FORGIVE ME

FORGIVE ME
Siapa


__ADS_3

Sekarang, laki-laki asing itu sudah kembali ke dalam mobilnya. Ia telah selesai mendapatkan informasi tentang Eldrey dan juga yang lainnya.


Diliriknya arloji di tangan, menunjukkan pukul 09.30.


“Baiklah. Ayo temui mangsa selanjutnya,” lirihnya sambil tertawa. Di gantungan mobilnya terdapat sebuah foto berukuran telapak tangan yang terpajang. Memamerkan sosok pria dan wanita serta dua anak kecil di depannya.


Dan salah satu anak yang merupakan seorang gadis muda, justru tampak mirip dengan sosok di dalam mimpi putri Dempster.


Patricia.


“Nyonya, anda mau ke mana?” tanya Bibi pembantu saat melihat majikannya keluar kamar dalam keadaan rapi. Bu Anna, di kediaman Dempster sedang menyandang tas dan memainkan ponselnya.


“Aku ingin ke toko roti, Bi.”


“Anda masih ke sana? Bukankah sebaiknya anda berhenti dulu? Pernikahan anda sebentar lagi, Nyonya.”


“Memang benar. Tapi, aku juga bosan di sini. Aku takkan lama, siang nanti sudah pulang.”


“Baiklah, Nyonya. Saya akan minta supir untuk mengantarkan anda.”


“Terima kasih, Bi,” Bu Anna tersenyum dengan perhatian pekerja yang sudah dianggapnya sebagai bagian dari keluarga itu.


Sampai akhirnya sekitar pukul 13.10, Eldrey terpaksa melirik ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari Bu Anna. Dirinya pun memilih mengabaikannya karena itu tidak penting. Karena menurutnya, membaca buku jauh lebih bermakna daripada mengangkat telepon wanita itu.


Akan tetapi, situasi berbeda diperlihatkan dalam kediaman Gates. Lily terdiam. Menatap syok layar ponselnya karena baru saja menerima panggilan dari pamannya.


Fakta mengerikan baru saja tertoreh di kesadarannya. Kalau Naomi sang teman sekaligus gadis yang ditumbalkan keluarganya atas insiden kebakaran di rumah penyekapan Eldrey, ternyata telah bebas.


Mimpi buruk apa ini? Apa yang akan terjadi? Kalau seandainya dia datang dan membalas dendam, nasib Lily nanti bagaimana? Dia begitu ketakutan sampai-sampai suara ketukan pintu di kamar mengagetkan dirinya.


“Nona? Anda di dalam?”


“Iya, aku di dalam! Masuk!” perintahnya.


“Maaf saya mengganggu anda, Nona. Tapi tadi ada telepon masuk dari sekretaris Tuan, meminta tolong pada anda untuk membawakan berkas tertinggal yang ada di dalam ruang kerja.”


“Meminta tolong padaku? Kenapa Papa tidak menghubungiku langsung?”

__ADS_1


“Karena Tuan sedang rapat, jadi sekretarisnya diminta untuk menghubungi anda. Katanya dia tak punya nomor telepon anda sehingga menghubungi ke rumah.”


“Cih, iya-iya, sekarang kau boleh pergi!” usirnya. Lily benar-benar kesal dengan permintaan itu mengingat foto tak senonohnya telah tersebar di kantor ayahnya. Kalau dia ke sana, bukankah hanya akan menjadi bahan tertawaan?


Tapi jika berkas milik ayahnya tak diantarkan sekarang juga, Tuan Bill pasti akan marah-marah padanya. Terkadang Lily juga benci dengan sikap pria itu yang agak mirip dengan neneknya. Sama-sama menyebalkan.


“Sialan, berkas yang mana sih? Bi! Bibi!” teriaknya dari dalam ruang kerja Papanya. “Cih! Tuli ya!” umpatnya karena pekerja di rumah itu masih belum datang. Sampai akhirnya ia mencari sendiri berkas yang mungkin diperkirakan sebagai pesanan ayahnya.


“Cih! Apa mungkin yang ini? Kalau tidak bagaimana? Kalau menyuruh itu yang jelas, bukan asal perintah saja, bajingan!” dirinya masih saja menggerutu. Sampai akhirnya ada beberapa berkas yang diperkirakan sebagai laporan permintaan ayahnya. Kalau salah dirinya bisa menuduh balik sang sekretaris karena tak memberikan informasi jelas kepadanya.


Langkahnya pun memasuki mobil sedan miliknya untuk dilajukan ke kantor Tuan Gates.


Sementara Eldrey, lagi-lagi ponselnya berdering. Membuat dirinya kesal begitu melihat nama Ibunya lagi-lagi tertera di sana. Mau tidak mau dirinya pun terpaksa mengangkatnya.


“Mau apa kau menghubungiku?”


“Karena aku merindukan dirimu.”


Terdiam. Eldrey melirik kembali layar ponselnya memastikan sosok yang berbicara. “Siapa kau? Mana Raelianna?”


