FORGIVE ME

FORGIVE ME
Dia yang dihantui halusinasi


__ADS_3

Eldrey mengukir senyum akan keberhasilan rencana liciknya. Tapi, senyum itu tak bertahan lama karena ada panggilan Betrand untuknya lewat pelayan.


Dengan wajah masih menatap lekat cermin, gadis itu akhirnya berpaling. Menyusuri jalanan demi menemui sang ayah yang masih ia hormati sampai saat ini.


“Eldrey?” presdir Betrand menatap kaget pada keadaannya. Pipi memar dan tangan kiri diperban. Dokter Arlene dan Charlie yang ada di dalam terdiam, sampai akhirnya mereka pergi meninggalkan ayah dan anak itu berdua.


“Apa yang terjadi?”


Eldrey masih belum menjawab apa pun kecuali berjalan mendekatinya. Presdir Betrand yang terbaring melirik tajam putrinya.


“Aku sudah dengar semuanya dari Charlie.”


“Cih! Anjing sialan!” gerutu pelan Eldrey.


“Apa kamu harus melakukan ini? Bagaimanapun Lily sepupumu.”


Gadis itu mendecih. “Sepupu? Setelah mendengar apa yang dia lakukan Ayah masih berpikir begitu?”


Presdir Betrand belum menanggapinya. “Jadi, apa Ayah lebih suka aku yang hancur? Kalau begitu kenapa tidak bunuh saja aku?”


“Eldrey!”


Gadis itu memalingkan wajah akhirnya. “Apa pun yang kulakukan selalu salah. Aku hanya ingin hidup tenang!”


“Eldrey, ayah hanya tak ingin terjadi sesuatu padamu. Hanya itu! Apa kau tidak tahu jika hatiku sakit melihat keadaanmu yang seperti ini?! Bagaimanapun kau seorang perempuan!”


Gadis itu tertawa pelan. “Ya, aku perempuan. Benar, apa yang bisa dilakukan perempuan untuk melindungi dirinya sendiri? Bahkan jika memiliki kuasa dan uang, masa lalu dan perasaan perempuan yang hancur tetap tidak bisa diselamatkan.”


“Eldrey.”


“Aku sudah lelah Ayah. Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah dengan tekanan ini. Aku sudah terlalu lelah dengan hidup ini,” gadis itu tersenyum kecut di hadapan ayahnya.


“Eldrey! Apa yang kau bicarakan!”


“Semoga kau cepat sembuh Ayah.” Gadis itu pun pergi meninggalkannya.


“Eldrey. Eldrey!” panggil presdir Betrand walau hasilnya nihil.


“Tuan?” Charlie tiba-tiba muncul.


“Kawal dia! Jangan sampai dia berbuat sesuatu yang tidak-tidak!”


“Baik!” Charlie segera menyusul gadis itu. Ia tak tahu apa yang terjadi, tapi dirinya yakin kalau matanya tak boleh berpaling dari Eldrey sedikit pun.


“Nona?!” panggilnya membuka lancang pintu kamar.


Tampak gadis itu berdiri diam dan meliriknya lewat sudut mata dengan ekspresi dingin.


“Di mana sopan santunmu?”


Charlie terbungkam. Nada suara yang menekan, berdasarkan pengalamannya lebih baik tak berduaan dengan gadis itu saat ini.


“Aku hanya ingin memeriksa keadaanmu. Jika ada apa-apa tolong beri tahu aku. Aku akan menunggu di luar,” jelas Charlie meninggalkan ruangannya.


Sekarang, hanya ada Eldrey sendiri. Sorot mata kosongnya menghiasi wajah cantiknya.


Di tatapnya cermin. Tak ada ekspresi di sana. Semua yang sudah ia katakan, lakukan, dirinya tak bisa merasakan apa pun. Eldrey tak tahu apa yang ia inginkan. Rasanya, semua yang ia perbuat cuma sekedar pelepas kebosanan.


Sudah beberapa hari, Eldrey, Naomi dan Lily sama-sama tidak kuliah. Gosip pun semakin menyebar, terlebih ketiganya tidak menampakkan wajah di kampus.


