
Pria itu meronta-ronta untuk membebaskan dirinya dari Eldrey, tapi tindihan lutut yang ditekan gadis itu pada lehernya membuat pria itu kesulitan bernapas.
Sekarang tubuh serta napasnya melemah, pria tersebut pun tak bergerak lagi karena serangan tak terduga dari gadis yang sedang terluka itu.
Eldrey masih menekan keras lututnya, ia menatap tajam pria itu dan memastikan keadaannya. Napas pria tersebut sudah berhenti membuat Eldrey memindahkan lututnya dan mencekik pria itu.
“Apa yang kamu lakukan?” pekik Kevin kaget dengan tindakannya. Tapi sayang, gadis itu tak mengacuhkannya dan tetap melanjutkan aksinya, ia mencekik erat pria itu sampai dirinya benar-benar yakin kalau orang tersebut sudah tewas.
Kevin benar-benar tak percaya dengan pemandangan di depannya, seorang gadis muda yang sedang terluka dan tak ragu menghabisi seseorang yang sudah tak jelas kondisinya.
“Ayo angkat dia,” perintah Eldrey sambil menatap Kevin datar.
“Apa maksudmu?”
“Kita tak bisa membiarkan mayatnya di sini, ayo pindahkan dia ke mobilmu,” sahut Eldrey tanpa basa-basi.
Kevin terdiam, memang benar apa yang dikatakan gadis itu, hanya saja situasi seperti itu baru pertama kali baginya. Kebodohannya karena mengikuti gadis itu membuatnya berada dalam situasi mengerikan ini, jadi sekarang apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya?
“Tenang saja, kau tak akan jadi kriminal karena aku yang membunuhnya, ayo cepat angkat ini karena bisa saja ada orang lain yang melihatnya,” lirih Eldrey pelan.
Dengan terpaksa Kevin pun membantu Eldrey mengangkat mayat itu dan memasukkannya ke dalam mobilnya.
“Bagaimana dengan mobil orang itu?”
“Biarkan saja, itu kita pikirkan nanti yang jelas kita harus pergi sekarang!” ucap Eldrey yang dianggukkan Kevin.
Walau bagian depan dan belakang mobil itu agak hancur setidaknya masih bisa melaju dengan baik. Kevin pun mengemudikan mobil mengikuti arahan Eldrey.
Mereka menyusuri jalanan yang agak sepi membuat Kevin heran karena ia tak pernah melewatinya.
“Sepertinya kamu tahu banyak jalan,” ucap Kevin tiba-tiba.
Tapi Eldrey tak menjawabnya, gadis itu fokus menekan bekas luka tusukan di perutnya yang kembali menganga. Tak hanya itu, salah satu telapak tangan dan kakinya juga terluka akibat pecahan gelas kaca. Bagaimana bisa gadis itu bergerak dan bertindak dalam keadaan tubuh yang seperti itu?
Kevin pun menatapnya, ia bisa melihat jejak darah yang mengering di tangan dan baju Eldrey, tampak napas gadis itu memburu karena kondisinya yang sekarang ini.
__ADS_1
Kevin pun memaksa laju kendaraannya dengan kecepatan sedang mengingat kondisinya juga terluka dan mereka pun akhirnya sampai di tempat yang dituju.
Sebuah kediaman yang tampak normal dengan halaman luas dan cctv di gerbangnya yang tertutup.
“Anda siapa?” tanya penjaga gerbang rumah itu menatap Kevin lewat jendela mobil yang terbuka.
“Bukakan gerbangnya bodoh!” perintah Eldrey tiba-tiba yang menatapnya lewat jendela mobil di sebelah Kevin.
Spontan penjaga gerbang itu segera membuka pintu gerbang begitu menyadari siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Kevin hanya diam memperhatikan situasi di sekelilingnya, bagaimanapun juga kepalanya masih sakit akibat terluka yang belum sempat diobatinya.
Mereka pun turun dari mobil, Eldrey merasa semua pandangan di depannya buram terlebih lagi pusing juga ikut menyelimuti kepalanya, mungkin saja itu karena rasa sakit di sekujur tubuhnya sebagai penyebabnya. Tapi kegigihan serta keras kepala dirinya memaksa kesadaran gadis itu agar tak pingsan begitu saja.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Kevin yang tiba-tiba menyadari kalau Eldrey sedang berdiri tertahan berpegangan pada mobil karena rasa sakit yang sudah menghantuinya.
Tanpa pikir panjang Kevin pun menghampirinya dan menggendongnya, “rumah ini tujuan kita? Kalau begitu biar aku menggendongmu sampai ke dalam,” tukas Kevin tanpa ragu.
Eldrey yang merasa tenaganya sudah mulai lenyap pun hanya diam dan menutup matanya, ia benar-benar membiarkan semuanya berjalan apa adanya.
Di dalam rumah ....
