
Hampir hilang kesadaran. Pandangan nanar Eldrey, menatap dua gadis yang tengah menangis meronta. Mencoba membebaskan diri sambil menarik-narik tali pengikat mereka.
Di balik rasa sakit di sekujur badannya, putri Dempster masih berusaha menggerakkan tubuhnya. Memaksa bangkit, bahkan jika nyawa seakan ingin meninggalkan raganya.
Dan perlahan, dirinya berhasil duduk. Tangan gemetaran yang ia paksa angkat, diarahkan tepat pada Alice.
Menimbulkan kaget dua gadis yang masih ditawan, karena tembakan Eldrey meleset mengenainya.
“E-Eldrey?” lirih Alice memanggilnya beruraian air mata.
Tapi, sorot mata sayu dan menekan putri Dempster masih saja menghiasi wajahnya. Bahkan jika darah mengering di rupanya, walaupun baju kaos abu-abu sudah ternoda oleh cairan merah miliknya, dirinya tetap memaksakan raganya untuk melakukan apa yang ia bisa.
Dan akhirnya, pada tembakan selanjutnya dengan fokus luar biasa, sosoknya mampu mendaratkan peluru di tali gantungan.
Merenggang dan hampir putus. Alice pun meronta, sehingga ia berhasil memotong tali itu akhirnya.
Walau simpul di tangan masih ada, sekarang giliran giginya berusaha melepaskan ikatannya.
“L-lepaskan aku, aku mohon!” pinta Lily padanya. “E-Eldrey! Tembak ta—”
Kalimatnya tak lagi dilanjutkan. Gadis itu terkesiap saat melihat sepupunya sedang berusaha keras menyeret tubuhnya. Mencoba mencapai Paul yang telah meregang nyawa.
Dengan susah payah, bahkan jika luka di perut tak henti-hentinya mengalirkan darah, Eldrey tetap memaksakan diri untuk menghampirinya.
Dan tangannya, menggapai lengan sang pemuda yang terulur di dekatnya.
Suara hembusan napasnya mulai kesusahan. Deru kesakitan dengan rasa tak tertahankan mencerminkan keadaan. Di depan jenazah Paul yang berakhir tragis.
Tanpa sadar disentuhnya pipi sang pemuda. Aliran air mata tadinya telah mengering di sana, tangannya pun menutup kelopaknya yang sedikit terbuka.
Entah seperti apa perasaan Eldrey saat menatapnya. Dia, hanya memandangi wajah Paul dengan tenangnya.
Perlahan, direbahkannya tubuhnya di samping sang pemuda. Ia sudah tidak bisa apa-apa.
“Eldrey!” pekik Alice menyadarinya.
“Lepaskan aku!” pinta Lily karena gadis itu sudah berhasil melepaskan ikatan di tangan.
“Tunggu aku, Eldrey!” ucap Alice lalu mengambil pisau yang terlihat dan mencoba menyayat tali pengikat Lily agar putus. Dan akhirnya ia berhasil. “Eldrey!” panggilnya dengan napas yang memburu. “Aku mohon bertahan Rey. Aku mohon!” dirinya terisak-isak melihat kondisi temannya.
“Jangan menangis saja! Dia harus dibawa ke rumah sakit!” bentak Lily padanya.
Alice terkesiap, lalu berusaha membantu putri Dempster yang benar-benar bisa dikatakan sudah tidak bertenaga. Tapi, dirinya tersentak karena tangannya basah.
Basah akan cairan merah dari perut gadis di depannya.
“Kita harus menutupi lukanya!” sahut Lily menghampirinya. Dia juga sama paniknya. Bahkan jika air mata terus mengalir, otaknya masih bisa berpikir dengan benar.
Tanpa ragu Alice langsung membuka bajunya, lalu merobeknya dengan pisau tanpa basa-basi.
