FORGIVE ME

FORGIVE ME
Tiga laki-laki


__ADS_3

“Halo?” begitulah kalimat yang pertama kali disemburkan Kevin saat panggilan tersambung.


“Kamu di mana?” tanya Tuan Kendal tanpa basa-basi.


“Di jalan. Ada apa, Pa?”


“Apa kamu tahu kalau gadis yang kamu sukai itu sedang bersama putra Harel?”


Kevin pun terkesiap. “Kak Ramses?”


“Papa melihat keduanya di depan Hotel.”


“Benarkah?! Hotel mana?” tanyanya panik. Selesai mendengar jawaban Tuan Kendal putra kedua Cesar pun mematikan panggilan.


Tapi, kalimat terakhir ayahnya masih terngiang di otaknya.


“Jika kamu memang menginginkannya maka rantai dia. Jangan sampai jatuh ke tangan siapa pun agar kamu bisa mendapatkannya.”


Terdengar aneh baginya. Tuan Kendal memang setuju dengan pilihannya mengingat latar belakang Eldrey yang sangat menjanjikan.


Tapi, entah kenapa ia tak suka jadinya seolah Eldrey tidak punya harga dan bisa dilakukan seperti apa saja.


Kevin benar-benar tidak suka jika orang yang dicintainya diperlakukan begitu walau itu merupakan suruhan orang tuanya sendiri. Sekarang, mobil pun dilajukan di atas rata-rata karena putra Cesar tak ingin gagal menemuinya.


Sementara di tempat Eldrey dan Ramses berada, keduanya memang berdiri di depan Hotel yang ditinggalinya tadi.


Masih berdebat, di mana putri Dempster masih tak ingin pulang tapi putra Tuan Harel terus memaksanya.


“Mau sampai kapan kamu begini? Ayo pulang Eldrey, keluargamu pasti mencemaskanmu.”


“Kenapa tidak kau saja yang pergi? Aku tidak pernah menahanmu di sini.”


“Cih!” Ramses pun berdecih. Jujur saja ia tak ingin begitu tapi sosoknya benar-benar jengkel pada putri Dempster. Bagaimana lagi cara membujuknya? Jika tidak diikuti dia bisa saja kelayapan entah ke mana.


Sosoknya tak mau gadis itu kenapa-kenapa. Tapi, di sela syok atas pemikiran yang begitu sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka. Berhasil mengalihkan perhatian Eldrey sehingga ia waspada.


Berharap kalau itu bukanlah kendaraan dari suruhan ayahnya.


Tapi sosok yang turun cukup mengejutkan mereka. Walau ekspresi Eldrey tenang-tenang saja, tapi Ramses jelas berbeda.


“Kevin? Kamu kenapa bisa ada di sini?”


“Hai?” sapa laki-laki itu mengabaikan pertanyaan teman kakaknya. “Tak kusangka kita akan bertemu di sini,” ucapnya berpura-pura. Padahal ia memang datang untuk menemui mereka berdua.


“Jadi, kenapa kamu bisa ada di sini?”


Entah kenapa Kevin malah tersenyum kepadanya. “Aku sedang ada urusan dan kebetulan lewat sini. Benar juga, kudengar kamu masih belum pulang ya? Padahal Charlie sangat mencemaskanmu, Eldrey,” lanjutnya mengalihkan pembahasan.


Ramses dan putri Dempster pun sama-sama menatap lekat kepadanya.

__ADS_1


“Kamu tahu kalau Eldrey—”


“Ya,” potong Kevin tiba-tiba. “Jadi Eldrey, apa kamu mau aku antar pulang?” Gadis itu sontak saja menggeleng. “Lalu?”


“Kenapa harus kamu yang mengantarnya pulang?” sela Ramses tiba-tiba. Tentunya mengejutkan putra Cesar dan membuat hatinya berdesir aneh. “Dia sedang bersamaku.”


Butuh beberapa saat bagi pemuda itu untuk menjawabnya. Dia perlahan agak menundukkan kepala sebelum menatap kembali teman kakaknya.


“Dia memang bersamamu. Tapi dia kekasihku. Tak ada salahnya kalau aku yang mengantarkannya bukan?”


Tersentak. Ramses terbelalak. Spontan ia menoleh dan menatap tak percaya pada Eldrey serta Kevin secara bergantian.


“Kalian berpacaran?” tanya Ramses pada Eldrey yang dari tadi hanya diam saja.


“Ya. Kami memang berpacaran. Kakak tidak tahu? Belum di beritahu?” Kevin tiba-tiba merangkul putri Dempster.


“Eldrey, apa itu benar?”


Perlahan gadis itu mengangguk dan membuat Ramses tak habis pikir dengannya. “Bagaimana bisa?!”


“Apa maksud Kakak menanyakan itu?” bingung Kevin kepadanya.


Suara helaan napas kasar pun terlontar dari Ramses. Ia pun mengusap kasar rambutnya sebelum melanjutkan pembicaraan.


“Kalian tidak saling menyukai bukan? Kenapa malah berpacaran?”


