
Akhirnya Eldrey terjaga, setelah pingsan selama hampir tiga jam. Pusing menerpa, bingung mendera, kepalanya serasa sakit juga mual merangkulnya.
Tak tahu kenapa, sensasi di fisiknya semakin aneh sekarang.
“Sudah sadar?” suara seseorang mengganggu pendengaran.
Butuh sejenak waktu bagi Eldrey untuk menggerakkan fisiknya. Tampak di mata, seorang laki-laki dengan jas Dokter terpamer di badan. Ia tersenyum ke arahnya.
“Kevin sedang keluar sebentar untuk menerima telepon. Jadi, bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya orang itu.
Eldrey masih belum meresponsnya. Kecuali lambat laun mencoba mengangkat tangan kiri yang tampak bergetar.
“Tanganmu sudah diobati. Usahakan jangan melakukan aktivitas berat dulu agar lukanya tidak semakin parah dan infeksi.”
Sekarang hening menerpa mereka berdua. Tampak tubuh Eldrey semakin berkeringat kondisinya, pandangannya mengabur dan dia tidak berdaya.
Efek obat perangsang jelas-jelas masih tersisa di badannya.
Sang Dokter tampak menghubungi seseorang untuk membawakan air putih hangat pada putri Dempster.
“Ini, diminum dulu,” ucapnya sambil membantu gadis itu setelah minuman yang diminta datang diantarkan.
Bahkan ia juga memegangkan gelas tersebut akibat kondisi Eldrey yang masih belum memungkinkan.
“Sekarang bagaimana rasanya?”
“Kepalaku sakit dan pandanganku mengabur,” sahutnya pelan.
“Wajar saja, dampak obat perangsang memang begitu. Biasanya efeknya akan menghilang sekitar dua puluh empat jam atau kurang dari itu tergantung respons tubuhmu.”
Pernyataan Dokter tersebut membuat Eldrey menghela napas jengah. Ia jelas kelelahan dan hanya bisa pasrah.
Setidaknya kegilaan di tubuhnya tidak seperti sebelum ia pingsan.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok Kevin di sana. Langsung ia hampiri Eldrey dan ditatap lekat olehnya.
“Bagaimana keadaannya?!” tanyanya pada sang sepupu.
“Seperti yang kamu lihat, efeknya belum hilang sepenuhnya, tapi setidaknya kupikir itu sudah lebih baik sekarang. Dia butuh istirahat dan beberapa minuman juga obat pereda nyeri di kepala untuk membantu menetralkannya.”
Kevin pun menghela napas lega mendengarnya.
“Tenang saja, akan kusiapkan itu, jadi kamu tunggu sebentar dan temani dia,” Dokter tersebut menyentuh bahu Kevin sekilas sebelum pergi dari sana.
Sang pemuda yang sekarang menatap Eldrey perlahan merapikan pinggir rambut gadis itu.
“Aku sudah menghubungi Charlie, dan memberitahu ayahmu tentang apa yang menimpamu. Sekitar satu jam lagi Sekretaris Roma akan ke sini untuk melihat kondisimu.” Eldrey perlahan menggerakkan kepala untuk menatap Kevin. “Siapa yang melakukan ini padamu?”
“Samuel.”
“Samuel?”
“Bajingan di balapan.”
Rahang Kevin pun menegas karenanya. “Si brengsek itu?! Bagaimana bisa?! Tidak, bukan itu. Kamu bilang kamu akan menemui nenekmu. Tapi kenapa kamu malah pergi duluan? Aku kan sudah bilang akan mengantarmu!”
“Jangan berisik,” sela Eldrey sambil membuang muka.
Terlihat penampakan tidak nyaman dari fisiknya. Terlebih keringat begitu nyata menghiasi dirinya.
Perlahan Kevin mengambil tisu yang ada di ruangan sepupunya dan mengelap wajah Eldrey.
“Maafkan aku,” ucapnya tiba-tiba. Walau nyatanya putri Dempster mengabaikannya. “Seharusnya aku mengantarkanmu, tapi—” lanjutannya pun tertahan jeda. “Maafkan aku, Eldrey.”
Dan Dokter tadi sudah datang kembali membawa sebotol air serta obat juga makanan untuk gadis itu.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil memasuki area parkir rumah sakit. Tampak seorang laki-laki dengan setelan abu-abunya, menuju pintu utama dan menyusuri lorong ramai yang berhiaskan sosok-sosok di kursi tunggu.
Dan akhirnya, sampailah dirinya di sebuah ruangan milik seorang Dokter yang tak asing namanya. Bahkan ia juga terbelalak karena sosok berjas putih tersebut muncul di balik pintu secara tiba-tiba.
“Kau!” tunjuk sepupu Kevin.
“Rick?”
“Roma? Kamu— sudah lama sekali ya. Sedang apa kamu di depan ruanganku?”
