
“Brengsek!” pekiknya mencoba bangkit dari posisinya. Segera dirinya lari dan memegang handle pintu agar terbuka.
Tapi seketika tangannya tertarik ke belakang dengan kasarnya. “Mau ke mana? Jangan lupa kalau kau harus melayani kami, sayang,” ucap pria berambut diikat itu.
“Lepaskan aku brengsek! Jangan coba-coba untuk menyentuhku!” rontanya sambil memukul-mukul dada pria itu agar terlepas. Tapi, bukannya bisa terbebas, tubuh Patricia justru digendong paksa di bahunya.
“Cantik-cantik tapi seperti kucing liar,” seringai laki-laki yang menarik dasinya agar kian terlepas. Tanpa di duga ia lemparkan dasi itu pada pria yang masih menindih Patricia. “Ikat saja tangannya. Ayo nikmati selagi hangat.”
“Diam kau keparat! Jika kalian berani menyentuhku, akan kubunuh kalian semua!” teriak keras Patricia sambil beruraian air mata.
Tapi, tiga lawan jenisnya hanya bisa tertawa. Begitu puas melihat perlawanan yang diperlihatkan gadis di depannya.
Salah satunya, akhirnya menjajaki mulut gadis meronta itu dengan minuman di atas meja. Bagi Patricia, dirinya yang tak pernah meminum minuman beralkohol tersebut langsung dihantam sensasi tak menyenangkan di dalam kerongkongannya.
Bahkan jika tubuhnya meronta, tapi para pria itu memeganginya tanpa iba. Air mata kian terurai serasa ingin melepaskan ketakutan dan kesedihannya. Tawa mereka menyelimuti ketidak berdayaannya.
Lebih rendah dari binatang, merudapaksa seorang gadis yang tak tahu apa-apa akan salahnya. Menodainya dan merebut kehormatannya tanpa kasihan. Dihakimi oleh tiga pria, sambil tertawa dan tersenyum puas akan pelayanan yang di dapatkan.
Seolah ketiganya lupa, kalau mereka memiliki sosok wanita dalam hidup pertumbuhannya. Dan para pria tersebut, sekarang sedang menghancurkan sosok yang sejenis ibu atau saudara perempuannya itu.
Matinya nurani dan rasa iba, dalam menghargai perempuan karena ***** bejat semuanya.
Dan di balik kehancuran Patricia, dirinya beruraian air mata. Sensasi sakit menghujam dirinya hampir di seluruh tubuhnya. Bukan hanya pada rusaknya kehormatan yang dijaga, tapi juga pada hati dan masa depan telah menyiksanya saat ini tanpa terkira.
Tapi, di dalam kesibukan semuanya, sosok-sosok itu tampaknya tak sadar akan kehadiran seseorang bersama mereka. Pintu yang telah terbuka dari tadi, menyaksikan tontonan di depan mata.
Dirinya hanya diam memandangi apa yang dilihatnya. Penindasan seorang gadis yang ia kenal namun sangat menyedihkan untuk dilukiskan kondisinya.
Sampai akhirnya, korban pelecehan yang masih dinikmati mereka dengan kejam pun menyadari kehadirannya.
“E-El-drey?”
__ADS_1
Terkesiap. Tiga pria yang menyiksanya, menatap kaget pada pintu terbuka. Tampaklah oleh mereka, remaja 16 tahun dengan wajah datar di muka.
“Woah, lihat ini. Siapa kau?!” pria dengan rambut dikuncir langsung memperbaiki dandanannya dan mendekati sang gadis muda. Dibukanya pintu lebar-lebar. Agar teman-temannya, bisa melihat dengan benar seperti apa sosok tikus pengintai di hadapan mereka. “Apa mungkin kamu temannya?” tangannya lalu terulur menyentuh wajah putri Dempster yang diam.
Sorot mata Eldrey, masih belum lepas dari penglihatan kesakitan Patricia.
“Kenapa diam saja? Ingin bermain dengan kami juga?!” tanya pria yang masih berposisi di atas gadis tersiksa. Dirinya menyeringai, lalu memainkan mata pada temannya itu.
Tentu saja pria berambut terikat memahami maksud penglihatannya. Menyeringai tipis dan langsung menarik tangan putri Dempster agar masuk dengan benar ke sana.
“Bagus! Santapan selanjutnya!” laki-laki yang termuda tertawa memandangi sang gadis belia dari atas ke bawah.
