
Napas memburu serta penampakan tidak tenang mewakili gadis yang dihampiri.
“Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?”
Menajam, penglihatan putri Dempster. Wajahnya memerah, keringat mulai turun, gairah tak biasa menyeruak pelan-pelan hendak membakarnya.
Debaran di dada tidak normal detakannya. Ia pun terperangah saat sentuhan disematkan pada bahunya.
“Kamu kenapa?” tanya Samuel dengan santainya.
“Kau, bajingan!” geramnya mengepal erat tangan.
Tapi hanya cengiran yang dibalaskan pemuda itu. Tiba-tiba tangannya merangkak naik menyentuh wajah Eldrey.
“Bukan salahku. Kamu saja yang ceroboh, Sayang. Jadi,” ia pun mendekatkan wajah hendak membisikkan sesuatu padanya. “Ingin kubantu?”
Tapi respons Eldrey benar-benar mengejutkan Samuel yang kesakitan. Karena gadis itu menghantamkan gelas ke kepalanya.
Erangan terlontar dari putra Jackson yang mendapati darah di area dekat dahinya.
“Kau!” Namun putri Dempster sudah lari. “Jangan pikir kau bisa kabur dariku!” marahnya.
Sosok yang terengah-engah dan bergerak panik itu langsung menerobos menuju lift tertutup. Dan tentunya menjadi tontonan beberapa orang yang kebetulan ada di area sana.
“Eldrey!” terdengar teriakan tak jauh di belakangnya.
Sontak saja gadis itu lari lagi dengan kondisi yang tidak baik-baik saja menabrak siapa pun juga. Kesialan baginya, karena lift tadi tak kunjung terbuka. Instingnya terus berbisik harus kabur bagaimanapun caranya.
Bahkan ia sampai terjatuh karena keseimbangan yang goyah akibat gairah gila di badannya.
“Sial! Brengsek!” marahnya.
Seseorang yang membuka pintu kamar tak jauh darinya pun kaget melihatnya.
Eldrey langsung menghampirinya dan mencekik leher gadis itu tanpa aba-aba. “Kunci pintunya!” paksanya saat menerobos masuk ke kamar. “Kunci!” hardiknya sekali lagi.
Diana yang syok pun menuruti perkataannya. Ya, dia calon tunangan Dean yang dipilihkan dengan gigih oleh Tuan Kendal.
Ia benar-benar ketakutan saat Eldrey menyodorkan pecahan kaca berlumuran darah yang entah dari mana di dapatkannya.
Sementara gedoran pintu secara kasar berkumandang di luar kamar. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Samuel. Karena ia dengan jelas melihat Eldrey masuk ke dalamnya.
Sakit dirasa putri Dempster akibat gairah tak tersalurkan dari badannya. Tubuhnya goyah dan ingin tumbang sekarang. Tapi kesadaran mengikatnya agar tidak kalah pada keadaan.
Waktu-waktu mendesak itu akhirnya membuatnya jatuh terduduk.
Diana yang panik pun langsung mencoba membuka pintu kamar. Tapi sayang Eldrey menyadarinya dan memukul kasar tengkuknya sehingga ia pingsan.
Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka tampaklah Samuel di sana bersama seorang pegawai Hotel menatap panik ke arahnya.
“Kau!” tekan putra Jackson melewati tubuh Diana dan mencengkeram kerah baju Eldrey. “Berani-beraninya kau memukulku!”
Eldrey yang tak berdaya pun memukulnya, tapi tak berpengaruh apa-apa karena kondisi obat perangsang yang memenuhi badannya.
Sorot matanya pun bertemu dengan penonton di luar kamar yang memandang kaget ke arahnya.
“Hei! Kau! Apa-apaan ini?!” teriak orang itu dan memukul Samuel tanpa aba-aba. Sehingga putra Jackson dan Eldrey pun tersungkur bersamaan.
Dialah Steven yang berniat ingin menuju kolam renang Hotel, tapi malah disuguhi tontonan aneh di salah satu kamar.
__ADS_1
“Stev! Hentikan Stev! Hentikan!” cegah seorang wanita dan pegawai Hotel yang tadi bersama Samuel. Mereka berusaha menahannya untuk tidak menghajar laki-laki itu.
Putra Jackson menjadi semakin tak berdaya akibat pukulan tiba-tiba teman Kevin serta ulah Eldrey sebelumnya.
Steven yang berhasil dilerai pun menghampiri gadis tergeletak itu. Tampak olehnya, Eldrey merintih sambil menggigit bibir bawah sampai berdarah. Seperti itulah siksaan obat perangsang yang memakan dirinya.
“Dia—”
“Kamu kenal?” tanya wanita yang melerainya tadi.
“Sial! Buka pintu kamar Cass! Cepat!” suruhnya sambil menggendong Eldrey.
Bahkan ditinggalkannya kekacauan yang ada. Menuju ruangan yang sudah dibuka dan berlalu ke arah kamar mandi.
“Hei! Kamu mau apa?!” kaget wanita itu melihat Steven mendudukkan Eldrey di samping bathtub.
“Ambil ponselku dan hubungi Kevin!”
“Untuk apa?”
