
Masih dalam masa pemulihan di ruang ICU. Eldrey terlihat menatap kosong ke langit-langit kamar. Walau bisa bicara, dirinya enggan bersuara. Terlebih adanya sosok Ibu yang semringah menatapnya.
“Nak, apa ada yang sakit? Apa kamu ingin Ibu panggilkan Dokter?”
Tak ada jawaban. Melirik pun tidak entah apa yang ia pikirkan. Begitu banyak pengawal yang datang bergantian. Termasuk sekretaris Roma walaupun dirinya begitu sibuk sebagai seorang CEO.
Charlie dan bawahannya telah mengurus semua hal yang berkaitan dengan penculikan sang putri. Untungnya ini tak terendus ke media massa, mengingat mereka punya orang dalam untuk menanganinya, tapi harga yang harus dibayarkan juga tidaklah murah.
Namun di lain sisi, keluarga Azof meraung-raung. Atas pengakuan Alice dan Lily, berita tentang kematian Paul begitu menyayat hati Ibunya yang depresi. Semenjak kepergian Patricia, tak ada kebahagiaan lagi. Pertengkaran sering terjadi, upaya bunuh diri sampai konsumsi obat penenang menjadi makanan sehari-hari.
Sekarang, keluarga itu harus dihantam lagi dengan tragedi.
Kehilangan satu-satunya anak yang tersisa. Putra semata wayang dan belahan jiwa bagi orang tua yang membesarkannya, begitu pilu kisah mereka bagi sosok pengetahui.
Dan Eldrey kini menjadi saksi. Dirinya, sudah menerima laporan tentang apa yang terjadi. Pemakaman telah dilakukan pihak Dempster untuk sang pemuda. Paul Vanderia Azof, mati sebelum sempat melepaskan ikatan dia yang diculiknya.
“Eldrey?” sapa Evan.
Dia di sini. Bu Anna pergi sebentar untuk mengganti pakaian. Karena sejak semalam hanya itu yang ia kenakan.
Perlahan, sosok kakak berwajah menawan itu menyentuh punggung tangan adiknya. Berharap, gadis di hadapan sudi melirik atau membalas ucapan.
Nyatanya, Eldrey membuat mereka seperti bayang-bayang. Beberapa pasang mata menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.
Ketukan pintu berkumandang, membuat Evan menoleh ke belakang. Terbuka secara pelan dan menampilkan sosok di luar dugaan.
Alice dan juga Bu Ann.
“Ya ampun, Eldrey,” syok dari ibu gadis yang baru datang.
Benar-benar tak disangka, sorot mata Eldrey bergerak menangkap kehadiran. Evan terdiam dan mempersilakan wanita yang ia sambut dengan senyuman untuk mendekat.
“Bagaimana kabarmu, Sayang. Ibu benar-benar kaget mendengar keadaanmu dari Alice,” bahkan matanya mulai berkaca-kaca.
Tapi, masih tak ada jawaban. Kecuali netranya menatap lekat tangisan.
“M-maaf. Eldrey masih belum bisa banyak bicara karena itu akan membebani dirinya,” Evan menimpali tiba-tiba. Walau Dokter tak pernah mengatakannya, tapi ia tak ingin jika Bu Ann merasa tersinggung akan sikap sang adik kepadanya.
“O-oh, maafkan Ibu. Ibu tidak tahu jika kondisimu separah itu, Nak,” dan tangannya mengusap lembut kepala teman putrinya.
Alice tersenyum melihat itu semua. Setidaknya Eldrey sudah melewati masa kritisnya dan itu benar-benar membuatnya bahagia.
“Cepat sembuh, Rey,” ucapnya tersenyum dan mengelus sekilas pipi sahabatnya. Bahkan kristal bening lolos lepas di pipi.
Dan putri Dempster, masih pada pilihan diamnya. Sampai akhirnya pintu kembali terbuka dengan kehadiran sosok yang benar-benar di luar perkiraan mereka.