“Nyonya! Nyonya!” pekik pembantu rumah tersebut saat mengetahui siapa yang datang.
“Ya ampun nona Eldrey!” pekik wanita itu.
“Ayo bawa dia ke dalam!” ajaknya pada Kevin.
Kevin pun mengikuti langkah kaki wanita itu menuju sebuah lorong yang agak panjang. Dari luar rumah itu tampak biasa saja, tapi ia tak menyangka jika bagian dalam rumah itu sangat besar. Mereka pun sampai di sebuah pintu kaca yang cukup unik dan saat wanita itu membukanya, tampaklah ruangan layaknya ruang rawat di rumah sakit.
“Baringkan dia di sana!” ucap wanita itu pada Kevin. Kevin pun mengangguk dan membaringkan Eldrey di ranjang yang tersedia itu.
“Ya ampun apa yang terjadi padanya? Padahal belum lama ini aku mengobatinya karena sakit,” sahut wanita itu sambil menyiapkan peralatan yang ada.
Tiba-tiba masuklah seorang perempuan yang tampak lebih muda dari wanita itu.
“Ayumi! Tolong obati pemuda itu!” perintah wanita itu pada perempuan yang baru datang itu.
__ADS_1
Perempuan itu mengangguk, ia pun mendekati Kevin dan menatapnya, “mmm .... Sepertinya kepalamu habis membentur sesuatu,” sahut perempuan itu menatap lekat luka di dahi Kevin. “Ayo ikut aku,” ajaknya pada Kevin menuju ruangan yang berbeda dengan Eldrey.
Ia pun memakai sarung tangan dan mulai mengobati luka di kepala Kevin dengan hati-hati.
“Uughh ....” erang Eldrey tiba-tiba. Tampaknya ia sudah sadar akibat pengobatan yang dilakukan dokter Arlene padanya.
“Nona! Apa yang terjadi padamu?! Bagaimana anda bisa terluka seperti ini?!”
“Fokus saja mengobatiku, jangan banyak tanya!” ucap Eldrey kesal. Dokter Arlene pun terdiam dan melanjutkan lagi pengobatannya.
Sementara sebuah mobil sedan hitam pun memasuki kediaman dokter Arlene. Sesosok yang tak asing bersama seorang anak buahnya pun turun dari mobil tersebut.
Ia menatap aneh pada mobil Kevin yang terparkir di sana. Mobil yang bagian depan dan belakangnya rusak akibat ditabrak atau menabrak.
Tanpa pikir panjang ia memasuki kediaman dokter Arlene, “di mana mereka?!” tanya orang itu.
“Di ruang rawat tuan,” sahut pembantu rumah itu.
Orang itu pun segera pergi menuju tempat yang dikatakan, tampaknya ia sudah tidak asing dengan kediaman itu karena bisa mengetahui dengan mudah di mana posisi orang-orang yang sedang dicarinya.
“Nona?!” pekik Charlie memanggil orang yang dicarinya itu. Suaranya mengagetkan orang-orang yang berada di sana. Spontan ia pun menyusuri ruangan di mana Eldrey kemungkinan berada.
Di ruangan ketiga, tampaklah sosok gadis yang dicarinya, Charlie pun bernapas lega karena menatap kondisi gadis itu yang tak baik-baik saja. Setidaknya gadis itu masih belum tewas, karena itulah ia bernapas lega.
Tapi sorot matanya berubah saat melihat dokter Arlene berusaha keras mengeluarkan beberapa serpihan pecahan kaca yang ada di telapak kaki gadis itu. Tak hanya di kakinya, salah satu telapak tangan gadis itu juga terluka dengan luka sayatan yang tak jelas lagi bagaimana bentuknya.
Charlie pun mengepal erat tangannya melihat kondisi putri bosnya itu. Ayumi dan Kevin pun memasuki ruang rawat Eldrey di mana ia sudah selesai mengobati pemuda itu.
“Ayumi tolong obati tangan nona!” perintah dokter Arlene yang menyadari kehadirannya. Perempuan itu mengangguk dan melaksanakan perintah tanpa membuang-buang waktu.
Charlie yang juga menyadari kehadiran mereka pun menatap tajam ke arah Kevin, “siapa kau?” tanyanya dengan nada menekan.
“Lupakan dia! Bisakah kau urus mobil di gang Kroita? Itu mobil pengejarku dan mayatnya ada di mobil ringsek yang di luar!” perintah Eldrey pelan pada Charlie.
“Baiklah,” balasnya tanpa banyak tanya.
__ADS_1
Ia memberi kode pada bawahan yang sedang bersamanya untuk mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.
Kevin hanya menatap sekelilingnya, ia sadar kalau dirinya sedang berada di tempat yang tak semestinya. Tapi bagaimanapun juga ia sudah terlanjur terlibat dalam lingkaran berbahaya yang tak ia ketahui dengan benar bagaimana alur permainannya.