“Kamu tidak tahu siapa aku? Dirimu benar-benar kejam Eldrey. Jika pelaku penculikanmu yang bersuara, apa mungkin kamu akan langsung mengenalinya?”


“Jika kau ingin tahu, aku akan mengatakannya. Tapi kau boleh tidak datang ke sini, karena harus aku akui, toko roti ini sangat menyenangkan untuk menghangatkan hatiku yang mati.”


Panggilan pun langsung terputus tiba-tiba. Eldrey kembali menatap layar ponselnya, ekspresinya tampak kesakitan sambil memegang kepalanya. Seolah ada sesuatu yang berbisik di ingatan untuk memunculkan kenangan.


Kenangan pahit yang tiba-tiba membuatnya sesak napas dan buru-buru mencari inhaler karena tak tahan dengan itu semua. Dia benar-benar tersiksa dan sangat gemetaran karenanya.


Perlahan, Eldrey pun merebahkan tubuhnya. Mata memerah dan pandangan tak berdaya tersirat di penglihatannya. Sampai akhirnya sebuah pesan ancaman muncul lagi yang membuatnya tertawa.


Dari pelan hingga mengeras. Membuat beberapa pelayan yang berada di area rumah kiri di lantai dua agak kaget mendengarnya. Terkadang, hal seperti itu memang sering terjadi di kamar sang tuan putri sehingga mereka memakluminya.


Sekarang, Lily sudah sampai di depan kantor kakeknya. Berjalan memasukinya dengan dandanan tertutupi masker yang menyamarkan wajahnya. Berhenti di depan meja resepsionis dan berbicara seadanya.


“Berkas atas permintaan Pak Bill, tolong disampaikan pada sekretarisnya.”


“Maaf, pengirimnya siapa?”

__ADS_1


“Lily, putrinya.” Pegawai di depannya itu tampak terkesiap. “Ada apa? Kenapa memandangku seperti itu?” tekannya. 


“T-tidak, Nona. Tidak ada apa-apa. Sekali lagi maafkan saya, Nona.”


Lily pun mendecih dan berlalu dari sana. Meninggalkan bangunan yang dipenuhi orang-orang menyebalkan menurutnya. Kakeknya selalu menyuruhnya untuk belajar ilmu mengelola perusahaan padanya.


Agar dia berguna dan bisa menjadi pilar di sana. Dan yang paling membuatnya murka adalah pembandingan atas dirinya dan Eldrey sang sepupu. Selalu memujinya, mengatakannya hebat namun terkadang juga menjelek-jelekkan putri Dempster itu. Akibat kurangnya sopan santun dalam berbicara.


Mungkin akan lebih tepat jika di cap sombong, setidaknya itulah maksud dari kalimat Kakek dan Neneknya. Benar-benar keluarga bermuka dua. Bahkan walau adanya ikatan darah mereka masih saja membicarakan keburukannya.


Begitu munafik di mata Lily yang juga membenci keluarga pamannya serta dua tua bangka itu. Mengingat kehadiran mereka juga menghiasi alur hidupnya.


Jika dirinya bisa menikmati uang hasil kerja keras keluarganya, kenapa disuruh mencoba bekerja juga? Sosoknya seharusnya menjadi putri dan hidup enak berfoya-foya. Iri benar-benar memakan hasratnya, terlebih melihat kemewahan keluarga Dempster yang dimiliki Eldrey sebagai putri Rajanya.


Benar-benar menyebalkan menurutnya.


Akan tetapi, Lily tersentak saat menyadari ada yang tidak beres dengan mobilnya.


“Sialan!” umpatnya tiba-tiba lalu menghentikan laju kendaraannya. “Brengsek!” hardiknya begitu keluar mobil dan mendapati ban belakang kempes rupanya. “Kenapa bisa begini sih?!” dirinya pun menendang lingkaran besar di depannya. “Sekarang aku harus bagaimana?!” sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


Namun, sebuah mobil putih dengan plat asing yang diperkirakan bukan berasal dari kota itu berhenti tepat di depan kendaraannya. Lily hanya menatap jengkel berharap jika itu merupakan bantuan untuk dirinya.


Dan benar saja, sosok mencurigakan sebanyak dua orang dengan masker di wajah menghampiri dirinya.


“Mau apa kalian?!” pekiknya saat menyadari pisau diarahkan padanya.


“Diam!”


“Tidak, tidak, tolong!” pekiknya ketakutan. Tapi, justru pukulan yang dilayangkan salah satu laki-laki tersebut ke arah wajahnya. Membuat gadis itu membentur badan mobilnya dan pingsan seketika.


Tak peduli jika kendaraan lain lalu lalang di sana, bahkan bila kemungkinan CCTV jalanan menangkap aksi mereka, tapi orang-orang itu tetap saja membawa Lily dengan sangat terburu-buru meninggalkan kendaraannya.


Sekarang, entah akan seperti apa nasibnya di tangan tersangka yang tengah menculiknya itu.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2