FORGIVE ME

FORGIVE ME
Baby breath


__ADS_3

Pertanyaan yang terlontar membungkam mulut para ajudan. Dua pengawal milik Charlie itu saling berbagi pandangan, sampai akhirnya fokus mereka teralihkan karena kehadiran seseorang.


Ramses Turner.


Laki-laki itu menatap tenang orang-orang di sana sambil membawa sebuket bunga. Bedanya baby breath lah dalam genggaman.


Bill pun berdecak kasar. Dia memilih pergi sambil diiringi bawahan. Dan tiba-tiba tatapan Ramses menajam. Langsung menoleh ke belakang, tepat pada pengawal putra tuan Gates yang tegap proporsi tubuhnya.


“Orang itu,” gumamnya pelan.


Sakit dan tak berdaya.


Itulah yang dihadapi Eldrey. Bius yang jelas tak lagi terasa diraga, membuatnya bisa menikmati sensasi memilukan dari jahitan di kulit.


Mengingat luka tusukan yang jumlahnya tidak sedikit, sekarang dirinya menuai apa yang ia tabur.


Siksa akibat aksi bunuh diri.


Pintu mendadak terbuka. Lewat sudut mata, ia bisa menangkap kehadiran sosok tak asing baginya.


Laki-laki gagah dan rupawan dengan sebuket bunga indah di tangan.


“Eldrey? Kamu sudah sadar?” ia terlihat senang. Hanya saja, cuma respons tatapan yang ia dapatkan.


Ramses paham dengan keadaan. Dia pun mencoba mendekati kepala brankar gadis itu demi melakukan panggilan pada dokter.


Bagaimanapun sosok yang sadar memang harus segera diperiksa mereka.


Tersentak.


Belum sempat tangan kokoh itu menyentuh apa yang ia inginkan, cengkeraman di lengan memaksanya terdiam.


Dan putri Dempster yang sudah melepaskan benda penunjang kehidupan di mulut, melirihkan kata di luar dugaan.


“Kenapa aku masih hidup?” Ramses lambat laun menggenggam tangan itu. “Sekarang aku harus membayar dampaknya.” Kata-katanya mulai terdengar berjeda. “Aku, selalu saja gagal.” Ia pun menutup mata. Deru napas yang perlahan terdengar teratur membuat putra keluarga Turner merasa kalau sang gadis mungkin saja tertidur.


Menenangkan.


Itulah yang ditangkap sang penonton saat melihat sosoknya. Tak tahu kenapa Ramses enggan melepaskan pandangan. Dan seketika ia teringat rupa adik sang sahabat.

__ADS_1


Kevin yang sangat berjuang dalam menemukan gadis impiannya.


“Kalian sudah sama-sama seperti adik bagiku. Kuharap sensasi aneh ini tidak merusakku,” ia pun mengelus lembut kepala putri Dempster.


Sementara di parkiran mobil, umpatan dilayangkan seorang Bill entah pada siapa. Walau sang bawahan masih setia di sisi, nyatanya mungkin ia takkan mengira, kalau ada sang penguping pembicaraan di dekatnya.


“Apa yang kau keluhkan? Bahkan kehadiranmu memang tidak diharapkan.”


Pernyataan itu langsung membuat putra keluarga Gates terperangah.


“Kau—”


“Jangan aneh-aneh. Bahkan walaupun kau saudara Betrand, aku takkan segan-segan padamu. Karena melindungi Eldrey adalah prioritasku.”


Charlie Stevano pun berlalu dari sana. Mengabaikan rasa hormat yang membuat Bill mengutuknya.


Harus pria itu akui, para bawahan Betrand memang banyak yang membuatnya murka. Apalagi ketika dirinya harus mengingat seorang sekretaris Roma yang sempat menarik saham Dempster dari perusahaan keluarga.


“Sedang apa kau di sini?” pertanyaan dengan nada dingin itu menusuk pendengaran. Ramses berpaling, agak terkejut melihat siapa yang datang.


Sang tangan kiri presdir Betrand.


Tatapan Charlie mendingin. Saat melihat alat yang seharusnya terpasang di mulut juga hidung gadis itu telah terlepas.


“Apa dia sudah sadar?” pertanyaan dengan suara berat itu, memaksa Ramses melirik lewat sudut mata. Bertanya-tanya apakah dirinya akan baik-baik saja jika seruangan dengan orang ini.


“Sudah.”


Pria itu mendekat, menyentuh lembut rambut Eldrey. Ruat wajah yang tak terbaca, terpatri di sana. Tentunya Ramses bertanya-tanya apa yang sedang ia pikirkan.


