
“Ternyata benar Eldrey. Wah, tak kusangka kamu sedang makan bersama seperti ini, padahal ayahmu terbaring koma. Kadang-kadang saat seperti ini memang dibutuhkan,” ucapnya tiba-tiba.
Orang-orang di sana terkesiap mendengar kalimat gadis itu. Ia menyunggingkan senyum cerah di hadapan mereka.
“Wah, ada kursi kosong, apa kami boleh bergabung?” tanyanya.
Ketiga pemuda itu saling berbagi pandangan. Eldrey yang ditatap malah tak acuh sambil mencicipi kuah ramennya.
“Silakan,” Steven akhirnya bersuara. Ia tak yakin dengan suasana ini, terlebih kata yang terlontar dari gadis pendatang menyiratkan kalau mulutnya cukup berbahaya untuk dilawan.
Mendengar persetujuan itu, gadis tersebut tersenyum senang lalu duduk di samping Kevin dan temannya di sebelah Steven. Sekarang, kursi kosong di meja mereka sudah terisi.
Eldrey yang terjepit di dekat dinding, menatap pemandangan lepas dengan deburan udara bebas menghantam wajahnya. Ia tak peduli dan tetap melanjutkan makan.
“Oh ya, kenalkan aku sepupu Eldrey, Lily. Dan ini temanku Naomi.”
Pemuda-pemuda itu menyambut perkenalan, walau Kevin sudah mengetahui siapa sosok di sampingnya.
“Tak kusangka kita akan bertemu lagi Kevin,” ucap Lily.
“Ya.”
Jawaban singkat Kevin mengundang tanda tanya kedua temannya.
“Oh ya, kalian kuliah di mana?” tanya Lily.
“Xercoln,” lirih Steven melahap makanannya perlahan.
“Oh, kalau aku dan Naomi di Oxtello Rako, sama dengan Eldrey.”
“Begitu ya, tidak begitu jauh dari sini.”
“Iya.”
Hanya mereka berdua yang berbicara. Sementara Naomi sibuk melirik para pemuda lewat ekor matanya.
“Tidak kusangka Eldrey punya banyak teman pria seperti ini. Sepertinya pergaulanmu luar biasa Rey,” timpal Naomi tiba-tiba.
Gadis yang ditanya hanya melirik sekilas. “Tentu saja, Eldrey bukan perempuan seperti kita. Dia ada di level yang berbeda, bukankah begitu Rey?” Lily tersenyum tipis.
“Sepertinya kalian tidak terlalu sering main bersama,” sahut Steven sambil tertawa pelan untuk menghangatkan suasana makan.
“Tentu saja, Eldrey mana sudi main bersama gadis membosankan sepertiku.” Lily ikut tertawa. Kevin masih sibuk memainkan ponselnya karena tak ingin terlibat, mengingat yang di sebelahnya singa betina.
“Begitukah? Padahal tampangmu tidak seperti orang yang pilih-pilih teman.”
Gadis itu tersenyum. “Kamu bertanya padaku?”
“Itu ...” Steven tak melanjutkan ucapannya. Ia sadar kalau suasana semakin aneh sekarang.
“Yah, tampang memang bisa menipu. Jika dilihat sekilas, pasti takkan ada yang menyangka jika gadis secantik Eldrey pernah berada di rumah sakit jiwa.”
“Apa!” Naomi tersentak kaget mendengarnya. Tak hanya dirinya, Steven dan Henry juga memberikan reaksi yang sama.
“Benarkah?” Steven menoleh tak percaya pada sosok di depan mata.
Kevin terdiam. Merasa risih dengan kalimat yang dilontarkan Lily tanpa berpikir akan seperti apa respons sepupunya.
“Eh, apa itu berarti kalian belum tahu? Maaf, kupikir karena kalian berteman, jadi sudah tahu tentang itu.”
Henry menatap lekat Eldrey, walau sebenarnya ia kaget mendengarnya. Tapi dirinya lebih memikirkan seperti apa perasaan gadis yang sedang tersudut itu.
“Umm, ma-maafkan aku, aku tak bermaksud memperkeruh suasana,” gumam Lily karena tak ada lagi yang bersuara.
Eldrey meliriknya sambil menopang dagu dengan tangan kiri. “Kenapa kamu minta maaf? Jangan memperburuk suasana. Lagi pula sebelum berbicara, otakmu pasti berpikir duluan. Menurutku tak ada yang aneh dari ucapanmu.”
Lily memandang aneh pada sepupu angkuhnya. “Apa maksudmu Rey? Aku tak bermaksud seperti itu,” tampak dirinya menyiratkan rasa bersalah.