Sungguh kalimatnya sangat melukai hati Kevin yang mendengarkan. “Kak, apa maksudmu?”


“Karena aku menyukainya.”


“Ayolah Kevin Daniello Cesar. Apa kamu harus berbohong seperti itu?”


Rasanya menyebalkan dan membuat putra Kendal jadi mengepalkan tangan. “Aku yang menyukainya kenapa Kakak yang sibuk? Kamu benar-benar mirik Kak Dean.”


“Karena Eldrey itu temanku. Dan kamu bilang dirimu berpacaran dengannya, tentu saja itu jadi urusanku. Dan Eldrey, kamu kenapa berpacaran dengannya? Kamu jelas-jelas tidak menyukainya juga.”


Sekarang, sosok Ramses benar-benar seperti kakak mereka berdua yang sedang menginterogasi adik-adiknya.


Entah kenapa Kevin merasa seperti pelaku kejahatan sekarang dibuatnya.


“Eldrey, kamu dengar aku tidak? Aku sedang bertanya padamu.”


Tapi bukannya menjawab, sorot mata Eldrey malah bertemu dengan putra keluarga Jackson. Laki-laki itu agak terkejut melihatnya namun perlahan ia mengibarkan senyuman ke arah putri Dempster.


Tanpa keraguan ditinggalkannya teman-temannya yang sudah melangkah duluan entah ke mana.


“Halo, kita bertemu lagi,” sapanya dan mengalihkan atensi Kevin dan Ramses kepadanya.


“Ah,” gumam putra Turner karena malas bertemu laki-laki itu.

__ADS_1


Dan lirikan mata Samuel pun menyapu tangan Kevin yang masih merangkul Eldrey.


“Sepertinya kamu sangat terkenal di kalangan laki-laki. Jadi, apa kamu masih belum putus dengannya?” tanya Samuel sambil melirik Ramses lalu beralih pada Kevin. “Sampai-sampai di dekati laki-laki lain lagi.”


“Apa—” kaget Kevin. Ia benar-benar tidak suka dengan nada bicara orang asing itu. “Siapa kau?”


Samuel tersenyum namun sorot matanya sekarang lebih fokus pada Eldrey. Jujur saja, Ramses juga tidak menyukainya terlebih lagi arah mata orang asing ini membuatnya ingin memukulnya.


Putra keluarga Jackson jelas-jelas memperhatikan dada putri Dempster.


“Aku?” tunjuk Samuel pada dirinya sendiri. “Calon tunangan wanita yang kamu rangkul itu.”


Sontak saja tubuh Kevin menegang. Ditatap tak percayanya Eldrey bersamaan dengan rangkulan yang perlahan dilepaskan.


“Omong kosong apa ini?” tanya Kevin menatap gadis itu. Tapi Eldrey tidak membalasnya, entah kenapa sosoknya malah pelit suara. Tak mengatakan apa pun di tengah-tengah ocehan para pria yang jelas-jelas seperti ingin memperebutkannya.


“Sudahlah. Eldrey, ayo kita pergi,” ajak Ramses sambil meraih salah satu tangannya. Tapi ia membeku karena gadis itu dicegat dua laki-laki di sisinya.


Siapa lagi kalau bukan Kevin yang menahan lengan kiri Eldrey sementara Samuel memegang sisi kanan tepat di mana Ramses menggenggam tangan putri Dempster.


Perlahan Eldrey menggerakan matanya dan melirik ketiga laki-laki itu dengan tampak tidak menyenangkan.


“Lepaskan aku,” ucapnya lalu menarik tangannya.


Walau sentuhan Samuel dan Ramses terlepaskan, tapi tidak dengan Kevin. Sorot mata mereka bertemu diiringi tatapan mata pemuda itu menyiratkan sesuatu.


“Aku masih pacarmu bukan?” tanyanya.


Samuel dan Ramses agak kaget mendengarnya. Terlebih putra Jackson mengira laki-laki di sebelahnya inilah kekasih putri Dempster.


Perlahan, sentuhan Kevin seperti ingin mencengkeram lengan Eldrey. Seolah mengharapkan jawaban sesuai keinginannya.


“Tentu saja. Bukankah kita sudah berjanji?” balasnya tiba-tiba.


Tentunya senyum bahagia terpancar dari putra Cesar. Namun menimbulkan lirikan aneh dari Ramses dan Samuel.


Adik dari Fiona tidaklah bodoh. Ia sadar kalau Kevin memiliki perasaan pada Eldrey. Tapi bagaimana dengan gadis itu? Tak ada pesona suka atau binar bahagia di wajahnya.


Seolah semua terasa datar baginya. Mereka berpacaran, tapi kenapa terasa seperti berpura-pura? Itulah yang ditangkapnya saat melihat interaksi keduanya.


Tapi, raut berbeda dilukiskan Samuel yang menonton mereka. Tanpa keraguan disentuhnya dagu Eldrey sehingga membuat putri Dempster berpaling kepadanya.


“Bersenang-senanglah. Karena pertunangan kita sebentar lagi, Nona,” ucapnya dengan sorot mata tajam kepadanya. 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2