FORGIVE ME

FORGIVE ME
Harapan seorang ayah


__ADS_3

Eldrey diam dengan sorot mata menatap kosong ke layar laptop. Padahal ada tugas kuliah yang harus ia kerjakan tapi kejadian kemarin mengusik pikiran.


Tidak menenangkan dan menyamankan.


Ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan.


“Masuk.”


Betrand dengan setelan rapi berjalan menghampiri. Bahkan sebuket Forget Me Not ikut tersemat di tangan sebagai kado atau mungkin suapan.


“Ada apa?”


Memang seperti itulah putrinya. Tak bercanda atau tersenyum, langsung menembak ke inti pembicaraan.


Perlahan sang Presdir duduk di tepi ranjang.


“Apa kamu sibuk?”


“Lumayan.”


“Nak,” gadis itu menyipitkan matanya. “Keluarga Jackson dan Sparrow mengajukan perjodohan untukmu.”


Pernyataan ayahnya dibalas dengan tampang datar oleh putrinya.


“Tolak.”


Sungguh tiada basa-basi dan Eldrey kembali fokus ke laptopnya.


“Apa tidak ada yang kamu sukai?”


“Tidak.”


“Kamu tahu? Ayah di umur enam belas tahun sudah berpacaran lho. Sedangkan Ibumu di umur lima belas tahun malahan.”


“Hubungannya denganku apa?” jawab Eldrey dengan angkuhnya.


Presdir Betrand tertawa pelan melihat responsnya. Jujur saja, putrinya masih tak terbiasa dengan sikap ayahnya. Dia lebih nyaman jika pria itu sombong dan dingin seperti sebelumnya.


“Nenekmu sudah menyetujui pertunanganmu dengan putra keluarga Jackson.”


“Batalkan.”


“Ya. Ayah memang akan membatalkannya, dan berencana menggunakan nama keluarga Sparrow sebagai tameng kita.” Tentunya putri Dempster menyipitkan mata. “Ayah punya hutang budi pada keluarga Jackson di masa lalu. Mungkin itulah yang dipakai mereka untuk mendapatkanmu.”


Eldrey pun tersenyum miring.


“Itu hutangmu, bukan aku. Lagi pula Dempster kan kaya, apa tak bisa pakai uang atau aset saja untuk balas budi?” Pria itu terdiam mendengar respons putrinya. “Kenapa menatapku begitu? Apa Tuan Betrand yang terkenal mulai takluk pada kerja sama untuk melebarkan sayap bisnisnya?”


Perlahan pria itu bangkit dari duduknya dan menyentuh bahu putrinya.


“Kebahagiaanmu adalah yang terpenting untukku.”


“Baguslah. Aku tak tertarik pada kisah cinta. Aku belajar darimu, agar nasibku tidak sia-sia.”


Perkataan itu masih terngiang di otak Presdir Betrand. Pikirannya menjalar ke mana-mana, tentang nasib putrinya.


Sebenarnya ia tak peduli pada perjodohan bisnis atau apa pun itu. Tapi yang benar-benar menjadi beban pikirannya adalah masa depan putrinya.


Eldrey Brendania Dempster. Indah namanya, serupa penampilannya. Dia ibarat berlian di balik dinding kaca. Butuh perjuangan untuk mendapatkannya, dan banyak efek samping jika memilikinya. Layaknya title buronan akan tersemat parah jika sampai menculiknya.


Kilaunya memikat namun tak ada satu pun yang merasakan seberapa keras perjuangan dan sakitnya Eldrey untuk menahan polesan itu hingga sampai ke titik ini.


Satu fakta yang takkan berubah.


Putrinya seorang kriminal dengan tangan dipenuhi darah.

__ADS_1


Adakah yang benar-benar mau bersama gadis Dempster? Tentunya banyak. Bahkan mungkin tak terhitung antreannya.


Tapi Betrand tetaplah seorang ayah. Terlepas dari kesalahan, tentunya dia ingin yang terbaik untuk anaknya.


Bukan yang sekadar memeluk kilauan Eldrey di dunia, tapi benar-benar menerima apa adanya dan merangkul semua polesan serta guratan keji di dirinya.


Tak mempermasalahkan masa lalu Eldrey yang pernah menghilangkan beberapa nyawa, atau kenyataan lain di mana dia punya trauma dan masalah pada mentalnya.