Sungguh mengerikan. Luka di perut Eldrey terus mengalirkan darah kental. Ditambah jejak sayatan di dadanya. Kondisinya sangat menguras air mata sosok yang merasa iba.
__ADS_1
“Ikat erat-erat!” sahut Lily membantunya. “Bertahanlah bodoh! Kau sudah berjuang sejauh ini!” entah kenapa dirinya mengatakan itu pada Eldrey yang menatap sayu dan tak bersuara.
Mereka berdua, saling membantu merangkulnya yang sudah tak mampu menggerakkan tubuhnya.
“T-ting-gal-kan a-ku,” hanya itu lirihan kata dari bibir putri Dempster.
“Jangan begini Rey, aku mohon,” Alice kian tak bisa membendung air matanya.
“Agh!” erang Lily tiba-tiba sehingga tangannya yang merangkul bagian kanan Eldrey terlepas. Akibatnya, Alice dan putri Dempster juga ikut jatuh terduduk karena kehilangan keseimbangan. “Kakiku,” rintihnya kesakitan.
Alice terkesiap saat menyadari ternyata betis sepupu temannya itu juga terluka. “Kamu baik-baik saja?!”
“Sakit. Naomi, kenapa dia bisa setega itu?!” dirinya masih tak percaya. Lily, kembali teringat siksaan yang dilakukan mantan temannya. Bukan hanya menggoresi badannya dengan pisau, tapi juga menyayat betis sampai lutut tanpa perasaan.
Dirinya juga tidak baik-baik saja.
Tiba-tiba, suara batuk Eldrey menyentak mereka.
“Rey!” pekik Alice kaget melihatnya. Hampir saja, kalau dirinya terlambat menahan dada Eldrey maka bisa dipastikan gadis itu tumbang ke depan. “K-kita harus ke Rumah Sakit,” sambil melirik sekelilingnya.
“Kau mau apa?!”
“Aku akan gendong Eldrey,” Alice pun memunggungi sahabatnya. Perlahan ia coba menggendong putri Dempster yang memang lebih ringan darinya.
Walau tetap saja dirinya cukup kesusahan karena juga terluka. “Rey, aku mohon tolong bertahanlah,” gumamnya.
Samar-samar putri Dempster bisa mendengarnya. Tapi sungguh ia tak lagi punya tenaga, untuk menghelakan napasnya saja paru-paru seakan meronta.
Kenapa Dewa Kematian masih belum mendatanginya? Meninggalkan dunia adalah hal terbaik sekarang. Bahkan pingsan pun tak sudi memeluk kesadarannya. Serasa kehidupan yang penuh pesakitan ini, begitu kejam pada sosoknya.
Di area berbeda, sebelah selatan dari posisi para gadis sedang melewati hutan yang tak begitu lebat, bawahan keluarga Dempster berhasil mencapai tempat penyekapan. Jauh dari jalanan lokasinya, pemandangan mengerikan telah menyambut mata mereka.
“Ini—” kaget Roma melihatnya. Dipungutnya sebuah pistol, barang penjualan divisi di bawah komando Charlie. Bahkan juga ada pisau, berlumuran darah entah milik siapa.
Tapi jika dilihat dari rekam jejak kejadian, kemungkinan milik mayat pemuda yang tergeletak di sana menurutnya.
“Aku yakin ini ulah Nona,” sahut Charlie melirik sekelilingnya.
“Lalu di mana dia?”
“Kabur?”
Roma memasang rupa masam. Jujur ia sangat khawatir, karena sosoknya tahu kalau Eldrey bukan tipe yang memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri.
“Bos! Ada jejak darah di sini!” teriak seseorang dari luar. Kedua orang tersebut segera berlari ke sumber suara dan mendapati tetesan darah tak begitu banyak di atas tanah.
Charlie langsung menyentuhnya, dan memeriksanya dengan gesekan jari tangan kanan.
“Sepertinya belum begitu lama. Cari jejak lainnya lalu ikuti!” perintahnya.