__ADS_1
Tapi pandangan laki-laki itu teralihkan saat melihat keberadaan Kevin di dalam ruangan. Langsung saja ia terobos tanpa izin terlebih dahulu.
“Nona?!” pekiknya seolah lupa mereka berada di rumah sakit. Seketika tatapannya beralih pada Kevin dengan sorotan mata tajam. “Bukankah Nona pergi bersamamu?! Bagaimana ini bisa terjadi?! Kau mau macam-macam ya!” hardiknya sambil menarik kerah baju pemuda itu.
“Hei! Hei! Apa-apaan ini?! Tenang dulu! Tenang! Ini rumah sakit!” sosok bernama Rick pun melerai mereka.
Terlebih Sekretaris Roma tersentak karena lengan bajunya di pegang Eldrey.
“Nona.”
“Camila,” gumam pelannya. “Ini salahnya.”
Sang CEO pun terkesiap mendengar pernyataan putri Dempster. “A-apa maksud anda—”
“Dia dan Jackson. Bajingan itu ingin memperkosaku.”
Para pendengarnya pun tersentak dibuatnya.
“Tapi, Nyonya Camila—” kalimat Sekretaris Roma langsung terputus karena tawa pelan Eldrey yang berkumandang. “Nona.” Gadis yang tertidur dalam posisi menyamping pun mulai menenggelamkan wajahnya ke brankar. “Apa yang—” keraguan terlihat jelas dari laki-laki itu, karena tangannya yang hendak menyentuh bahu Eldrey tertahan di udara sekarang. “Anda—”
Lambat laun Eldrey kembali menoleh pada mereka. Tapi sorot matanya jelas-jelas tertuju ke arah Kevin yang diam menyaksikannya.
“Terima kasih,” kalimat gadis itu membuat sang pemuda terbungkam. Walau pelan nadanya, tapi hati putra Cesar bergetar saat melihat raut wajahnya.
Dia hanya bisa mengangguk pelan untuk meresponsnya.
“Ayo kita pergi,” ajaknya pada Sekretaris Roma.
Laki-laki itu pun menyetujuinya. “Baiklah. Saya urus administrasinya dulu.”
“Tidak perlu. Aku sudah mengurusnya,” Kevin menyela.
“Berapa?”
“Tidak perlu,” potong putra Cesar. “Aku tidak butuh bayaranmu.”
Sekretaris Roma pun melirik sekilas ke arah Eldrey. “Baiklah kalau begitu. Dempster berhutang budi padamu,” dan sorot matanya jelas menekan Kevin sekarang. “Terima kasih sudah membantu Nona, aku akan mengingat kebaikan ini,” ucapnya beralih pada Dokter itu.
Ia pun menggendong Eldrey dengan hati-hati untuk pergi dari sana.
“Kamu mengenalnya?” tanya Kevin sambil menyandarkan tubuh ke brankar.
“Lumayan. Dia juniorku di kampus dulu. Yah, dia memang pantas di posisi itu mengingat level otaknya.”
“Kamu mau tahu apa yang lebih mengejutkan?”
“Apa?”
“Nonanya itu bahkan senior Dean walau lebih muda dariku.”
“Apa! Benarkah?!” syok Rick mendengarnya. “Ya ampun, apa-apaan ini? Dasar orang-orang bulu burung. Aku merasa jadi kerikil jika disandingkan dengannya.”
Ucapan sang Dokter pun membuat Kevin tertawa menanggapinya.
Sementara di dalam perjalanan pulang, Eldrey tampak tertidur. Walau wajahnya jelas memerah dan tubuh mengeluarkan keringat, tapi kondisinya lebih baik sekarang.
Setidaknya ia bisa menekan dan mengontrol hasrat konyolnya akibat obat perangsang yang diminum.
“Tuan, akan pulang besok,” lirih laki-laki itu.
Tak ada balasan dari Eldrey, kecuali sosoknya menutup mata.
Sementara di sebuah apartemen asing, seorang pemuda menendang meja kaca di ruang tamu dengan kasarnya. Sampai pecah dan hancur berserakan.
“Sialan! Brengsek! Gadis keparat!” kesal Samuel yang kepalanya sudah diperban itu.
Bahkan wajahnya juga dihiasi tanda babak belur, sebagai hadiah dari Steven sebelumnya.
Murka benar-benar mendera penampakannya.
“Sekarang aku harus bagaimana? Kalau sampai mereka tahu, ah! Sial!” umpatnya. “Laki-laki itu, dan juga kau putri Dempster, aku takkan mengampunimu.”
Dua hari kemudian, Presdir Betrand, istrinya serta Charlie sudah kembali ke rumah.
Sementara Eldrey, dia masih berdiam di kamarnya. Duduk dekat perapian menikmati sensasi hangat di antara dinginnya udara.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok ayah dan ibunya.
“Eldrey.”
“Sudah pulang?” sambutnya dengan seulas senyum tipis di bibir.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya pria itu yang mengelus kepala putrinya.