Tentu saja pemberitaan itu telah sampai ke telinga anak-anak kampus Xercoln. Tiga serangkai, dari Steven, Kevin dan Henry sampai tak percaya dengan berita di depan mata. Tapi ada satu hal yang masih menjadi tanda tanya, kenapa Eldrey juga tidak kuliah seperti kedua gadis itu?


Gosip tentang perempuan yang terkenal pintar itu cukup populer di jagat maya, terlebih berita kalau dirinya dan Lily merupakan sepupu makin tersebar.


Tentu saja orang lain sudah mengira, kalau Lily dan Naomi tak berani menampilkan wajah mereka karena skandal itu. Akan tetapi, bagaimana dengan Eldrey? Sepertinya, tidak ada yang tahu kalau kondisi emosi gadis itu semakin memburuk akhir-akhir ini.


Walau masalah tuntutan sudah ditarik Eldrey, tapi justru fakta baru muncul kembali. Sang pelaku pelecehan pada Lily dan Naomi, ternyata merupakan orang-orang suruhan Lily. Mereka mengakui, kalau merasa kesal tak bisa menikmati Eldrey akibat adanya gangguan.


Jadi akhirnya, beralih meniduri Lily dan Naomi atas kesepakatan masing-masing. Gadis-gadis itu sendiri yang menyodorkan tubuh mereka untuk dinikmati. Tentu saja terjadi karena keduanya ada di bawah pengaruh obat perangsang.


Dan ternyata, hal tersebut telah direkam. Sehingga para pelaku tak bisa dipenjarakan pihak Gates ataupun keluarga Naomi.


Siapa yang bisa mengira? Kalau semua merupakan rekayasa licik dari Eldrey. Gadis itu memanipulasi keadaan, membuat orang yang ia benci semakin hancur dan para tersangka bersih namanya.

__ADS_1


Hanya Lily dan orang-orang di kediaman presdir Betrand yang mengetahui ini. Gadis itu bersumpah, akan membalas Eldrey apa pun yang terjadi. Ia takkan pernah mengampuninya, tidak sampai dirinya mati.


Akan tetapi sekarang, Eldrey justru meringkuk diam di kamar sambil menonton televisi. Rambut yang masih basah siap mandi, mata kekurangan cahaya untuk hidup, dengan tubuh bersandar ke tepi ranjang, itulah kondisinya saat ini.


Memar di wajah mulai memudar, tapi luka di tangan malah bertambah sayatannya. Gadis itu, kembali menggoreskan luka di lengan kiri. Hal tersebut pun membuat hari-harinya hanya dipenuhi kawalan para pelayan.


Walau semua terjadi, karena mimpi buruk yang tiba-tiba menghantuinya.


Siapa yang bisa menyelamatkan gadis itu? Semakin hari, kondisi psikologis Eldrey makin rusak tanpa bisa di apa-apa kan lagi.


Mengirim psikolog padanya hanya akan memperparah suasana. Sedangkan presdir Betrand tak tahu lagi harus melakukan apa demi kesembuhan Eldrey.


Rasanya, dunia benar-benar menghukumnya lewat kesehatan mental putrinya.  


Di sebuah restoran, tampak Kevin sedang menikmati makanan. Dirinya tidak ingin pulang, terlebih fakta kalau Diana dan ibunya datang ke rumah untuk menemui Dean.


Ia benar-benar tak ingin terlibat dalam suasana pelik itu, karena Kevin yakin ekspresi Dean mungkin saja menimbulkan kegaduhan. Dirinya jenuh dengan pemandangan pura-pura di dalam keluarganya.


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang wanita yang sudah memesankan makanan untuk mereka berdua.


Lawan bicaranya tetap diam, menatap permen tangkai yang masih belum ia makan.


“Apa lagi? Hanya waktu yang bisa menyembuhkannya,” jelas pria itu lalu memakan permennya.


“Kau tahu masalahnya Charlie. Nona takkan sembuh jika dia tetap dibiarkan. Setidaknya psikoterapi akan membantunya.”


Kevin terdiam. Nama dan suara itu rasanya tak asing baginya. Seketika ia menoleh ke belakang, hanya tampak sebuah dinding kursi yang tingginya melebihi dirinya.


