
“Sepertinya kamu memang masih marah. Aku kan cuma bercanda,” yang ditanggapi tenang oleh putri Dempster.
“Ayo kita pergi,” ajaknya pada tiga cowok yang tadi pergi bersamanya.
“Sextoria Nightclub, bukankah tempat itu tidak asing?” ucap Paul tiba-tiba.
Orang-orang yang berdiri di sana pun memandang heran dengan maksud kalimat laki-laki itu.
“Dua tahun lalu, di ruang VIP lantai dua. Tiga laki-laki dan sang penari striptease serta ...” kalimatnya tak dilanjutkan karena ia malah tertawa pelan.
Tentu saja beberapa pendengar merasa aneh karenanya. Apa maksud kalimatnya? Dia berbicara pada siapa? Tatapannya fokus ke jalan raya.
Tiba-tiba, Eldrey yang berhenti mulai membalik sempurna tubuhnya untuk menatap Paul. Di dekatinya dan disentuhnya wajahnya.
Paul tersentak namun tetap berusaha tenang karena diperlakukan seperti itu.
Eldrey masih belum bersuara kecuali memperhatikan muka laki-laki di depannya dengan lekat. Saling berbagi penglihatan tanpa ragu, dan tak jelas apa yang sedang dipikirkan putri Dempster sekarang.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa mungkin, tampangku tidak asing?” Paul menyeringai. Tangannya yang bebas perlahan naik lalu menyentuh tangan Eldrey di wajahnya.
Digenggam dan perlahan dikecupnya.
“Hei!” pekik Henry kaget lalu menarik lengan Eldrey agar pegangan Paul terlepas.
“Mm? Jika aku tidak salah, dia bukan pacarmu kan? Mana lelaki gentleman yang memukul Vincent itu? Jangan bilang kalau kamu dengan mereka bertiga—” Paul tak lagi melanjutkan perkataannya karena bibirnya memilih tersenyum.
Jujur Henry dan Kevin merasa penasaran dan muak melihat ekspresinya. Siapa sebenarnya laki-laki ini? Bertanya-tanya apakah Eldrey benar-benar mengenal sosok lancang yang aneh di depan mereka.
Putri Dempster masih diam menatap lekat rupa Paul. Tapi tiba-tiba, suara mobil pun terhenti di dekat mereka.
“Vincent! Akhirnya,” ujar Halley yang terlihat senang. Jujur ia gugup, karena merasa kalau ada sensasi aneh dari Paul dan Eldrey yang sedang berhadapan.
Bahkan Tom juga merasakan hal yang sama, namun mereka tak bersuara dan memilih menontonnya.
Karena bagaimanapun juga, tekanan dari Eldrey yang diam dan Paul dengan senyumannya itu benar-benar mengusik mereka untuk tidak ikut campur.
“Lho Eldrey? Kamu di sini? Sedang apa?” tanya Vincent heran. Dan keheranannya semakin bertambah melihat ekspresi putri Dempster bersama temannya. Terlebih mereka ditemani tiga pemuda asing yang tak dikenalnya. “Rey?” dirinya mencoba memanggil kembali Eldrey yang tak mengacuhkannya.
Beberapa detik kemudian, Eldrey menghela napas pelan. “Aku mengerti. Begitu rupanya,” dirinya lalu menghampiri Paul dan membuat penontonnya terbungkam.
“Rey,” Vincent kaget dan langsung mengangkat tangan membatasi langkah Eldrey agar tak maju lagi ke arah Paul. Kurang dari 30 cm, begitulah jarak keduanya.
“Bukankah sudah kukatakan? Layani aku dengan benar di ranjang, karena kita bukan binatang.”
Paul menyipitkan mata mendengar ocehan gadis itu. “Begitu?”
__ADS_1
“Eldrey, apa yang kamu bicarakan?” Vincent benar-benar tak suka mendengarnya. “Dan Paul, apa lagi yang kamu lakukan pada Eldrey?”
Teman Vincent itu hanya tersenyum remeh, membuat sosok yang bertanya merasakan desiran aneh di dada seolah geram mencengkeram hatinya.
“Aku Eldrey Brendania Dempster. Apa yang kuinginkan pasti akan kulakukan.” Paul terkesiap dan langsung memandangnya tajam. “Begitulah caraku dibesarkan. Karena aku memang bukan orang yang baik,” seketika senyum tipis tercetak di bibir gadis itu.
Perlahan, Eldrey membalik tubuhnya setengah lingkaran. Penglihatannya masih mengikuti Paul lewat sudut matanya. Akan tetapi, senyum tipis malah menjadi seringai di rupanya.
“Sampai jumpa lagi,” dan ia berlalu meninggalkan mereka sambil mengambil kunci mobil di tangan Kevin.
“Eldrey!” panggil Vincent namun langkahnya justru dicegat Kevin. Tatapan mereka, saling bertemu dalam keadaan mencekam.