Sementara Alice, sungguh luar biasa. Sambil tubuhnya yang hanya mengenakan bra, karena bajunya dipakai untuk membalut luka Eldrey berjuang keras dalam menggendongnya.
__ADS_1
Begitu pula Lily. Satu tangannya memegang lengan Alice, sungguh ia kesusahan berjalan dan luka begitu pedih di badan. Tapi tetap memaksakan diri untuk melangkah bersama.
Sekarang yang terpenting adalah ke Rumah Sakit.
Mereka sudah keluar dari area hutan di mana tempat penyekapan berada, tapi begitu sepi jalanan di depannya.
“Sepertinya ini kawasan pinggiran kota,” sahut Lily menatap sekelilingnya.
“Eldrey?” Alice kaget karena deru napasnya yang terdengar bersuara mulai berjarak iramanya. “Tolong tahan, Rey. Kita pasti akan ke rumah sakit,” isaknya.
Lily terdiam mendengarnya, jujur kebenciannya pada sang sepupu sangatlah besar. Tapi entah kenapa melihat perjuangan dan kondisi Eldrey menusuk perasaan. Iba berbicara di dalam sanubarinya.
Pertanda nurani masih tersisa di hatinya.
“Ayo terus jalan, mungkin saja ada mobil yang lewat.”
“Ya,” angguk Alice akhirnya.
Tapi tiba-tiba, dengan sisa tenaga Eldrey mengucapkan kata yang tak terduga.
“Ti-dur.”
Alice terkesiap.
“A-aku i-ngin ti-dur.”
Gadis yang menggendongnya tidak menjawabnya. Terus berjalan mencari sumber bantuan untuk mereka.
“A-ir ma-ta, a-ku mem-ben-ci-nya. A-ku i-ngin ti-dur te-nang,” begitulah kalimat terbata-bata diiringi napas yang tak beraturan senandungnya.
Alice hanya bisa menangis. Dadanya sakit, detak jantungnya tidak harmonis debarannya. Bibir bawah perlahan ia gigit diiringi doa dalam hati. Sungguh mulutnya tak mampu mengeluarkan suara sekarang.
“Mobil, ada mobil. Stop! Stop!” Lily langsung melepaskan pegangannya dari lengan Alice. Tanpa ragu ia seret tubuh terluka itu berdiri di tengah jalan.
Spontan saja kendaraan tersebut berhenti dengan seorang pria paruh baya dan istrinya menatap kaget dari dalam mobilnya.
“Tolong bawa kami ke Rumah Sakit, aku mohon. Dia sekarat!” pinta Lily sambil menunjuk Eldrey di gendongan.
Suami istri itu saling melirik dengan tatapan ragu.
“Aku mohon, tolong antarkan kami dia benar-benar butuh bantuan,” pinta Alice sambil beruraian air mata.
“Baiklah-baiklah, masuklah,” sahut wanita di kursi depan. Ia bahkan keluar membantu membukakan pintu mobil sedan miliknya.
Laju mobil cukup kencang. Kepala Eldrey disandarkan pada bahu Alice yang merangkulnya. Gadis itu memegang erat lengan Putri Dempster dan mengelap keringat bercampur darah di wajahnya.
“Aku mohon Rey, bertahanlah. Sebentar lagi kita akan sampai di Rumah Sakit jadi aku mohon,” isaknya keras. “Tolong bertahanlah,” sekali lagi ia sentuh pipi sahabatnya.
Di pinggiran, Lily hanya bisa diam memperhatikan. Eldrey yang duduk di tengah begitu menyedihkan kondisinya.
Bahkan jika kelopak matanya masih sedikit terbuka, tapi tak ada lagi gerakan darinya.
__ADS_1
Tanpa sadar, ia genggam tangan sepupunya yang dijejaki darah kering. Berdoa dalam hati, semoga dirinya akan baik-baik saja dan tak ada hal buruk menimpanya.