FORGIVE ME

FORGIVE ME
Hancur


__ADS_3

Langkah terburu-buru lalu mendekat ke pintu utama.


“Rondolf!” panggil Charlie dengan ekspresi kalut. Ia menatap ke balik pintu, di mana sosok yang tadi menghubunginya sekarang sudah datang ke sana. “Nyonya, anda sudah datang?”


“Tuan Charlie? Ada apa ini?” tanya Rondolf. Ia yang biasanya hemat suara pun mengeluarkan kalimat tak terduga.


“Itu, aku ingin bertemu dengan Betrand,” ucap wanita itu memotong pembicaraan.


Ekspresi wajah Rondolf langsung berubah, tak terlihat sebuah sambutan hangat untuk tamu yang baru datang di depannya.


“Tuan Rondolf, aku tahu kalau ini sangat mengejutkan. Tapi izinkan aku bertemu dengan Betrand. Aku hanya ingin melihat keadaannya, aku mohon,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Bahkan Charlie tak bisa berkutik melihat wajah sendu itu, tapi lain halnya dengan Rondolf. Sekalipun tidak marah atau jengkel, namun rahangnya menegas.


“Aku akan minta izin pada Eldrey, karena itu biarkan aku bertemu dengannya,” pinta wanita itu terisak-isak. Rondolf berpaling dari wajah sedih sang wanita, menatap Charlie dengan ekspresi yang tak terlukiskan.


Sementara di ruang makan, Eldrey baru saja datang dan duduk di dekat sekretaris Roma. “Mana Charlie?”


“Dia tadi pergi terburu-buru,” terang sekretaris Roma.


Gadis itu meminum jus di depannya, namun langkahnya terhenti karena seorang pelayan menghampirinya.


“Nona,” panggil pelayan itu. Eldrey berpaling ke arahnya.


“Ada apa?”


“Itu, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda.”


“Siapa?”


Pelayan tersebut tampak ragu-ragu menjawabnya. “Seorang wanita dan laki-laki Nona.”


Eldrey memandang diam, lalu berdiri sambil meraih ponselnya. Ia berjalan ke ruang tamu untuk bertemu dengan tamu yang disebutkan.


Sesampainya di sana, Eldrey menemukan pemandangan yang benar-benar tak diharapkan.


Wajahnya menatap lekat ibu dan anak laki-lakinya itu, membuat wanita yang dipandang merekahkan senyum antara senang dan canggung.


“Siapa yang membiarkan mereka masuk ke sini?” tanya Eldrey. Suaranya begitu berat dan menekan.


Rondolf dan Charlie tak bersuara, kecuali wanita itu melangkah ke depan hendak menghampiri Eldrey.


“Aku tanya siapa yang membiarkan mereka masuk ke sini!” teriak Eldrey. Suaranya yang keras membuat sekretaris Roma dan bibi pembantu di ruang makan kaget, karena teriakannya terdengar sampai ke sana.


“Eldrey,” gumam wanita itu sambil beruraian air mata. Langkahnya langsung terhenti karena teriakan gadis itu mengejutkannya.


Tanpa berpikir panjang, Eldrey pun meraih guci keramik berukuran sedang di atas meja dekatnya.


“Nona!”


“Ibu!” pekik Evan dan Charlie hampir bersamaan.


“Nona! Apa yang anda lakukan?!” cegat sekretaris Roma tiba-tiba sambil menahan tangannya. Kalau bukan karenanya, maka lemparan guci keramik pasti sudah menghantam Charlie yang melindungi bu Anna dan Evan.


Napas Eldrey memburu dan sudah terlanjur menguasainya. Ia menyipitkan mata lalu melepaskan genggaman Roma yang menahannya. Gadis itu melempar guci keramik di tangan ke sembarang arah, sehingga pecah dan berserakan di lantai.


“Kyaa!” pekik bu Anna kaget akan ulah anak perempuannya.


Eldrey memilih berbalik meninggalkan mereka menuju kamarnya. “Eldrey! Eldrey!” panggil bu Anna hendak mengejarnya. Tapi lengan wanita itu tercekal karena Charlie menahannya.


“Lebih baik anda tak menemuinya, ini demi kebaikan kalian.”


Bu Anna hanya bisa terisak-isak sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Sikap keras dan penolakan dari putrinya benar-benar menghancurkannya. Evan yang terdiam sambil mengelus punggung ibunya tak bisa berkata apa-apa.


Sosok adik yang dulu lemah-lembut sekarang benar-benar jauh dari angannya. Ia benar-benar tak bisa lagi mengenal siapa orang yang ada di hadapannya.


Sesampainya di kamar, Eldrey langsung melempar ponsel di tangan ke arah cermin meja rias sehingga pecah berantakan.


