FORGIVE ME

FORGIVE ME
Sang Penari


__ADS_3

Langit yang mendung. Seorang gadis kecil menatap keadaan sekitarnya. Sampai seorang bocah laki-laki datang dan tersenyum kepadanya.


“Kakak sebentar lagi pulang. Kamu jangan ke mana-mana ya? Nanti kita tunggu ibu bersama-sama, oke?”


“Oke,” angguk sang anak perempuan dengan membalas senyuman yang dipamerkan kakaknya.


Dan bocah laki-laki itu pun pergi meninggalkan adik kecilnya di kursi pinggiran. Tempat duduk yang bersandar pada tepian dinding.


Sebagai penantian bagi mereka yang menunggu jemputan dari orang tuanya.


“Aduuh! Lama sekali sih,” keluh seorang gadis kecil yang duduk di sebelah anak perempuan tadi. Terlihat ia masih menggerutu panjang sambil sesekali memanyunkan bibirnya.


Di tangannya, ada sebungkus cemilan berupa stik keju rasa original. Snack yang lumayan populer dan disukai di kalangan anak-anak.


Lalu, pendatang itu pun menoleh pada sosok di sebelahnya. “Hai! Bulu matamu lentik sekali Dik,” kalimat pertama yang diucapkannya sambil menyodorkan sesuatu di tangan.


Gadis tadi hanya diam menatap anak perempuan yang tampak setahun dua tahun lebih tua dari kakak laki-lakinya.


“Ayo dimakan. Ini tidak beracun lho, rasanya juga enak,” dirinya masih kukuh membujuk sosok di sebelahnya untuk ikut makan.


Perlahan, dengan tampang malu-malu gadis kecil tadi ikut memakan apa yang disajikan. Begitu lucu ekspresinya, pipinya berisi seperti seekor tupai. Membuat sang pemilik snack memajukan tangannya lalu menusuk-nusuk pipi gembul di pandangan.


“Aku sering melihatmu. Kamu imut sekali, mau berteman denganku? Oh ya, Patricia. Itu namaku. Namamu Eldrey bukan? Salam kenal,” gadis itu pun tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Eldrey.


Sosok berpipi gembul itu pun membalas uluran tangan sang kakak kelas sambil mulut tetap mengunyah.


“Salam kenal,” itulah balasan dari putri Dempster sambil memamerkan senyum kotak miliknya setelah semua makanan ia telan sepenuhnya.


“Eldrey!” panggil seseorang tiba-tiba.


Gadis itu tersentak, dan mengedipkan mata beberapa kali karenanya.


Sekarang ia tersadar. Suasana begitu pengap di sekitarnya. Ruangan cukup besar namun cahaya lampu agak temaram.


Akhirnya, Eldrey menyadari bagaimana kondisinya. Tadi itu hanya mimpi. Namun bermandikan kenangan masa lalu miliknya.

__ADS_1


Suara Evan kecil yang memanggilnya, telah membangunkannya dari pingsan tadinya.


Dan di sinilah dia. Dengan tangan terikat tali namun digantungkan ke tonggak besi. Sebuah penopang di mana samsak biasanya bergantungan untuk para-para pemuja latihan.


Tapi ada satu yang tak ia mengerti. Adanya sosok seperti Alice dan Lily bernasib sama seperti dirinya. Dalam keadaan masih menutup mata, atau pingsan karena ulah tak berperasaan orang yang sudah memukul perempuan.


“Sudah sadar?”


Perlahan, sorot mata Eldrey yang terarah pada Alice pun bergerak menemui sang pemilik suara.


Tertegun menatapnya, dan tertawa pelan setelah menyadari apa maksud dari ini semua.


“Sadar juga kau brengsek!” hardik Naomi marah lalu menampar pipinya. Ujung bibir putri Dempster pun terluka karenanya. “Bagaimana? Kau pasti tak menyangka kan karena bisa melihatku lagi. Kau pikir, aku akan enyah begitu saja? Asal kau tahu Eldrey, aku kembali dari neraka bernama penjara untuk menghukummu dan juga sepupumu!” lalu pukulan pun dihantamkan pada perut gadis itu.


Tapi, tak ada erangan kecuali senyum tertahan terpatri di bibirnya. Sampai akhirnya Naomi pun mencengkeram kedua pipi gadis di depannya.