“Kenapa kau di sini?”


“Aku hanya ingin menjenguknya.”


“Dengan sebuket bunga?”


“Ya.”


“Apa kau tahu arti bunga yang kau bawa itu?”

__ADS_1


Ramses terdiam. Tangan yang menggenggam buket itu sekarang berada di sisi tubuh. Jujur, dirinya tak begitu mengetahui arti dari sebuah baby breath, selain mendapat rekomendasi dari sang penjual.


Setelah dirinya mengatakan kalau orang yang ingin di datangi ini adalah teman perempuan yang berharga.


“Napas bayi. Kelahiran baru. Dengan kata lain kau mengharapkan tunas dalam pertemananmu. Apa kau mengharapkan sesuatu? Aku tak masalah kalau kau memang menginginkan itu. Tapi satu hal yang harus kau ketahui, nonaku tidak bisa dilibatkan dalam permainan asmaramu. Jika kau memang serius, dekati dia. Tapi jika kau cuma murni mengganggapnya teman, cukup beri dia perhatian dan bawakan croissant sebagai buah tangan. Aku rasa, orang sepertimu tidak bodoh untuk memahami itu.”


Sekarang tak ada lagi yang bersuara. Hening menari di udara, dan tatapan laki-laki yang terpaut usia cukup jauh itu sama-sama menonton sosok terlelap di depan mata.


Walau sudut hati Ramses merasa tertusuk mendengar ucapannya, tapi setelah dipikir-pikir semua memang benar adanya.


Sebagai teman dia terlalu salah dalam mengambil jalan.


“Dia sudah seperti adik bagiku.” Charlie melirik lewat sudut mata. “Begitu pula dengan Kevin. Mereka terlihat serasi,” tiba-tiba tangannya terkepal. “Tapi tak tahu kenapa, saat melihat mereka akan bersama, aku merasa tidak nyaman. Seolah-olah lebih baik mereka tidak usah di persatukan.”


Seringai lebar mendadak tersungging di mulut pendengar. Dari tatapan Charlie, tersirat sebuah ledekan. Dan suara yang digaungkan pun membunyikan cerita tak terkira.


“Apa itu berarti kau mempunyai perasaan padanya?”


“Tidak mungkin! Jangan bercanda!” Ramses terlihat tak terima.


“Lalu?”


Putra Turner dipaksa bungkam. Tak tahu lanjutan apa lagi yang harus ia katakan. Otaknya mendadak berhenti bekerja, dan perlahan memilih membuang muka.


“Jangan mengoceh aneh-aneh. Aku murni mengganggapnya saudara, lagi pula mereka memang pantas untuk bersama. Aku bisa melihat kalau Kevin dan Eldrey akan berjodoh nantinya.”


Tawa yang pecah tanpa peduli suasana itu menyentak pendengaran. Tak jelas apa yang lucu dari kalimat Ramses barusan, nyatanya Charlie tak bisa menghentikan kekehan.


Sampai-sampai ujung jari tangan kanan terpaksa mengusap kristal bening di pinggiran.


Dia pun melontarkan kalimat yang benar-benar di luar dugaan.


“Jodoh ya?” nadanya terdengar meremehkan. “Apa kau tahu? Jodoh itu ibarat sepatu. Indah di mata, kebesaran dia terlepas nantinya, terlalu kecil menyiksa ke raga, tapi kalaupun cocok terkadang tak sesuai dengan harapan. Semua tidak bisa dipaksakan. Baik di penglihatan orang, kau sendiri yang akan menggunakan. Menurutmu, apakah Eldrey pantas menjadi milik putra Cesar? Di saat dia itu berduri dan akan melukai kaki.”


Tiba-tiba tangannya mengeluarkan sebungkus rokok juga pemantiknya. Memasukkan tanpa aba-aba ke dalam saku jas laki-laki itu.


Ramses tidak mengatakan apa-apa mengingat dirinya masih mencerna ucapan tadi. Tatapannya pun perlahan merangkak naik menemui wajah maskulin tangan kiri presdir Betrand.


“Anda—”

__ADS_1


“Aku tidak percaya dengan istilah jodoh. Tak peduli seberapa besar seseorang berusaha, bahkan kalaupun kita merasakan insting yang luar biasa pada pasangan, bisa saja itu lenyap beberapa tahun kemudian. Selingkuh pun berbicara dan kebanyakan kedua belah pihak tersiksa. Dan aku agak tidak suka dengan bocah Cesar, karena dia sangat-sangat menyebalkan.”


__ADS_2