FORGIVE ME

FORGIVE ME
Evan dan bu Anna


__ADS_3

“Evan ....” panggil bu Anna sambil memeluk putranya. Wanita itu mengelus lembut rambut putranya. Hanya itu yang bisa ia lakukan, tindakan berupa ucapan takkan membantunya karena kenyataannya mereka berdua sama-sama tahu bagaimana pahitnya suatu perpisahan. Perpisahan bagi anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tua.


Tapi, pilihan yang diambil bu Anna membuat Evan harus kehilangan sosok ayah yang selalu ia kagumi. Dan adiknya, harus kehilangan sosok ibu yang selalu memberikan perhatian.


Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini?


Perpisahan antara kedua orang tuanya, membuat ia harus terpisah dari adik yang sangat ... Sangat .... Ia cintai. Adik kecil yang selalu bersikap manja padanya, adik kecil yang selalu membuatnya tertawa, adik kecil yang bersandar padanya, adik kecil yang ketakutan karena serangan terhadap mereka, adik kecil yang menyalahkannya karena memilih pergi meninggalkannya.


Adik kecil yang menangis keras karena perpisahan yang belum bisa diterimanya.


Sosok adik kecil itu masih membayanginya walau wajahnya samar dalam ingatan. Sudah 9 tahun Evan tak bertemu dengan adiknya dan juga ayahnya. Evan benar-benar tak bisa lagi mengingat wajah mereka, karena tak ada kesempatan untuk bertemu keduanya.


Perjanjian antara ibunya dan keluarga ayahnya membawa mereka pada perpisahan yang menyakitkan ini.


“Maafkan ibu nak,” gumam bu Anna pada Evan yang sudah tak menangis lagi.


“Apa yang ibu katakan? Ibu tak salah apa-apa,” balas Evan sambil tersenyum.


Bu Anna terdiam mendengarnya, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya seolah-olah berubah menjadi pecahan-pecahan kaca karena tak bisa melakukan apa-apa.


Kenyataan kalau ia juga merindukan putri kecilnya tak bisa lagi dibohongi, wajah malaikat kecil itu bahkan tak bisa ia sentuh.


Bu Anna hanya bisa menatap gadis itu dari kejauhan yang temaram, dari sudut tak terlihat, berusaha menyimpan rupa wajah malaikat kecilnya yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik di hatinya.


Sampai kapan semuanya harus seperti ini?


“Aku akan mengurus mobilmu, akan jadi masalah jika kau pulang dalam keadaan seperti ini. Apa kau bisa menunggu?” tanya Charlie pada Kevin yang menatap mobilnya.


“Aku pasti akan dicari karena masih belum pulang,” balas Kevin.


“Tenang saja, katakan saja kalau kau menginap di rumah temanmu, itu tidak sulit bukan?”


“Gampang saja bagi anda ya tuan,” lirih Kevin jengkel.


“Ya sudah, apa kau ingin berita kematianmu yang keluar? Jadi kau tak perlu memikirkan alasan bukan?” ucap Charlie asal yang membuat Kevin menatap tajamnya.

__ADS_1


Charlie pun tersenyum dan menyentuh pundaknya, “aku suka tatapanmu, masih muda dan naif, tapi sorot itu akan tumbuh jadi lebih baik jika kau mengasahnya.”


Kevin mencerna kalimat itu, lalu ia pergi memasuki rumah dokter Arlene di mana dirinya sedang masa pemulihan sampai mobilnya selesai diperbaiki.


Bagi Charlie tak sulit mengurus mobil setengah ringsek itu, lebih sulit mengurus majikannya daripada yang lainnya.


Eldrey sedang menikmati pemandangan yang terhampar lewat balkon. Sebuah sofa santai pun menjadi tempat peristirahatannya. Tapi sorot matanya yang mulai kosong membuat gadis itu tersadar atas kedatangan Kevin yang mengganggunya.


Laki-laki itu berjalan menghampiri dengan memandang lekat wajahnya. Gadis itu memalingkan mukanya, menatap sesuatu untuk menghilangkan kebosanannya.


“Kenapa kamu bisa ada di rumah sakit?” tanya Kevin tiba-tiba lalu duduk di sebelahnya.


“Aku dirawat di sana.”


“Di rawat?”


“Mmm,” balas Eldrey singkat.


“Kamu sakit apa?”