“Aku selalu bertanya-tanya apa yang ada di otakmu sampai bisa berekspresi seperti itu. Tapi sepertinya, akan lebih baik jika aku menyiksamu dulu!” dan sebuah balok yang tergeletak di antara tumpukan di pinggiran pun diambilnya dengan cepat.


“Mau apa kau?” sela lelaki muda di belakangnya yang pertama kali ditemui Eldrey.


“Menurutmu? Tentu saja untuk menghukum gadis arogan itu!”


Sontak saja ia lempar kayu itu dan tepat menghantam perut putri Dempster. Entah seperti apa rasa sakit yang dirasakan sang gadis muda namun dirinya tetap tak bersuara.


Kecuali menatap sayu pemandangan di depan mata dengan sorotan menekan sekelilingnya.


Dan akhirnya, Naomi pergi dari sana dengan tampang tak terima.


Bagaimanapun juga, dia masih ingin menghajar putri Dempster sampai benar-benar terluka dan tak bersisa. Berharap gadis itu mati di tangannya namun bukan dalam keadaan baik-baik saja.


Dirinya dan juga Lily, harus membayar mahal atas apa yang menimpa Naomi. Setidaknya begitulah ambisi sekaligus rencana balas dendam dari sosok mantan penghuni jeruji besi.


“Maaf, apa itu menyakitkan?” sekarang lelaki muda itulah yang berbicara. Tangannya pun bergerak dan menyentuh pipi Eldrey lalu turun ke sudut bibirnya. Mengelus lembut luka dan hanya ditatap tenang sang gadis tersiksa. Tak menyiratkan kelemahan untuk meminta diampuni ataupun dilepaskan. “Bagaimana perasaanmu?”


“Rupanya, kau benar-benar ingin balas dendam padaku ya. Jadi, apa perkenalan kurang ajar sebelumnya hanya kebohongan?” seringai Eldrey menatapnya.

__ADS_1


Dan laki-laki muda di depannya, melepaskan tangannya dari wajah sang putri Dempster.


“Tidak. Jujur aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu. Terima kasih karena sudah lahir dengan nama langka itu, sehingga aku tidak kesusahan lagi untuk mengenalimu.”


Akan tetapi justru tawa yang dikumandangkan Eldrey setelah mendengarnya. “Terima kasih? Ayolah Paul. Jangan berpura-pura begitu. Bukan itu kan yang sebenarnya ingin kau katakan? Bukankah kau melakukan ini karena ingin tahu yang sebenarnya? Kisah sesungguhnya, dari penari striptease yang mati itu.”  


Seketika Paul menyipitkan matanya menatap putri Dempster. Detak jantungnya seakan ingin memburu debarannya, setelah mendengar kalimat paling dibencinya muncul lagi di hadapannya.


“Kakakku bukan penari!”


“Lalu?”


“Diam!”


“Bocah brengsek, datang-datang kau teriak-teriak begitu. Kalau bukan penari, lalu apa lagi? Patricia, kakakmu itu adalah seorang penari striptis. Penari yang menjajakan tubuhnya pada pria hidung belang sebagaimana mestinya. Bukankah itu yang ingin kau ketahui dariku?” sindir Eldrey dengan sarkasnya.


“Kau!” tiba-tiba tangan Paul pun terangkat hendak menamparnya.


“Kenapa berhenti? Ayo lakukan. Bukankah kau datang untuk balas dendam padaku?”


Perlahan tangan terangkat itu pun diturunkan olehnya dalam keadaan terkepal.


“Padahal kakakku itu temanmu!”


Tapi justru tawa yang meledak di bibir Eldrey setelah mendengarnya. “Teman? Patricia itu temanku? Apa itu yang dulu dia senandungkan sebelum meninggalkanku? Gadis kotor, bercerita tentang persahabatan, namun akhirnya membuangku di belakang. Dia memang pantas mati di tangan tiga pria itu.”


“PLAK!”


Suara tamparan keras yang dilayangkan laki-laki itu dengan tiba-tiba di pipi kanan Eldrey. Entah bagaimana keadaan sang putri Dempster diperlakukan kasar begitu, namun ia jelas tidak baik-baik saja.


Sampai akhirnya tawa pelan menari di antara mereka dan Eldrey pun menggerakkan wajahnya.


Memiringkan kepala dengan angkuh sebagai lambang kesombongan dari keluarganya.


“Kalau begitu katakan padaku, Paul. Jadi, apa alasanmu sebenarnya melakukan ini padaku?”

__ADS_1


 


 


__ADS_2