
“Jangan,” larang Kevin tiba-tiba. Di saat gadis itu seperti akan melanjutkan aksinya, di mana tangannya mencoba bermain dengan nakal. “Jangan lakukan apa pun jika kamu hanya bermain-main, Eldrey.”
Terdiam.
Walau masih di posisi tenang, putri Dempster tak ragu menyaksikan keindahan di pandangan. Di mana pesona lelaki di depannya jelas menggetarkan jiwa para wanita.
“Memang tampan,” Eldrey memujinya. Kevin jelas terkejut mendengarnya, apalagi gadis yang selama ini dengan susah payah dicari seenak jidat memuji. “Tapi sayang, aku tak tertarik padamu,” tangannya yang tadi bertengger di leher putra Cesar mulai menjauhi sosok itu. Eldrey berdiri, melirik sinis lawan bicara. “Keluar.”
“Eldrey.”
“Keluar dari kamarku, Kevin.”
“Apa aku tak bisa?” desis laki-laki itu. Sungguh ia frustrasi, bagaimana caranya mendapatkan perempuan di depannya? Dirinya benar-benar tak bisa membohongi perasaannya, kalau hati bodohnya masih mengharapkan Eldrey sampai sekarang.
Tak peduli bertahun-tahun telah lenyap akibat kepergian tanpa kata yang ditorehkan putri Dempster untuk semua.
Nyatanya Kevin memang mencintainya.
“Kenapa rasanya sesakit ini?” ucapnya tiba-tiba. “Aku, hanya menginginkanmu, Eldrey,” wajahnya memerah.
Tapi yang membuat gadis itu terbungkam bukanlah ekspresi tersiksa sang pemuda, melainkan kristal bening memenuhi bola mata.
Dia membisu, sebab untuk pertama kalinya mendapati hal itu. Jelas baginya jika Henry dulu juga menampilkan keadaan serupa, tapi sensasi mereka sangatlah berbeda.
Raut wajah Kevin sungguh menyakitinya.
Kenapa?
Ia tak tahu jawabannya.
Selain desiran aneh di dada menggerogoti rongga otaknya. Berpikir keras apa penyebab sesak yang mulai mencengkeram hati.
“Kevin.”
Air mata mulai berjatuhan. Tepat ketika menyentuh pipi, secepat itu pula tangan Eldrey mengusapnya. Ia mendekat dan duduk di hadapan laki-laki yang menangis tiba-tiba.
__ADS_1
“Kevin,” panggilnya kembali.
Tapi, putra Cesar tetap diam di posisinya. Tak juga meliriknya selain arah tatapan jatuh ke tangan perempuan di depannya.
Deru napas Eldrey, menyentuh wajahnya. Bisa Kevin rasakan, aroma mint bercampur semerbak mawar menguar di sana. Di antara tangis, rangsangan ikut berbisik ke pikiran. Menyapa agar menyentuh gadis di dekatnya.
Lambat laun sorot mata mereka pun saling bertemu akhirnya.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Eldrey. Suaranya terdengar seperti bisikan, dan agak serak di pendengaran.
Tiba-tiba senyum simpul pun terpatri di bibir sang pemuda. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia melirihkan kata tak terduga.
“Mungkin aku hanya frustrasi. Karena tak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan hatimu.”
Seketika usapan yang dilayangkan Eldrey sirna. Ia jauhkan tangannya, dan menumpunya di paha. Bibirnya sedikit terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun entah tertahan oleh apa.
Dan Kevin yang menyaksikan itu hanya fokus pada bibir pujaannya. Jujur saja, jika harus mengikuti nafsu, pasti ia ***** habis pesona plum di depan mata.
Namun sosoknya masih menjaga kewarasan, ia tak ingin hasrat gilanya berakhir menyakiti Eldrey nantinya. Karena sosoknya tahu kalau pemaksaan bukanlah cara terbaik untuk menaklukan gadis itu.
Dia nekat dan takkan ragu menyakiti diri sendiri. Dan cara bejat yang sempat terlintas di otak bukanlah jawaban untuk mengunci Eldrey Brendania Dempster.
“Kevin,” panggilnya. “Jika kamu sefrustrasi itu, bagaimana jika kukenalkan pada salah satu kenalanku? Dia gadis baik-baik dan juga cantik. Dan kurasa, suatu saat nanti kamu pasti akan bisa menyukainya. Bagaimana? Bukan ide—”
“Konyol,” ucap pemuda itu tanpa aba-aba. Ia langsung memajukan badannya, memposisikan wajah hanya beberapa senti jaraknya dari putri Dempster yang tak lagi bersuara. “Padahal aku sudah bersusah payah agar menangis di depanmu. Tapi sepertinya tak ada artinya ya?” Kevin menyeringai tiba-tiba.
