FORGIVE ME

FORGIVE ME
Seringai Kevin


__ADS_3

Eldrey terperangah. Tak menyangka atas apa yang menimpa. Tanpa bersuara hanya tatapan tajam seolah ingin merobek laki-laki itu di wajah cantik sang gadis muda.


Perlahan, Kevin pun melepaskan dirinya. Tertawa pelan entah apa yang lucu setelah melihat raut wajah putri Dempster.


“Tidurlah,” ucapnya tiba-tiba dengan tangan menutupi mata Eldrey.


Ingin gadis itu membantahnya, tapi satu tangan Kevin yang memegangi lengannya menyadarkan sosoknya kalau ia takkan bisa melawan putra Kendal sekarang.


Eldrey tidak bodoh untuk mengambil langkah sia-sia.


Tidaklah hening di sekitar. Berisik air terjun di luar dengan jendela tetap terbuka memaksa angin dingin memenuhi suasana.


Akan tetapi salah satu yang masih sadar enggan beranjak untuk menutupinya. Kecuali semakin memeluk erat gadis di sampingnya dan menghirup dengan lekat aroma menggelora di ceruk lehernya.


Merekalah Kevin dan juga Eldrey.


Jam berbentuk kucing di nakas telah menunjukkan pukul 02.41 angka romawi. Dan selama itu pula putra Kendal masih belum terlelap dalam tidurnya. Kecuali lirikan mata dingin sang pemuda sesekali menyapu wajah pujaannya.


“Aku mohon jangan menghilang lagi. Atau aku akan membuatmu menyesal karena sudah mempermainkan perasaanku, Eldrey,” gumamnya tiba-tiba.


Entah apa yang terjadi pada Kevin selama bertahun-tahun ini, tapi satu hal yang pasti sosoknya sekarang jauh lebih berambisi.


Pagi harinya putri Dempster tersadar dari tidurnya. Tak ada Kevin di sana dan sosoknya tertegun memikirkan semua. Mengingat kembali kejadian semalam.


“Jangan macam-macam! Atau aku takkan segan-segan mengubur bisnis keluargamu, ingat itu!” ancam seseorang di balik telepon.


Di dapur dengan mengenakan celemek merah tua, tampak sosok Kevin menatap tajam ponselnya. Berdecih kasar setelah menerima panggilan tidak di harapkan itu.


Bunyi langkah kaki di tangga pun mengalihkan atensi. Senyum tipis menyeruak saat menyadari siapa yang mendekat.


Eldrey Brendania Dempster.


Penampilannya terlihat sudah rapi, memamerkan bahu putih mulus dalam balutan dress selutut berwarna hitam. Entah kenapa saat menyaksikan dandanannya Kevin jadi tersadar akan sesuatu, kalau gadis itu telah berubah menjadi lebih feminin dibandingkan dirinya yang dulu.


“Masih di sini?” putri Dempster benar-benar tidak berbasa-basi.


Tawa pelan terlontar dari sang pemuda, seakan-akan baru saja mendengar lelucon yang tak disangka-sangka.


“Oh, ayolah sayang. Bukankah sudah kubilang akan menumpang?”


Mendengarnya dahi Eldrey langsung berkerut. Entah jijik atau jengah Kevin tak bisa membaca ekspresi yang satu itu.

__ADS_1


“Kamu masak?”


“Iya, ingin mencobanya?” putra Kendal pun menyajikan semangkuk sup sayur padanya. Jujur saja Eldrey agak tidak suka makanan itu, namun aromanya entah kenapa sangat menggoda. Butuh sejenak waktu baginya untuk mencicipinya. “Di kulkas hanya ada sayur, dan tenang saja. Tidak ada racun di dalamnya, apalagi obat tidur ataupun perangsang. Jadi jangan cemas, Eldrey.”


Kalimatnya berhasil mengundang lirikan datar gadis itu. Menyebalkan, mungkin itulah yang dirasakan Eldrey. Terlebih setelah melihat wajah dengan senyum miring di bibir laki-laki yang ikut duduk bersamanya.


Gadis itu memilih membuang muka. Menatap ke arah sebuah pintu di mana penghuninya masih belum menampakkan muka.


“Mungkin dia akan bangun nanti siang,” ujar Kevin tiba-tiba.


“Kau—”


“Siapa suruh mengerjaiku? Untung saja bukan kamu yang tertidur seperti itu,” rahang putri Dempster menegas. Sepertinya sosok ini benar-benar ingin memprovokasinya.


Dengan satu tangan yang terkepal di bawah meja, lainnya perlahan mulai menyendokkan hidangan ke dalam mulut.


Dirinya terdiam sejenak sambil menatap aneh sajian di depannya.