Betrand ingin orang yang bersama putrinya adalah sosok nan benar-benar bisa menerima itu semua apa adanya.


Bukan yang terpukau pada kemilau sesaat lalu pergi meninggalkan buah hatinya.


Dia adalah gadis yang berharga.


Kebanggaan orang tua dan seharusnya diperlakukan bak Ratu serta teman dalam istana. Itulah harapan Betrand untuk putri yang pernah ia hancurkan sebelumnya.


Dan hanya itu keinginannya, sebelum dirinya menutup mata.


“Brengsek!” marah seorang laki-laki sambil menendang tasnya. Ia kesal, karena perjodohan yang diajukan keluarganya ditolak mentah-mentah keluarga Dempster.


Alasannya hanya satu. Putri kebanggaan mereka, sebenarnya sudah punya calon sendiri sejak lama.


Alasan konyol dan saat ditanya siapa pengganggu itu tapi sang keluarga adidaya malah bungkam.


Jujur saja, Samuel Jackson tak punya perasaan sedalam itu pada sosok yang dipilih keluarganya.


Tapi satu hal yang pasti, ia tersihir pada pesona gadis angkuh milik Dempster.


Tak seperti kebanyakan, susah ditaklukan, merasa tertantang dan tiada cacat sebagai pencuci mata. Bahkan latar belakang serta posisinya terlalu luar biasa.


Sempurna tepat dilabelkan padanya.


Tapi dia susah dijangkau tangannya. Padahal berada tepat di depan mata.


Pemuda itu tersenyum dan meminta izin berkumpul bersama teman-temannya. Bahkan sebelum pergi sempat-sempatnya ia mengelus kepala adiknya.


Walau Eldrey tak peduli dengan keberadaannya.


Tapi siapa yang bisa menyangka. Dua hari kemudian, Lily, sepupu putri Dempster datang ke rumah dengan buah tangan.


Tentunya menimbulkan heran tapi perilakunya terlalu dilanda perubahan.


Tidak seperti dulu. Tak lagi sombong dan arogan, entah karena memudarnya finansial dari Gates sehingga sosoknya menjadi lebih baik sekarang.


Bahkan sebuah pelukan tercipta untuk Eldrey yang pernah terlibat perang dingin dengannya.


“Maafkan aku,” tentunya sang sepupu menyipitkan mata. “Tidak datang di hari kebahagiaan keluargamu. Kurasa kamu pasti tahu apa yang terjadi pada keluargaku,” ucapnya dengan nada menyedihkan.


Eldrey hanya diam memandangnya sambil bersandar pada punggung sofa.


“Tapi aku senang karena akhirnya terbebas dari keluarga itu,” guratan bahagia tercipta di bibirnya. Pertanda kalau sosoknya benar-benar mensyukurinya.


“Baguslah.”


Satu kata dan membuat Lily tersenyum padanya. “Bagaimana denganmu? Aku sempat dengar berita, kalau mereka akan menjodohkanmu dengan putra keluarga Jackson.”


Eldrey pun membuang napas kasar. “Wanita tua itu memang menyusahkan. Kenapa tidak kamu saja yang bertunangan dengannya?”


Lily terkekeh tiba-tiba. “Aku lebih baik berkelana mencari pasanganku sendiri daripada bernasib seperti orang tuaku. Dijodohkan karena bisnis, entah ada cinta di dalamnya dan berujung pada perceraian. Aku trauma Eldrey, dan kurasa kamu pasti memahami kondisiku itu.”


Putri Dempster hanya diam mendengarkan. Suara keduanya sama-sama tertelan keheningan keadaan.


“Eldrey,” panggilnya tiba-tiba. “Kapan-kapan mau jalan-jalan bersamaku?” Gadis itu menyipitkan matanya. “Yah, hubungan kita sebelumnya memang buruk. Tapi tak ada salahnya akrab kan? Ayo mulai lagi semuanya dari awal sebagai sepupu dan teman.”


“Benarkah? Apa kamu tidak dendam padaku?”

__ADS_1


Jujur, putri keluarga Gates terkesiap. Tapi raut wajahnya tak menyiratkan amarah.


“Aku ingin berdamai dengan masa laluku. Sekarang aku sadar, kalau dendam hanya buang-buang waktu dan masa depanku. Kupikir itu karma, sama seperti yang menimpa Naomi sebelumnya.”