“Ya, aku tahu. Kamu yang pendatang bermaksud menghangatkan suasana dengan topik tak biasa. Aku tak masalah jika kehidupanku dijadikan bahan pembicaraan.”
Mereka semua terdiam. Masing-masing yakin kalau suasana akan terus memanas jika dilanjutkan.
“Itu, kenapa kamu berkata seperti itu Rey? Kamu membuatku terdengar seperti orang jahat,” tiba-tiba Lily meneteskan air mata yang membuat anak-anak terkesiap.
“Lily,” Naomi panik dan mengambilkan tisu. “Sudah hentikan Rey, Lily tak bermaksud jahat. Dia tak sengaja berbicara seperti itu. Iyakan Ly?”
“Drama.”
“Apa!” Naomi menoleh kaget.
Eldrey tersenyum. “Aku tak mengerti kenapa kamu menangis. Aku tak merasa ada keanehan dari kalimatmu, jadi kenapa secengeng itu?”
Lily terdiam, tapi air matanya masih tetap mengalir. Sementara tiga pemuda yang mendengarkan hanya menonton dalam diam. Tak tahu harus mengucapkan apa, karena terlibat dalam ocehan perempuan bukan hal yang bagus.
“Rey, kenapa kamu berkata seperti itu? Aku tak bermaksud apa-apa,” ucap Lily sekali lagi dengan menghapus air mata. Sementara pelanggan di meja lain, ikut menatap bingung pada kegaduhan itu.
Eldrey masih melirik sepupunya lewat sudut matanya. Tiba-tiba dirinya menghela napas kasar.
__ADS_1
“Maaf Henry, suasananya begitu buruk, jadi aku tidak nafsu lagi untuk makan,” Eldrey mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menaruhnya di meja.
“Eldrey,” panggil Henry kaget begitu melihat gadis itu berdiri.
Namun, sang gadis tertegun saat menyadari kalau dirinya tak bisa keluar.
“Kevin, Lily, minggir. Aku ingin keluar,” ucapnya seperti memberi perintah.
Kevin akhirnya berdiri, namun Lily masih duduk sambil menghapus air matanya.
“Ma-maafkan aku sudah membuat suasana hatimu buruk Rey. Aku tak bermaksud untuk mempermalukanmu,” sahutnya semakin terisak.
Melihat sang sepupu masih diam tak beranjak, Eldrey pun mendecih. Sikapnya benar-benar mengundang tatapan tak percaya dari orang-orang yang baru mengenalnya.
“Apa yang sedang kau bicarakan? Aku benar-benar tak mengerti kenapa kau menangis. Hentikan air mata buaya itu dan minggir.”
“Eldrey! Kenapa kamu berbicara seperti itu?! Lily tak bermaksud jahat dengan memberi tahukan dirimu yang pernah masuk rumah sakit jiwa!” sela Naomi tak terima melihat temannya menangis.
Sekarang, semua terbungkam. Eldrey yang tadinya berwajah biasa langsung berubah dingin tatapannya.
“Kau tuli? Karena itu kutanya kenapa dia menangis. Aku tak masalah dia mau mengatakan apa tentangku. Entah itu tentang aku yang gila, atau tidur dengan banyak pria, atau berkeliaran di club. Aku tak peduli. Sekalian saja sebut aku wanita rendahan yang banyak gonta-ganti pasangan dan sering aborsi. Aku tidak peduli,” tegas Eldrey jengkel. “Minggir kau Lily! Aku ingin pergi, jangan sampai gelas ini melayang ke kepalamu karena kau tuli begini.”
Mendengar itu, Naomi menarik tangan Lily agar gadis gila di depan matanya bisa pergi dari sana.
“Eldrey,” panggil Henry.
Tapi terlambat, gadis itu memilih berlalu dari sana dengan keributan yang dominan berasal dari dirinya.
Tanpa menyuruh temannya minggir, Henry pun melompat ke kursi berpunggung tinggi di belakangnya untuk beranjak pergi.
“Henry!” Steven tak percaya dengan ulah temannya.
Tiba-tiba pemuda itu berhenti dan menatap Lily yang masih berdiri terisak. “Aku tak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi menurutku kamu yang salah,” ucap Henry pada Lily lalu meninggalkan mereka.
“Hah? Apa-apaan dia?” tukas Naomi dengan pandangan jengkel.
Kevin ikut berdiri, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan tak peduli jika itu berlebih, lalu beranjak tanpa bicara.
“Kevin!”