“Kita sudah sering melakukannya dan semua selalu gagal. Cuma bertahan beberapa saat takkan terlalu membantunya,” jelas Charlie menyentuh meja dengan ujung telunjuk tangan kanannya.


Dokter Arlene terdiam, terlebih saat pelayan mengantarkan pesanan mereka.


“Lalu apa? Dia masih muda. Masa depannya masih cerah, tak seharusnya nona hancur hanya karena dia seorang psikopat!”


“Jadi kau ingin aku bagaimana? Aku cuma bawahan. Aku juga ingin Eldrey sembuh, tapi tak ada celah untuknya. Dia selalu menggila saat psikolog menguras masa lalunya.”


Kevin terbelalak. Kepalanya masih tak bisa berhenti berpaling menatap ke belakang. Eldrey, nama itu muncul tiba-tiba dan ia seorang psikopat? Itu Eldrey yang ia kenal bukan? Karena setahunya nama tersebut cukup langka dan tak banyak yang memilikinya di negara ini.


“Bagaimanapun hanya itu satu-satunya cara untuk bisa menyembuhkannya,” dokter Arlene akhirnya mengambil garpu menusuk steak pesanannya.


“Tapi masalahnya, kita harus bisa membuat nona membuka hatinya bahkan jika sedikit saja. Dengan begitu akan ada celah untuk mengusik masa lalunya.”


Charlie menatap masam pada wanita di depannya. “Dan menurutmu, siapa yang bisa melakukan itu?”


Dokter Arlene terbungkam.


“Ayahnya yang payah? Ibunya yang cuma bisa menangis. Kakaknya yang tak terlalu mengenalnya? Atau mungkin para bawahan yang banyak menghabiskan waktu dengannya? Ah, atau teman-teman semu yang entah ada atau tidak?”


“Charlie!”


“Aku serius Arlene. Aku sudah bertahun-tahun bersamanya. Tak ada yang mampu membuatnya tertawa tulus bahkan jika hanya sekali saja.”


“Tapi madam-”


“Mempertemukan mereka sama saja  membunuhnya. Rasa benci pada Betrand ia alihkan pada ibunya. Aku bahkan tak tahu lagi yang mana dirinya yang sebenarnya.”


Dokter Arlene terdiam. Makanan di depan mata masih belum ia makan.


“Dia masih terlalu muda,” gumam wanita itu.


“Andai ada harapan sedikit saja, mungkin ...” Charlie tak melanjutkan.


“Dia sangat mirip denganmu,” sahut dokter Arlene.


“Ya. Tapi ironis. Betrand yang mengeluarkanku dalam keterpurukan justru tak bisa melakukan hal yang sama pada putrinya.”


Akhirnya keduanya sama-sama terdiam. Beberapa saat pun berlalu dengan kepergian mereka. Namun, sosok pencuri dengar justru masih tertahan di sana.


Kevin tak mengira baru saja mengetahui fakta luar biasa. Kalau kenyataannya putri dari pebisnis tersohor Betrand seorang psikopat. Walau sudah melihat gejalanya, ia masih tak yakin karena mungkin saja sikap Eldrey itu merupakan pengaruh dari kekuasaan keluarganya.


Malam harinya, tiba-tiba seorang gadis bangun tidur secara mengejutkan. Napasnya terengah-engah, keringat di pelipis, sorot mata memerah mewakilkan keadaannya.


Ia memeluk diri secara erat, bahkan rasa sakit di tangan kiri tak berarti apa-apa. Saat Eldrey menatap ke sekeliling, kamarnya tampak sepi.

__ADS_1


Sorot mata yang tak tenang seakan menyiratkan kalau dirinya tidak baik-baik saja.


Seketika Eldrey bangkit. Tubuhnya yang pusing tak berarti apa-apa. Dirinya masih tetap melangkah, menyusuri ruang demi ruang yang tampak sepi.


Bukannya tak ada pelayan di sana, cuma saat ini mereka berada di lantai satu atau rumah utama mengingat Eldrey sudah diberi obat tidur tadi sore.


Siapa yang akan mengira jika gadis itu sudah bangun sekitar pukul 21.00 malam? Mengingat efek obat tidur bisa bertahan sampai 6 sampai 8 jam.


