
“Aku baik-baik saja,” ucapnya sambil kembali menatap ke arah toko, memandang ke kaca jendela yang memantulkan bayangan dirinya dan Alice.
Presdir Betrand lalu menatap Alice, “tuan?” Alice agak gugup dengan sorot matanya.
Presdir Betrand menghela napas pelan lalu berbalik meninggalkan Alice. Tapi sebelum pria itu sempat menyentuh pintu mobilnya, ia kembali memegang kepalanya.
“Tu-tuan! Anda baik-baik saja?!” Alice benar-benar kaget dibuatnya. Ia pun memegang lengan pria itu untuk membantu keseimbangannya.
“Sepertinya anda sedang sakit! Apa mau saya antar ke rumah sakit?”
“Tidak perlu.”
“Kalau begitu tolong beristirahatlah sebentar!” pinta Alice.
Ia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya dan membuka pintu toko roti bu Anna. “Ayo tuan! Silakan istirahat dulu di dalam,” ajak Alice menghampirinya.
Presdir Betrand cukup kaget saat mengetahui kalau gadis itu memiliki kunci toko. Tanpa sadar ia pun mengangguk menyetujui ajakan Alice.
Mereka berdua pun memasuki toko. Alice segera menyiapkan minuman untuk presdir Betrand. Pria itu hanya duduk terdiam di sebuah kursi pelanggan, menatap setiap sudut ruang yang mempunyai kisah tersendiri di dirinya.
“Silakan diminum dulu tuan,” Alice menyodorkan secangkir teh padanya.
“Apa anda sudah makan tuan?”
“Sudah.”
“Sepertinya anda kurang beristirahat, wajah anda sangat lelah dan memiliki mata panda yang cukup parah tuan,” tukas Alice.
Presdir Betrand tak menanggapinya kecuali menyeruput teh yang dibuat Alice.
“Manis,” batin presdir Betrand.
Sejujurnya ia tak menyukai sesuatu yang berasa manis, tapi karena sudah dibuatkan ia tetap meminum teh yang disajikan Alice.
Dengan wajah yang ragu-ragu, Alice pun mengatakan apa yang menjadi beban penasaran baginya.
“Tuan, maaf jika aku lancang. Apakah anda mengenal bu Anna?” tanya Alice pelan.
Tak ada jawaban, sedikitpun presdir Betrand tampak tidak tertarik untuk mengeluarkan suaranya.
“Apakah aku sudah salah bicara?” batin Alice.
“Bagaimana mereka?” ucap presdir Betrand tiba-tiba.
“Ma-maaf, maksudnya tuan?”
__ADS_1
“Bagaimana mereka biasanya?” presdir Betrand mengulangi pertanyaannya.
“Mereka? Apa yang anda maksud bu Anna dan kak Evan? Kalau mereka biasanya beraktivitas di sini,” jelas Alice yang mengundang tatapan pria itu.
“Apa mungkin orang ini suami bu Anna? Tapi kalau iya kenapa dia menanyakan tentang istrinya seperti itu? Atau mungkin cuma kenalan saja?” gumam batin Alice. “Mungkin cuma kenalannya saja, lagi pula aku tak pernah mendengar cerita tentang suami bu Anna. Lebih baik aku tidak berpikir macam-macam,” lanjutnya dalam hati.
“Setiap hari dari pukul 08.00 pagi, bu Anna sudah ada di sini. Dari yang kudengar, bu Anna sudah menjalani profesi sebagai pembuat roti sejak 25 tahun yang lalu. Ini adalah bisnis turunan dari keluarganya,” tambah Alice.
“Aku hanya tahu itu, ah! Benar juga! Bu Anna orang yang sangat baik, setiap ada roti yang tersisa pasti dibagikan pada siapa pun juga. Bahkan jika ada pelanggan yang uangnya kurang bu Anna tidak mempermasalahkan itu sedikitpun. Beliau benar-benar wanita yang luar biasa,” puji Alice.
“Anaknya?” potong presdir Betrand.
“Kak Evan? Dia pemuda yang sangat baik. Para pelanggan dari semua kalangan sangat menyukainya. Dia orang yang ramah dan pekerja keras. Dia juga anak baik yang sangat menyayangi orang tuanya, aku benar-benar kagum padanya,” pungkas Alice panjang lebar.
“Menyayangi orang tuanya ya,” ucap presdir Betrand dengan nada yang agak aneh.
“Anaknya yang lain?”
“Anak yang lain? Maaf tuan tapi aku hanya tahu kak Evan saja. Aku tak tahu jika bu Anna masih memiliki anak yang lain.”
“Suaminya?”
“Ma-maaf tuan. Aku juga tak tahu tentang itu.”