“Lakukan saja Cass! Katakan pacarnya di sini!” suruh Steven sambil mengisi air di bathtub.
Sungguh ia tak menyangka akan menemui putri Dempster dalam keadaan seperti ini. Gadis itu jelas-jelas tersiksa sekarang.
Bahkan sentuhan lawan jenis begitu menusuk diri Eldrey, dia masih mencoba mengunci kesadarannya agar tidak menggila.
“P-per-gi.”
“Apa.”
Gadis itu menatap Steven dengan sorotan yang benar-benar tak dapat dilukiskan.
Tapi tak menyangka akan menyaksikannya langsung dari jarak sedekat ini, di mana korban obat itu memang sangat menggairahkan dan menggoda.
“Pergi!” bentak Eldrey bersamaan dengan masuknya cewek yang tadi bersama Steven.
“Hei, ada apa?!”
“Ayo kita keluar.”
“Apa!”
“Ayo!” ajak Steven sambil menarik tangan perempuan itu. Sekilas ia menoleh ke belakang, menatap iba pada Eldrey yang meringkuk di bathtub berair hangat dengan begitu tersiksa.
Sepertinya obat perangsang yang diminumnya begitu tinggi level dosisnya.
Kesadaran putri Dempster kian menguap. Mencoba meninggalkannya agar bisa mendapatkan bantuan untuk memenuhi hasrat yang menimpa.
Tiba-tiba senyum kecut terpatri di bibir perempuan itu. Dengan segala sensasi seksual yang terus memakan kewarasannya, ia tatap tangan kanan yang masih menggenggam pecahan gelas.
Ya, potongan kaca dari ulahnya memukul langsung kepala Samuel. Tentunya juga berdampak pada tangannya.
Tapi sekarang dia malah menyeringai dengan anehnya. Mengangkat pecahan itu tinggi-tinggi entah apa maksudnya.
Dan akhirnya adegan mengejutkan pun bersenandung dari tangan kiri yang dihujam olehnya.
Eldrey melukai telapak tangannya agar bisikan di dirinya tergantikan oleh sakit fisik yang dirasa.
Dia memang harus melakukan itu untuk melawan dampak obat perangsang yang jelas-jelas bergumam untuk dilayani sebagaimana mestinya.
__ADS_1
Semakin sensasi aneh menggeliat di dirinya, kian ia perlebar sayatan di telapak tangannya.
Sampai pintu terbuka dan dihiasi teriakan tak disangka-sangka.
“Eldrey!” kaget Kevin melihatnya dan langsung menyentak tangan gadis itu. “Apa yang kamu—”
Bukannya erangan justru desah pelan tersembur dari mulutnya. Kevin syok melihat kondisi Eldrey yang seperti itu.
Dia terdiam menyaksikan keadaan mengenaskan putri Dempster. “Tunggu sebentar, aku akan carikan minum dan obat.”
“Bagaimana?” tanya Steven begitu Kevin keluar dari kamar mandi.
“Tolong carikan obat luka.”
“Apa! Untuk apa?!”
“Tangannya terluka, cepatlah Stev!” suruh Kevin dengan tampang gusar.
“Cass! Minta air putih yang banyak!”
“Baiklah, tunggu sebentar.”
Kevin kembali lagi ke kamar mandi dan mendapati Eldrey menekan luka di telapak tangannya.
Dia menghampirinya tanpa menyentuhnya.
“Bagaimana rasanya?”
Eldrey tak menjawab kecuali terus melirik tangannya. Sensasi mengerikan jelas-jelas merangsang area tertentunya.
Helaan napas kasar terlontar dari mulut pemuda itu. Dan beberapa saat kemudian perempuan yang tadi bersama Steven pun masuk ke sana membawa tiga botol air putih.
Buru-buru Kevin menyambarnya, membuka dengan cepat tutupnya dan menyodorkan ke arah bibir luka putri Dempster.
“Hei kau gila?! Menyuruhnya minum di sini!”
“Diamlah!” tanpa aba-aba disentuhnya dagu Eldrey. “Minumlah. Ini akan membuatmu baikan.”
Jujur saja, sentuhan Kevin jelas menggodanya. Tapi Eldrey masih bisa menahan kesadarannya, meminum air itu tanpa berpikir panjang mengingat kondisi gilanya.
Bahkan jika serasa ingin muntah, ia paksa terus meneguk air itu. Setidaknya mungkin bisa membantunya melarutkan efek obat di badan dan menghilang dampaknya bagaimanapun caranya.
“Hei!” Steven datang tiba-tiba dengan napas terengah-engahnya. “Ini,” sodornya.
Untungnya ia bisa mendapatkan kotak P3K dengan cepat dari salah satu staf Hotel.
“Sekarang keluarlah!”
“Keluar? Tunggu kau tidak akan melakukan itu pada—”
“Diam bodoh! Keluar dan tutup pintunya!” Kevin mengulangi ucapannya.
Perempuan yang membawa air minum pun langsung merebut bawaan Steven dan menaruhnya dekat bathtub.
“Ya sudah, ini. Ayo Stev, jangan ganggu mereka!” ajaknya menarik paksa sang pemuda.
Steven pun menatap tak percaya dan masih bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Kevin pada Eldrey selanjutnya.
__ADS_1