FORGIVE ME

FORGIVE ME
Bentakan Evan


__ADS_3

“Miskin? Sepertinya gadis kaya sepertimu memang tidak tahu malu ya. Bersikap murahan untuk membuat orang-orang bersimpati. Jalang tak tahu diri.”


“Hei!” hardik Evan tiba-tiba. Orang-orang terdiam karena suara menekan itu. “Jaga bicaramu! Adikku bukan jalang! Sekali lagi kamu mengatainya, aku takkan segan-segan padamu!”


“Kak!” Alice mencoba menenangkannya yang tampak emosi.


Sementara Eldrey, hanya melirik tenang pada Diana yang tampak gemetaran. Mungkin, dirinya takkan menyangka akan dibentak seperti itu di depan tunangannya yang sama sekali tidak membelanya.


Tiba-tiba Dean mengambil dompet dan kunci mobil dari sakunya. “Pergilah dengan Kevin,” sambil menyodorkannya pada Eldrey.


“Tidak, aku akan—”


“Ayo,” ajak Kevin lalu merangkul Eldrey tiba-tiba.


“Lepas brengsek!” Eldrey terlihat tak suka.


“Hei, aku ikut!” Steven menimpali. Bahkan Henry juga ikut berlari menyusul teman-temannya.


Kevin mengambil kunci mobil Dean dari Eldrey dan langsung membukakan pintu depan untuknya.


“Terima kasih,” Steven mendahului masuk ke pintu yang terbuka dan langsung ditatap horor Kevin karenanya.


Eldrey malah membuka pintu belakang mengabaikan itu semua. Tapi tiba-tiba Henry terkesiap karena Kevin melempar kunci mobil ke arahnya.


“Hah!”


“Bawa mobilnya, teman,” Kevin mengedipkan sebelah matanya pada Henry dan membuka pintu belakang.


“Aish! Kupikir kau yang bawa,” Steven meliriknya dengan sorot mata malas.


“Aku bosan berdekatan denganmu,” jawab Kevin santai. Namun Henry hanya memanyunkan bibir mendengarnya saat memasuki mobil.


“Sialan!” Steven melempar Kevin dengan topi di kepalanya tapi ditangkap cepat oleh sang pemuda yang tertawa.


Jujur saja Henry ingin duduk di dekat Eldrey, tapi lagi-lagi dirinya jadi supir dan di dampingi Steven.


Steven lagi, Steven lagi. Benar-benar membuatnya bosan melihat tampang jelek temannya itu.


“Hei, Eldrey,” panggil Steven tiba-tiba pada gadis yang telinganya sudah disumbat earphone itu. Penglihatannya menyoroti luar jendela, seperti tak peduli jika ada orang lain di sebelahnya.


“Eldrey,” ulang Steven lagi yang mana tubuhnya sudah berbalik ke belakang dan tangannya menarik salah satu earphone di telinga gadis itu. “Kamu cuek sekali, lagu apa yang kamu dengar?” tanyanya mendengarkan.


Eldrey menatap masam pemuda lancang itu namun tak bersuara apa-apa.


“Kamu suka lagu-lagu nu metal?”


Eldrey merebut kembali earphonenya dari telinga Steven. “Bukan urusanmu.”


“Wah, ketus sekali. Cantik-cantik seram,” celetuk Steven.


Sementara Henry dan Kevin sama-sama diam mendengarkan itu. Walau sesekali mereka melirik Eldrey.


Nu metal, setidaknya sekarang mereka tahu Eldrey menyukai lagu genre apa.


Mobil pun terhenti di depan sebuah supermarket yang tak jauh dari vila. Eldrey langsung turun duluan tanpa mempedulikan mereka.

__ADS_1


“Wah ... wah, harus kuakui kalau kita memang seperti pengawal,” Steven memandangi punggung Eldrey yang meninggalkan mereka.


“Berisik,” Henry meninggalkannya untuk menyusul putri Dempster.


“Hei Vin.”


“Mm,” pemuda itu menoleh.


“Apa menurutmu Henry bisa mendapatkan Eldrey?”


“Tidak.”


“Lho, kenapa?” Putra kedua Kendal pun tersenyum. “Kenapa tampangmu begitu?” Steven sungguh heran.


Kevin mengangkat bahunya sekilas. “Ayo,” ajaknya tanpa membalas pertanyaan temannya. Tentu saja hal itu mengundang penasaran Steven yang merasa sang pemuda aneh dan mungkin tidak waras.


Langkah mereka berhasil menemui Eldrey dan Henry yang tampak sibuk memilih makanan untuk dibeli.


Bahkan sesekali tawa berkumandang di bibir Henry yang memekarkan senyum karena Eldrey meresponsnya ketus namun lucu.


Pemandangan yang menarik. Jelas sekali Henry berusaha keras menempel pada Eldrey sementara sorot mata Kevin agak mendingin melihatnya.


“Hei, kalian tidak beli daging?”


“Ya, jadi tolong ambilkan,” suruh Henry seperti bos. Tentu saja Steven mendengus kesal namun tetap melakukannya.


“Vin! Ayo.”


“Sendiri saja, aku mau ambil sayur,” Kevin menggerakkan sebelah tangannya seperti mengusir.


Etalase tempat daging tertata lumayan jaraknya dari rak di mana Eldrey dan Henry sedang memilih snack.


Sampai akhirnya pandangan gadis itu teralihkan karena Kevin tiba-tiba menarik lengannya.