Deru napasnya naik turun, ia mengepalkan tangan karena rasa kesal yang tak tersalurkan.


Tanpa berlama-lama, Eldrey segera keluar dari kamarnya tanpa membawa apa-apa. Ia keluar dari rumah utama kiri yang kamarnya selalu menjadi tempat peristirahatan.


Keluar kediaman itu dengan cara melewati jendela dan memanjat pagar. Tanpa mobil, ia menapaki jalanan kediaman perumahan mewah tersebut dengan tak membawa uang sepersen pun atau diketahui siapa pun.


“Maafkan aku. Karena aku, situasi di rumah ini jadi bertambah buruk,” ucap bu Anna dengan raut sedih. Sementara bibi pembantu juga ikut menangis melihatnya, memeluk erat wanita yang pernah menjadi mantan majikannya.


Keharuan antara mantan majikan dan bawahan terlukis jelas di sana, tapi ada guratan wajah kalut di beberapa orangnya. Siapa lagi mereka kalau bukan Rondolf, Charlie, dan Roma.

__ADS_1


Apa yang terjadi sebelumnya, sudah jelas akan mendatangkan kekeruhan selanjutnya.


Sikap Eldrey yang pergi tiba-tiba menimbulkan rasa risau mereka, karena gadis itu takkan membiarkan kekesalannya berakhir begitu saja.


“Nyonya, presdir Betrand ada di kamar utama,” sela Rondolf tiba-tiba. Wanita itu kaget, namun mengangguk lalu pergi ke kamar yang ditunjukkan.


Sementara Evan, ia tak mengikuti langkah ibunya. Dirinya lebih memilih berdiri diam di luar kamar dan membiarkan wanita itu berduaan dengan presdir Betrand. Karena ia tahu, kalau ibunya sangat merindukan mantan suami dan putrinya.


“Tidak ikut masuk?”


Evan menoleh ke arah Charlie yang bersuara. “Antarkan aku ke kamar Eldrey.”


“Maafkan aku. Tapi kuharap anda tak memperkeruh suasana lebih dari ini Tuan Muda,” pungkas Charlie bernada datar.


“Aku hanya ingin menemui adikku. Apa yang salah dengan itu?”


Rondolf dan sekretaris Roma sama-sama terdiam mendengarnya. “Aku tak bisa-”


“Kalian hanya bawahan ayahku,” potong Evan tiba-tiba. “Jangan larang aku untuk bertemu dengan adikku.”


“Baiklah kalau begitu, silakan ikuti aku,” Charlie pun memandunya ke kamar Eldrey.


Setibanya di sana, Evan membuka pintu kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu.


“Eldrey,” panggilnya melangkah masuk. Akan tetapi, pemandangan kamar yang cukup berantakan akibat pecahan cermin meja rias mengganggu penglihatannya.


“Eldrey?” panggil Evan namun tak ada jawaban. Charlie pun ikut masuk dan memeriksa kamar, tetapi ia tak menemukan gadis itu di mana pun.


“Sial!” umpat Charlie berlari pergi meninggalkan Evan. Ia pergi menuju ruang keamanan di lantai dua bangunan utama untuk memeriksa cctv.


Evan masih terdiam di kamar Eldrey. Ia memandang berkeliling, menatap ruangan yang menjadi kamar adiknya.


Tak ada foto apa pun di sana, kecuali lukisan bergambar abstrak yang menghiasi kamar itu.


Evan memegang kepalanya dengan muka tertunduk, mencoba mengingat kembali wajah Eldrey yang kesal tadi. Rasa bersalah menyeruak di sana dan membuatnya meneteskan air mata.


Ingin rasanya ia merangkul tubuh sang adik dan menanyakan kabarnya, tapi respons kasar Eldrey membuatnya tak tahu harus bagaimana. Dia benar-benar sudah berubah.


Ingatan masa lalu di mana dirinya dan bu Anna pergi meninggalkan ayah dan adiknya berputar jelas sekarang. Saat di mana guratan emosi terpancar di wajah presdir Betrand, akibat perceraian yang dilakukan ibunya dan berujung pada pengusiran.


Saat di mana mereka melangkah keluar dari rumah yang baru seminggu ditempati, dengan wajah babak belur Eldrey masih meneteskan air mata tak ingin ditinggal kakak dan ibunya.


Tapi sekarang ia tak tahu harus bagaimana, waktu tak bisa diputar kembali. Bahkan jika Evan merindukan ayahnya, tapi rasa bersalah pada Eldrey tetap menghantuinya.


Mereka, sudah meninggalkan gadis kecil yang terluka menjadi hancur tak bersisa. Bukan siksaan dari penculik yang menghancurkan Eldrey, tapi keluarganya sendiri.