Namun panggilan Steven tak diacuhkan. “Itu ...” tampak ia bingung bagaimana cara menanggapi dua wanita di sampingnya. Maaf, aku pergi dulu ya,” dirinya pun mengikuti langkah Kevin.
“Eldrey!” Henry berhasil mengejar dan meraih lengannya. “Maafkan aku.”
“Kenapa kamu minta maaf? Menurutku kamu tidak salah apa pun padaku.”
Henry terdiam, perlahan ia melepas sentuhannya pada Eldrey. Ragu, itulah yang tersirat. Tapi rasa bersalah ikut mampir di hatinya entah mengapa.
Eldrey tertawa pelan. “Bukan salahmu. Kalau lapar lanjutkan saja makanmu. Aku pergi dulu.”
“Tunggu! Kamu mau ke mana?”
Eldrey terdiam sejenak karena ia tak tahu akan ke mana. Tangan Henry kembali menahannya.
“Itu, apa kamu mau ikut denganku?”
“Ikut? Ke mana?”
“Kamu akan tahu jika ikut. Bagaimana?” ajak Henry penuh harap.
“Baiklah.”
Keduanya pergi menuju mobil Henry sambil diikuti dua pasang mata dari kejauhan.
“Apa jangan-jangan mereka berpacaran? Aku jadi tidak enak karena mengganggu kencannya. Tapi, tak kusangka jika Eldrey itu pernah masuk rumah sakit jiwa.”
Kalimat Steven tak ditanggapi Kevin kecuali sorot matanya masih mengarah ke mobil yang perlahan lenyap dari pandangan.
“Apa kamu tahu tentang itu?” tanya Steven membuat Kevin menoleh.
“Aku tidak peduli dengan masa lalunya. Karena yang kulihat adalah sosoknya saat ini.”
“Hah? Maksudmu?”
“Aku pulang dulu,” jelas Kevin mengabaikan penjelasan selanjutnya. Ia memilih berjalan kaki, mengingat dirinya tadi menumpang mobil Steven.
Beberapa saat kemudian, laju mobil Henry sudah sampai di sebuah tempat wisata.
Eldrey menatap menganga, karena itu kebun binatang. “Kamu mengajakku ke sini?”
“Iya, bagaimana? Sejujurnya aku baru dua kali kemari,” jelasnya tersenyum senang.
Sebenarnya, Henry bingung mau mengajak Eldrey ke mana. Dirinya hanya ingin berlama-lama bersamanya.
Henry cukup bobrok dalam berhubungan dengan hati perempuan. Tapi ia tahu, kalau Eldrey pasti sedang kesal karena kejadian barusan.
Kata teman-teman cewek yang pernah ia dengar, melihat tingkah imut dari panda bisa meredakan kekesalan serta amarah. Oleh sebab itu kebun binatang adalah pilihan, demi membuat sang pujaan hati dari pandangan pertama, mengukir senyum bersama dengannya.
__ADS_1
Karena bukan hari libur, tak banyak yang datang ke sana. Langkah Eldrey terkesan santai namun matanya tak henti-hentinya memandang berkeliling. Sejujurnya, ini pertama kali dirinya ke kebun binatang.
Ia tak pernah ke sana mengingat presdir Betrand orang yang sibuk. Bahkan saat masih bersama dengan ibu dan kakaknya, walau bukan wanita karir tapi mereka tak sempat ke sana dan Eldrey tak ingat kenapa.
Henry terdiam melihat sikap Eldrey. Dirinya cuma mengira-ngira, mungkin Eldrey cukup terhibur datang ke sini.
“Bagaimana?”
“Apanya?”
“I-itu, perasaanmu. Apa sudah jauh lebih baik?” tanya Henry berhati-hati.
Langkah Eldrey terhenti. “Kamu membawaku ke sini untuk menghiburku?”
“Iya, eh bukan! Aku cuma, cuma, cuma ...” Henry merasa terlalu gugup karena gadis itu menatap lurus ke wajahnya.
Sorot mata jernih yang cantik di pandangan, membuat mukanya kembali memerah dengan debaran di dada perlahan makin tak karuan.
“Terima kasih,” ucap Eldrey tiba-tiba lalu berpaling. Sekilas, Henry bisa melihatnya. Sebuah senyum tipis, saat gadis itu membalikkan tubuh.
Tanpa disadari Henry ikut tersenyum, sudut hatinya senang entah mengapa. Dirinya hanya tahu sesuatu, gadis itu begitu cantik di mata membuat jantungnya tak bisa berhenti berdebar saat bersamanya.
