukai Eldrey dan ingin memilikinya.
“Eldrey. Apa besok kamu kuliah?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Mereka takkan mengizinkanku pergi.”
Henry mengira kalau yang dimaksud mungkin saja orang-orang di dalam rumah Eldrey.
“A-apa besok aku boleh menemuimu?”
“Mm.”
Henry pun mengukir senyum tipis. Mereka akhirnya tiba di depan gerbang rumah Eldrey.
“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Eldrey akhirnya.
“Sama-sama. Hati-hati di jalan Eldrey.”
Tangan gadis itu yang hendak membuka pintu mobil tiba-tiba tertahan. “Seharusnya aku yang mengucapkan itu.”
Henry pun tertawa pelan. “Aku ingin mengucapkannya.” Gadis itu membalas dengan senyum tipis tapi lengannya tiba-tiba ditahan Henry. “Jika ada apa-apa, tolong hubungi aku. Aku mohon,” pintanya.
Eldrey terdiam. Ia hanya mengangguk pelan sampai akhirnya benar-benar pergi dari mobil itu.
Seketika Henry menyandarkan tubuh, lalu menunduk dengan dahi menyentuh stir. “Aku, benar-benar menyukainya.”
Begitu tiba di dalam rumah. “Kau! Bukankah kau sedang tidur?!” tampak raut Charlie yang sedang membaca dokumen di ruang tamu kaget tak percaya.
Gadis itu tak peduli dan tetap berlalu di hadapannya.
“Nona!” ia menghadang langkah Eldrey secara terburu-buru. Di sentuhnya wajah gadis itu. “Kau, habis dari luar?”
“Lakukan saja tugasmu,” Eldrey menepis tangan itu dan meninggalkannya.
“Tuan!” panggil Rondolf tiba-tiba.
“Kita lengah. Tak kusangka obat tidur tak berpengaruh lama padanya. Bisakah kau periksa cctv? Aku ingin melapor pada bos.”
“Baik Tuan,” angguk Rondolf.
__ADS_1
Pagi harinya, Eldrey merasa tubuhnya sudah lebih baik. Walau dirinya masih tak bisa tidur dengan nyenyak karena takut jika suara-suara itu muncul lagi, tapi setidaknya ini tak lagi seperti sebelumnya.
Sarapan pun di antar ke kamar, dengan wajah ramah bibi Arda yang menyambut paginya.
“Nona, bagaimana keadaanmu?” Gadis itu hanya menatap diam. “Bibi sudah buatkan bubur untuk Nona. Tolong dimakan Nona,” sambil menaruhnya di hadapan Eldrey yang duduk bersandar di tepi ranjang. “Apa ada hal lain yang Nona inginkan?”
“Tinggalkan aku.”
Hanya kalimat itu. Wanita tersebut akhirnya mengangguk sebagai balasan dan pergi meninggalkannya.
“Bagaimana?” tanya Charlie.
Bibi Arda tersenyum kecut di hadapannya.
Charlie paham jika maksudnya gadis itu masih belum sembuh benar. Ia masuk ke dalam dan menatap tenang sosok di depannya.
“Nona, apa ada yang kau inginkan?”
“Tinggalkan aku.”
“Presdir ingin menemuimu.”
“Aku lelah.”
Charlie terdiam. Di sentuhnya gitar yang ada di sudut ruangan. Tak pernah lagi tersentuh oleh sang pemiliknya.
“Aku merindukan alunan musiknya.”
“Aku ingin sendiri.”
Tak ada senyum di antara mereka berdua. “Baiklah,” Charlie pun beranjak dari sana.
Di sebuah ruang makan, lagi-lagi kehebohan terjadi di dalam rumah itu. Tuan Kendal akhirnya menampar keras pipi Dean akibat ulahnya tadi malam. Sang anak baru saja pulang pagi ini.
“Berani-beraninya! Berani-beraninya kau bersikap seperti itu?! Kau pikir kau siapa?!”
Deru napas Dean memburu. Ketenangan yang ia tahan seakan mulai tipis kesabarannya.
“Kurang apa lagi Diana bagimu! Seharusnya kau bersyukur karena bisa bertunangan dengan gadis seperti itu!” bentak tuan Kendal.
Dean membalas amarah itu dengan tatapan kesal. “Bersyukur? Jangan membuatku tertawa Pa. Yang ingin aku bertunangan dengannya itu Papa. Jika Papa ingin sekali keluarga kita berhubungan dengannya maka suruh saja Kevin bertunangan dengannya, atau Papa yang jalin hubungan dengannya!”
PLAK!
“Dean! Dasar anak kurang ajar kau!” suara tamparan kedua diiringi amarah tak tertahan tersirat jelas dari wajah tuan Kendal.
