
Charlie Stevano.
Dengan mengabaikan keadaan di rumah sakit, sosoknya pun memilih menyusul Eldrey.
Mengikuti gadis itu sambil berjalan di belakangnya.
Nyatanya putri Dempster tak pernah melunturkan tampang datarnya. Ketenangan miliknya patut dipertanyakan setelah semua.
Akan tetapi, suasana pelik masih menyelimuti rumah sakit.
“Seperti perkataan gadis itu, semua ini akan kubawa ke jalur hukum!”
Rahang Betrand menegas mendengar ucapan temannya. Berbeda dengan Kendal, ia tidak mengatakan apa-apa, selain membiarkan sang istri bersuara. Bagaimanapun hal ini jelas menjadi hantaman bagi Julia yang hampir kehilangan Kevin untuk kedua kalinya.
“Silakan, jika kalian memang mampu melakukannya.”
Pernyataan kepala keluarga Dempster tak hanya menyulut emosi Julia, tapi juga putra pertamanya.
“Kau—” tatapan geram terlukis di sana. Kepalan tangan begitu erat bahkan melukai telapak tangan nyonya rumah keluarga Cesar. Tiba-tiba tawa pelan mengalir di sela-sela bibirnya, ia pun melirik pria itu dengan pandangan meremehkan. “Apa kau masih belum puas?”
Suara Julia terdengar serak. Pertanyaan aneh yang ia lontarkan mengundang kerutan bingung di dahi para Dempster.
“Tak hanya menghancurkan bisnis keluargaku, kalian bahkan hampir membuat kakakku bunuh diri. Dan sekarang, kalian juga merenggut kehidupan putraku. Apa karena kalian kaya sehingga bisa bersikap semena-mena? Padahal putraku sangat mencintai putrimu itu. Di depan mataku sendiri ia berusaha mencarinya, mengabaikan semua wanita dan tetap memilih gadis itu bahkan jika dia bekas orang gila dari rumah sakit jiwa!”
“Julia!” bentak Kendal tiba-tiba.
Sang istri pun menatap tak percaya ke arah suaminya. “Apa kamu baru saja meneriakiku?”
Kendal pun seketika mengalihkan pandangan. Tak dapat dipungkiri kalau suasana benar-benar memanas.
Murka, itulah yang tercipta di wajah para penyandang nama Dempster.
“Tutup mulut anda, Nyonya,” Evan tiba-tiba bersuara. “Aku takkan mentolerir penghinaan apa pun untuk adikku.”
__ADS_1
“Kenapa? Aku benar bukan? Bahkan putraku mengabaikan hal itu. Dia yang buta karena cinta, menutup mata untuk masa lalu kelam gadis itu. Masa lalu kelam yang kalian miliki namun ditutup dengan kekayaan itu. Aku bahkan tak sudi memiliki ikatan dengan keluarga kalian!”
“Julia!” lagi-lagi Kendal menghardiknya. Bahkan sekarang dirinya menghadap sempurna pada sang istri, menatap wanita itu dengan pandangan rumit.
“Kenapa ka—”
Tiba-tiba pria itu mengangkat tangan kanan. Memaksa sang istri untuk terbungkam. Ingin membantah tapi ekspresi kepala keluarga Cesar tak bisa lagi ditentang.
“Jangan bicara lagi, Julia. Dan Dean, bawa ibumu pergi dari sini.”
“Tapi, Pa—”
“Aku tidak sudi! Kenapa aku yang harus pergi?! Seharusnya mereka! Karena anakku terluka gara-gara—”
“Cukup, Julia! Cukup!”
Di tengah kisruh itu semua pandangan pun terarah pada Kendal. Bahkan pihak keamanan juga datang hendak melerai mereka, mengingat keramaian yang tercipta sangat mengganggu suasana di rumah sakit.
Akan tetapi saat melihat sosok Dome Bosmova juga ada di antara orang-orang yang bertengkar, para petugas memilih mundur. Karena pria itu merupakan salah satu pendiri rumah sakit. Bersama seorang rekannya yang merupakan dokter spesialis kulit. Walau sudah pensiun, foto mereka berdua terpajang nyata di dekat gerbang.
“Kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita tak bisa menyalahkan Eldrey, karena—”
“Apa?!” potong Julia. “Kau berbicara seperti itu karena kau takut pada mereka!” tunjuknya pada suaminya dan keluarga Dempster secara bergantian. “Kau takut pada kekayaan mereka, kau takut perusahaanmu dihancurkan seperti perusahaan keluargaku bukan?! Jangan lupa, Kendal! Anakmu, Kevin! Darah dagingmu sendiri sudah ditembak putri mereka! Bahkan perusahaanmu itu tak ada harganya dibandingkan nyawa anakmu sendiri! Ingat ini, tak peduli apa pun yang terjadi! Aku pasti akan menjebloskan gadis itu ke penjara agar dia membusuk di sana dan merasakan apa yang sudah dirasakan putraku!”
Selesai mengatakan itu semua, sosoknya pun pergi dari sana. Diikuti Dean yang sempat menatap tajam keluarga Dempster. Sikap mereka tak luput dari pandangan orang-orang di sekitar, dan akhirnya tanpa mengatakan apa-apa Alice pun ikut menyusul suaminya.
Ya, dia dan Dean memang sudah menikah dua tahun yang lalu. Walau jelas sangat ditentang Tuan Kendal tapi kegigihan sang putra membuatnya luluh juga.
Tapi sebagai gantinya laki-laki itu tidak berhak mengelola aset keluarga. Walau namanya masih tercantum dalam pembagian warisan namun kendali bisnis keluarga Cesar sekarang berada di tangan ayah juga sang adik.
Ironis.
Mirip dengan yang dialami Betrand dan Anna. Tapi setidaknya Kendal tak pernah berpikiran untuk menghukum sang putra seperti keluarga Gates. Ia tak segila itu dalam menyakiti anak dan menantunya hanya karena rasa kecewa.
__ADS_1
“Maafkan aku,” anehnya justru Kendal yang mengatakan itu. “Maaf untuk semua perkataan istriku. Aku tidak akan membawa ini ke jalur hukum. Karena aku yakin putraku juga tidak menginginkannya. Semua pasti salah paham, jadi lebih baik kita tunggu Kevin untuk mendapatkan kejelasan. Bagaimana menurutmu? Betrand.”
Tak disangka pria itu sangat berlapang dada. Berbanding terbalik dengan kepribadiannya yang tersebar di luar sana. Dingin dan tegas sehingga membuat orang-orang enggan berurusan lama-lama.
Sementara Dome dan dua keponakannya sudah tak ada di sana. Di tengah pembicaraan mereka memilih pergi. Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa Timmothy dan Arabella ada di negara itu.
Mereka kembali atas perintah sang paman dan satu pesawat dengan keluarga Dempster.
Dan di satu sisi di sinilah Eldrey.
Di area pemakaman. Menempuh perjalanan hampir lima belas menit lamanya. Waktu yang terlalu melewati tengah malam setelah kejadian berdarah itu, tak sedikit pun mengundang kantuk.
Gelap di sekitar karena pagi masih beberapa saat lagi. tapi bukan berarti memamerkan suasana lengang. Masih ada orang-orang berlalu-lalang, bahkan hendak berjualan sarapan di pinggiran.
Tapi ketika menginjakkan kaki di pemakaman, ia pun berbalik. Menatap tenang pada sosok yang dari tadi terus mengiringi.
“Jangan ikuti aku. Kau, paham bukan?” ucapnya.
Tak jelas sejak kapan dirinya mengetahui keberadaan Charlie, namun pria itu mengangguk sebagai balasan. Memilih pergi ke tempat yang tak terjangkau pandangan putri majikan.
Di depan dua makam yang dihuni sepasang saudara, Patricia dan juga Paul, nama merekalah tertulis di nisan. Gundukan berumput bersih dengan buket layu menghiasinya.
Bunga lily yang tak lagi merona dan kehilangan cahaya.
“Aku datang lagi,” lirihnya pelan. Duduk di antara dua makam tanpa peduli kotor pada pakaian. “Bagaimana kabar kalian berdua?”
Tak tersirat takut di dirinya. Selain perlahan bersandar pada tanda pengenal milik seorang Paul. Dingin menusuk ke dalam tulang, tapi setidaknya trench coat Kevin cukup memberikan secercah kehangatan.
“Jujur saja, sepertinya aku sangat payah dengan lelaki,” ia terkekeh pelan. Menatap lekat gundukan makam gadis muda di depannya. “Jika dulu kamu terluka karena menyelamatkan aku, sekarang justru berbeda. Kevin tertembak karena mencoba menghentikan aku.”
Ia pun memandangi makam Paul lewat sudut mata. Perlahan hanya helaan napas yang terdengar menari di udara. Lambat laun sosoknya pun memejamkan mata.
“Aku lelah, semuanya.”
__ADS_1