Alice benar-benar penasaran kenapa pria ini bertanya begitu. Walau tak menyukai tehnya, presdir Betrand tetap meminumnya sampai habis.
“Ya, terima kasih tehnya,” presdir Betrand pun berdiri dari duduknya.
“Sama-sama tuan,” balas Alice sambil menatap punggung pria yang sudah pergi meninggalkannya.
“Siapa tuan itu? Aku tak pernah melihatnya, auranya seperti pebisnis dingin. Apa mungkin ia benar-benar kenalan bu Anna? Aku harus memberi tahu mereka,” batin Alice.
Sementara presdir Betrand, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan. Bayangan sesosok wanita yang pernah mengisi hatinya pun terlintas sekarang.
Suasana yang suram, tak ada ekspresi apa pun tersirat di wajah presdir Betrand.
“Raelianna Jin. Evan Brendan Dempster,” lirihnya.
“Sepertinya kalian sudah hidup bahagia tanpa kami berdua.”
*******
Malam pun datang, makanan yang diantarkan ke kamar Eldrey tak tersentuh sedikitpun.
Sejak kejadian terakhir, Eldrey masih belum beranjak dari tempat duduknya. Ia masih duduk di lantai balkon sambil bersandar.
__ADS_1
Begitu pula presdir Betrand, sejak pertemuan terakhir dengan Alice di toko roti bu Anna ia masih belum pulang ke rumah.
Entah ke mana pria itu sekarang untuk menghabiskan waktunya.
Malam pun semakin larut, dengan fajar yang mencoba menggantikan kedudukannya.
Tetesan air di kamar mandi yang membasahi Eldrey pun membuat gadis itu terdiam.
Ia hanya menatap kosong pada dinding di depannya. Semakin deras aliran air shower yang jatuh semakin tak ada niatnya untuk menggerakkan tubuh.
Satu jam kemudian ....
“Nona?” panggil bibi pembantu. Ia mengetuk pintu, akan tetapi karena tak ada jawaban yang kunjung didapat, bibi pembantu pun memberanikan diri membuka pintu kamar tanpa izin.
“Nona? Sudah saatnya sarapan. Ayo makan nona,” ajak bibi pembantu. Wanita itu tertegun saat melihat Eldrey yang duduk di lantai balkon sambil membaca buku.
“Nona?”
“Tinggalkan aku.”
“Tapi nona!”
“Tinggalkan aku,” ucap Eldrey sekali lagi.
“Baik, kalau begitu sarapannya biar bibi antar ke kamar saja nona,” bibi pembantu pun pergi tanpa mendapat jawaban apa pun dari bibir Eldrey.
Gadis itu ternyata sedang membaca sebuah novel. Novel yang mengisahkan perjuangan seseorang saat tumbuh dari tekanan penyakit jiwa skizofrenia.
Itu adalah novel lama, akan tetapi ia tak pernah bisa memahami isinya. Sebuah kejujuran yang tertera dalam cerita dan kasih sayang keluarga untuk penderita penyakit itulah yang tak bisa ia pahami.
Kenapa mereka berusaha membantunya? Tidakkah itu merepotkan? Bukankah hidup itu milik masing-masing? Apa keuntungan bagi keluarga jika penderita skizofrenia berusaha untuk sembuh? Ia tak melihat apa pun keuntungan di dalamnya.
Jika mereka ingin penderita skizofrenia itu sembuh, bukankah akan lebih baik bila sang keluarga juga menderita penyakit jiwa yang sama? Setidaknya mereka akan saling berbagi karena sudah merasakannya.
Itulah pemikiran yang muncul dari diri Eldrey. Ia kembali meletakkan novelnya ke lantai, menengadah ke langit-langit seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.
“Aku ingin tidur,” ucapnya pelan.
Di tempat yang berbeda, tampak presdir Betrand keluar dari sebuah hotel menuju tempat mobilnya terparkir. Tak ada bawahan atau pengawal yang menemaninya.
Ia melajukan mobil dengan ekspresi kusut. Entah kenapa, setiap melangkah wajah seseorang muncul di benak seperti ingin menghantuinya.
Raelianna Jin, sosoknya seperti ingin memberikan jejak diingatan presdir Betrand. Sampai akhirnya pria itu memilih untuk berhenti di depan toko. Sebuah toko roti yang tampak takkan terbuka hari ini.
Tidak peduli seberapa dingin dan tak acuhnya presdir Betrand, rasa rindu ingin melihat wajah mantan istri serta putranya tersirat jelas di hatinya.
__ADS_1
Bukan suatu kebohongan, jika ia ingin merangkul mereka dan mengembalikan semuanya seperti semula. Tapi keputusan besar yang sudah dilakukan istrinya terhadap keluarga juga memunculkan rasa marah di diri presdir Betrand.
“Apakah ini karma?” batinnya.