“Paman? Selamat siang,” sapa Alice melihat kedatangan Betrand. Pria itu hanya mengangguk sekilas, ekspresinya tenang dan melirik sang Ibu dari gadis yang menjadi tamu. “Perkenalkan, Paman. Ini Ibuku,” jelasnya.
__ADS_1
“Selamat siang, Tuan. Saya Ann, ibunya Alice,” sambil mengibarkan senyum dan mengulurkan tangan.
Presdir Betrand terdiam sejenak. Melirik sekilas putrinya sebelum akhirnya menjabat apa yang ada di depannya. “Ayahnya, Eldrey. Senang bertemu dengan anda Nyonya.”
Tentu saja suaranya mengundang sensasi aneh bagi ibu Alice. Berat tekanannya, bisikan perbedaan kasta langsung menyeruak di sana. Wanita itu tahu kalau pria di hadapannya bukanlah pekerja kasar, mengingat permukaan tangannya halus berbeda dengannya.
Sungguh beruntung bagi Eldrey, terlahir dari keluarga kaya dan ayah serupawan ini. Andai suaminya masih hidup, bukankah Alice juga akan bernasib sama? Terlepas harta dan kemewahan di belakang punggungnya.
Setelahnya sebuah kecupan lembut ditorehkan di dahi sang putri. Tanda sayang Betrand pada anaknya. Walau Eldrey, juga memperlakukannya sama seperti orang-orang sekitarnya.
Di waktu yang kian berlalu, begitu banyak orang berdatangan untuk menjenguknya. Teman-temannya ataupun para bawahan. Walau semua tak bisa bertemu pandang dengannya.
Nyatanya, beberapa yang bisa bertatap muka tak mampu meraih perhatiannya. Karena putri Dempster, lebih tertarik menatap langit-langit kamar di atasnya.
Suara langkah kaki dari heels yang membalut kulit keriput pun datang menghampiri. Berdampingan dengan pantofel hitam serta setelan tanpa jas namun kemejanya berlengan pendek membalut tubuh pria tua.
Alex Damius Gates dan juga Camila Eliana Gates.
Sepasang suami-istri yang usianya melewati lebih dari setengah abad. Masih kuat senandung di badannya, pijakan kaki tak goyah namun berselimutkan keangkuhan.
Memasuki ruang rawat sang cucu, di mana tatapan tajam milik Charlie Stevano serta Afro Zipman mengiringinya. Sekarang, adalah jam dinas bagi keduanya mengawal Eldrey menggantikan keluarganya.
“Sayang, bagaimana keadaanmu, Nak. Nenek dengar kamu terluka parah,” suaranya begitu dipenuhi kekhawatiran. Bahkan ekspresi menyedihkan terukir jelas di tampang penuh kerutan.
Begitu pula suaminya, memandang penuh arti pada anak dari putra bungsunya. “Tapi, nenek dan kakek sangat senang karena kamu sudah sadar.”
Eldrey sudah bisa bersuara. Bahkan itu takkan membebani lukanya, walau ada sensasi sakit semenjak jejak kejam tersebut menempel indah di tubuhnya selama 9 hari lamanya.
Tapi, kenapa ia enggan berbicara?
Faktanya, orang-orang sekitar bertanya-tanya. Dokter menyebutkan kalau dia tak kehilangan suara, hanya saja tidak ada yang mampu memaksanya untuk memperdengarkan irama dari mulutnya.
“Nak? Ada apa? Kenapa kamu tidak menjawab?” dahi Nyonya Camila berkerut bingung.
“Sebelumnya saya ingin meminta maaf, Nyonya. Tapi, Nona mengalami syok pasca penusukan sehingga berat baginya untuk bersuara,” jelas Charlie tiba-tiba.
“Syok pasca penusukan? Perutnya yang terluka kan? Bukan pita suaranya,” Tuan Gates menyela seolah tidak mempercayainya.
