FORGIVE ME

FORGIVE ME
Bau Sampah!


__ADS_3

“Papa! Bagaimana bisa papa berkata seperti itu?!” sergah Dean yang tak terima dengan hinaan tuan Kendal pada Alice.


“Tutup mulutmu! Seharusnya kau sadar kalau gadis ini tak pantas bergaul denganmu!” bentak tuan Kendal. Geram di dada karena tingkah putranya dan Alice pun menghapus rasa malu tuan Kendal di depan umum itu.


“Ma-maafkan aku ....” ucap Alice terbata-bata, ia pun pergi dari sana sambil berlari tergesa-gesa.


“Alice!” teriak Dean berusaha mengejarnya, namun lengannya dipegang tuan Kendal.


“Jangan kau coba-coba kejar perempuan itu! Atau papa akan mengurungmu dan memastikan kau tidak akan bisa lagi bertemu dengan siapa pun!” ancam tuan Kendal sambil mencengkeram lengan Dean.


Dean hanya bisa menatap tuan Kendal dengan ekspresi kesal, sampai akhirnya ia pun diam menunduk karena tak punya kekuatan untuk membantah papanya itu.


“Papa akan suruh supir untuk mengantarmu pulang, pastikan kau introspeksi dirimu," tuan Kendal pun menatapnya dengan tajam.


“Jangan mengulanginya atau takkan ada lagi kesempatan kedua untukmu,” tegas tuan Kendal, ia pun pergi sambil diiringi Dean dari belakang.


Di sisi lain, tampak seorang gadis muda sedang berlari-lari tak tentu arah. Ia berlari dengan air mata yang membasahi pipinya.


Ini bukan pertama kalinya bagi gadis itu berlari sambil menangis. Gadis itu pun berhenti di sebuah jembatan sambil berteriak, “kenapa?! Apa salahku?! Kenapa?!” teriaknya sambil terisak-isak.


“Aku memang gadis miskin! Lalu kenapa?! Hiks ... hiks .... Apa aku tak pantas untuknya?!” teriaknya sekali lagi.


“Apa salahku jika aku terlahir seperti ini? Hiks ... hiks ... hiks .... apa salahku?” gadis itu pun jatuh terduduk di atas jembatan yang sepi itu.


“Apa yang harus kulakukan agar aku bisa bersamanya? Dean .... Kenapa rasanya sesakit ini?” lirih Alice sambil duduk menunduk melepaskan semua beban di hatinya. Ia pun menangis di sana tanpa ada satu pun yang mengetahuinya.


“Apa?” tanya seorang gadis muda lainnya yang sedang terbaring di rumah sakit.


“Tadi penjaga memberitahuku kalau ada dua temanmu yang ke sini,” sahut Charlie sambil rebahan di sofa yang ada di kamar Eldrey.


“Entahlah, aku tak bertemu mereka,” jelas Eldrey singkat.


“Mereka tak dibiarkan masuk atas perintahku.”


“Begitu? Lalu mau apa kau di sini? Kau mengganggu istirahatku,” sahut Eldrey dengan tatapan sinis.


“Para bunglon akan segera kemari, aku harus bersiap sedia agar mereka tak berwarna apa pun saat memasuki tempat ini,” timpal Charlie sambil terkekeh.

__ADS_1


Eldrey hanya memutar bola matanya dengan ekspresi malas, sepertinya sebentar lagi ia akan kedatangan tamu yang benar-benar menyusahkan.


Setengah jam kemudian ....


Pintu ruangan pun dibuka dengan pelan, Eldrey dan Charlie sama-sama menoleh ke arah orang-orang yang baru datang tersebut.


“Sayang! Bagaimana keadaanmu nak?!” tanya nenek tua dengan barang-barang berkualitas tinggi yang menempel di setiap tubuhnya.


“Seperti yang nenek lihat,” ucap Eldrey sambil tersenyum tipis pada nenek itu. Nenek tua itu mendekatinya lalu mengelus lembut kepalanya.


“Inilah yang akan terjadi jika kamu tidak berhati-hati, seharusnya Betrand lebih memperhatikan pergaulan putrinya,” oceh pria bertampang angkuh itu. Ia merupakan kakak laki-laki presdir Betrand, Bill Laynard Smith.


Eldrey hanya menatap diam pada pamannya itu, “sayang .... Eldrey sedang sakit, kamu tidak seharusnya berkata seperti itu. Eldrey, maaf ya, pamanmu hanya terlalu cemas dengan keadaanmu,” sambung Amelia Smith, istri dari pamannya tersebut.


“Tidak apa-apa, aku maklum karena paman sangatlah menyayangiku,” tukas Eldrey sambil tersenyum. Senyum dan ekspresinya masih sama dengan yang ia tampilkan saat mereka baru datang.


Sementara Charlie, hanya menatap reuni keluarga itu dengan sikap santai yang sopan.