Nyonya Julia hanya bisa menatap sambil beruraian air mata. Ia takut pada keadaan marah suaminya. Begitu pula Kevin. Dirinya tak bisa apa-apa. Tidak di posisinya yang hanya seorang anak kedua di rumah itu.
“Aku membesarkanmu bukan untuk jadi anak pembangkang seperti ini! Siapa yang mengajarkanmu begitu?! Tunggu! Apa ini karena kau sering bergaul dengan gadis miskin itu?!”
Ketiga wajah yang mendengarnya berubah ekspresinya.
“Jadi aku benar?! Kau begini karena gadis miskin itu? Pantas saja kau sering bersama dengannya. Kupikir karena dia pintar makanya bisa berteman denganmu dan putra tuan Harel. Jadi, apa ini karena kalian berhubungan?! Kau menyukainya?! Kau benar-benar menyukai gadis miskin itu?! Jangan pikir aku akan merestuinya!”
“Papa! Sudah Pa, hentikan!” Nyonya Julia mencoba menenangkan suaminya.
Seketika tangan istrinya ditepis kasar. “Ini semua karena keteledoranmu! Kau biarkan dia bergaul dengan anak miskin itu! Apa kau tidak tahu kalau tindakanmu ini sudah mencoreng nama keluarga?!” lanjutnya.
“Pa! Bagaimana bisa Papa bersikap seperti itu?! Mama tidak ada hubungannya dengan semua ini. Ini murni kesalahanku! Karena itu jangan bentak-bentak mama lagi!”
“Ini memang kesalahanmu! Lebih baik kau pergi dari rumah ini! Aku tak ingin lagi melihat wajah anak kurang ajar sepertimu!” tuan Kendal yang masih emosi memilih pergi ke kamar karena tak tahan dengan tangisan istrinya.
“Ma,” Dean merangkul mamanya.
“Kenapa kamu melakukan itu? Jika pertunanganmu batal, semua akan berdampak pada kehidupanmu Dean! Kenapa?!” Nyonya Julia menggoyang-goyang kasar bahu Dean.
“Kenapa? Bukankah Mama sudah tahu jawabannya? Aku akan semakin hancur jika melakukannya.”
Batin Nyonya Julia makin tersayat mendengarnya. Rasa sakit atas perlakuan suami, rasa sakit atas jawaban putranya, membuat ia tak bisa apa-apa kecuali beruraian air mata.
Dirinya hanya seorang ibu dan istri, tanpa kuasa besar untuk menggagalkan perintah suaminya, atau menerima keputusan putranya.
“Kevin,” saat Dean menatap adiknya yang terdiam membisu dengan wajah menampilkan emosi tertahan.
Pemuda itu segera pergi dari rumah tanpa bicara. “Kevin! Mau ke mana kau Kevin! Agh!” pekik Dean karena rasa sakit di pipinya.
Beberapa jam kemudian, dalam sebuah mobil, seorang pemuda tampak tersenyum riang.
Dirinya tak henti-hentinya melirik buket bunga biru itu. Rasanya, ini akan menjadi saat bersejarah dalam hidupnya. Begitu memarkirkan mobil tak jauh di dekat gerbang rumah tujuan, dirinya di sambut seorang penjaga.
“Tuan Muda? Ada yang bisa dibantu?”
“I-itu, aku ingin bertemu dengan Eldrey.”
“Nona? Tunggu sebentar,” tampak ia sedang menghubungi seseorang.
Beberapa saat kemudian, Henry pun dipersilakan untuk masuk. Akan tetapi, begitu memasuki rumah utama yang pintu masuknya memang terbuka, Henry dikejutkan oleh sosok empat manusia di depannya.
Siapa lagi, kalau bukan presdir Betrand, Charlie, Reynald dan Emily. Mereka sama-sama menatap pada Henry.
“A-a-aku ...” suaranya seakan tertelan udara.
“Siapa kau Nak?” tanya Charlie mendekatinya.
“A-a-aku, t-teman Eldrey,” ucapnya pelan. Tubuhnya gemetar karena aura Charlie yang dibalut setelan tanpa jas itu cukup mencolok.
“Teman?” tanya presdir Betrand.
Henry terdiam. Sosok pria yang duduk di kursi roda dengan alat infus masih terpasang ke tangan mengingatkannya pada Eldrey.
Mereka benar-benar mirip namun juga berbeda di saat bersamaan.
“I-iya Tuan.”
Sekarang presdir Betrand menatap diam ke arah buket bunga di tangannya. “Ini pertama kalinya aku melihat seseorang membawakan myosotis padanya.”
__ADS_1
Spontan Henry langsung melirik pada bunga Forget Me Not di tangan. “Karena dia menyukainya, jadi aku ingin membawakannya,” diiringi senyum olehnya.
Seketika, ekspresi di wajah presdir Betrand berubah. Rasanya, Henry baru saja melemparkan sesuatu yang tak terduga kepada dirinya.