Sekarang, Eldrey pun sampai di dekat jendela lantai dua dan membukanya. Terlihat sebuah pohon jacaranda besar di depan mata. Dahan kokohnya begitu dekat hampir membentur dinding.


Eldrey melompat ke sana, berjalan dengan kaki gemetar menatap ke bawah. Dirinya berhasil turun dengan selamat sambil menatap sekeliling.


Tatapan seperti orang bingung merekah di wajahnya. Ia kembali menyentuh kepala, seakan ada yang tidak beres dengannya.


Di tempat berbeda, seorang pemuda mengendarai mobil dengan kesal. Ia begitu jengkel pada sang teman yang sudah mengurung dirinya dengan wanita aneh.


Siapa lagi kalau itu bukan Henry dan Steven. Pengakuan jujur Henry tentang penolakan mentah-mentah Eldrey justru mendapat balasan ledekan keras dari Steven.


Demi sang sahabat Steven pun mengajaknya menghabiskan hari di sebuah karaoke bersama para gadis cantik yang sudah diundang.


Tapi, di tengah acara Henry justru kabur karena tak tahan dengan pesona para gadis yang sibuk menanyainya berbagai macam hal.


“Sialan kau Steven! Awas kau!” gerutunya.


Tapi, saat mengendarai mobil secara santai dirinya justru merasa berhalusinasi.


“Apa ini?! Kenapa kau bodoh begini Henry! Kau sudah ditolaknya bagaimana bisa kau masih memimpikannya?!” Henry memukul-mukul kepalanya ke stir. “Sadar bodoh! Sadar! Sadar! Sadar!” teriak Henry tak karuan.


Mobil pun berhasil melewati sosok halusinasi di sampingnya. “Sial! Kenapa aku masih bisa melihatnya?! Jangan bilang karena terlalu menyukainya kau akan membayanginya sepanjang jalan!” ocehnya kembali.


Semakin lama sosok yang ingin dihapus dari ingatan tak memudar dari penglihatan. Akan tetapi, tiba-tiba Henry teringat sesuatu.


“Tunggu! Kalau itu benar-benar Eldrey bagaimana?! Seharusnya aku memeriksanya!” pekik pemuda itu memutar laju mobil secara spontan.


Dalam dinginnya malam, diiringi guguran dedaunan pohon horse chestnut, Eldrey melangkah pelan tak tentu arah.


Seolah bisikan-bisikan mulai membayangi diri di antara kesadarannya. Dirinya, seakan dihantui halusinasi.


“Bagaimana rasanya?”


“Diam kau!”


“Salahkan ayahmu karena kau tersiksa seperti ini.”


“Diam kau!”


“Cepat atau lambat kami akan menghabisimu.”


“Diam kau!”


“Luka ini, akan menjadi hiburan bagi kami.”


“Kubilang diaaaam!” teriak keras Eldrey memecah malam.


Orang-orang yang jumlahnya tak begitu banyak di sekitar, menatap kaget pada gadis yang jatuh terduduk sambil menutup kedua telinganya.


Napasnya makin tersengal-sengal diiringi detak jantung tak normal. “Diam kau! Diam!” teriak Eldrey sendirian.


Tiba-tiba, seseorang menarik tangannya.


“Eldrey,” matanya masih menatap tak percaya pada apa yang terlihat di depan mata. Gadis itu memandang tak berkedip padanya, salah satu tangan yang masih menutup telinga mulai melepas sentuhan.


“Eldrey. Kamu kenapa? Ada apa?!” tanya Henry menyentuh kedua bahunya.


Tapi, deru napas memburu gadis itu masih belum berhenti. Ia menatap lekat pemuda di depan mata seakan enggan melepaskannya.


“Apa yang baru saja terjadi?” gumam Eldrey tiba-tiba.


Dahi Henry berkerut bingung mendengarnya. Seolah yang di depannya bukanlah sosok yang ia kenal.


Orang-orang yang lalu lalang mulai berbisik melihat mereka. Tanpa pikir panjang Henry menarik lengan gadis itu untuk memasuki mobilnya.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2