
Tapi mendadak semua dikejutkan dengan bunyi mobil dan juga motor yang datang ke sana.
Seketika Charlie langsung berlari menuju ruang tamu dan mendapati gerbang depan sudah terbuka dengan kehadiran dari kendaraan yang tak asing baginya.
“Itu Ayahmu,” teriaknya pada Eldrey yang masih terduduk di lantai. Gadis itu, menatap penuh arti kepadanya.
Membuat pria yang sudah menghampirinya kian gusar ekspresinya.
“Pergilah.”
“Charlie.”
“Pergilah dari sini, aku akan menahan mereka,” dan ia pun mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkannya pada Eldrey. “Besok malam temui aku di sungai itu, aku akan mencarikan tempat untukmu. Sekarang pergilah!” dirinya lalu mendorong gadis itu untuk menjauh.
“Terima kasih,” putri Dempster tersenyum kepadanya. Lalu lari dari sana menuju lantai dua secara terburu-buru.
“K-kakak!” panggil Leon tiba-tiba.
“Diam di sini!” hardik Charlie tiba-tiba. “Tetaplah diam di sini dan berpura-puralah tidak tahu tentang keberadaannya. Karena jika sampai kalian membocorkan tentang Eldrey pada orang-orang yang datang, aku pastikan akan menembak kalian berdua. Apa kalian paham?” ancamnya dan membuat Lea beruraian air mata.
“L-Lea!” panik saudaranya karena anak itu benar-benar terlihat ketakutan.
Dan pintu mendadak digedor sehingga mereka terkesiap jadinya.
“Aku mohon jangan katakan apa pun tentang Eldrey. Sebagai gantinya, aku pasti akan melindungi kalian. Apa kalian mengerti?”
Masih tak ada jawaban dari keduanya.
“Apa kalian mengerti?” ulangnya sambil mengangkat dagu Lea yang tampak ketakutan.
“Y-ya! Kami takkan mengatakan apa pun tentang kakak itu jadi tolong jangan tembak kami!” Leon langsung menjarakkan tubuh Lea sehingga Charlie tak lagi menyentuh saudaranya.
Sementara di luar rumah itu, terdengar gedoran serta panggilan yang berulang-ulang.
Menyebut nama sang bawahan Betrand sekaligus Eldrey yang diyakini para tamu berada di sana.
Sampai akhirnya pintu dibuka dan Charlie pun mengukir senyum tipis pada para pendatang yang berada di depannya.
“Charlie!”
“Eldrey!” teriak Anna menerobos masuk rumah itu tanpa bertanya terlebih dahulu.
“Eldrey?”
“Dia tidak di sini,” jawab singkatnya pada sang bos yang spontan langsung menyipitkan mata.
“Apa maksudmu dia tidak di sini? Jadi dia tidak menginap di sini?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya menemukan orang asing saat datang kemari,” jelasnya dan membuat Betrand memasuki rumah.
Sementara Raelianna Jin, menatap bingung kedua anak kembar di depannya sambil beruraian air mata.
__ADS_1
“Tuan Charlie, di mana Eldrey?”
Tapi, bawahan Betrand tersebut hanya menggeleng pada wanita di depannya. Membuat Anna yang mendapatkan jawaban seperti itu, semakin tak bisa menghentikan tangisannya.
“I-ini salahku. Semua ini salahku. Eldrey begini karena aku!” histerisnya sambil jatuh terduduk dan memegangi dadanya.
Jujur hati Betrand serasa remuk melihatnya. Lalu menatap tajam pada anak kembar yang tak begitu jauh darinya. Raut wajah mereka, jelas menyiratkan ketakutan kepadanya. “Siapa mereka?”
“Mereka anak-anak yang kebetulan memasuki tempat ini untuk bersembunyi. Jadi, kalian lari dari siapa?” tanyanya tiba-tiba.
Tentunya hal tersebut mengagetkan si kembar. Kenapa orang di depannya bertanya seperti itu? Padahal saat pertama kali datang, Charlie sudah menghujani keduanya dengan beragam pertanyaan sebelumnya.
Tapi Leon tersentak saat tatapannya bertemu dengan pistol yang bersembunyi di balik jas Charlie.
Seolah sebagai tanda kalau ia harus segera menjawab mereka sesuai keinginannya.
“Kutanya sekali lagi. Kalian lari dari siapa?”
“P-penjahat,” ucap Leon dengan suara gemetaran. “K-kami lari dari penjahat karena itu kami bersembunyi ke rumah ke rumah ini.”
“Rumah ini dikunci. Begitu pula gerbangnya,” Reynald sang supir kepala keluarga Dempster ikut bersuara.
“A-aku membuka gembok halaman belakang dengan batu, karena itu—” Leon pun tak lagi melanjutkan kalimatnya karena Charlie tersenyum tiba-tiba ke arahnya.