“Eldrey, coba lihat ini!” tunjuk Henry tiba-tiba. Tanpa disangka binatang yang ingin diperlihatkan Henry ternyata ada di kandang besar di kanannya.
Ia tertawa, melihat tingkah panda gendut yang bergelayutan di dahan pohon. Sementara yang lain sibuk memakan bambu atau berseluncur. Begitu lucu, sehingga sesekali mengundang tawa Henry yang dilirik Eldrey.
“Ah, a-apa itu tidak lucu?” Henry tergagap menyadari dirinya ditatap panjang Eldrey.
“Aku tidak tahu. Tapi binatang itu terlihat bodoh di mataku.”
Seketika perkataan tersebut menghujam Henry, merasa gagal menghibur Eldrey mengingat itu rencana awalnya.
Akan tetapi, secara perlahan Eldrey tersenyum. “Tapi mereka terlihat menikmatinya. Pasti menyenangkan jika bisa bermain konyol seperti itu.”
“Apa kamu juga ingin mencobanya?”
“Tidak, bukankah aneh jika manusia sepertiku mencobanya?”
Henry tertawa. “Aku tak bisa membayangkan, tapi itu pasti lucu. Terlebih jika kamu bergelayutan dengan tampang cemberut itu,” lanjutnya menyembur tawa.
“Ah!” Henry langsung menutup mulutnya karena sadar baru saja melontarkan kalimat tak pantas. “Eldrey, itu aku, benar-benar minta maaf. Aku cum-”
Ucapannya tertahan, Eldrey tiba-tiba menutup mulut Henry dengan tangannya.
“Aneh, kenapa kamu minta maaf? Aku tidak tahu apa yang salah denganmu,” lalu menarik tangan.
Henry yang diperlakukan seperti itu, tentu saja mukanya semakin merah padam. Dia benar-benar gugup dan jantung serasa ingin melompat keluar saking girangnya. Delusi aneh berupa kebahagiaan bersama tiba-tiba menyeruak ke kesadaran.
“Henry?”
“Ah, maafkan aku!”
Eldrey terdiam. Lalu menyapu pandangan di sampingnya. “Kamu tahu? Aku akan memukulmu jika minta maaf lagi.”
“Ma-” Henry langsung menutup mulutnya agar tak mengatakan itu lagi.
Eldrey tersenyum. “Aku lapar,” lirihnya tiba-tiba meninggalkan Henry. Tanpa bertanya, dirinya membeli dua jagung bakar dan menyodorkan salah satunya pada Henry.
“Ini.”
“Kamu tidak suka?”
“Bukan! Bukan seperti itu. Hanya saja, hanya saja ....”
“Apa?” Eldrey tak meliriknya dan fokus menatap jagung yang akan di makannya.
“Ini seperti kencan,” gumamnya pelan.
“Kamu mengatakan sesuatu?” tanya Eldrey.
“Tidak, tidak ada apa-apa,” Henry menyunggingkan senyum sambil menggigit jagung itu.
Di tempat yang berbeda, seorang gadis lari terburu-buru lalu membanting pintu kamarnya dengan kasar.
“Sialan! Sialan! Sialan! Sialan! Dasar gadis keparat kau Eldrey, keparat! Aku pasti akan membunuhmu! Kupastikan akan menyiksamu! Jangan sebut aku Lily jika tidak bisa membalas semua perbuatanmu!”
Tampak ia begitu histeris karena kesal yang berkecamuk. Ingatan di mana dirinya sempat dipermalukan gadis itu, terbayang kembali. Padahal rencananya adalah mempermalukan Eldrey, tapi berbalik padanya karena tak diacuhkan para pria itu.
Bagaimanapun, Lily iri pada Eldrey karena dia dikelilingi pemuda high class jika dilihat dari style mereka.
Ia benar-benar membenci gadis itu, sampai kapanpun dirinya takkan bisa menerima sepupu gila yang lebih kaya darinya. Lily muak melihat nenek selalu memuji Eldrey yang pintar di luar, namun kurang ajar sikapnya.
Apa pun yang berkaitan dengan Eldrey ia kesal melihatnya dan ingin memiliki semuanya. Karena bagaimanapun Eldrey hanya anak dari wanita toko roti jalanan.
Dirinya yang cantik di luar namun busuk di dalam. Itulah keadaan Lily saat ini, penuh emosi sambil merancang rencana untuk lebih mempermalukan Eldrey bagaimanapun caranya.
Tetapi, sepertinya ia tidak tahu apa-apa, kalau sebenarnya sepupunya itu seekor singa betina. Tak ragu tubuh bermandikan darah dan bertindak semaunya.
__ADS_1