“Seperti yang kau lihat Ayah.”
Hening menerpa mereka. Di mana guratan seolah sedih bercampur lega terlintas di wajah Bu Anna. Walau Eldrey tak melihatnya, Presdir Betrand menyadari arti tatapan istrinya.
“Ayah tinggal sebentar ya. Nanti ayah kembali lagi,” ucap pria itu dan mengecup puncak kepala putrinya.
Perlahan langkah kaki Raelianna menghampiri putri Dempster. Hanya mereka berdua di dalam ruangan, wanita itu mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memperlihatkannya tepat di hadapan sang gadis muda.
“Perhiasan?” sela Eldrey melirik sekilas ibunya.
“Iya. Apa kamu mau menerimanya?” Lambat laun wanita itu duduk di sebelah putrinya.
Eldrey mengangkat tangan seolah meminta. “Baiklah, kenapa tidak? Sekarang keluarlah,” setelah menerima pemberian ibunya.
Cukup menusuk perasaan Raelianna, akibat pengusiran yang dilontarkan putrinya. Matanya mulai berkaca-kaca dan ia menggigit bibir bawahnya.
“A-apa kamu sudah memaafkan ib—”
“Jangan tanyakan apa pun lagi.” Eldrey menyelanya tiba-tiba. “Aku sedang berusaha menerimamu, tapi bukan berarti aku melupakan semua itu. Kamu paham maksudku bukan? Ibu,” tekannya.
Nyonya Dempster pun mengangguk dengan tubuh gemetaran. Tapi saat sosoknya berdiri, ia kembali menatap putrinya.
“Nenekmu,” Eldrey menoleh padanya. “Dia mungkin salah melakukan semua itu. Tapi, Nyonya Camila pasti hanya ingin yang terbaik untukmu dan juga ayahmu.” Bahkan senyuman terpatri di bibirnya entah mengapa.
Eldrey pun berdiri dari duduknya. Menatap lekat wanita yang tingginya ada di bawah telinga.
“Yang terbaik ya,” gumamnya melewati Raelianna dan membuka pintu. “Sekarang, silakan keluar. Aku ingin istirahat.”
Ibunya terdiam. Walau ia mengangguk pelan, selintas kristal bening jatuh ke pipinya. Sebagai pertanda kalau dirinya masih ingin berbicara dengan putrinya.
Tapi Eldrey yang terus memandangi jarak mereka lewat punggung ibunya, tak merasa bersalah sama sekali. Karena bagi seorang anak yang menderita trauma akut, sosoknya butuh waktu untuk menerima semuanya.
Tapi mungkin langkah awalnya harus rusak akan kenyataan di menit-menit tertentu yang sebentar lagi datang menimpa.
Sebuah mobil mewah, keluaran tahun kemarin mendarat sempurna di halaman rumah keluarga Dempster.
Ya, kendaraan itulah yang akhir-akhir ini sering mengantar Nyonya Gates ke mana saja. Camila sang pemilik nama, di usia jelas melewati setengah baya, masuk dengan langkah tegas berwajah pias ke dalam kediaman itu.
Disambut hormat para penghuninya. Dan Betrand, agak kaget menyaksikan kehadiran tiba-tiba ibunya.
“Ibu.”
“Baru pulang?”
“Ya. Silakan duduk, Bu,” ajaknya. Raelianna yang baru mencapai area sana terkesiap melihat kedatangan ibu mertuanya. Dengan langkah ragu ia dekati mereka untuk sekadar menyapa.
“Selamat siang, Ibu.”
Tak ada respons darinya, bahkan senyum pun tidak tertoreh di sana.
“Ayo duduk, Anna,” Betrand menarik lembut tangan istrinya. Setelah ketiganya sama-sama mendiami ruang tamu itu, suasana entah kenapa mulai terasa tegang. “Jadi, ada apa Ibu ke sini?”
“Tak perlu basa-basi. Kamu pasti sudah dengar kejadian yang menimpa putra Jackson.” Suami istri Dempster terdiam mendengar kalimat dengan nada mencerca itu. “Dan kamu pasti sudah tahu apa yang dilakukan putrimu.”
Betrand menatap penuh arti pada ibunya.
“Bagaimana bisa dia melakukan itu?! Padahal Samuel berniat membantunya akibat dijebak pegawai Hotel! Seharusnya dia berterima kasih! Bukan memukulnya dengan gelas kaca! Mau ditaruh di mana muka keluarga kita?! Aku malu Betrand! Aku malu pada mereka!”
“Ibu, apa yang ibu kata—”
“Kau diam saja!” hardiknya pada Raelianna yang menyela. “Aku tidak ingin mendengar suaramu.”
“Ibu!” bentak Betrand tiba-tiba.
“Kau!”
“Ada apa ini?” Evan yang baru pulang pun kaget melihat ketegangan di dalam rumahnya.
__ADS_1