“Sudahlah! Charlie! Kau urus mereka, semuanya perintahkan para pengawal untuk menyusuri kawasan ini. Dan Reynald, hubungi Rudan kembali,” perintah Betrand lalu menghampiri istrinya.
“Baik Bos,” angguk sang supir kepercayaan dan berlalu dari sana.
“Anna, ayo berdiri Anna. Eldrey pasti bisa kita temukan, jadi jangan menangis lagi,” rangkulnya.
Charlie yang memperhatikan itu pun mendekati si kembar dan berbisik di tengah-tengah keduanya.
“Kerja bagus. Tetaplah berpura-pura tidak tahu, jadi aku akan menjamin kehidupan kalian berdua sebagai gantinya,” dan sosoknya pun merangkul mereka untuk keluar dari rumah milik Rondolf saat itu juga.
Langit telah mendung. Meneriakkan angin dingin untuk dirasakan para penikmatnya. Bahkan rintikan hujan mulai berjatuhan dengan derasnya, bersamaan akan penampakan sebuah taxi yang berhenti tiba-tiba di sebuah kediaman tak asing di mata.
Sebuah rumah milik keluarga Valentino.
Eldrey pun membayar biaya taxi dengan uang yang ada di dompet Charlie. Berjalan menuju gerbang dan memasuki halamannya sehingga seorang penjaga menatap kaget ke arahnya.
“Anda siapa?!” cegatnya tiba-tiba.
Gadis itu pun berhenti dalam keadaan basah kuyup dan menghampirinya.
“Aku ingin bertemu dengan Henry. Aku mohon, tolong biarkan aku bertemu dengannya” pintanya penuh harap.
Sang penjaga gerbang yang merasa kasihan pun mengangguk tiba-tiba. “Tolong tunggu sebentar,” dan ia pun mengambil telepon untuk menghubungi seseorang di dalam rumah.
Cukup lama agar panggilan itu terangkat.
Sampai akhirnya beberapa saat kemudian barulah telepon itu terhubung dengan sosok yang diharapkan.
__ADS_1
“Halo.”
“Halo, Tuan Muda.”
“Ada apa Pak Sam menghubungiku?”
“Ada gadis yang ingin bertemu dengan anda, Tuan.”
“Gadis?! Siapa?!”
“Ah, namamu siapa, Nona?” tanya penjaga itu pada putri Dempster.
“Eldrey.”
“Namanya Eldrey, Tuan—”
“Apa!” pekik Henry tiba-tiba. Sontak saja langsung ia tutup telepon itu dan berlari menuju balkon di kamarnya.
Di mana hujan sudah membasahi area sana dan ia pun, dibuat terkejut saat melihat seorang wanita di pos penjaga.
“Eldrey!” teriaknya dan berhasil mengalihkan tatapan putri Dempster kepadanya.
Terburu-buru Henry berlari keluar kamarnya. Menuruni tangga seperti tidak ada hari esok. Menghampiri sosok yang benar-benar mengejutkannya.
Eldrey Brendania Dempster, menatap kedatangannya yang menembus hujan tepat di depan matanya.
“Henry.”
Akan tetapi, bukannya sebuah balasan berupa sapaan balik dari pemuda itu, melainkan pelukan erat yang dilayangkannya tiba-tiba.
Membuat terkejut sang penjaga dan putri Dempster hanya dia saja menanggapinya.
“Eldrey, aku benar-benar merindukanmu,” ditatap lekatnya wajah basah itu. Tanpa ragu ia usap pipi gadis di depannya.
Seolah-olah dia merupakan kekasihnya yang telah lama hilang.
“Kamu selama ini ke mana saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu! Aku ke rumahmu, namun aku malah mendengar berita yang tidak-tidak tentangmu! Dan sekarang, kamu muncul tiba-tiba di hadapanku. Apa kamu tahu seperti apa perasaanku?!” tanpa sadar ia mencengkeram erat bahu Eldrey.
Gadis itu tak menjawabnya dan memilih melirik tangan sang pemuda yang menyakiti dirinya.
“Bahuku Henry,” ucapnya dengan senyum yang hangat.
Sontak saja pemuda itu langsung melepaskannya. Merasa kaget karena tak menyangka atas apa yang baru saja dilakukannya.
“M-maafkan aku Eldrey. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu,” sahutnya kelabakan.
“Tidak apa-apa.”
“Tapi, kenapa kamu bisa ada di sini?! Kamu kehujanan! Apa yang terjadi?!”
Sungguh pemuda itu suka sekali bertanya dalam keadaan terburu-buru. Sepertinya, memang sudah menjadi ciri khasnya sehingga Eldrey yang agak jengah pun memakluminya.
__ADS_1
“Malam ini, tolong biarkan aku menginap di sini hanya malam ini saja.”