Merekalah yang merusak gadis itu, di saat ia membutuhkan kasih sayang dan akhirnya kehilangan pegangan. Merekalah sumber kehancuran gadis itu sebenarnya.


Evan yang terdiam bersalah akhirnya bangkit dari duduknya. “Tuan muda?” sapa Rondolf saat Evan datang.


Evan mengangguk pelan, dan ia menoleh ke arah kamar di mana ayah dan ibunya kemungkinan berada.


“Maaf, aku ada urusan. Bisa sampaikan pada ibuku kalau aku pergi sebentar?” pinta Evan pada Rondolf.


“Baiklah. Tapi, bolehkah saya tahu anda akan ke mana Tuan Muda?”


Evan tampak ragu menjawabnya, tapi akhirnya ia tetap mengatakannya. “Eldrey pergi. Aku harus mencarinya,” jelas Evan.


“Apa!” Roma terpekik kaget. “Bagaimana bisa?! Mana tuan Charlie?!”


“Itu ....”


Tapi, tiba-tiba Charlie turun dari lantai dua dalam keadaan terburu-buru. “Tuan Charlie?”


“Reynald! Pergilah bersama yang lain dan cari Nona. Jangan sampai dia melakukan sesuatu yang tidak-tidak,” perintah Charlie pada supir presdir Betrand.


“Baik Tuan.”


“Aku ikut,” sela Evan.


Charlie hanya menyipitkan mata mendengar permintaannya. “Biasanya Eldrey sering pergi ke mana?” tanya Evan.


“Entahlah. Jika anda ingin tahu maka cari saja. Semoga dia tak melakukan hal yang gila,” jelas Charlie pergi meninggalkannya.


Akhirnya, Evan beserta Reynald dan para bawahan lain pun pergi mencari Eldrey. Mereka terpisah, setelah Evan mendengar beberapa cerita Eldrey dari Reynald.


Di sepanjang perjalanan pencarian, tiba-tiba ponsel Evan berdering. Sebuah panggilan dari Alice datang menghampirinya.

__ADS_1


“Halo?”


“Kak Evan, maaf aku ganggu kakak. Bagaimana keadaan paman itu?”


“Maaf Alice, kakak tidak tahu. Sekarang ibu sedang ada di sana dan kakak pergi keluar.”


“Keluar? Kenapa? Ke mana?”


“Eldrey pergi. Saat bertemu, dia tampak emosi dan kabur dari rumah.”


Alice tersentak kaget mendengarnya. “Kabur? Dia pergi?” suaranya tampak panik. “Dia pergi ke mana?”


“Aku tidak tahu. Karena itu sekarang aku sedang mencarinya,” jelas Evan.


“Kalau begitu aku akan ikut membantu mencarinya.”


“Terima kasih Alice.” Panggilan antara keduanya pun terputus. Wajah Alice kalut mendengar kabar kepergian Eldrey. Ia pun segera bersiap-siap untuk membantu mencarinya.


Sekarang Alice sudah tahu kalau Eldrey merupakan putri bu Anna. Semua terbongkar saat ia mengatakan siapa orang yang sudah menyelamatkannya dan menjadi korban penembakan di depan toko roti.


Jika bukan karena penjelasan Alice, bu Anna mungkin akan terlambat mengetahui kalau mantan suaminya yang menjadi korban. Dengan isak tangis, ia mendatangi rumah sakit di mana Betrand dirawat namun tak menemukan apa-apa.


Tanpa berpikir panjang, ia segera menghubungi Charlie, sang bawahan presdir Betrand yang sempat memberikan nomor teleponnya pada Evan ketika bu Anna pingsan akibat insiden hampir ditabrak Eldrey.


Sekarang di sinilah bu Anna, di dalam sebuah kamar besar dan tenang. Ia menggenggam tangan presdir Betrand. Pria itu masih tak sadarkan diri, diiringi air mata menetes jatuh di pipi bu Anna. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa menggenggam kembali tangan sang mantan suami.


Untaian kata mengalir pelan di bibirnya, rasa bersalah berkumandang di sana. Tapi, sang mantan suami tak kunjung sadar.


Rasa penyesalan bertebaran dari diri bu Anna, akan tetapi waktu tak bisa diputar kembali. Karena ia sendiri yang memilih bercerai dari presdir Betrand. Tekanan dari keluarga sang suami atas dirinya, berujung pada perceraian.


Bohong jika ia tak menyesal sekarang, karena dirinya masih mencintai Betrand dan juga anak-anaknya. Tapi apa yang bisa ia lakukan. Nyonya Camila terus menekan, menghina dan menyiksa keluarga bu Anna sehingga ia tak punya pilihan selain berpisah.