Dan Eldrey, melirik masam cengkeraman pria yang sudah memaksanya masuk itu. “Kenapa menatapku begitu? Kamu datang ke sini karena ingin melayani kami juga kan?” tangannya lalu merangkul pinggang ramping sang gadis.
“Melayani kalian? Bukankah kalian sudah dilayani olehnya?” Eldrey akhirnya bersuara sambil menatap Patricia.
Kalimat itu jelas menyentak kesadaran sang gadis muda. Merasa terluka akan ucapan putri Dempster yang dikenalnya.
“Binatang.”
Selesai satu kata dikumandangkan, teriakan keras akhirnya melolong dari sosok berusia 37 tahun. Dirinya meronta kesakitan, karena jari tengah tangan kanannya dipatahkan gadis dalam rangkulan. Tentu saja teman-temannya dibuat kaget karenannya.
“Kau!” geram pria berkemeja merah itu. Eldrey tak meliriknya karena memandangi sosok yang kesakitan di sebelahnya.
Dan tanpa aba-aba, ditendangnya pinggang dia yang masih menangisi kondisi jari patahnya.
“Kau!” laki-laki berusia 28 tahun itu akhirnya bangkit memburunya dan menarik kerah baju Eldrey. “Gadis keparat! Agh!” erangnya kesakitan karena putri Dempster memukul lehernya.
Napas terasa tercekat dan sempat berhenti mendadak akan serangan tak terduga di leher itu. Salah satu titik mati dalam menerjang musuh bagi seseorang yang ingin melindungi diri.
“Kau!” geram pria berkemeja merah. Sontak saja Eldrey menendang salah satu gelas di depannya sehingga mengenainya.
__ADS_1
“Beraninya kau memukulku!” dan rambut Eldrey pun dijambak oleh dia yang sempat kesakitan di leher.
“Sakit brengsek!” seringai putri Dempster memukul tepat ke arah telinganya. Seketika denging berkumandang di dalam sana dan ia mainkan kakinya ke arah dada lawannya sehingga jatuh ke atas meja.
Suara keras dari tubuh yang tersungkur itu begitu berisik di dalam sana.
Tiba-tiba, suara pecahan dari botol minuman mewah yang dipukulkan tepat membentur lengan Eldrey pun menggelora. Seandainya ia tidak memasang kuda-kuda bertahan, bisa dipastikan serangan barusan menghajar kepalanya. Tapi, senyum tipis berkumandang di bibir, sambil dihiasi goresan di pipi akibat pecahan kaca sempat melukainya.
“Dasar sialan!”
Eldrey tersentak. Saat menyadari kalau pria yang ia patahkan jarinya membokongnya dari belakang. “Bunuh dia!” perintahnya pada rekannya yang memegang pecahan botol kaca.
Seketika Eldrey langsung menaikkan kedua kakinya, menghantam lawan di depan dan membuat musuh di belakang kehilangan keseimbangan dalam menahan badannya. Tanpa aba-aba gadis itu berbalik dan menindih leher sang pria.
Tapi, refleksnya memang luar biasa. Dirinya langsung menyadari jika ada serangan mendadak dari laki-laki berusia 27 tahun. Sekarang dirinya benar-benar dikeroyok oleh mereka.
Tanpa keraguan, dikeluarkannya pistol dari saku jacket kulitnya sehingga mereka tersentak dibuatnya.
“Kau! Kau siapa?! Polisi?!” pekik pria yang dibalut kemeja merah itu.
“Bagus sekali, ruangan ini kedap suara,” seringainya tiba-tiba mengabaikan pertanyaan. Pelatuk ditarik dan tembakan tak terduga langsung dilayangkan tepat menembus mata kanan dia yang tadi berbicara.
Dan akhirnya, sosok berkemeja merah itu tersungkur beruraian air mata darah.
“Smith!” pekik kedua rekannya bersamaan.
“Kau!” geram laki-laki berusia 27 tahun itu. Tanpa peduli ada pistol di tangan lawannya dia langsung menerjang maju. Tentu saja Eldrey sudah siap dengan siksaan miliknya. Karena tembakan selanjutnya, mengenai tepat leher musuh bejatnya.
Seketika teriak ketakutan berhamburan dari pria dengan rambut dikuncir kuda. Seolah lupa akan kondisi salah satu jarinya yang patah, dia mencoba menggapai pintu keluar di belakangnya.
Dan Eldrey tanpa ampun menembak lengannya. Raungan berkumandang keras di dalam sana. Mereka yang tadinya merudapaksa gadis tak berdaya di sofa, sekarang harus menerima bayaran dari kehadiran Dewa kematian berupa manusia.
__ADS_1