Sementara Paul, selesai mendengar kalimat putri Dempster tangannya langsung terkepal erat. Begitu kuat, bahkan menyisakan jejak menekan di telapak tangan akibat siksaan dari ujung kukunya.
“Kamu yakin akan bawa mobil?” tanya Kevin yang duduk di sebelah Eldrey. Di mobil Dean, tak satu pun yang berbicara karena sorot mata gadis itu terasa berbeda.
Kendaraan pun dilajukannya mengabaikan pertanyaan sosok di sebelahnya. Entah apa yang dipikirkan Eldrey, tapi sepertinya pertemuannya dengan Paul menyiratkan sesuatu yang tak terduga.
“Kau! Ada hubungan apa kau dengan Eldrey?!” tanya Vincent sambil mencengkeram erat kerah baju temannya.
“Entahlah. Kenapa kau penasaran begitu? Kami tidak ada hubungan apa-apa.”
“Kau pikir bisa membohongiku? Ekspresi kalian tidak terlihat seperti itu!”
“Lalu ekspresi kami seperti apa? Jika kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada teman perempuanmu yang cantik itu. Walaupun aku yakin, kalau dia mungkin akan mengabaikanmu,” sinisnya yang membuat Vincent langsung mendorongnya.
“Lho ... lho, Vincent!” pekik Halley karena orang tersebut malah pergi meninggalkan mereka.
“Kenapa semuanya malah jadi seperti ini?” tanya Tom sambil melirik Paul.
Akan tetapi, pemuda itu tidak menjawabnya kecuali menatap tangannya yang tadi sempat menggenggam tangan Eldrey. Dikepalnya, dengan tatapan seperti sedang memikirkan sesuatu.
Laju mobil Dean pun sampai di Vila. “Turun,” perintah Eldrey tiba-tiba pada ketiga pemuda yang bersamanya.
“Tapi El—”
“Turun,” tekan Eldrey sekali lagi memotong ucapan Henry.
Steven pun menghela napas pelan dan menuruti perkataannya. Sementara Kevin dan Henry, keluar beriringan sambil mata masih memperhatikannya.
Jujur mereka sangat penasaran namun tak ada satu pun yang mampu bertanya. Tapi, setidaknya mereka yakin kalau Eldrey dan Paul memang memiliki suatu hubungan.
Sekarang Eldrey sendirian di sana. Mengeluarkan pisau yang dari tadi tersimpan rapi di sakunya. Memainkannya, menatap tenang mata pisau yang tajam menyilaukan mata.
Di dashboard ada ponsel miliknya. Terlihat seperti sedang menghubungi seseorang.
__ADS_1
“Halo? Kenapa kau menghubungiku?” sapa sosok di seberang pada panggilan kedua.
“Apa kau ingat insiden dua tahun lalu?”
“Insiden dua tahun lalu? Yang mana?”
“Tiga pria dan dua wanita.”
“Ah! Kenapa lagi dengan itu?! Kita sudah melupakannya, jangan ungkit lagi di hadapanku!”
Eldrey tiba-tiba tertawa pelan.
“Apa yang lucu?”
“Kupikir, keluarga dari salah seorang mereka ingin bermain denganku.”
Hening seketika berkumandang setelah Eldrey mengatakan itu.
“Siapa?”
“Mm ... namanya Paul.”
“Paul? Kalau begitu gunakan kekuasaan keluargamu untuk menanganinya. Jangan lupa, kalau hidup kita takkan pernah baik-baik saja.”
“Apa ini? Kau takut?”
“Aku masih sayang nyawa, Nona Dempster.”
“Sayangnya, mereka yang ternoda, matinya mungkin akan tragis.”
“Dan itu akan dimulai dari dirimu.”
“Benar,” Eldrey tersenyum tipis.
“Jangan lakukan lagi. Sudah cukup menodai tanganmu dengan darah. Kau masih muda, Nona. Kau pantas untuk hidup bahagia.”
Eldrey lalu memutuskan panggilan begitu saja.
“Hidup bahagia?” dirinya pun tertawa. Dari pelan hingga lumayan keras sampai menimbulkan air mata. “Bagaimana caraku hidup bahagia? Karena kenyataannya, kakiku sudah dirantai oleh mereka. Aku sudah tidak bisa mundur, Zack. Teriakan mereka akan selalu kuingat sampai aku mati,” ucapnya sambil menyandarkan kepala ke stir mobil.
Dan hal itu bisa diperhatikan dengan jelas oleh Kevin yang masih mengawasinya.
Merasa penasaran akan apa yang terjadi. Karena ingin tahu, dengan maksud ucapan Paul yang sudah mengubah ekspresi ketus Eldrey menjadi agak menyeramkan.
Gadis itu sekarang benar-benar terlihat seperti seorang penderita mental disorders jika dilihat dari cara tersenyumnya.
__ADS_1