“Mau apa kau?”


“Pilih sayur,” jawabnya santai.


Sementara Henry yang posisinya tadi di balik rak tempat Eldrey berdiri sekarang melongo karena gadis itu tidak ada.


“Rey? Eldrey? Kamu di mana?” raut wajahnya agak panik karena gadis itu tidak terlihat. Sungguh ia terlalu fokus memilih snack sampai tak melihat kepergian putri Dempster lewat celah-celah pajangan di rak.


“Kau kan bisa pilih sendiri.”


“Bisa, cuma aku tak yakin. Nanti kalau sayur kadaluarsa yang kupilih bagaimana?”


“Kau pikir pihak supermarket bodoh menjual barang yang sudah uzur?” cela Eldrey lalu mengambil banyak jagung, parprika, asparagus, dan selada serta tomat.


Kevin hanya tersenyum melihatnya sampai akhirnya suara Henry membuyarkan ekspresinya.


“Ternyata kalian di sini.”


“Kan sudah kubilang kalau aku akan ambil sayur,” jelas Kevin.


Steven juga datang sambil membawa troli tersendiri. “Bagaimana? Segini cukup?” tanyanya yang membuat kedua pemuda di hadapan melirik ke dalam troli.

__ADS_1


“Kupikir sudah, bahkan terlalu banyak?” tanggap Henry.


“Lebih baik berlebih dari pada kekurangan,” sahut Kevin meninggalkan mereka. Akan tetapi, ia jadi bingung karena sosok Eldrey tak terlihat. Dirinya langsung menoleh untuk memastikan di mana keberadaan gadis itu.


Eldrey yang mendorong troli, sekarang justru berhenti di depan etalase yang memamerkan cake. Ia cukup lapar, jadi makanan ini akan sangat bagus mengganjal perut menurutnya.


“Hei, Eldrey, kami kesusahan mencarimu,” sela Steven yang berjalan mendekatinya. “Kami pikir kamu sudah duluan,” celetuknya namun hanya dibalas dengan muka masam oleh putri Dempster.


“Sudah semua? Kalau begitu ayo bayar,” ajak Kevin mengalihkan tatapan mereka. Eldrey pun tiba-tiba melempar dompet Dean ke arahnya.


“Aku tunggu di luar,” gadis itu pergi mendahului mereka.


“Ya ampun, dia benar-benar seperti bos dan kita pembantunya,” Steven terkekeh. “Sepertinya kau harus bermental baja, teman,” sambil merangkul Henry yang memandangi kepergian gadis itu. “Jangan dilihat saja, kejar,” ucapnya lalu mendorong tubuh temannya.


“Hah?”


“Kau tidak mengerti? Dia sedang menunggu sendirian sekarang, jadi temani dia,” jelas Steven sambil mengacungkan jempolnya.


Sementara Kevin yang mendengar itu rahangnya hanya bisa menegas karena tak suka. Tapi, tak mungkin ia mengatakannya dengan jelas. “Ayo, kalau terlalu lama bisa-bisa kita diomeli.”


Ketiganya setuju, sementara Henry menyusul putri Dempster dan sisanya mengantri di kasir.


“Eldrey?” panggil Henry. Jujur dirinya agak kaget, saat mendapati gadis itu sedang berhadapan dengan dua orang pemuda dan seorang cewek yang sebaya.


“Mm? Ternyata kamu dengan temanmu ya, sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu ikut dengan kami. Vincent pasti akan sangat senang sekali,” Paul terlihat memamerkan tampang kecewanya.


Eldrey hanya diam memperhatikan ketiganya, tak ada niat untuk menjawabnya. Henry yang sudah berdiri di samping gadis itu cuma diam memperhatikan tampang asing di depan.


“Hai? Salam kenal. Namaku Halley,” gadis asing itu memperkenalkan dirinya.


“Aku Paul.”


“Henry,” balas pemuda itu saat mereka berjabat tangan.


“Tom,” sahut laki-laki yang seorang lagi.


“Kamu teman Eldrey?” tanya Halley tiba-tiba.


“Ah iya, kalian juga?” Henry ikut bertanya.


“Yah, bisa dibilang kami teman barunya. Walau teman lama Eldrey sedang pergi sebentar untuk mengisi bensin mobil.”


Di tangan wanita itu ada bungkusan kecil sementara Paul dan Tom memegang bungkusan besar masing-masingnya.


“O-oh,” respons Henry. Padahal ia sempat berpikir kalau mereka teman akrab Eldrey ternyata bukan. Hatinya jadi bersyukur karenanya.


“Maaf, kalian menunggu lama,” Steven tertawa aneh sambil membawa bungkusan besar. Tapi sorot matanya berubah menatap tiga orang yang sedang berdiri di depan Henry dan Eldrey. “Mm? Siapa?”


“Teman Eldrey,” jelas Henry.


“Aku tak ingat pernah punya teman seperti mereka,” ujar putri Dempster akhirnya. Sontak saja tiga sosok asing itu memandang gadis di pandangan dengan ekspresi jengkel.


“Apa mungkin, kamu masih marah dengan insiden kemarin?” tanya Paul dengan lembut.


“Insiden?” Eldrey tertawa pelan. “Terlepas dari itu, kita memang tidak saling mengenal bukan? Karena kenalanku cuma Vincent.”

__ADS_1


 


__ADS_2