
Eldrey hanya menatap datar Charlie yang mengoceh tak jelas itu. Ia pun memalingkan wajahnya menatap arah lain, “aku ingin istirahat, pergilah,” perintahnya.
“Baiklah, jika ada sesuatu kau bisa panggil penjaga, aku akan kembali lagi nanti,” ucap Charlie yang pergi meninggalkannya.
Sekarang gadis itu hanya sendiri, ia memandang ke luar, ke arah jendela kamar dengan pemandangan kota modern yang menyesakkan.
Gadis itu merasa bosan dan berharap agar sesuatu yang menarik segera terjadi untuk mengubur kebosanannya.
Sementara Dean, sudah sampai di rumah diantar supir memakai mobil yang ia bawa tadi untuk pergi bersama dengan Alice. Ia memasuki rumah dengan wajah kesal yang tak bisa disembunyikannya.
“Loh, kakak? Sudah pulang?” tanya adiknya yang kebetulan berpapasan dengannya.
“Mmm ....” balas Dean dan langsung pergi menuju kamarnya. Kevin pun memandang heran dengan sikap kakaknya itu.
“Kevin? Maaf ya sayang mama gak bisa antar kamu ke rumah sakit,” tukas nyonya Julia sambil memegang lengan putranya.
“Tidak apa-apa ma, lagi pula aku bisa sendiri, mama gak perlu khawatir,” ucapnya sambil tersenyum.
“Iya sayang, terima kasih banyak pengertiannya,” lalu nyonya Julia pun pergi meninggalkan putra bungsunya sambil terburu-buru. Nyonya rumah itu memakai pakaian terbaiknya untuk menemui teman-temannya yang akan makan bersama di sebuah hotel berbintang.
Itu bukanlah pemandangan yang asing bagi Kevin, karena mamanya memang sering seperti itu. Bertemu teman-teman yang kerjanya hanya memamerkan kekayaan masing-masing, suatu perkumpulan yang membosankan dan benar-benar melelahkan.
Kevin pun keluar dari rumah dan memakai mobil Dean untuk pergi ke rumah sakit. Ia lebih memilih memakai mobil daripada motor, mengingat kecelakaan yang pernah menimpanya saat berkendaraan itu.
Tak berapa lama ia pun sampai di rumah sakit yang dituju untuk melakukan kontrol. Suatu kebetulan karena rumah sakit itu sama dengan rumah sakit di mana Eldrey dirawat.
Mavo Anos, salah satu rumah sakit terbaik di kota itu.
Di salah satu ruangan di lantai dua yang agak sepi, Eldrey mendengar ada keributan di depan kamarnya. Keributan yang tak biasa, membuatnya memandang heran ke arah pintu kamarnya tersebut.
“Nona!” pekik salah satu pengawal yang membuatnya kaget, terlebih lagi pintu itu seolah dihantam sesuatu yang cukup keras.
Gadis itu memandang tajam ke arah pintu, tanpa aba-aba ia langsung menarik jarum infus dan bangun dari ranjangnya.
Deru napasnya tak beraturan karena rasa sakit akibat jarum infus yang ia tarik paksa begitu saja. Darah pun mengalir dari lubang jarum di tangannya itu.
__ADS_1
Keributan di depan pintunya masih ada, tapi tak seberisik sebelumnya. Pandangannya pun teralihkan dengan darah segar yang mengalir pelan di bawah pintu kamarnya.
Gadis itu spontan mengunci pintu kamarnya dengan napas terengah-engah.
“Bruk! Srek! Srek!” suara gagang pintu yang bergerak berulang kali.
“Sialan! Di kunci dari dalam!” teriak seseorang dari luar.
Tanpa pikir panjang Eldrey langsung mengambil gelas minumnya dan keluar ruangan lewat jendela.
“Prang!” Tapi sayang, gelas itu jatuh dari pegangannya karena rasa sakit di tangannya yang berdarah itu. Kaki tanpa alasnya pun terkena pecahan kaca serta membuat gadis itu mengambil salah satu pecahan dan menggenggamnya.
Ia langsung memanjat dinding kamar dan keluar jendela terburu-buru tanpa memikirkan kondisi tubuhnya. Serpihan-serpihan kecil pecahan kaca pun menempel di telapak kakinya tapi tak ia acuhkan sakitnya.
Eldrey pun berjalan di lantai berukuran lebar setengah meter di luar kamar. Lantai kecil yang menempel pada dinding dan biasa dipakai sebagai pijakan untuk membersihkan jendela. Gadis itu memandang ke bawah, menatap ketinggian yang sedang ia rasakan.
“Brak!” suara pintu kamarnya yang didobrak paksa.
“Di mana gadis itu?!” teriak seseorang di dalam kamarnya dan membuat Eldrey mempercepat langkah kakinya.
Dan tiba-tiba tampaklah sebuah kepala yang muncul di jendela menatap ke arah Eldrey, “sialan! Itu dia! Dia di sebelah sana!” umpat laki-laki berkumis itu pada temannya. Ia langsung keluar lewat jendela untuk mengikuti langkah Eldrey.