“Nona diculik. Begitu pula Nona Lily. Hanya saja, kondisi Nona kami jauh lebih parah dari yang terlihat. Bukankah tidak aneh jika dia kembali mengalami trauma untuk berbicara dengan orang sekitarnya? Mengingat ini kedua kalinya ia diculik dan berakhir dengan kondisi yang sangat menyedihkan.”
Akan tetapi, entah kenapa suami-istri bertampang manula namun mencoba berjiwa muda itu, memperlihatkan guratan aneh di wajahnya. Marah, mungkin saja. Namun juga bercampur kesal dan juga lainnya.
Tuan Gates pun menoleh ke arah cucunya dan mengelus lembut kepalanya.
“Cepat sehat, Nak. Karena kami merindukanmu.”
Selesai mengatakan itu, mereka pun pergi. Walau Nyonya Camila sempat meninggalkan senyuman hangat dan genggaman di tangan sang cucu sebelum berlalu sepenuhnya. Tapi, Eldrey masih saja tak sudi untuk mengeluarkan suara kepadanya.
__ADS_1
Sampai akhirnya gurauan aneh tercetus dari bibir tangan kiri ayahnya.
“Jujur gigiku serasa ingin rontok jika terus berbicara dengannya.”
Afro pun tertawa menanggapi atasannya. “Hati-hati Bos. Mana tahu mereka masih di depan pintu.”
“Cih! Kau membuatku merinding saja!” Charlie pun sontak membuka pintu untuk memastikan ucapan bawahannya.
Mereka akhirnya meninggalkan Eldrey sendirian di dalam sana dan duduk di luar menikmati pengawalannya.
“Kuharap dia tidak bisu karena dari tadi diam saja. Cukup Lily yang bermasalah, aku tak ingin nama baikku dirusak lagi oleh cucu cacat seperti dirinya.”
Tajam dan menyedihkan. Seandainya sosok yang dimaksud mendengar ini, entah akan seperti apa perasaannya. Nyonya Camila pun memasuki mobil dengan tampang mengesalkan.
“Aku heran, kenapa tidak ada satu pun cucu kita yang beres? Putri Bill mirip pelac*r! Dan anak Betrand seperti orang gila! Apa gunanya pintar kalau tidak waras begitu? Benar-benar memalukan.”
Tuan Gates melirik istrinya sambil menyalakan mobilnya. Padahal usianya sudah lebih dari setengah abad, tapi dirinya masih suka mengendarai mobilnya.
“Sepertinya kamu lupa dengan apa yang sudah terjadi.”
Sorot mata penuh kebingungan pun memenuhi diri istrinya. “Apa maksudmu?”
“Lupakan. Bawahanku sudah mengirimkan surat perceraian ke rumah. Tinggal suruh Bill menandatanginya lalu Amelia.”
“Cih! Benar-benar membuat kesal. Punya menantu tapi miskin tak berguna. Mau ditaruh di mana mukaku? Orang-orang di pertemuan akan tertawa jika melihat keluarga kita. Bermasalah semuanya isinya. Pastikan kita mengirim ahli terapi agar Eldrey bisa berbicara. Aku tak ingin di pesta keluarga Jackson dia dicap idiot karena diam saja.”
“Kapan pestanya?”
“Kalau tidak salah dua minggu lagi.”
“Masih lama. Dia pasti akan bersuara sebelum acara itu tiba.”
“Padahal aku sudah membicarakan pertunangannya dengan keluarga mereka.”
“Apa Betrand sudah tahu?”
“Apa yang bisa diharapkan darinya? Bisa-bisa dia memilih pemuda miskin seperti istrinya. Aku benar-benar jijik melihat wanita tak tahu diri itu. Sudah kuancam masih saja berkeliaran di sini. Seharusnya kamu mengirimnya ke luar negeri, bukan membiarkannya bebas di negara ini.”
Dan Tuan Gates tak menanggapi ocehan istrinya. Lebih fokus melajukan mobil, sambil dihiasi deretan kata penuh umpatan dari Camila yang membenci orang-orang tak berguna di sekitarnya.
__ADS_1