Dia memang wanita miskin dan bukan menantu idaman. Pernikahan tanpa izin orang tua Betrand, membuatnya tertekan. Di mana sang suami kehilangan hak warisannya dan berujung pada kemiskinan.


Jika bukan karena amarah nyonya Camila, maka presdir Betrand takkan sampai di titik ini. Ia harus mengganti semua dana yang sudah dikeluarkan orang tuanya untuk membesarkan dirinya, serta membayar tinggi harga karena kehilangan hak warisannya.


Semua demi bisa bersama Raelianna Jin. Sang pujaan hati dan istri yang sangat disayanginya. Ia rela bekerja keras demi membayar semua tuntutan ibunya, namun usaha kerasnya dihancurkan sang istri yang memilih bercerai darinya.


Bukan hanya Eldrey yang hancur atas keputusan Raelianna, tapi Betrand juga. Ayah dan anak itu sama-sama terpukul di saat membutuhkan sandaran.


Betrand dengan tekanan keluarga dan pekerjaannya. Eldrey dengan tekanan tubuh dan mental yang rusak akibat penculikan dirinya. Mereka berdua benar-benar hancur akibat tak ada sandaran yang menopang keduanya.


Bukan suatu keanehan jika Eldrey tak bisa tumbuh dengan baik. Terlebih lagi, perceraian yang mengganggu emosi presdir Betrand membuatnya harus membesarkan putrinya. Kepribadian Eldrey sekarang adalah hasil didikan tanpa perhatiannya.


Gadis itu benar-benar sudah hancur luar dalamnya.


Sementara, di tempat yang berbeda, tampak sesosok gadis muda dengan kemeja hitam serta ripped jeans senada melekat indah di tubuhnya, duduk tenang di dekat stasiun kereta bawah tanah.


Wajahnya hanya menampilkan pesona muka datar andalannya. Cukup lama ia menghabiskan waktu duduk di sana, sampai akhirnya sang gadis muda memilih pergi menyusui jalanan yang tak terdapat cctv.


Karena bagaimanapun Eldrey sadar, kalau bawahan Betrand bisa melacaknya lewat sana.


Waktu terus berlanjut sampai malam, tapi Eldrey masih belum ditemukan. Padahal Charlie dan sekretaris Roma sudah memerintahkan para bawahan tapi hasilnya tetap nihil.


Bu Anna semakin dirundung rasa bersalah. Hasrat ingin menemui Betrand berubah menjadi malapetaka baginya. Putrinya benar-benar membencinya. Dirinya hanya bisa menangis, terlebih mendapat kabar dari Evan yang terdengar sia-sia.


Di jalanan yang sepi, Eldrey menapakinya sambil ditemani hembusan angin malam. Dinginnya udara terpancar jelas dari wajah pucat pasinya. Tapi itu tak berpengaruh apa pun, karena yang ada dipikirannya hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan.


Tak terasa kakinya sudah jauh berjalan, sampai di area jalan Club malam yang ramai pengunjung. Club itu berdekatan dengan kompleks jalan perumahan Henry, namun Eldrey tak menyadari itu.


Ia duduk di pinggiran, tak jauh dari area bangunan Club. Menghela napas pelan sambil diiringi tatapan kosong ke depan.


Bukan lelah yang mengganggunya, tapi lapar. Sejak kemarin gadis itu tak makan apa pun kecuali segelas jus di pagi hari.


Gadis kaya itu tak memiliki uang kecuali pakaian yang melekat di badan. Suara hiruk pikuk tak mengganggu, sampai akhirnya beberapa pemuda datang menghampirinya.


“Hai, sendiri saja? Bagaimana jika menemani kami sebentar? Sepertinya kamu tidak ada teman.”


“Aku sedang menunggu seseorang.”


“Benarkah? Siapa?”


“Dia,” ucap Eldrey menunjuk seorang pria berbadan tegak dan kekar dengan kaos ketat di badannya. Gadis itu langsung berdiri, dan pergi meninggalkan mereka.


“Sial! Ternyata dia bohong!” umpat salah satu pemuda saat menyadari Eldrey tak menghampiri orang yang ditunjuk namun kabur entah ke mana. Bagi Eldrey, itu adalah cara tercepat menipu pengganggu seperti mereka.


Pandangan Eldrey mulai buram, rasa lapar yang menggerogoti menggetarkan tubuhnya.

__ADS_1


Gadis itu tertahan sambil berjongkok saking laparnya.


“Nona? Anda baik-baik saja?” sapa seseorang menyentuh bahunya. Akan tetapi, semua sudah gelap di depan matanya.


__ADS_2