Eldrey pun sampai di jendela ruangan sebelah kamarnya yang terbuka, namun kamar itu kosong karena baru ditinggal pasien tadi malam. Tapi tiba-tiba pintu itu pun terbuka dan tampaklah sosok rekan orang yang sedang mengikutinya.
Laki-laki itu langsung berlari ke arah Eldrey dan mengeluarkan kepala serta tangannya lewat jendela terbuka di dekat gadis itu. Ia pun berhasil menangkap salah satu lengan Eldrey.
“Tertangkap kau!” pekik laki-laki itu sambil tertawa. Eldrey yang masih menjaga keseimbangannya pun menoleh ke arah laki-laki tersebut dan memegang balik lengan laki-laki itu.
Ia pun spontan memutar balik tubuhnya sambil berpegangan pada laki-laki itu, “srett!” suara ayunan benda tajam pun melukai pipi dan telinga laki-laki tersebut.
“Aaaaahhhhh!” pekik laki-laki itu kesakitan karena luka yang digoreskan Eldrey menggunakan pecahan kaca berlumuran darah yang digenggamnya tadi.
Spontan laki-laki itu mencoba melepaskan tangannya yang memegang Eldrey namun sayang, gadis itu menancapkan pecahan kaca yang masih dipegangnya ke tangan laki-laki tersebut, sehingga tembus dan membuatnya terpekik keras yang mengagetkan orang-orang sekitar.
Orang-orang pun berteriak melihat adegan itu, sementara rekan dari laki-laki yang terluka itu sedikit lagi hampir sampai di tempat Eldrey.
__ADS_1
Untuk ukuran pengejar ia cukup lambat karena ketinggian yang membuat kakinya gemetaran. Eldrey pun melepaskan tangannya dari laki-laki yang dilukainya dan hampir saja kehilangan keseimbangan karena itu. Spontan gadis itu menoleh ke belakang dan tampak orang-orang sudah berkumpul di bawah.
Bahkan teriakan yang tak jelas baginya pun mulai terdengar di luar ruangan di depannya.
“Sialan! Setidaknya sebelum mati aku harus berhasil membunuhmu!” pekik laki-laki itu dengan penuh emosi.
“Aaaaahhhhh! Sakit! Sakit!” pekik rekan laki-laki itu. Sepertinya luka yang disebabkan Eldrey pun memberikan efek yang luar biasa baginya.
“Ada berisik apa ini?” gumam Kevin karena heran melihat sekumpulan orang yang berisik di luar rumah sakit itu.
“Ada yang mau bunuh diri! Dia mau bunuh diri!” pekik salah seorang yang tak tahu kejadian sebenarnya.
Orang-orang dari dalam rumah sakit di lantai satu pun keluar untuk melihatnya. Termasuk Kevin yang juga berada di lantai satu, karena bagaimana pun juga, ia menunggu antrian dokter di lantai itu.
Eldrey merasa keseimbangan kakinya mulai runtuh dan ia menatap pada laki-laki yang masih gigih mengejarnya. Padahal terlihat jelas kalau laki-laki itu gemetaran saat ini.
“Dasar gila!” umpat gadis itu. Ia memandang ke bawah dengan wajah kesal, karena menatap orang di bawahnya hanya berkumpul tak jelas namun tak ada satu pun yang berpikir untuk menolongnya. “Manusia sampah!” geramnya sekali lagi.
Melihat tak ada bantuan yang akan datang padanya, Eldrey pun berpegangan pada jendela yang terbuka itu dan mencoba memanjat jendela tersebut, “sialan! Jangan pikir kau bisa kabur!” teriak laki-laki itu yang bisa didengar orang-orang di bawah.
Sudah jelas kalau itu percobaan pembunuhan secara terbuka, petugas keamanan pun segera berlari untuk menuju ke lantai dua di mana Eldrey berada.
Eldrey yang kesusahan dengan kondisi tubuhnya karena terluka pun memaksa keras untuk memanjat jendela tersebut, sehingga luka di tubuhnya akibat tusukan sebelumnya itu kembali terbuka.
Ia berhasil naik namun satu kakinya masih terjulur keluar sehingga ia berhasil di tangkap pengejar itu. Pintu ruangan pun terbuka dengan suster yang memasuki ruangan sambil berteriak. Suasana benar-benar mencekam saat itu.
“Setidaknya kita berdua harus mati!” pekik laki-laki itu menarik kaki Eldrey.
Dengan satu tangan yang berpegang erat pada pinggir jendela, Eldrey pun menarik rambut laki-laki itu dengan sebelah tangannya yang memegang pecahan kaca dan menghantamkan kepalanya ke kaca jendela.
"Praang!!!"
Kekuatannya benar-benar menakutkan sampai-sampai kaca jendela itu pecah dengan wajah laki-laki itu berlumuran darah. Lehernya tertusuk kaca dan mengalirkan darah segar di dinding tersebut.
“Mati saja kau sendirian br*ngs*k!” bentak Eldrey dan melepaskan pegangannya di kepala laki-laki tersebut. Laki-laki itu pun tumbang dan jatuh ke bawah.
__ADS_1
“Brak!”
Suara benturan keras di mana laki-laki itu menghantam tanah dengan kepala belakang yang pecah serta tangan dan kaki yang patah.