“Bagaimana bisa Betrand membiarkan cucuku seperti ini? Seharusnya dia menghentikan pekerjaannya dan pulang untuk merawat cucuku!” gerutu nyonya Camila yang merupakan neneknya Eldrey.


“Tidak sopan, jangan berbicara seperti itu di depan Eldrey, dia masih kecil,” pungkas nyonya Amelia sambil menepuk pelan bahu suaminya.


“Sayang, maafkan ayahmu ya, nenek pasti akan memarahinya karena tak merawatmu dengan benar seperti ini,” nenek tua itu menggenggam tangan Eldrey dengan nada bersalah.


Sementara gadis itu masih tetap sama ekspresinya, tak ada yang berubah, seolah-olah ia seperti robot yang sudah diatur raut wajahnya.


“Nenek, tolong jangan seperti itu, bagaimanapun juga ayah melakukan ini semua demi kebahagiaanku. Kalau bukan karena kerja keras ayah, aku takkan bisa hidup seperti ini, aku sangat bahagia bisa menjadi anaknya,” jelas Eldrey membela presdir Betrand.


“Kamu benar-benar anak yang berbakti sayang, Betrand pasti sangat bangga bisa punya anak yang pengertian seperti dirimu,” puji nenek tua itu.


“Iya, bibi juga senang bisa punya keponakan seperti dirimu," sambung nyonya Amelia Smith dengan penuh perhatian.


“Yah, siapa pun pasti senang punya anak yang pengertian, lagi pula mereka juga sudah hidup enak tanpa harus kerja keras seperti dirimu, bukankah begitu Eldrey?” sahut tuan Bill dengan nada sedikit merendahkan.


“Benar, karena itulah aku bahagia bisa punya ayah seperti presdir Betrand, dia memang ayah yang luar biasa dibandingkan siapa pun, tak heran jika ia bisa jadi pengusaha sukses dibandingkan orang-orang yang pernah kutemui,” jelas Eldrey dengan nada yang lembut.


Tapi, apa yang dikatakan gadis itu sepertinya di salah artikan oleh pamannya, karena pria itu menatap Eldrey dengan ekspresi jengkel yang bisa dibaca.

__ADS_1


“Ayo kita pulang, lagi pula kita sudah lihat bagaimana keadaannya,” ajak tuan Bill pada ibu dan istrinya.


“Iya, kalau begitu nenek pulang dulu sayang, nanti nenek pasti datang lagi.”


“Tak perlu repot-repot nek, kunjunganmu ini sudah cukup untukku dan membuatku bahagia,” balas Eldrey sambil menggenggam erat tangan neneknya.


“Sayang ....” nyonya Camila menatap cucunya terharu.


Nyonya Camila, putra dan menantunya, ketiganya pun akhirnya pergi setelah selesai melepas rindu pada Eldrey, sekarang hanya tersisa mereka berdua di dalam kamar itu.


“Bau sampah!” umpat Eldrey tiba-tiba.


“Bagaimana bisa ketiganya berkeliaran dengan bau seperti itu? Apa mereka terbiasa hidup dengan bangkai?” tambahnya.


“Itu adalah parfum berkualitas tinggi, mereka pasti merasa elegan memakainya, apa aromanya juga menempel padaku?” ledek Charlie sambil mengendus tubuhnya.


“Elegan? Aku merasa ingin muntah, terlebih lagi nenek tua itu, tangannya lengket sekali,” Eldrey melihat telapak tangannya.


“Ayolah, pertemuan indah ini jarang-jarang terjadi, nikmati saja,” Charlie terkekeh dengan ekspresi yang menjengkelkan.


“Semoga mereka tidak datang lagi, kalau tidak, itu berarti mereka memang berotak udang jika tidak paham dengan sindiranku barusan.”


“Entahlah, tapi aku akan sangat senang jika bisa melihat perdebatan bermartabat ini lagi, Rondolf sangat rugi karena tak bisa ikutan menonton di sini,” oceh Charlie sambil menatap arlojinya.


Eldrey hanya diam mendengarnya, ia tak menjawabnya kecuali menatap Charlie dengan pandangan tenang yang sangat mengganggunya.


“Apa?” tanya Charlie risih.


“Jika mereka disiksa, menurutmu apa respon ayahku?”


“Apa maksudmu dengan itu? Tolong jangan berpikir yang macam-macam!”


“Aku hanya penasaran .... Aku penasaran dengan respon ayahku, karena dia terlihat seperti orang yang tak peduli dengan keluarganya. Jika ada yang menyiksa mereka, apakah ayahku akan turun tangan?” gumam Eldrey dengan pandangan menatap langit di luar kamarnya.


“Maka kau akan temukan jawabannya saat mereka sudah disiksa,” tukas pria itu sambil terkekeh.


Eldrey pun menatap Charlie, “tolong jangan berpikir yang aneh-aneh, aku sudah cukup lelah dengan pekerjaan dari ayahmu, jadi jangan aneh-aneh!” tegas Charlie menatap tajam gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2