Eldrey lalu menunjuk ke bekas luka yang tertutup bajunya, “ditusuk pisau,” jelas Eldrey pendek tanpa tambahan yang lain.


“Kenapa bisa?!”


Eldrey pun menatap Kevin lewat sudut matanya, “ada perkelahian dan aku jadi korban penusukan.”


“Apa kak Alice tahu kalau kamu dirawat?”


“Entahlah!” padahal gadis itu tahu dengan jelas kenyataan kalau Alice diusir penjaganya saat ingin melihat keadaannya.


“Kamu tidak memberi tahunya?”


“Aku tak punya waktu untuk itu.”


Kevin pun mengerinyitkan dahinya, “apa maksudmu? Bukankah kalian berteman? Sudah seharusnya kak Alice tahu kondisimu agar dia tak cemas,” sahut Kevin membuat gadis itu semakin malas mendengar ocehannya.

__ADS_1


“Apa kau pikir aku punya waktu memikirkan itu di saat kondisiku seperti ini? Aku sudah lelah dengan luka-luka ini, jadi aku tak butuh ucapan cepat sembuh yang takkan membantuku mengurangi rasa sakit ini.”


Eldrey pun berdiri dari duduknya, ia memaksa kakinya untuk berjalan padahal dokter Arlene sudah melarangnya.


“Hei! Kamu mau ke mana? Dokter itu melarangmu untuk jalan-jalan!” tukas Kevin kaget.


“Ia melarangku jalan-jalan, bukan berarti aku tak boleh ke kamar bukan?”


Kevin terdiam, gadis itu benar-benar membungkamnya dengan jawaban-jawaban yang tak terduga. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri Eldrey dan menggendongnya, “apa yang kau lakukan?” tanya gadis itu bernada datar.


“Aku akan mengantarmu ke kamar,” pungkas Kevin menggendong Eldrey menuju kamar yang telah di siapkan pembantu dokter Arlene. Sebuah kamar besar yang tenang, dipenuhi aroma bunga lavender di sudut ruangan.


Kevin pun menurunkan Eldrey di ranjang kamar tersebut, gadis itu menatapnya, “terima kasih,” ucap singkat Eldrey lalu perlahan-lahan merebahkan tubuhnya.


Rasa sakit serta lelah yang menggerogotinya membuat gadis itu kehabisan tenaga dan memilih menutup matanya agar ia bisa beristirahat dengan tenang.


Kevin, hanya bisa menatap heran Eldrey karena bagaimanapun juga ia merasa kasihan padanya.


Tak jelas apa masalahnya, tapi gadis itu sedang terancam nyawanya karena penyerangan yang sudah ia alami. Walau bagaimanapun juga ia masih muda, untuk mengalami hal seperti itu sangatlah kejam baginya.


Setidaknya itulah yang dipikirkan Kevin saat mendengar dan melihat kondisi Eldrey.


Tapi kenyataannya, Eldrey sudah merasakan sesuatu yang lebih buruk dari penyerangan ini.


Sesuatu yang membuatnya dikenal keji oleh bawahan presdir Betrand yang mengetahuinya.


Kevin membenarkan selimut yang menutupi tubuh Eldrey agar benar posisinya. Ia memandang wajah manis yang sudah terlelap itu, memperhatikan setiap sudutnya, tampang kelelahan benar-benar terpancar dari wajah Eldrey itu.


Tanpa pikir panjang Kevin langsung pergi meninggalkan Eldrey agar gadis itu bisa beristirahat dengan tenang di kamar tersebut.


Sesampainya di luar tampak sekretaris Roma memandang tajam ke arahnya. “Jangan macam-macam karena mataku selalu mengikutimu.”


Ia lalu pergi menuruni tangga meninggalkan Kevin yang masih terdiam di sana.


“Apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu?” gumamnya sambil mengacak-acak kasar rambutnya.

__ADS_1


“Aduh!” pekik Kevin saat menyentuh perban luka di kepalanya. Sekarang bukan saat yang tepat menghubungi orang rumahnya mengingat kondisinya yang terluka seperti itu.


Ibunya pasti akan sangat cemas dan sibuk menginterogasi dirinya. Apalagi saat Kevin membayangkan wajah dingin ayahnya yang lebih fokus pada kehormatan dan kekuasaan dibanding anak membuat Kevin semakin enggan menghubungi keluarganya agar tak ketahuan keadaan yang sebenarnya.


__ADS_2