Akhirnya Eldrey menjabat tangannya. Entah kalimat itu memang tulus diucapkan Lily atau ada maksud tersembunyi di dirinya, Eldrey tak peduli.


Satu hal yang pasti, dirinya akan menghancurkan gadis itu kalau sampai bermain lumpur lagi dengannya.


“Tadi Lily ke sini?” tanya Presdir Betrand saat makan malam. Di sana juga ada Charlie serta Sekretaris Roma.


“Iya.”


“Begitu,” kepala keluarga Dempster pun melanjutkan makannya. “Oh ya, dua hari lagi aku ada urusan keluar negeri. Bagaimana kalau kamu ikut, Anna?”


Seketika orang-orang menatap ke arah Nyonya besar.


“Apa tak masalah? Kamu sibuk dengan pekerjaanmu bukan? Bisa-bisa aku mengganggumu.”


“Tidak apa-apa, lagi pula kapan lagi kita pergi bersama?”


“Mm ...” Evan menyela tiba-tiba. “Aku pamit ke kamar dulu,” ucapnya.


“Ah, aku masih ada pekerjaan,” Charlie ikut bersuara.


Sekarang tinggal Eldrey dan Sekretaris Roma. Dan putri Dempster tanpa keraguan berlalu dari sana. Ia jelas-jelas tak suka menyaksikan kemesraan orang tua di depannya.


“Bukannya kalian pergi besok?” bingung Eldrey karena Betrand, Raelianna, dan Charlie harus pergi ke luar negeri hari ini.


Tampak tiga orang itu sudah bersiap saat sarapan pagi.


“Harusnya begitu. Tapi ada urusan mendadak sehingga terpaksa dipercepat. “


“Evan, jaga diri kamu ya. Jaga adik kamu juga,” pesan Anna. Sejujurnya dirinya ingin mengajak putra putri mereka untuk ikut serta.


Tapi, putri Dempster tak pernah mau bepergian dengan ayahnya entah apa alasannya. Dan tentunya orang-orang itu sudah memakluminya. Sementara Evan, dia harus kuliah.


“Tenang saja, Ibu. Aku pasti akan menjaga Eldrey, bahkan ada Sekretaris Roma serta yang lain juga di sini. Ibu jangan cemas,” ucapnya sambil membalas pelukan Bu Anna.


Akan tetapi, raut wajah putri Dempster masih selalu sama. Datar, atau terkadang dingin pada ibunya.


Tapi setidaknya sudah lebih dari cukup karena ia tak menolak pelukan wanita itu walaupun tidak membalasnya.


“Nona, saya ke kantor dulu, jika ada apa-apa jangan lupa hubungi saya,” pamit Roma setelah kepergian Evan.


“Mm.”


Sekarang Eldrey sendiri. Sebentar lagi jam kuliahnya dimulai walau lagi-lagi harus daring. Dan menurutnya itu tidaklah buruk.


Sementara di tempat yang berbeda, Alice sedang berbagi tawa dengan Dean di sore harinya. Di sebuah Cafe, suasana mereka saling berbagi perhatian.


“Tapi, apa tidak masalah? Aku jadi tidak enak setelah insiden terakhir.”


“Tidak apa-apa. Aku yakin dia pasti mau, karena bagaimanapun juga Eldrey teman kita.” Gadis itu tertegun sehingga Dean pun perlahan menyentuh pipinya. “Maafkan aku, karena hubungan kita seperti ini. Tapi setelah wisuda, kupastikan akan memperkenalkanmu pada mereka sebagai kekasihku. Aku janji, Liz, pegang kata-kataku,” ucapnya dengan nada penuh keseriusan.


Dan akhirnya sosok di depan mata memeluknya erat. Agak terisak karena ucapan yang dilontarkan Dean kepadanya.


“Maafkan aku. Andai saja aku tidak seperti ini, maka kamu tidak perlu kesusahan karena diriku.”


“Kenapa kamu berkata seperti itu? Kamu tidak salah apa pun, Sayang. Hanya kondisi kita yang kurang mendukung keadaan. Jangan terlalu dipikirkan, bukankah memang sudah seharusnya kita berjuang? Aku yakin, suatu saat papaku pasti akan setuju dan menerimamu.”


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2