Eldrey pun tersentak melihat perubahan ekspresi di depannya. Refleks ia mundur namun tertahan karena putra Cesar mencengkeram erat lengan kanannya.
“Bertahun-tahun tak bertemu tapi masih batu ya? Kalau dengan cara lembut tak berhasil, mungkin sedikit pemaksaan bisa menjadi jawabnya? Bagaimana? Bukankah itu ide yang bagus? Eldrey.”
Napas gadis itu tercekat. Senyum miring yang ditorehkan Kevin mengusiknya. Terlebih suara berat milik putra Cesar membunyikan alarm bahaya. Dan tanpa aba-aba Eldrey pun langsung menamparnya.
Membuat wajah pemuda itu berpaling darinya dengan sudut bibir yang terluka.
“Pertama kalinya aku ditampar olehmu. Rasanya lumayan juga,” ia terkekeh jadinya.
__ADS_1
Tapi gadis yang sudah terlanjur geram padanya langsung memakinya begitu saja.
“Dasar brengsek! Penipu!” hardik Eldrey menepis cengkeraman yang ada. Sayangnya Kevin tak bergeming sedikit pun olehnya.
“Kupikir sedikit kasar bukan ide yang buruk. Kamu tahu?” tanpa basa-basi langsung disentuhnya perut putri Dempster. “Jika kutanamkan sesuatu di sini, bukankah aku jadi bisa memilikimu sepenuhnya? Dan kamu juga tak punya alasan untuk menolakku lagi,” ia pun menarik lengan Eldrey tiba-tiba.
Saking kuatnya sampai membuat gadis itu menabrak dada sang pemuda. Terkesiap tentunya terlebih rangkulan di pinggang memaksa posisi mereka semakin intim sekarang.
“Lepaskan aku brengsek!” Eldrey meronta untuk menjauh darinya. Tapi cekikan di leher mengejutkan putri Dempster sehingga meruntuhkan pertahanan. Ia terlentang sambil mencoba membebaskan tangan Kevin yang mengekangnya.
Dan sekarang di sinilah dirinya. Untuk pertama kali mendapati tatapan tajam juga dingin dari laki-laki di pandangan. Debaran di dada begitu bergemuruh bersamaan dengan desiran tak biasa.
Bukan hanya wajahnya yang memerah tapi matanya juga. Ia benar-benar tak bisa apa-apa karena pergerakan telah terkunci sepenuhnya.
Kevin tersenyum, mendekatkan wajah sambil satu tangan yang bebas mengelus lembut pipi Eldrey.
“Maaf,” lirihnya tiba-tiba. “Apa kamu takut?” tanyanya.
Walau tak ada jawaban, tapi respons diam Eldrey sudah menjadi balasan. Kevin tidak bodoh, ia tahu kalau ini pasti pertama kalinya bagi putri Dempster. Terlebih kedua pahanya yang tak bisa digerakkan akibat himpitan kaki putra Cesar, memberikan sensasi menekan baginya yang cenderung memakai tendangan.
Sudut hatinya benar-benar merasa ketakutan sekarang. Tapi sorot mata masih tidak teralihkan.
Lambat laun Kevin pun melepaskan cekalan tangan, diraihnya kembali pinggang Eldrey sehingga duduk di pangkuan.
“Maafkan aku. Apa kamu baik-baik saja? Aku tidak bermaksud untuk menakutimu,” lirihnya lembut sambil mengelus punggung Eldrey. Namun tiadanya suara yang terlontar membuatnya mengeratkan pelukan pada gadis itu. “Maafkan aku, Eldrey,” ulangnya kembali.
Tapi penampakan tertunduk gadis itu menyeruakkan rasa bersalahnya. Sehingga ia pun menyentuh dagu putri Dempster agar berhadapan dengannya.
Sekarang Kevin sadar kalau perlakuan kasarnya tadi mungkin saja benar-benar menyakiti sang pujaan yang diburu.
“Eldrey, lihat aku,” bujuknya.
Dan lagi-lagi titik temu tak terukir di antara mereka. Karena nyatanya gadis itu memilih memandangi dada sang pemuda. Jujur jengah juga rasanya, sampai akhirnya tangan putra Kendal di lengan Eldrey merangkak naik menyentuh kepala.
Mungkin ia benar-benar sudah gila. Sebab untuk pertama kalinya, Kevin Daniello Cesar pun mendaratkan bibir di leher gadis yang dicintainya. Menggigitnya memaksa Eldrey yang tadi hanya diam saja untuk menatap kaget ke arahnya.
__ADS_1