“Ada apa? Apa mungkin ada kecoa di dalamnya?”


Sontak Eldrey melirik tajam pemuda itu. “Kamu tahu? Kupikir, sekarang kamu benar-benar menyebalkan, Kevin.” Ia pun berdiri tiba-tiba. Meraih apel di atas meja dan berlalu dari sana. Memilih pergi tanpa kata dihiasi seringai tipis sosok yang menyulut emosi.


Di negara yang berbeda, bunyi ketukan pantofel bersenandung di sepanjang tangga. Milik seseorang yang sibuk memperbaiki dasinya.


“Sekretaris Roma.”


“Sudah siap? Sore ini kita ada pertemuan di Penthouse Cloroda Azkus tuan Dome.”


Langkah sosok itu pun terhenti seketika. “Penthouse?”


“Ya, dia ingin kita ke sana.”


Terlihat jelas guratan keberatan di wajah lawan bicara Roma. Sosok itu, Evan Brendan Dempster, membuang napas kasar secara tiba-tiba.


Roma yang menyaksikan pun memiringkan kepala menatapnya. “Anda baik-baik saja?”


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Aku tak suka dengannya.”

__ADS_1


“Tentu saja, kamu kan laki-laki.”


“Bukan itu maksudku!” sergahnya. Bahkan kerasnya suara Evan berhasil mengundang lirikan aneh Charlie. Padahal dirinya sedang fokus memeriksa laporan, tapi sekarang justru gagal akibat ulah putra atasan.


“Ada apa denganmu?”


“Tidak ada apa-apa.” Charlie pun menatap curiga. “Benar-benar tidak ada apa-apa. Ayo pergi sekretaris Roma,” ajaknya dengan langkah terburu-buru.


Roma yang menyaksikan itu pun ikut berlalu dan sempat tersenyum pada Charlie.


“Dasar,” tangan kiri Presdir Betrand pun kembali melanjutkan aktivitasnya.


Sementara di satu sisi, dengan suasana waktu yang jelas berbeda, Eldrey terperangah akan ulah laki-laki tak tahu diri di rumahnya. Tanpa aba-aba Kevin Daniello Cesar muncul di belakangnya dan tanpa ragu memeluknya di depan seorang pedagang susu yang sering menyapa gadis itu.


Benar-benar mempermalukan putri Dempster karena mereka menjadi tontonan di pasar yang sedang di datanginya.


“Ayo, Sayang. Aku tidak mau kakimu dan anak kita kesakitan nantinya.”


“Apa! Nona Eldrey, kamu—” syok laki-laki 28 tahun di depannya.


Belum sempat pedagang minuman langganan Eldrey menyelesaikan kalimat, gadis itu sudah terlanjur menarik sosok lancang yang menghantui hidupnya.


“Apa maumu?!” kesal putri Dempster.


Sekarang, mereka berada di atas sebuah jembatan batu. Tak begitu jauh dari kawasan pintu masuk pasar kota itu, namun berisik alunan air di bawah mereka menghiasi pembicaraan keduanya.


“Mauku? Kamu tidak dekat-dekat dengannya,” jawab Kevin dengan santainya. Sesekali ia menyisir rambutnya ke belakang tanpa beban, mengabaikan tatapan tajam Eldrey yang seolah-olah ingin mengulitinya.


“Berhenti bersikap menyebalkan, Kevin.”


“Pria itu terlihat akrab denganmu. Bahkan dengan lancang menyentuh rambutmu, aku tidak suka," ucapnya seenak jidatnya.


“Dia hanya mengambil daun di kepalaku.”


“Terserah.”


Sungguh, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Seolah lupa akan fakta sebenarnya tentang hubungan sesungguhnya. Kalau keduanya sudah tak terikat status seintim itu semenjak Eldrey telah pergi meninggalkannya.


“Aku masih berbaik hati membiarkan dirimu menumpang di rumahku. Jadi jaga batasanmu, putra Cesar,” sambil menunjuk wajah itu.


Selesai mengatakannya Eldrey pun pergi begitu saja. Memaksa laki-laki itu untuk terus menatap punggungnya. Pandangan dingin di balik kacamata putra Kendal benar-benar melukiskan kenyataan berbeda. Kalau faktanya seringai tipis lagi-lagi terkembang di bibir Kevin yang kembali mengikutinya.

__ADS_1


Tak tahu kenapa tapi pesona seorang Kevin tak lagi sama. Senyum tulus penuh arti yang dulu sering ditampilkan, sekarang justru berganti dengan seringai aneh di bibirnya.


Menyiratkan kelicikan dalam memandangi sosok Eldrey yang berjalan di depannya.


__ADS_2